Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Rasa Campur Aduk


__ADS_3

Sebenarnya hari ini adalah jadwal cek up Diandra yang kedua setelah dia menunda jadwal cek up nya karena Dokter Amira ada kepentingan selama beberapa minggu yang lalu. Sudah lima bulan Diandra melewati masa menyedihkan itu. Bahkan rasanya Diandra tidak sabar dan kecewa dengan diirinya sendiri karena tidak seberuntung Cherin yang langsung bisa hamil padahal dia baru menikah dua puluh hari.


Tentu saja bisa ditebak kalau saat Hanes melakukan kekejamannya pada Cherin tempo hari, benih itu langsung berkembang dengan usia kandungan Cherin yang masuk lima minggu. "Benar-benar wanita yang beruntung, baru kehilangan anak udah langsung dapet penggantinya," gumam Diandra masih dalam pelukan Erlan. Namun Erlan tentu masih mendengar.


"Sayang, kamu juga wanita beruntung yang bisa melewa-"


"Mas, aku belum seberuntung Mbak Cherin yang langsung bisa hamil setelah keguguran," sela Diandra seraya melepaskan pelukannya kemudian membuang muka menatap keluar jendela. Wajah sedih itu tidak bisa disembunyikan dari sang suami.


"Sayang ... setiap orang punya porsi bahagianya masing-masing. Begitu juga dengan kita. Apa kamu nggak bahagia dengan pernikahan kita sekarang?" Diandra pun menoleh dan kembali menatap Erlan.


"Gimana aku nggak bahagia kalau punya suami yang sayang banget sama aku. Hanya saja kebahagiaan kita belum benar-benar sempurna kalau belum ada Erlan junior ditengah-tengah kita, Mas!"


"Kenapa hanya Erlan junior? Diandra junior juga nggak masalah loh," jawab Erlan dan Diandra malah memberikan cubitan di pinggang Erlan.


"Malah bercanda, ish! Orang lagi serius juga," keluh Diandra kali ini raut wajahnya mulai berubah kesal.


"Aku lebih suka raut wajahmu yang sekarang dari pada yang tadi, Sayang. Sekarang kamu sangat menggemaskan dan rasanya aku ingin sekali mema-"


"Mas!" bentak Diandra yang langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Erlan. Diandra pun memeluk Erlan kembali. "Terima kasih kamu selalu bisa menghiburku." Erlan mempererat pelukannya kemudian mencium ujung kepala sang istri.


"Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun dan dalam keadaan apa pun, jadi ... jangan pernah menunjukkan wajah sedih lagi, hm?" Diandra mengangguk dalam pelukan Erlan. Tidak lama kemudian mobil terparkir di halaman rumah sakit. "Udah nyampe ternyata. Kita harus segera turun karena Dokter Amira pasti udah nungguin kita," kata Erlan melepaskan pelukannya. Keduanya pun turun dari mobil.


Langkah kaki mereka pun beriringan bersama menelusuri lantai dengan keramik berwarna putih tersebut. Ada hal aneh yang menyerang Erlan sesaat setelah masuk rumah sakit. Erlan tiba-tiba merasa sedikit mual karena bau khas rumah sakit tersebut yang di dominasi dengan bau karbol.


"Sayang, kok aku agak mual ya? Padahal tadi udah sarapan sama kamu," ucap Erlan seraya menggosok-gosok bagian perutnya yang tertutup kemeja berwarna putih.


"Mungkin kamu masuk angin, Mas! Semalam kamu telat makan dan tidur lebih malam juga. Nanti sekalian minta obat sama Dokter Amira aja,"


"Dikira aku hamil minta obat ke Dokter kandungan?" jawab Erlan membuat Diandra terkekeh.


"Ya pasti dia juga sedikit tahu dong keluhan kamu. Kan dia Dokter,"


"Iya, terserah kamu, Sayang." Akhirnya kedua pasangan itu pun tiba di depan ruang periksa yang selalu berhasil membuat Diandra gugup. Entah kenapa jadwal periksa rahimnya yang kedua ini dia lebih gugup. Paska pengangkatan endometriosis dan kista juga miom nya, Diandra tentu saja berharap jika dia bisa segera program hamil walaupun pada kenyataannya dia harus KB dan menunggu satu sampai dua tahun lagi.


Setelah masuk ruangan, mereka basa-basi terlebih dahulu dengan menanyai kabar juga permohonan maaf Dokter Amira yang cuti cukup lama karena ada urusan mendadak. "Nggak pa-pa, Dok! Yang penting sekarang kan udah bisa ketemu Dokter lagi," jawab Diandra kemudian diminta berbaring di atas brankar untuk memulai pemeriksaan.


Dokter Amira mulai melakukan pekerjaannya. Namun sesaat kemudian tiba-tiba raut wajahnya berubah. "Loh, kok!" Dokter Amira tersentak kaget saat melihat layar monitor USG bahkan terlihat memperhatikan begitu serius.

__ADS_1


"Ada apa, Dok?" tanya Diandra dan Erlan dengan kompaknya.


"Ini nggak mungkin!" jawab Dokter Amira yang masih ambigu.


"Apa terjadi sesuatu dengan istri saya, Dok?" tanya Erlan sangat khawatir. Namun Dokter Amira tidak langsung menjawab karena tangannya masih sibuk menekan bagian bawah perut Diandra dengan sebuah alat dan kedua matanya begitu fokus menatap layar monitor USG tersebut. "Dokter! Ada apa?" tanya Erlan lagi kini bernada cukup tinggi.


"Ini benar-benar keajaiban. Bu Diandra hamil dengan usia kandungannya memasuki minggu ke tujuh," papar sang Dokter membuat Erlan juga Diandra terkejut bukan main. Tentu kabar bahagia itu membuat Diandra langsung menitikkan air matanya. Tak terkecuali dengan Erlan yang langsung menciumi Diandra dengan rasa harunya.


Namun kebahagiaan Diandra berubah resah saat Dokter Amira masih sibuk menekan perut bagian bawahnya itu karena alat yang menempel di perut Diandra cukup lama dari sebelumnya. Seakan Dokter Amira sedang mencari sesuatu yang membuatnya khawatir. "Apa ada yang salah dengan kehamilan saya, Dok?" tanya Diandra hanya mendapatkan jawaban sebuah senyuman tipis dari Dokter Amira.


Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, Diandra pun turun dari ranjang medis tersebut lalu diminta menunggu di tempat duduk tempat mereka berbincang tadi. Entah kenapa Diandra sangat khawatir melihat bagaimana raut wajah Dokter Amira tadi. Tangannya bahkan tremor saking takutnya mendengar apa yang akan dikabarkan oleh sang Dokter.


"Sayang ...." Erlan menggenggam kedua tangan Diandra dengan senyum tipis, tetapi cukup membuat Diandra semakin khawatir menatap wajah suaminya itu.


"Mas, ak-aku ... takut," kata Diandra gugup seraya tertunduk menatap kedua tangan yang menyatu itu.


"Nggak pa-pa! Kita harus dengarkan apa yang akan dijelaskan oleh Dokter Amira. Siapa tahu apa yang kamu pikirkan nggak sesuai dengan apa yang kamu takutkan. Tenanglah dan tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan, hm?" ucapan Erlan mampu membuat Diandra sedikit tenang setelah mengikuti saran suaminya.


Beberapa saat kemudian, Dokter Amira duduk di kursinya dengan hasil USG yang di hadapkan di depan Erlan juga Diandra. "Sebelumnya saya ucapkan selamat atas kehamilannya Bu Diandra ya, padahal masih masa KB ternyata memang nggak ada yang nggak mungkin kalau Tuhan berkehendak. Apalagi janinnya sangat sehat. Benar-benar sebuah keajaiban," ucap Dokter Amira dengan lembutnya.


"Iya, Dok. Terima kasih banyak," jawab Diandra lirih. Jelas dia masih harap-harap cemas dengan perkataan yang akan selanjutnya dia dengar.


"Tapi apa, Dok?" kompak Erlan dan Diandra.


"Bagaimana pun harus saya sampaikan karena ada kabar buruk di sisi kabar bahagia ini," papar Dokter Amira seraya menunjuk titik putih pada hasil USG yang ada di hadapan Erlan juga Diandra.


"Apa itu, Dok?" tanya Erlan tidak sabar.


"Endometriosis nya mulai ada penebalan dan ... dan miom nya kembali tumbuh di beberapa titik ini," jelas Dokter Amira seraya menunjuk beberapa titik putih pada hasil USG tersebut. Diandra langsung lemas mendengar kabar tersebut. Harapannya untuk hamil seolah pupus dan mungkin dia akan kembali kehilangan anak yang baru tujuh minggu tersebut.


"Apa ini membahayakan kehamilannya, Dok? Apa tidak ada obat untuk membantu kehamilan istri saya ini?" tanya Erlan.


"Kehamilannya harus benar-benar kita pantau ya, Pak. Jika miomnya terus membesar, maka akan menggangu dan menghambat perkembangan janinnya," jelas Dokter Amira.


"Apa akan sama seperti kehamilan pertama saya, Dok? Apa nggak ada kesempatan untuk saya mempertahankan anak saya ini?" tanya Diandra.


"Betul. Hal itu bisa terjadi kembali seperti kehamilan Bu Diandra sebelumnya. Jadi tolong ... jaga pola makan, jaga pikiran jangan sampai stress, rutin minum obat dan vitamin bener-bener jangan sampai kelewatan. Dan yang paling penting, rutin untuk kontrol," jawab Dokter Amira.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya nantinya, Dok?" tanya Erlan masih begitu khawatir melihat raut wajah Diandra yang kecewa.


"Kehamilan yang sekarang akan sangat berpengaruh dengan pola hidup Bu Diandra kedepannya. Saya hanya menebak, bisa saja endometriosis nya berhenti berkembang, tetapi miom di beberapa titik itu bisa tumbuh seiringan pertumbuhan janinnya. Kita harus benar-benar mengontrol agar si miom tidak lebih subur dari janin,"


"Tolong bantuannya, Dok. Tolong jaga istri dan calon anak kami," pinta Erlan dengan mata yang berkaca-kaca. Dokter Amira tentu paham dan mengangguk.


"Perlu saya sampaikan kalau pola hidup Bu Diandra akan benar-benar berubah karena uterus akan membesar dan miom akan tertekan. Hal itu akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Semakin besar janinnya, maka akan semakin besar rasa sakit yang Bu Diandra rasakan nanti,"


"Nggak pa-pa, Dok! Saya yakin saya bisa menahan semuanya," jawab Diandra dengan penuh percaya diri. Kini Ada secercah harapan untuk bisa mempunyai anak. Dan yang paling penting adalah, dia tidak akan iri dengan kehamilan Cherin.


"Tolong dengan sangat ya, Bu! Anda nggak boleh stres sama sekali. Saya khawatir faktor stres itu datang dari rasa sakit yang Bu Diandra rasakan nanti."


"Baik, Dok! Akan saya ingat pesan Dokter." Kali ini raut wajah Diandra benar-benar berubah total. Sebelah tangannya mengusap halus perut yang masih rata itu dengan seulas senyum bahagia.


Setelah selesai berkonsultasi, Dokter Amira pun memberikan resep obat pada Erlan untuk ditebus di apotek. Keduanya pun mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan itu.


Diandra tak berhenti mengusap perutnya dengan raut wajah yang masih sama. Kabar kehamilannya itu akan membuat Nenek juga Ibu mertuanya sangat bahagia. Kali ini dia akan benar-benar menjaga nyawa baru yang ada di perut itu. Walaupun ada ras was-was karena takut kejadian sebelumnya terjadi, tetapi Diandra yakin seyakin-yakinnya kalau kehamilan kali ini berhasil. Dia hanya perlu menahan rasa sakit sedikit saja.


Berbeda dengan Diandra yang begitu antusias dengan kehamilannya, Erlan terlihat gusar dan tidak tenang. Padahal Diandra hamil, tetapi raut wajahnya menunjukkan ketidakbahagiaan. "Kenapa raut wajah kamu seperti itu, Mas?" tanya Diandra saat keduanya sedang mengantri di apotek untuk menunggu obat yang diresepkan Dokter Amira.


"Aku ragu, Sayang! Aku benar-benar ragu bisa melihat kamu dengan rasa sakit itu," kata Erlan diiringi helaan napas berat.


"Mas, jangan khawatir ya? Aku yakin aku bisa menahan rasa sakit itu. Istrimu ini pinter loh kalau urusan tahan menahan. Aku yakin rasa sakitnya bisa aku sembunyikan dengan sebaik mungkin."


"Justru karena kamu pinter, makanya aku khawatir, Sayang." Erlan lagi-lagi menghela napas berat dan menarik kepala Diandra untuk dia kecup. "Aku takut. Kamu pasti akan menyembunyikan rasa sakit itu sendirian. Kamu akan terus berpura-pura baik-baik saja nanti."


"Mas, tenang ya? Kalau rasa sakitnya suakittt banget, aku bakal bilang kok sama kamu."


"Itu yang aku takutkan. Mau sakitnya sedikit atau banyak, tetap aja itu sakit. Sesakit apa pun, kamu harus bilang. Harus!"


"Iya, Sayangku. Udah ... senyum dong!" Lagi-lagi Erlan menghela napas berat.


"Pokoknya mau sesibuk apa pun suamimu ini, dalam keadaan apa pun itu, entah di kantor atau dimana pun, kamu wajib bilang, kamu nggak boleh tahan sendiri. Kamu wajib mengadu, hm?"


"Bawel banget ayah kamu, Nak," jawab Diandra seraya tertunduk dan mengusap perutnya kembali. Erlan tidak bisa bicara apa-apa lagi selain mengusap ujung kepala Diandra dan kembali menciumnya.


........

__ADS_1


Hei ... jangan lupa tinggalkan like komen vote kembang kopinya ya buat kasih semangat Diandra dengan kehamilannya kali ini, tapi tapi author sedikit sedih karena disini ada juga reader yang pernah diposisi Diandra loh🤧


__ADS_2