
Cherin sedang duduk dengan raut wajah sedih dan tubuh yang lesu di sisi tempat tidur Cakra. Namun bukan hanya ada anaknya disana, tetapi Ezra juga sedang berbaring di sisi Cakra. Kedua bayi itu sedang asyik menggerakkan tangan juga kaki mereka dengan tatapan mata yang masih belum tentu arahnya.
Walaupun Ezra bukan anak kandung Cherin, tetapi sorot matanya jelas memancarkan sebuah kasih sayang juga perasaan kasihan pada anak itu karena Ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Apalagi Ezra baru saja berhenti menangis setelah meminum satu botol ASI. Untungnya saja stok ASI untuk Ezra aman hingga esok harinya.
"Anak-anak pinter, main berdua ya! Nanti kalau udah dewasa, jangan sampai rebutan cewek loh! Tak jewer kalau sampai rebutan cewek." Gurauan Cherin hanya ditanggapi hu-ha saja oleh Ezra juga Cakra. Cherin sendiri terkekeh melihat kedua anak yang sedang asyik dengan dunianya.
"Sayang, gimana keadaan anak-anak?" tanya Hanes yang baru saja pulang dari kantor. Mendengar kabar jika Diandra juga Nenek Harni dirawat, Hanes segera pulang karena khawatir juga dengan keadaan Ezra. Walaupun sebenarnya ada tujuan lain juga atas kepulangannya.
"Kok udah pulang, Mas?" sapa Cherin kemudian memeluk Hanes yang langsung dibalas. Cherin seolah menumpahkan rasa sedih yang menyelimuti dirinya pada sang suami. "Kasian Ezra, Mas! Dia rewel terus. Pasti kangen sama Ibunya," lanjut Cherin masih memeluk Hanes. "Apa harus kita bawa ke rumah sakit ya, Mas? Tapi kok kasian kalau harus disana." Cherin semakin menenggelamkan kepalanya leher Hanes.
"Hm. Nggak pa-pa! Ada Aunty yang jagain dia, pasti dia akan tenang. Apalagi Aunty nya sayang banget sama Ezra," jawab Hanes mencoba menghibur Cherin.
Setelah mencium kening sang istri, Hanes pun melepaskan pelukannya kemudian menghampiri box tempat tidur Ezra juga anaknya. Raut wajah kedua anak itu benar-benar menggemaskan. Hanes hanya mencolek pipi mereka secara bergantian kemudian mencoba menyapa mereka berdua dengan bahasa bayi yang entah dimengerti atau tidak oleh Cakra dan Ezra.
"Gimana ya keadaan Diandra sekarang," gumam Cherin seraya menatap Ezra.
"Katanya tadi udah sadar. Kebetulan Erlan minta tolong juga sama aku buat bantu asistennya cari beberapa informasi tentang pamannya. Jadi aku tanya sekalian keadaan Nona Diandra. Dia cukup terpukul dengan kondisi Neneknya," papar Hanes membuat Cherin semakin sedih.
"Aku cuma bisa bantu dia dengan jagain anaknya. Tapi aku kasian juga sama Ezra kalau jauh dari Ibunya," jawab Cherin dan Hanes kembali memeluknya.
"Kita bantu doa ya, Sayang. Kita doakan semoga ujian yang sedang dialami Erlan dan Nona Diandra segera berkahir dan mereka bisa kumpul bersama lagi." Hanes semakin mengeratkan pelukannya saat Cherin hanya mengangguk kepalanya.
Namun Ezra kembali menangis padahal baru beberapa menit saja dia di tidurkan. "Duh ... nangis lagi, Mas!" Cherin segera melepaskan pelukannya lalu meraih tubuh Ezra perlahan kemudian menimangnya. "Ezra pinter, masa haus lagi? Apa pengen gendong Aunty, hm? Atau gendong Uncle aja?" tanya Cherin, tetapi Ezra hanya terlihat seolah berontak dengan kedua kaki dan tangan yang tidak berhenti bergerak.
"Coba sini, Uncle yang gendong!" kata Hanes mengambil alih Ezra dari pangkuan Cherin. Hanes menangkupkan Ezra di dadanya dengan posisi kepala ada di bahu. Dahi Ezra pun menempel dengan pipi Hanes. Ternyata Ezra anteng dalam dekapan Hanes.
"Dia diem, Mas! Kayaknya nyaman sama kamu. Bisa juga dia kangen sama Ayahnya karena beberapa hari nggak ketemu," kata Cherin ikut mengusap punggung Ezra.
Tiba-tiba Cakra ikut menangis. Cherin segera meraih Cakra dan melakukan hal yang sama dengan yang Hanes lakukan pada Ezra. Cakra pun diam. "Kayaknya dia nggak bolehin Papanya gendong Ezra," ujar Hanes terkekeh merasakan suasana di kamar anaknya itu.
"Cup, Sayang! Cakra juga mau gendong Papa ya? Gantian ya, Nak! Kasian Ezra nggak ada orang tuanya, loh!" ucap Cherin seraya mengusap lembut punggung sang anak. "Aku jadi bayangin kalau kita punya dua anak, Mas! Mungkin begini ya? Satunya nangis minta gendong, eh satunya iri minta gendong juga. Pasti lucu banget masa-masa itu." Ucapan Cherin mampu membuat keduanya terkekeh.
"Kalau gitu kita buru-buru aja buatin adik Cakra, Sayang. Kalau perlu lembur, hm. Adiknya cewek, pasti asyik dan pasti rumah ini semakin rame dengan tangisan mereka," sahut Hanes membuat Cherin tiba-tiba sebal.
__ADS_1
"Kamu pikir hamil dan melahirkan itu gampang? Kamu enak tinggal nanem aja, lah aku? Harus kesakitan selama sembilan bulan sepuluh hari. Belum pas melahirkan dan menyusui."
"Ya kan nanti dibantu baby sitter, Sayang. Ah ... jadi pengen nih! Yuk bikin mumpung masih jam segini."
"No! Nggak liat apa mereka rewel begini? Pokoknya aku maunya Cakra agak besaran dikit, Mas. Minimal udah jalan lah baru mikirin adik buat dia. Kasian dia takut kurang kasih sayang karena lebih fokus ke adiknya. Eh, tapi kalau anak kedua kita laki-laki lagi, gimana Mas?"
"Nggak masalah dong! Kita buat lagi sampai dapet perempuan, gimana? Setuju dong?" Jawaban Hanes membuat Cherin ingin sekali memukul suaminya itu. Untung saja kedua tangannya sedang memegang Cakra, jadi Hanes lolos dari pukulan Cherin.
"Seneng bikin aja kamu tuh! Dasar lakik!" Cherin semakin kesal dengan godaan Hanes.
"Sayang ... kan bikinnya enak pake banget, ya seneng lah. Emang salah?" Hanes mencoba mengelak karena memang bermain bersama Cherin adalah yang paling nikmat bagi Hanes diantara wanita-wanita lain termasuk mantan istrinya.
"Terserahlah! Keputusan ada ditanganmu titik! Cherin pun membawa Cakra keluar dari kamar karena tidak mau berdebat lagi masalah tambah anak. Padahal dia sendiri yang memulai pembahasan itu.
Hanes semakin terkekeh melihat raut wajah Cherin yang walaupun sekarang dia terlihat sedikit gendut, tetapi bagi Hanes tetap menggemaskan. Dia juga mengikuti langkah Cherin bersama dengan Ezra yang masih anteng dalam dekapannya.
Nyonya Linda langsung menyambut Cakra begitu keluar dari kamar karena kebetulan Nyonya Linda akan ke kamar cucunya. "Duh ... cucu Oma, udah sore nih! Mandi yuk! Dah bau acem," kata Nyonya Linda seraya menimang Cakra.
Memang waktu sudah sore, saatnya memandikan kedua bayi lucu itu. Cherin belum bisa dan belum berani memandikan anaknya karena takut jatuh. Padahal sudah beberapa kali belajar, tetap saja belum berani. Jadi Cakra mandi bersama Nyonya Linda, sedangkan Ezra bersama baby sitter Cakra.
"Mama ... mandi juga yuk sama Papa!" ajak Hanes dengan senyuman menggoda dan kedipan mata yang benar-benar genit.
"Ish ... apaan sih, Mas!" Cherin hanya memutar bola matanya menanggapi kegenitan sang suami.
"Sayang ... mumpung anak-anak lagi mandi. Kita juga mandi berdua yuk! Sekalian ehem-ehem, bikin dedek buat Cakra, hm?" goda Hanes berjalan mendekati Cherin.
"Nggak! Aku mau mandi sendiri." Cherin segera menghindar dan pergi ke kamarnya. Namun bukan Hanes jika tidak berhasil menyalurkan hasratnya. Jadi Hanes menyusul Cherin ke kamar sebelum kamarnya terkunci.
Benar saja Cherin hendak mengunci kamar, tetapi kaki Hanes berhasil menahan pintu sebelah tertutup rapat. "Eits! Tidak bisa!" Hanes segera masuk dan pada akhirnya dia bisa menyalurkan hasrat itu bersama Cherin di kamar mandi sesuai keinginannya.
...***...
Menjelang petang, Diandra tiba di rumah Cherin karena tidak tenang meninggalkan Ezra seharian. Bahkan ASI mulai bengkak lagi terlalu lama tidak di keluarkan. "Diandra, udah baikan?" tanya Cherin segera memeluk Diandra begitu masuk ke dalam rumah. Kebetulan semua orang sedang berkumpul di ruang tamu dan bermain bersama Ezra juga Cakra.
__ADS_1
"Masih sedikit pusing, Mbak. Tapi aku nggak tenang ninggalin Ichan. Pasti dia rewel dan merepotkan ya, Mbak?" Diandra membalas pelukan Cherin. Setelah beberapa saat berpelukan, Cherin pun membawa Diandra untuk ikut bergabung bersama keluarga Gautama. "Hallo, Tuan dan Nyonya!" sapa Diandra disambut hangat oleh mereka yang ada di ruang tamu.
Diandra sengaja pergi sendiri walaupun Erlan memaksa untuk menemaninya ke rumah Hanes. Namun mengingat kondisi sang nenek, Diandra tidak mau jika cucu Nenek semuanya pergi meninggalkan rumah sakit. Jadi Diandra pergi naik taksi sendiri karena Jio masih belum kembali ke rumah sakit.
"Ezra anteng kok disini, kan ada temennya Cakra," kata Nyonya Linda sengaja tidak mengatakan jika Ezra cukup rewel agar tidak khawatir.
"Iya, dia baik-baik aja. Kamu bisa istirahat dengan tenang," sambung Cherin paham dengan maksud ibu mertuanya.
"Em ... anak ibu pinter ya!" Diandra pun mencium kedua pipi Ezra lalu mengusap lembut ujung kepalanya yang tidak pakai ciput.
"Pinter dong! Kan Ezra tahu kalau ibunya kurang sehat, jadi dia anteng-anteng disini. Apalagi pas di gendong sama Mas Hanes, anteng banget. Mungkin kangen juga sama Ayahnya. Kok kamu sendiri sih kesini ya? Kenapa nggak sama suami kamu?" kata Cherin ikut mengusap pipi Ezra dengan jari telunjuknya.
"Mas Erlan mau ikut, tapi aku nggak mau Nenek cuma ditemani Mami. Kasian! Aku mungkin juga akan kembali kesana. Aku boleh kan Mbak nitip Ezra lagi disini?" pinta Diandra dengan berat hati.
"Ya boleh lah. Aku malah seneng bisa bantu kamu. Lagian Cakra juga seneng kalau ada temen main," jawab Cherin tentu saja benar-benar senang.
"Aku mau kasih Ichan ASI dulu ya, Mbak. Tuan, Nyonya ... saya permisi dulu!" Diandra pun masuk ke dalam kamar untuk memberikan Ezra ASI. Sembari memberikan Ezra ASI di sebelah dadanya, Diandra juga memisahkan beberapa wadah ASI dari pumping di dada satunya karena memang sudah penuh semua.
Setelah hampir satu jam di kamar, Ezra ternyata tertidur dengan lelap karena sudah kenyang. Diandra pun meninggalkan Ezra di kamar dan menyimpan stok ASI nya di lemari es. "Ezra udah tidur?" tanya Cherin menghampiri Diandra yang masih menata wadah ASI nya di dalam lemari Es.
"Hm. Kayaknya kekenyangan, jadi langsung ngantuk, Mbak!" jawab Diandra kemudian menutup lemari es khusus ASI tersebut.
"Em, kamu harus kembali ke rumah sakit sekarang kata Mas Hanes," kata Cherin membuat Diandra khawatir dengan keadaan sang Nenek.
"Apa terjadi sesuatu dengan Nenek, Mbak?" tanya Diandra meraih tangan Cherin.
"Em ... itu ... kita sebaiknya ke rumah sakit aja sekarang. Kita pastikan aja!" jawab Cherin ragu.
"Baiklah! Tapi Ichan gimana?" Diandra menatap pintu kamar yang mana Ezra ada di dalam sana.
"Kamu tenang aja! Aku udah bilang sama Bibik. Kita harus segera ke rumah sakit!" Diandra hanya mengangguk karena kini otaknya benar-benar berpikir yang tidak-tidak.
........
__ADS_1