
Saat boarding, Diandra lagi-lagi kagum dan membuat Erlan malu karena sikapnya, tetapi menurut pandangan orang. Tentu saja pandangan Erlan tidak demikian. Namun jelas saja Diandra tidak sadar akan hal itu. Walaupun begitu, bukannya marah, Erlan malah gemas dengan sikap Diandra. Apalagi saat disambut oleh para cabin crew atau yang dalam bahasa Indonesia disebut pramugari dan pramugara, Diandra sangat memuji kecantikan dan ketampanan para cabin crew. Ditambah salah satu dari mereka membantu Erlan dan Diandra mencarikan tempat duduk juga melayani selama pesawat belum berangkat.
"Mas, aku malu-maluin kamu nggak sih?" tanya Diandra yang mulai sadar jika sikapnya kampungan.
"Siapa yang bilang?" Bukannya langsung menjawab, Erlan malah terkejut.
"Aku tanya, Mas!"
"Oh. Nggak, Sayang. Wajarlah, kamu kan baru pertama naik pesawat. Kita duduk tenang dan pakai seatbelt nya. Sebentar lagi pesawat mau take off," kata Erlan seraya memakaikan sabuk pengaman untuk Diandra.
"Maksudnya terbang? Awan di atas pasti indah ya, Mas? Apalagi cuacanya cerah begini,"
"Nanti kamu akan tahu sendiri, Sayang. Kalau pas take off kamu takut, pegang tanganku ya?" Diandra mengangguk dan malah langsung segera menggenggam tangan Erlan lalu tersenyum dengan manisnya.
Beberapa saat kemudian, pesawat mulai terbang, Diandra tidak ada bosannya menatap awan dari jendela pesawat sesaat setelah lampu menyala dan penerbangan stabil. Keindahan tumpukan awan putih membuat matanya berbinar saking takjubnya. "Bagus banget, Mas! Aku jadi nggak mau turun kalau begini," ucap Diandra seraya meraba jendela pesawat. Erlan pun membiarkan Diandra menikmati keindahan yang baru dia rasakan.
Sepanjang penerbangan yang begitu panjang itu, Erlan mengajak Diandra mendengarkan musik, bermain game dan bercerita apa saja agar Diandra tidak merasa bosan. Bahkan saat pramugari menyediakan makanan juga minuman, Diandra dengan terang-terangan memuji pramugari tersebut. "Terima kasih, Kakak Cantik," ucap Diandra membuat pramugari itu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya setelah itu pergi.
"Cantikan juga kamu, Sayang," kata Erlan membuat dirinya mendapatkan sebuah cubitan. "Nggak sakit," goda Erlan.
"Itu karena yang kamu cintai aku, Mas. Coba kalau kamu cintanya sama pramugari itu. Pasti yang kamu puji cantik, dia. Tapi awas aja coba-coba mencintai wanita lain selain aku," ancam Diandra membuat Erlan terkekeh.
"Mana berani Erlangga mencintai wanita lain kalau istrinya yang menggemaskan dan memuaskan seperti Diandra Ayunda," jawab Erlan membuat dirinya kembali mendapatkan cubitan.
"Dasar genit! Nggak malu didengar orang lain? Aku mau tidur aja," sahut Diandra. Erlan kemudian mengusap ujung kepala Diandra dan sedang bersandar di kursi dengan nyamannya.
__ADS_1
"Genit sama istri sendiri apa salahnya. Beda kalau genit sama istri tetangga," ucap Erlan membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Diandra. Erlan hanya terkekeh.
...***...
Paris saat itu sedang musim dingin. Begitu pesawat landing, Diandra sudah bisa merasakan hawa dingin menusuk tulangnya. Untung saja Erlan sudah tahu perkiraan cuaca di negara yang terkenal romantis itu. Segera Erlan mengambilkan scarf untuk dipakai di leher Diandra. "Kamu kapan masukin syal ini, Mas?" tanya Diandra heran, padahal dia sama sekali tidak memasukan scarf ke dalam koper.
"Aku punya kantong ajaib. Gimana? Udah lumayan hangat?" kata Erlan dan Diandra mengangguk seraya menyatukan telapak tangannya lalu mengusapkan keduanya agar mendapatkan kehangatan.
Erlan menuntun Diandra untuk pergi memesan tiket kereta. Dia memilih naik kereta daripada naik mobil untuk menuju hotel yang telah dia booking. Selain bisa melihat banyak pemandangan gunung dan hutan yang indah, naik kereta jelas lebih membuat Diandra senang daripada naik mobil.
Benar saja jika Diandra benar-benar menikmati pemandangan yang disuguhkan saat kereta yang mereka berdua naiki itu mulai melaju. "Baru kali ini aku bisa melihat keindahan yang benar-benar memanjakan mata begini, Mas!" kata Diandra dan Erlan hanya tersenyum. Bukan apa-apa, tetapi dia sedang memuji dirinya sendiri karena berhasil membuat istrinya senang.
...***...
"Ini hotel bintang berapa, Mas? Bagus banget," ujar Diandra yang masih begitu terpukau dengan keindahan dan ukiran yang ada di sekelilingnya. Wajah polos itu sudah sejak tadi membuat Erlan tidak tahan untuk segera melahap habis tubuh Diandra.
Erlan berjalan sesegera mungkin ke kamarnya karena entah kenapa hawa panas di tubuhnya tiba-tiba memuncak saat melihat Diandra yang terus tersenyum bahagia.
Kamar pun dibuka, keduanya langsung disambut oleh taburan bunga mawar di sepanjang lantai menuju tempat tidur. Cahaya lilin dengan bau yang khas di sisi bunga mawar itu menambah kesan romantis yang luar biasa. Diandra bahkan menganga kagum dengan kamar tersebut.
Perlahan Diandra melangkah menginjak taburan kelopak bunga mawar di atas lantai dan menatap seisi ruangan itu. Benar-benar hampir semua isi kamarnya dipenuhi kelopak bunga mawar merah juga lilin. Matanya pun kini terfokus ke balkon. Diandra pun kembali berjalan perlahan. Dia tersipu malu melihat kejutan yang diberikan Erlan. Diandra tidak menyangka jika Erlan akan seromantis ini padanya.
Kemarin dia tiba-tiba diajak terbang ke Paris, kota romantis dengan sejuta keindahan erotis. Diandra yang tak pernah keluar negeri sebelumnya sangat senang, suaminya itu sangat baik hati dan begitu perhatian. Dia pun tersenyum hangat menoleh pada sang suami. Sudut bibir pink natural itu tersenyum lebar. Sorot mata menunjukkan rasa haru yang mendalam.
Erlan pun menghampiri Diandra yang belum memalingkan wajahnya. Keduanya menatap ke luar kamar dengan disuguhkan keindahan kota Paris. Ditambah menara Eiffel yang indah tinggi menjulang dengan cahaya lampu kuning yang menambah kekaguman mata, dengan gagah berdiri di depan sana. Keindahan itu benar-benar tiada tara di mata Diandra juga Erlan. Apalagi keduanya kini telah dimabuk cinta.
__ADS_1
Meja bundar beralaskan kain berwarna putih yang tak jauh dari tempat mereka berdiri melambangkan kesucian cinta Erlan pada Diandra. Sebuket bunga mawar merah pun telah disiapkan untuk istrinya tercinta. Dua gelas cantik berisi anggur putih sudah tertata di atas meja. Sungguh keromantisan yg haqiqi. Malam ini akan menjadi malam spesial untuk mereka.
Diandra kemudian mengambil dua gelas diatas meja dengan berisikan minuman memabukkan yang akan menjadi bumbu awal permainan panas mereka berdua. Satu gelas lainnya dia berikan pada Erlan. Tentu dengan senang hati Erlan menerima gelas tersebut. "Terima kasih untuk malam indah ini, Mas. Aku sangat mencintaimu," kata Diandra seraya mengangkat gelasnya dengan sebuah senyuman yang tak biasa.
Erlan malah tersipu malu dan ikut mengangkat gelas, lalu mengadukan dengan gelas milik Diandra. "Cheers! Aku jauh lebih mencintaimu, Sayang," jawab Erlan segera meneguk habis isi gelasnya. Sedangkan Diandra baru bisa satu tegukan saja, dan itu bahkan susah payah dia menelannya.
Rona pipi yang langsung memerah terlihat jelas di wajah Diandra setelah meneguk minuman memabukkan itu. Memang baru pertama kalinya dia meminum minuman yang mengandung alkohol. Erlan benar-benar tidak tahan dengan raut wajah yang begitu menggoda hasratnya. Segera ia meletakkan gelasnya dan meraih gelas Diandra untuk menghabiskan isi gelas itu.
"Mas! Sepertinya aku mabuk. Padahal baru satu teguk," ucap Diandra diiringi seulas senyum menggoda.
"Aku lebih mabuk, Sayang. Aku dimabukkan oleh cintamu," sahut Erlan segera meraih pinggang Diandra dan merapatkan tubuhnya. Keduanya bertatapan dengan sorot mata penuh gairah. Erlan mengulurkan jari telunjuk dan meraba pipi Diandra dengan sangat lembut. Setelah itu langsung melahap bibir manis Diandra dengan penuh napsu. Diandra tidak tinggal diam dan membalas ciuman Erlan dengan begitu antusias.
Erlan pun mendorong perlahan tubuh Diandra tanpa melepaskan tautannya hingga mereka berdua jatuh di atas tempat tidur dengan kelopak bunga yang berhamburan. Hasrat yang kian panas itu membuat kedua pasangan yang baru melakukan bulan madu itu semakin menuntut. Satu persatu pakaian yang menempel di tubuh berserakan. Untungnya akal sehat Erlan masih bekerja sehingga baju yang dibuang sembarangan itu tidak jatuh tepat di atas lilin.
"Ah … Mas! Kenapa … kenapa rasanya begitu berbeda? Padahal ini bukan kali pertama kita melakukannya," ucap Diandra lirih dengan gelora yang tertahankan.
"Kalau begitu kita harus bermain hingga puas, Sayang!" jawab Erlan yang kembali melanjutkan aksi panasnya.
........
*Bayangin sendiri selanjutnya ya haha
Maaf baru nongol ya capek parah dan maaf belum bisa balas komennya*.
__ADS_1
Hari Senin nih bagi vote jangan lupa ya hehe kembang juga siram dong biar cinta Erlan dan Diandra semakin merekah hehe
........