
Setelah keluar dari apartemen Cherin, Diandra segera meraih ponselnya dan mencari aplikasi hijau untuk memesan apa yang diingkan Cherin yaitu rujak. Padahal Cherin tentu bisa melakukan hal itu sendiri, tetapi entah kenapa Diandra mau menuruti permintaan Cherin.
Erlan segera menyusul Diandra yang ternyata sedang duduk disebuah kursi tunggu di lobby. "Sayang," panggil Erlan lirih seraya duduk di sisi Diandra.
"Aku udah pesen rujaknya, Mas. Tinggal tunggu dateng aja," jawab Diandra kemudian tertunduk menatap layar ponsel untuk melihat kemajuan pesanan onlinenya tanpa menatap Erlan sama sekali. Melihat Diandra yang tertunduk, Erlan ikut diam hingga beberapa saat. "Sayang, apa kamu marah sama aku?" tanya Erlan melihat raut wajah Diandra yang memang berubah total. Padahal saat mereka berdua berangkat tadi, raut wajah Diandra tidak seperti sekarang.
"Aku hanya takut, Mas. Kamu lihat sendiri jika Cherin begitu percaya diri mengatakan itu anak kamu. Kalau itu bukan anak kamu, nggak mungkin dia bersikap seperti itu," jawab Diandra yang kini matanya terfokus pada ojol yang sedang berbincang dengan satpam. "Mas, mungkin itu rujak yang aku pesan. Kamu antar dulu sana!"
Erlan pun menoleh mengikuti ekor mata Diandra. "Kalau aku yang antar, Cherin akan besar kepala. Biar satpam itu saja yang antar. Aku kesana dulu," kata Erlan dan menghampiri ojek online tersebut lalu berbincang dengan satpam. Setelah mengatakan sesuatu, Erlan memberikan selembar uang merah pada satpam tersebut dan mengajak Diandra untuk masuk ke dalam mobil lalu segera pulang.
Diandra mulai berpikir yang seharusnya tidak dia pikirkan. Waktu enam bulan itu apakah akan merubah hidup dan cintanya atau malah akan sebaliknya. "Mas!" panggil Diandra tanpa menoleh pada Erlan yang fokus mengemudi.
"Iya, Sayang."
"Bagaimana jika anak itu beneran anak kamu, Mas? Apa kamu akan menikah dengan Cherin?"
"Aku yakin dia bukan anakku, Sayang."
"Aku tanya bagaimana jika dia anak kamu, Mas? Nggak mungkin kamu nggak menikahi ibunya karena anak itu butuh pengakuan juga."
"Sayang, aku sed-"
"Tinggal jawab aja, Mas! Kenapa kamu malah mengalihkan pembicaraan?" Diandra kini menatap Erlan dengan wajah sedih. Erlan segera menepikan mobilnya kemudian menggenggam tangan Diandra.
"Aku akan menuruti apa maumu asalkan kamu masih di sisiku. Tapi tolong untuk saat ini kita jangan bahas tentang Cherin. Masalah permintaannya, aku akan meminta Jio mengurus semua itu."
Jawaban dari Erlan membuat Diandra kembali diam hingga akhirnya mereka berdua tiba di rumah.
__ADS_1
...***...
Dua bulan berlalu begitu saja. Diandra menjalani hari yang berat karena menahan diri untuk tidak membahas Cherin terutama di hadapan Neneknya. Hari ini adalah jadwal Diandra untuk cek up pada Dokter Amira. Erlan yang akan mengantar Diandra sebelum berangkat ke kantor. "Udah siap?" tanya Erlan melihat Diandra sedang duduk di depan cermin.
"Entah kenapa perasaanku nggak enak, Mas," jawab Diandra lagi-lagi menunjukkan wajah sedih. Diandra memang selalu begitu saat di dalam kamar. Berbeda saat dia bersama dengan Nenek dan Maminya.
"Apa sih kamu tiap hari selalu bilang begitu, hm?" Erlan pun memeluk Diandra dari belakang dan sorot mata mereka bertemu dalam pantulan cermin.
"Ya udahlah. Kita berangkat sekarang aja takut kamu kesiangan juga," sahut Diandra kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Nenek dan Mami pasti udah nunggu di bawah." Diandra pun kembali dengan wajah cerianya kemudian menggenggam tangan Erlan untuk turun bersama.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Nenek terlihat cemberut.
"Pasti suami kamu minta jatah dulu ya?" ledek sang Mami membuat Diandra terpaksa tersenyum lebar.
"Kalian kepo sekali sih?" sahut Erlan seraya meraih roti bakar dan melahapnya.
"Dasar anak lucnut," ucap Mami dengan lirikan sinis.
"Nggak usah, Nek. Mas Erlan aja udah cukup," jawab Diandra yang ikut melahap roti bakar untuk sarapan.
Suasana keluarga itu masih baik-baik saja bahkan setelah kabar kehamilan Cherin yang benar-benar tertutup rapat. Sebenarnya Erlan mendapatkan beberapa informasi dari orang suruhannya. Informasi itu terkait dengan orang yang memakinya miskin saat akan ke apartemen Diandra menggunakan ojek. Orang itu terlihat dari arah apartemen milik Cherin. Ditambah lagi cctv yang tepat mengarah ke pintu apartemen Cherin kebetulan mati. Kecurigaan Erlan semakin kuat.
Namun sampai saat ini, belum juga ada perkembangan tentang orang tersebut siapa dan tinggal dimana. Hal itu belum Erlan ceritakan pada Diandra karena menurutnya bukan hal penting apalagi hanya informasi kecil.
...***...
Setibanya mereka di rumah sakit, Erlan dan Diandra harus menunggu beberapa menit karena Dokter Amira sedang ada pasien penting. Walaupun sudah mengatur jadwal, tetapi Erlan tidak protes dan menunggu sampai mereka berdua dipanggil di ruang tunggu yang cukup jauh dari ruangan Dokter Amira karena kursi yang ada di dekat ruangan Dokter Amira penuh.
__ADS_1
"Tumben ya, Mas, Dokter Amira nggak mentingin kita?" tanya Diandra cukup heran.
"Mungkin ini amat sangat penting, Sayang," jawab Erlan dengan santainya. Namun beberapa saat kemudian, Erlan melihat laki-laki yang pernah bertemu dan orang yang dia curigai ada hubungannya dengan Cherin. Hanya saja laki-laki itu terlihat buru-buru sekali bahkan ada beberapa pengawal di belakangnya setelah dia keluar dari rumah sakit.
Entah kebetulan atau bagaimana, Erlan juga melihat Cherin dengan pakaian serba tertutup. Walaupun menyamar, Erlan tahu pasti itu adalah Cherin. Namun saat akan mengejar Cherin, Erlan dipanggil oleh seorang perawat agar segera ke ruangan Dokter Amira. Akhirnya Erlan mengurungkan niatnya untuk mengejar Cherin.
"Mas! Kok ngelamun sih?" ucap Diandra seraya menepuk bahu Erlan.
"Ah, tadi aku liat temen, tapi udah jauh. Ya udah kita ke ruangan Dokter Amira sekarang," jawab Erlan kembali menggenggam tangan Diandra.
Walaupun pikiran Erlan bertanya-tanya, kejadian tadi adalah kebetulan atau memang disengaja, Erlan harus bertindak cepat karena kemauan Cherin semakin gila. Terakhir dia minta uang lagi sebanyak satu milyar dengan alasan ingin membeli tas juga baju hamil keluaran terbaru dengan alasan ngidam.
Dua bulan terakhir ini Cherin benar-benar banyak kemauan, tetapi Erlan selalu menuruti apa pun itu selama dirinya tidak bersentuhan dengannya.
"Kesehatan Bu Diandra cukup bagus ya. Syukurlah apa yang saya takutkan tidak terjadi. Jangan sampai lupa dengan obatnya ya, Bu. Walaupun semuanya baik, tetapi obat itu tidak boleh telat," jelas Dokter Amira yang terlihat senang dengan perkembangan Diandra.
"Apa saya tidak bisa hamil sekarang aja, Dok?" tanya Diandra cukup mengejutkan Erlan.
"Sayang ...."
"Nggak pa-pa, Pak! Wajar kalau Bu Diandra bertanya seperti itu. Tapi Bu Diandra harus ekstra sabar ya. Ini bukan hanya tentang mempunyai keturunan, tapi tentang kesehatan Ibu juga."
Percakapan dengan Dokter Amira tidak membuat Diandra senang. Tentu bukan hanya karena tidak sabar ingin segera hamil, tetapi karena dia semakin takut jika anak yang dikandung Cherin benar-benar anak Erlan. Diandra bahkan tidak tahu harus bagaimana jika hal itu terjadi.
........
Hayo ... ada yang masih ingat dengan laki-laki yang dicurigai Erlan? Kalau nggak ingat, fix kalian bacanya loncat.
__ADS_1
Yuk mampir juga ke karya Kak sensen, dijamin seru abis 👇