Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Berkabung


__ADS_3

Tiba di rumah, entah kenapa Diandra enggan untuk melangkahkan kaki masuk ke rumah besar dan mewah itu. Rasanya sangat berat karena mulai hari itu juga, saat Diandra masuk, dia tidak akan disambut hangat lagi oleh sang Nenek.


Diandra hanya berdiri di ambang pintu dengan Cherin dan Meli di sisinya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan mata yang berat untuk terbuka karena bengkak. "Nenek," kata Diandra lirih. Lagi-lagi dia kembali menangis saat otaknya kembali terfokus pada sang Nenek yang terlalu baik padanya. Apalagi saat dia hamil, Nenek Harni lah yang sering membuatkan minuman hangat untuk Diandra.


"Sayang, ikhlasin, hm!" Erlan benar-benar tak kuasa melihat wajah sang istri yang begitu berbeda bahkan sedikit pucat karena dia juga belum sarapan padahal waktu hampir siang. Dia pun memeluk Diandra dan beberapa kali mencium kepalanya. "Nenek udah tenang dan kita harus kuat menerima musibah ini." Erlan semakin mengeratkan pelukannya.


Cherin ikut mengusap bahu Diandra saat dalam pelukan Erlan. Dia tentu ikut sedih dengan kondisi Diandra saat ini. Namun karena waktu yang hampir siang, dia harus pulang sebab Hanes juga harus bekerja.


Diandra pun melepaskan pelukan Erlan saat merasakan tangan Cherin menyentuhnya. "Aku pulang dulu ya? Kamu boleh kehilangan, tapi jangan terlarut dalam kesedihan. Masih ada Ezra yang membutuhkanmu. Aku harap kamu bisa sabar." Cherin berpamitan dan pergi setelah Diandra memeluknya.


Diandra pun dituntun menuju kamar oleh Erlan setelah mengantarkan Mami Hasna ke kamarnya. Di kamar, Ezra sedang ditemani oleh salah satu asisten rumah tangga di rumah itu karena baru beberapa saat lalu Ezra diantar pulang dari rumah Cherin.


Melihat Tuan dan Nona nya pulang, asisten rumah tangga itu pun keluar setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Erlan. "Sayang, ASI kamu udah bengkak! Aku bantu keluarin ya?" kata Erlan kemudian pergi mengambil alat untuk mengeluarkan ASI milik Diandra yang memang hampir empat jam tidak dikeluarkan karena Diandra fokus dengan Nenek Harni.


"Mas, rasanya aku belum bisa untuk ikhlas. Aku ... aku selalu ingin menangis saat ingat Nenek," kata Diandra dengan tatapan kosong. Kedua matanya tidak tau sedang melihat ke arah mana. Erlan hanya bisa mengusap air matanya kemudian mencium kening Diandra lalu kembali fokus dengan ASI yang hampir penuh di dalam botol.


Setelah mendapatkan tiga botol ASI, Erlan masukannya ke dalam lemari es kemudian berlutut di depan Diandra seraya menggenggam kedua tangan. Diandra akhirnya menatap Erlan. Tatapan mulai berbeda, tidak seperti sebelumnya yang menatap dengan tatapan kosong.


"Kamu tahu, bukan cuma kamu yang kehilangan Nenek, aku juga. Apalagi Nenek ikut merawat dan membesarkan aku. Tapi kematian itu nggak bisa ditolak. Kita harus bisa menerima apa yang sudah digariskan oleh Tuhan. Kalau kita berlarut-larut dalam kesedihan, Nenek pasti ikut sedih. Kamu nggak mau kan Nenek sedih, hm? Kamu harus ingat, ada anak kita yang butuh perhatian. Kalau kamu kayak gini, gimana kualitas ASI kamu?"


Diandra tidak bisa menjawab. Air matanya terus mengalir dan entah sudah berapa liter air itu keluar sejak Nenek Harni dinyatakan meninggal. Kedua matanya bahkan sudah sulit untuk melihat saking bengkak nya.


"Sayang, ikhlas ya? Kita harus bisa. Sekarang tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Setelah itu kamu harus makan. Aku nggak mau kamu sakit." Diandra lagi-lagi hanya bisa meneteskan air matanya. Erlan segera menghapus air mata itu dengan senyuman manis.

__ADS_1


Erlan juga bukan sudah ikhlas. Hatinya tentu saja hancur kehilangan sang Nenek. Dia hanya tidak menunjukkan rasa itu pada siapapun. Bahkan rasa dendamnya pada Paman Sam. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Erlan pada keluarga Paman Sam.


Setelah berhasil menghibur Diandra, Erlan pergi ke dapur. Namun dia bukan hanya harus memberikan semangat pada Diandra, ada Mami yang pasti juga kehilangan Mamahnya. Erlan terlebih dahulu mengambilkan makan untuk Maminya yang sedang terbaring dengan sudut mata yang basah.


Erlan pun menghela napas panjang. Dia juga harus berpura-pura kuat di depan Maminya. Perlahan Erlan duduk di sisi ranjang sang Mami dengan sepiring makanan karena Mami Hasna juga belum makan. "Mam, makan dulu," kata Erlan kembali memberikan senyum palsu


Mami Hasna pun duduk dengan bersandar di bantal. Walaupun tanpa kata, Mami tahu jika Erlan tidak akan membiarkan dirinya tidak makan. Dengan sabarnya Erlan memberikan suapan demi suapan untuk Maminya. "Gimana keadaan Diandra? Apa Ezra rewel?" tanya sang Mami setelah beberapa suap masuk ke dalam mulutnya. Namun perutnya sudah kenyang dan menolak untuk kembali makan.


"Hm. Diandra udah baikan. Ezra juga lagi tidur. Mami istirahat ya. Jangan mikir apa-apa. Aku mau ambilin Diandra makan juga." Mami Hasna hanya mengangguk. Erlan pun memberikan kecupan di kening Manis Hasna kemudian pergi.


Setelah menutup pintu, lagi-lagi Erlan harus kembali menguat diri. Kali ini demi istri dan anaknya. Langkah kakinya kembali menuju dapur untuk mengambilkan Diandra makan. Tapi bukan nasi. Erlan sangat ingat kalau Diandra lagi sedih, dia hanya ingin mie instan kuah. Erlan pun meminta seorang asisten rumah tangga untuk memasaknya.


Beberapa saat kemudian, Erlan pun kembali ke kamar. "Sayang, makan mie, enak banget ini!" seru Erlan dengan raut wajah senang.


"Nggak lah! Aku mana bisa, hehe! Bibik yang masakin. Sekarang kamu makan ya? Habisin!" Diandra mengangguk dan mengambil sendok garpu kemudian meniup mie yang menggulung di garpu tersebut. Namun ternyata suapan pertama dia berikan pada Erlan.


"Kamu juga harus makan, Mas!" Erlan tersenyum dan membuka mulutnya menerima mie instan yang ditawarkan oleh sang istri. Setelah itu Erlan mengambil alih garpu tersebut dan mengambil mie untuk disuapkan pada Diandra.


"Terima kasih, Sayang!" kata Erlan dan Diandra hanya mengangguk. Setelah menelan mie yang ada di dalam mulut, tiba-tiba Diandra ingin menanyakan sesuatu pada Erlan.


"Mas!"


"Hm."

__ADS_1


"Kalau aku mati duluan, apa kamu akan menikah lagi?"


"Gimana kalau aku yang mati duluan, apa kamu akan mencari suami lagi?"


"Nggak mungkin. Mami aja nggak cariin kamu Papi baru."


"Coba pejamkan matamu!" titah Erlan dan Diandra menurut untuk menutup kedua matanya.


"Kenapa harus tutup mata, Mas? Kamu mau apa?" tanya Diandra setelah kedua matanya terpejam.


"Apa yang kamu lihat?" Erlan balik bertanya.


"Ya nggak bisa liat apa-apa lah. Gelap, Mas!" jawab Diandra masih menutup kedua matanya.


"Begitupun aku tanpa kamu, Sayang. Duniaku akan gelap kalau nggak ada kamu," jawab Erlan seketika Diandra langsung membuka matanya.


"Bisa-bisanya CEO Kejam kayak kamu gombalin aku, Mas!" Diandra pun mencubit lengan Erlan dengan sedikit salah tingkah karena gombalan Erlan.


"Emang kalau nggak gombalin istri sendiri, harus gombalin istri tetangga?"


"Kayak kenal sama tetangga sendiri aja!" Keduanya pun terkekeh seraya menikmati mie instan rasa soto yang masih panas tersebut.


........

__ADS_1


...Hari Senin nih, vote kembang kopinya dong 🥲 makin kesini makin sepi aja 😭 apakah udah nggak menarik?...


__ADS_2