
Diandra tidak mau berlama-lama di rumah sakit karena merasa sudah sehat walaupun perutnya masih belum nyaman. Seenak apa pun kamar di rumah sakit, tentu saja lebih nyaman dengan kamarnya sendiri. "Kamu yakin mau pulang, Sayang?" tanya Erlan tentu saja masih khawatir dengan keadaan istrinya.
"Iya. Aku istirahat di rumah aja, Mas. Disini nggak enak, bau obat-obatan," jawab Diandra, tetapi tidak mau menatap wajah Erlan sama sekali. Sejak kehilangan anaknya, Diandra sama sekali tidak berani bertatapan langsung dengan Erlan. Dia lebih sering menundukkan kepalanya atau mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Sayang ... kamu mau ikut bicara dengan Dokter Amira sebelum kita pulang?" Erlan seolah tahu apa yang dipikirkan Diandra. Dia tahu sikap istrinya itu karena penasaran dengan penyakit yang di deritanya.
"Boleh, Mas? Aku pikir kamu bakal merahasiakan lagi dari aku,"
"Nggak! Kalau aku rahasiakan ... em ... nanti kamu nggak mau liatin wajah suami tampan kamu ini, lagi!" goda Erlan membuat Diandra akhirnya tersenyum lebar. "Tuh ... manis banget sih. Tapi sayang, giginya kuning!" Seketika Diandra langsung mengerucutkan mulut karena kesal dengan ucapan Erlan. Diandra akui jika sudah satu minggu dia tidak sikat gigi karena selalu mual muntah. "Cie ngambek!" Lagi-lagi Erlan menggodanya.
"Aku nggak mau ngomong sama kamu, Mas!" Diandra yang tadi duduk santai kini kembali berbaring dan tidur menutupi wajahnya dengan selimut karena sudah bisa dipastikan jika dia sangat malu dikatakan giginya kuning.
"Aku ke Dokter Amira bentar sama ngurus administrasi dulu ya? Nanti waktu konsultasi kita bicara bertiga dengan Dokter Amira." Erlan mengusap selimut yang menutupi wajah Diandra setelah itu pergi.
Beberapa saat setelah kepergian Erlan, Diandra yang pengap akhirnya membuat selimutnya dan kebetulan ada dua orang perawat yang masuk untuk melepaskan infus yang masih terpasang ditangannya. "Saya udah boleh pulang, Sus?" tanya Diandra sangat antusias dan senangnya.
"Iya, Ibu," jawab salah satu perawat seraya melepaskan infus. Dalam hati Diandra tentu begitu bahagia benar-benar di izinkan pulang karena saran Dokter Amira sebelumnya harus pulang dua hari lagi.
Tidak lama kemudian, Erlan pun datang dan langsung membereskan beberapa perlengkapan Diandra sendiri karena Nenek dan Maminya ada di rumah. "Maaf ya, Mas! Aku ... merepotkan kamu terus," ucap Diandra lirih.
"Aku malah senang karena jadi suami yang berguna untuk istriku," jawab Erlan dengan santainya. "Sambil nunggu resep obat kamu, kita ketemu dulu sama Dokter Amira ya biar kamu puas," lanjut Erlan kemudian membantu istrinya turun dari brankar.
...***...
Raut wajah kecewa terlihat jelas saat Diandra tidak mau bicara apa pun dalam perjalanan pulang. Semua yang Dokter Amira jelaskan tidak membuat Diandra tenang sama sekali. Pasalnya ada banyak sekali tahapan yang harus dia lalui untuk bisa kembali hamil. Jaringan yang ada di rahimnya itu bukanlah hal sepele. Apalagi masih ada kista dan bahkan miom. Dia juga harus melakukan operasi besar layaknya orang yang sedang operasi Caesar. Ditambah, Diandra butuh waktu satu sampai dua tahun lagi untuk bisa hamil.
__ADS_1
"Sayang ... udah dong! Aku udah bilang kalau uangku itu sangat banyak dan aku akan memberikan perawatan terbaik untuk kamu." Perkataan Erlan harusnya membuat dia terkekeh karena sikap percaya dirinya yang begitu tinggi itu apalagi mengenai uangnya yang banyak. Padahal kalau mau dihitung, uang Diandra saat ini lebih banyak dari dia setelah menerima saham milik Nenek Harni.
"Kamu tahu pasti ini bukan hanya masalah uang, Mas! Aku nggak akan meragukan kamu yang akan memberikan pengobatan terbaik. Tapi aku ...."
"Sayang! Stop berpikir negatif. Walaupun setelah melakukan operasi ini kemungkinan kamu hamil itu kecil, tapi kita masih punya harapan, Sayang. Kita harus berusaha dulu. Aku selalu yakin usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Kalau kita memaksakan untuk kamu segera hamil, itu malah akan menyiksamu. Dan pastinya aku nggak mau kamu tersiksa demi nyawa lain."
"Tapi waktunya sangat lama, Mas! Bagaimana dengan Nenek dan Mami. Mereka pasti kecewa kalau aku nggak segera hamil," ucap Diandra seraya tertunduk dan meremass jari jemarinya. Entah kenapa tiba-tiba air matanya pun menetes.
Endometriosis yang dialami Diandra memang cukup serius. Namun Dokter Amira harus observasi lebih jauh mengenai kesehatan Diandra. Jika Diandra memaksa diri untuk hamil, maka semakin besar kehamilannya maka akan semakin sakit rasa yang Diandra terima nantinya. Dokter Amira juga sengaja mengizinkan Diandra pulang karena dia harus benar-benar sehat hingga masa nifasnya selesai.
Diandra sebenarnya tidak tahu jika kondisinya itu cukup mengkhawatirkan. Apalagi setelah ini, dirinya akan merasakan sakit saat datang bulan sama seperti sebelum dia menikah dengan Erlan. Sayangnya obat pereda nyeri tidak akan berhasil begitu saja, makanya Dokter Amira memberikan resep khusus hanya saat Diandra datang bulan.
Cintanya pada Diandra tidak membuat Erlan egois apalagi terlalu bernapsu untuk segera memiliki anak. Seperti yang dikatakan oleh Neneknya, jika jalan untuk mendapatkan anak itu banyak caranya, termasuk dengan mengadopsi. Walaupun Diandra tidak akan pernah setuju, tetapi Erlan juga tidak akan menduakan cintanya untuk wanita lain bagaimanapun kondisi Diandra.
"Sebesar itukah cintamu, Mas? Apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama andai aku dinyatakan mandul?" tanya Diandra dengan suaranya yang berat.
"Anak memang penting dan itu juga jadi salah satu tujuan orang menikah untuk memperpanjang garis keturunan. Maka tidak heran juga orang yang banyak hartanya melakukan banyak cara untuk mendapatkan anak, termasuk membeli rahim. Tapi, Sayang ... kamu harus tahu sebenarnya yang paling penting dalam sebuah rumah tangga itu bukan cuma anak,"
"Apa yang paling penting, Mas? Tentu saja untuk kalangan seperti Nenek dan Mami ... lahirnya pewaris itu sangat penting."
"Sayang ... bagiku yang paling penting di dunia itu adalah, kamu!"
"Nggak usah gombal, Mas!"
"Aku bersumpah, Sayang. Kamu tahu alasannya?"
__ADS_1
"Nggaklah,"
"Kamu harus tahu jika anak itu setelah dewasa dan mempunyai kehidupannya sendiri, seberapa banyak mereka, pasti akan meninggalkan kita dan tidak bisa merawat kita selama dua puluh empat jam. Sedangkan orang tua juga nggak mungkin kan merawat kita hingga kita tua. Bisa jadi mereka pergi lebih dulu atau kita sebagai anak yang harus merawat mereka."
"Maksudnya gimana sih, Mas! Jangan berbelit-belit, langsung pada intinya,"
"Sayang ... intinya itu yang harus paling kita hargai adalah pasangan hidup kita. Dia yang akan ada dengan kita dua puluh empat jam. Pasangan kita yang akan selalu ada saat kita membuka mata hingga menutup mata, bukan anak ataupun orang tua. Jadi ... bagiku kamu lebih berharga dari apa pun. Mari kita menua bersama, Sayang!"
Diandra sebenarnya ingin sekali tersanjung dengan apa yang dikatakan Erlan. Namun tentu saja tanpa seorang anak sebuah rumah tangga itu tidaklah lengkap menurut pendapatnya. Diandra hanya bisa berharap dengan apa yang dikatakan Erlan adalah sebuah kebenaran. Bukan hanya sebuah rangkain kata yang manis saja.
........
HAYUK SIRAM KEMBANGNYA JUGA LEMPAR KOPINYA HEHE
JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE KOMENTARNYA. 😀
Jadi buat kalian yg punya keluhan sama dg Diandra, Nyeri saat haid atau nyeri setelah berhubungan, sebaiknya segera periksa ke dokter sebelum semuanya terlambat ya.
........
MAMPIR KE KARYA INI JUGA YA SAMBIL NUNGGU UPDATE , 👇
........
__ADS_1