
Erlan juga Mami Hasna segera ke ruang rawat Diandra saat mendapatkan kabar dari Jio jika Diandra telah sadar. Wajah Erlan langsung memancarkan senyum walaupun hanya sebuah kepalsuan demi menutupi rasa sedihnya yang mendalam.
"Sayang, kamu udah bangun? Apa yang sakit, hm?" tanya Erlan setelah meraih tangan Diandra dan mencium tangan tersebut. Diandra pun menatap Erlan dengan mata sayu dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Pandangannya kini beralih menatap sang ibu mertua yang terlihat kelelahan dan mata yang sedikit bengkak. Diandra sudah bisa menebak jika Mami Hasna terlalu lama menangis. Dia tahu dengan jelas jika ibu mertua serta suaminya sedang menyembunyikan kesedihan mereka demi menguatkan dirinya.
"Nak, kamu baik-baik aja kan?" tanya Mami Hasna seraya membelai ujung kepala Diandra. Namun Diandra tidak kuasa melihat wajah-wajah itu dan akhirnya malah menangis.
"Sayang, kenapa? Apa yang sakit?" tanya Erlan begitu khawatir.
"Nenek ... bagaimana dengan keadaan Nenek? Aku ... aku mau menjenguk Nenek, Mas!" pinta Diandra walaupun suaranya begitu berat. Apalagi diiringi isak tangis yang tidak bisa dia tahan.
"Kamu harus kuat dulu, harus sembuh dulu. Jangan khawatir! Nenek udah ditangani oleh Dokter terbaik di rumah sakit ini. Kamu nggak boleh kayak gini, Sayang! Ada Ezra anak kita yang menunggu Ibunya." Sebenarnya Erlan juga tidak tega mengatakan hal tersebut, tetapi dia sendiri bingung harus bicara apa untuk menguatkan istrinya.
"Maaf, maafin aku, Mas! Semua ini salahku!" Diandra tertunduk dan semakin terisak. Erlan segera memeluknya untuk memberikan ketenangan. Mami Hasna hanya bisa menahan tangisnya karena dia juga tidak boleh terlihat lemah di mata Diandra.
"Sudah ... nggak ada yang perlu dimaafkan dan disesali, Sayang!" kata Mami Hasna yang ikut memeluk anak-anaknya.
"Nenek begitu karena Diandra. Maafin Diandra, Mam! Diandra tahu Nenek nggak baik-baik aja. Kalian cuma mau menghibur kan? Nenek ... Nenek sedang kesakitan disana!" ucap Diandra dalam pelukan Erlan dan Mami Hasna.
"Nggak, Sayang! Benar, Nenek memang sedang kesakitan, tapi Nenek udah ada yang nanganin. Kita harus berdoa agar Nenek segera sembuh dan berkumpul lagi dengan kita, hm?" Erlan masih berusaha menenangkan Diandra, tetapi tangisnya malah semakin keras.
Setelah beberapa saat, Erlan pun melepaskan pelukannya begitu juga dengan Mami Hasna saat Diandra mulai sedikit tenang. Erlan menghapus air mat sang istri kemudian memberikan kecupan singkat di kening.
"Semuanya akan baik-baik saja, hm? Yakinlah dan berdoa lah," kata Erlan dan Diandra mengangguk lalu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan untuk menguatkan diri.
__ADS_1
"Iya, Erlan benar! Kamu nggak boleh lemah begini. Nenek pasti akan sedih kalau kamu seperti ini. Kamu nggak mau kan buat Nenek sedih?" sambung Mami Hasna membuat Diandra semakin yakin untuk semakin kuat.
...***...
Jio pergi dari rumah sakit setelah Erlan memintanya untuk pergi karena saat ini Jio juga ada orang yang harus dia utamakan. Dia juga harus mencari beberapa bukti lain terkait dengan rencana Paman Sam.
Sejak mereka pulang dadakan, Jio sama sekali tidak fokus dengan Safira yang dia suruh untuk pulang ke apartemennya dengan mengendarai taksi. Walaupun ada rasa bersalah, tetapi dia lebih mengutamakan Erlan terlebih dahulu karena itu memang sudah tugas dan kewajibannya.
Tempat tinggal Safira terlalu jauh untuk kembali, jadi Safira hanya menurut untuk pulang ke apartemen Jio dengan jarak yang lebih dekat setelah kepulangan dari luar negeri. Hal itu juga bisa membuat dia istirahat lebih lama untuk memulihkan rasa lelah dan rasa tidak nyaman karena Jio masih terus meminta jatah pada Safira.
Urusannya dengan mucikari dan Tuan Rocky benar-benar bisa diatasi oleh Jio dan dia tidak mendapatkan masalah sedikit pun dengan penerbangannya. Safira benar-benar sangat senang karena mendapatkan calon suami yang begitu baik. Dia juga bisa langsung istirahat sebab apartemen Jio benar-benar bersih, padahal dia seorang laki-laki. Safira pikir dia akan beberes terlebih dahulu.
"Aku benar-benar merasa enakkan. Udah lama banget aku nggak merasakan bangun tidur seperti ini. Syukurlah! Sepertinya aku akan benar-benar jatuh cinta sama kamu, Serjio," gumam Safira saat bangun tidur. Dia pun meregangkan otot tubuhnya dengan begitu enaknya.
"Bikin kaget aja, sih! Sejak kapan ada disitu, hm?" tanya Safira dengan nada begitu menggemaskan.
"Belum lama. Baru beberapa menit aja. Kamu lelap banget sampe nggak sadar aku duduk disini," jawab Jio segera mendekati Safira. Jio pun duduk seraya mendekap tubuh Safira dan menghirup bau badannya yang benar-benar membuat hidungnya plong.
"Dasar nakal! Aku bau, belum mandi sejak datang tadi karena aku sangat lelah," kata Safira hendak melepaskan pelukannya. Tentu saja Jio tidak membiarkan hal tersebut.
"Kamu sangat wangi. Aku suka baumu," jawab Jio masih dengan posisi yang sama.
"Dasar tukang gombal! Aku mau mandi dulu, habis itu aku buatin kamu makan ya?" Jio tidak langsung menjawab. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya dan merasakan hangatnya pelukan tersebut seolah Jio sedang melepas semua beban pikirannya untuk sementara waktu. "Hei, kenapa diam?" lanjut Safira heran dengan sikap Jio yang diam saja.
"Tapi aku lebih ingin memakan mu, Safira!" Tentu saja Safira yang polos malah terkejut dengan ucapan Jio.
__ADS_1
"Astaga, apa kamu kanibal?" sahut Safira membuat Jio terkekeh.
"Ck, maksudnya bukan makan daging kamu. Kenapa kamu begitu lugu, usia kita hanya beda dua tahun, Safira." Jio melepaskan pelukannya dan duduk menyilang kaki tepat di depan Safira dengan wajah yang amat senang.
Safira sedikit salah tingkah dengan sikap Jio. Namun dia ikut senang melihat wajah laki-laki tampan berkacamata itu. "Memang apa maksudnya makan aku kalau kamu bukan kanibal? Memang ada gombalan seperti itu? Aku belum pernah dengar." Lagi-lagi sikap Safira membuat Jio kembali terkekeh.
"Maksudnya ... aku ... ingin bercinta denganmu, Sayang!" Tanpa pikir panjang lagi Jio menindih tubuh Safira.
"Ish ... kamu! Kita belum menikah, kenapa kamu terus menerus ingin tidur denganku? Kita menikah dulu, baru ak-" Safira tidak bisa meneruskan ucapannya karena mulut Jio sudah membungkam mulutnya hingga menciptakan ciuman menggairahkan.
"Tunggu urusan Bos aku selesai dulu ya? Aku janji nggak akan lama karena aku juga nggak sabar mau menikah denganmu. Aku butuh tenaga, tolong ... puaskan aku sebentar saja."
"Liar banget sih, kamu! Aku mau mandi dulu. Aku nggak pede kalau kayak gini."
"Kita mandi bersama, mau? Sekalian main-main juga di bawah guyuran shower, hm?"
"Dasar nakal!"
"Tapi kamu suka?"
"Hm."
"Baiklah, aku akan membawamu ke kamar mandi." Jio pun membopong tubuh Safira ke kamar mandi dan dia mendapatkan imunnya di dalam sana.
........
__ADS_1