Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Manjanya Erlan


__ADS_3

Erlan dan Diandra pulang saat sore mulai menjelma karena banyaknya tamu yang hadir di rumah Hanes yang kenal juga dengan Erlan. Jadi terpaksa juga Erlan harus menyapa dan mengobrol dengan mereka. Sedangkan Diandra dan Cherin sibuk membicarakan betapa gemasnya anak-anaknya.


Sejak dalam perjalanan, Erlan tidak hentinya menggoda Diandra bahkan sesekali mencolek dagunya sebagai tanda dia tidak sabar untuk sampai di rumah. Diandra hanya bisa diam karena jika diladeni, Erlan akan semakin menjadi.


"Anak ibu ... mandi dulu ya biar ceger." Diandra segera menyiapkan peralatan mandi juga baju yang akan dipakai Ezra. Di atas tempat tidur itu, Erlan tengkurap dan wajahnya sejajar dengan kepala Ezra. Beberapa kali dia mencolek hidung anaknya karena gemas seraya menunggu Diandra menyiapkan baju mandi untuk Ezra.


"Ez, nanti malam Ayah sama Ibu mau kangen-kangenan, pokoknya Ezra harus anteng diem nggak boleh rewel ya? Ayah mau buat Ibu kamu lemas dengan senjata Ayah setelah beberapa bulan dia puasa," ucap Erlan dengan begitu semangat. Erlan benar-benar tidak sabar akan hal itu.


Kebetulan Diandra sudah selesai menyiapkan bak mandi untuk Ezra, dan betapa dia ingin sekali marah karena mengatakan hal yang tabu di telinga Ezra. "Mas! Nggak malu kamu bilang begitu sama anak sendiri?" Diandra melangkah dengan cepat lalu meraih tubuh Ezra yang sudah tanpa pakaian lagi. "Nak ... jangan dengerin apa kata Ayahmu itu. Kita mandi ya," kata Diandra kemudian mencium pipi Ezra dan berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang! Aku juga mau dimandiin loh. Dah lama ini punggung nggak digosok-gosokkan sama kamu. Dakinya pasti banyak banget," keluh Erlan lagi-lagi dengan suara manjanya.


"Hm ... hm ... hm ...." Senandung Diandra tidak memperdulikan apa yang Erlan ucapkan. Dia hanya fokus pada anaknya yang terus bergerak setelah menyentuh air dalam bak mandi. "Ugh anak Ibu laper ya? Bentar ya ... mandi dulu biar bersih, biar ceger dan mangi ... abis itu Ichan bobo ya, tadi cuma bobo sebentar karena ramai ya tempat Cakra."


Erlan hanya berdiri diambang pintu dengan raut wajah yang tidak biasa. Cara Diandra merawat Ezra dengan sangat baik membuat Erlan semakin mencintai istrinya itu. Semua yang bersangkutan dengan sang anak benar-benar tidak dibiarkan diurus oleh orang lain. Hanya Diandra yang merawatnya dengan sedemikian rupa.


"Wah ... udah wangi!" Diandra mengangkat tubuh Ezra dan segera menutupi semua bagian tubuh Ezra dengan handuk, kecuali wajahnya.


"Sayang!" Erlan kembali memanggil Diandra dengan suara mendayu.


"Apa sih, Mas?" jawab Diandra masih fokus dengan Ezra. Dia mengoleskan minyak telon, kemudian menaburkan bedak dan dengan hati-hati memakaikan baju juga kaos kaki pada anaknya.


Setelah selesai, Ezra menguap kemudian menunjukkan raut wajah akan menangis. Segera Diandra meraih tubuh anaknya kemudian mengeluarkan satu gundukan kenyal di dadanya yang kini ukuran gundukan itu semakin besar karena menjadi satu-satunya sumber nutrisi untuk sang anak.


"Pokoknya nanti aku juga minta itu ya? Nggak pa-pa sisa dia, yang penting aku akan meremass dan menyedot itu juga kayak Ezra." Ucapan Erlan membuat Diandra memutar malas bola matanya.


"Bisa-bisanya rebutan sama anak sendiri," jawab Diandra seraya mengelus kepala Ezra.


"Jangan pelit ya, Ez. Ayah juga mau loh. Udah lama banget Ayah nggak memainkan benda kenyal itu," kata Erlan yang kemudian terkekeh.

__ADS_1


"Ish ... kamu nggak malu bilang begitu?" tanya Diandra seraya mencubit lengan Erlan.


"Nggaklah! Jagoan Ayah, cepet bobo ya? Ayah udah nggak sabar nih mau kangen-kangenan sama Ibu," rengek Erlan lagi.


"Mas! Nanti malam aja. Aku belum mandi juga belum nyuci beres perlengkapan anak kita."


"Gampang itu! Pokoknya aku mau mandi sama kamu sambil main-main dibawah guyuran shower. Duh ... aku udah tegang Sayang cuma bayangin aja," kata Erlan kembali terkekeh.


"Astaga! Mas, jangan ah! Kalau Ezra bangun gimana? Liat tuh, tidurnya masih agak-agak, belum bener-bener nutup mata," jawab Diandra yang memang selalu khawatir dengan keadaan sang anak.


Sikap keibuan Diandra memang patut diacungi jempol. Bahkan saat mandi saja dia selalu menggunakan jurus cepat karena takut Ezra menangis meminta ASI. Walaupun Nenek juga Maminya menawarkan diri untuk menjaga Ezra, tetapi Diandra benar-benar tidak mau melewatkan banyak waktu dengan anaknya itu. Baginya hanya satu kali ini saja dia akan merawat bayi, jadi dia ingin menghabiskan banyak hal dengan Ezra.


"Sayang ... aku juga butuh kamu. Titipin aja dulu di bawah sama Nenek ato Mami. Paling juga nggak sampe satu jam. Ya ... please! Aku udah tegang ini," mohon Erlan seraya menangkupkan kedua tangannya di dada dan memasang raut wajah memelas.


"Satu jam itu lama, Mas! Pokoknya malem aja titik," tegas Diandra membuat Erlan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas di kasur.


Tubuhnya yang telentang membuat benjolan di bagian bawah perut terlihat jelas. Erlan menutup wajahnya dengan bantal karena tidak mau menujukkan kalau pipinya itu merona karena menahan hasrat yang membara.


Melihat Ezra yang sudah benar-benar menutup mata dengan hisapann yang mulai melemah, Diandra yakin jika sang anak benar-benar telah tidur. Perlahan Diandra beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju tempat tidur Ezra untuk dibaringkan disana.


Anak itu benar-benar menurut. Dia tidur dengan tubuh sedikit miring. Diandra pun meletakkan guling kecil di sisi Ezra kemudian mencium sebelah pipinya. "Jangan rewel ya! Ibu mau urus bayi besar dulu," ucap Diandra lirih lalu meninggal Ezra.


Erlan masih dengan posisi yang sama. Namun benjolan di bawah perutnya sudah tidak terlalu terlihat. Diandra tahu kalau Erlan sedang berusaha kuat menekan hasratnya itu. Diandra pun mengambil bantal yang menutupi wajah suaminya.


"Sayang! Aku mau tidur, jangan ganggu!" kesal Erlan, tetapi dengan mata yang terpejam. Erlan tahu pasti dia memang harus sabar dan mengalah demi anaknya. Walaupun memang hasrat yang telah ditahan berbulan-bulan itu sudah cukup untuk meledak.


"Kamu yakin mau tidur sendiri? Mandi dulu sana biar seger," jawab Diandra dengan suara menggoda. Erlan masih belum membuka matanya dan belum tahu jika Diandra sedang tidak menggendong sang anak.


"Nanti aja, aku mau tidur dulu," sahut Erlan masih dengan posisi yang sama.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku yang mandi duluan." Jawaban Diandra sontak membuat Erlan membuka mata. Saat Diandra akan beranjak menuju kamar mandi, seketika itu juga Erlan segera menarik tangannya. Tarikan itu membuat Diandra jatuh dalam pelukan Erlan yang masih berbaring di atas tempat tidur.


"Kenapa nggak bilang kalau anak kita udah tidur, hm? Kamu sengaja ya?" tanya Erlan dengan suara lirih, tetapi Diandra tahu jika sesuatu yang hampir tidak benjol tadi kembali mengeras.


"Siapa yang suruh kamu tutup mata, hm?" elak Diandra membuat Erlan semakin gemas. Erlan pun membalikan posisi menjadi Diandra yang di bawah dalam kungkungannya.


"Aku rasa kita cukup punya banyak waktu untuk melakukan satu ronde pertama, hm?" goda Erlan mulai membelai rambut Diandra. Wajah itu tidak banyak berubah walaupun Diandra habis melahirkan dan sedang menyusui.


"Lakukanlah sesuka hatimu, Mas! Aku milikmu seutuhnya." Tentu saja tanpa basa-basi lagi Erlan segera melumatt habis Bibis manis Diandra yang sudah dia anggurkan beberapa bulan. Rasanya masih tetap sama, sangat manis dan menggairahkan.


"Emh!" satu desahann lolos dari mulut Erlan yang sedang menikmati hasrat yang akan segera tersalurkan.


Lama bermain dengan bibir manis Diandra, Erlan pun menurunkan ciuman itu menuju leher jenjang sang istri dan meninggalkan beberapa tanda merah disana. Erlan benar-benar sudah mencapai puncak napsunya. Secepat mungkin dia melepaskan seluruh pakai juga pakaian Diandra. "Ah, Maaasss!" Kini Diandra memberikan bumbu pada Erlan dengan suara manja yang keluar dari mulut sang istri.


Erlan semakin bersemangat. Bibirnya kini mulai menyesapp apa yang telah menjadi sumber nutrisi sang anak. Satu tangannya juga memainkan pucuk gundukan yang semakin mengeras di dada Diandra. Erlan begitu rakus memainkan dua buah gundukan milik Diandra bahkan rasanya enggan untuk pergi dari sana. Namun ada tempat lain yang dia rindukan, yaitu bagian intim sang istri yang selalu membuatnya melayang.


"Sayang, ah ... ini kenapa semakin cantik sekali," gumam Erlan mengusap bagian intim Diandra dengan jarinya. Namun Diandra tidak merespon karena sentuhan jari Erlan membuat dirinya hampir melepaskan hasratnya.


Melihat raut wajah Diandra, Erlan semakin tidak sabar untuk melakukan bagian inti dari permainan mereka. Tanpa basa-basi lagi, Erlan segera memasuki lembah surga milik Diandra. Mengarahkan miliknya yang sudah sangat keras menuju lubang hangat yang akan menyalurkan gairah terpendam selama beberapa bulan.


"Oh ... Sayang, ini hangat sekali. Aku akan memulainya!" Namun Erlan belum benar-benar bergoyang, Ezra tiba-tiba menangis dan membuat Diandra mau tidak mau segera mendorong tubuh Erlan dan memungut bajunya. "Sayang, belum selesai!" Erlan benar-benar tersiksa dengan rasa itu.


"Nanti aja kita lanjut, kasian Ichan, Mas!"


"Terus kamu nggak kasian sama aku? Lihat ini masih sangat keras." Erlan meronta-ronta layaknya Ezra yang sedang menginginkan makanannya.


"Sabar, hm?" kata Diandra, tetapi terdengar hanya sebuah ledekan saja. Akhirnya Erlan pun beranjak dari tempat tidur.


"Awas kamu, Nak! Nanti malam Ayah nggak mau gagal, oke!" Erlan mengancam Ezra kemudian masuk ke kamar mandi. Lagi-lagi dia harus bermain solo untuk membuat miliknya kembali tidur.

__ADS_1


........


...Maap buat yg nunggu 🆙 aku sibuk banget di real life 🥲...


__ADS_2