Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Sedikit Lagi


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Cherin merengek meminta Hanes untuk mengantarnya menjenguk Diandra. Namun seberapa besar rengekan itu, Hanes tetap tidak setuju karena kehamilan Cherin juga harus diperhatikan.


Usia kandungan Cherin masuk minggu ke dua puluh sembilan. Beda tiga minggu dengan usia kehamilan Diandra. Setiap hari Cherin hanya dikejar rasa khawatir atas kondisi Diandra. Tentu saja, karena wanita yang dia khawatirkan itu telah merubah hidupnya. Wanita itu merawatnya saat sakit bahkan rela jauh-jauh ke rumah sakit hanya untuk menemani dan memberikan rasa nyaman.


Cherin benar-benar merasa sedih karena dia tidak bisa membalas dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Diandra padanya. "Mas! Ayolah!" Cherin masih merengek seraya menggoyangkan tubuh Hanes.


"Video call aja, kan sama! Sama-sama bisa liat wajahnya dan tanya keadaannya." Kata itu terus jawaban yang keluar dari mulut Hanes. Tentu saja Cherin kesal karena video dengan bertemu langsung itu beda rasa. Bagaimana bisa disamakan oleh suaminya.


"Jahat banget sih, Mas! Kamu tahu Diandra itu banyak nolongin aku dan bantuin aku. Dia sedang butuh support, Mas! Dia sedang sakit. Aku pengen peluk dia juga bukan cuma lihat wajahnya dari ponsel!" kekeh Cherin, tetapi kali ini seraya membuang muka.


"Sayang ... kamu juga harus perhatikan kondisi kamu dan anak kita. Kamu nggak boleh melakukan perjalanan jauh. Kalau kamu kecapean, tentu akan membahayakan keadaan kamu juga anak kita. Sudahlah, dari ponsel aja ya?"


Hanes tentu tidak mau mengambil resiko dengan apa yang akan terjadi jika dia menuruti kemauan Cherin. Kehamilan Cherin juga butuh beberapa obat agar anaknya tetap kuat. Hanes segera meraih ponselnya dan melakukan panggilan video pada Erlan.


Namun saat itu Diandra sedang istirahat dan Erlan tidak menjawab panggilan video itu lalu mengirimkan pesan pada Hanes. Pesan itu dia sampaikan pada Cherin dan lagi-lagi Cherin kecewa karena tidak ada di dekat Diandra saat dia membutuhkan banyak bantuan juga semangat.


...***...


Erlan sedang duduk di ruang kerjanya menatap sebuah bingkai foto yang menunjukkan sepasang suami istri dengan pakaian pernikahan sedang memasang senyum palsu. Pasangan itu adalah dirinya sendiri dan Diandra yang sedang bergandengan tangan menatap fotografer untuk menunjukan sebuah kebahagiaan yang dibuat-buat. Semua orang tahu bagaimana mewahnya pesta pernikahan seorang CEO dengan banyak prestasi yang luar biasa bahkan sering masuk cover majalah bisnis hingga mancanegara.


Entah kenapa baru sekarang dia meletakkan foto pernikahannya di meja kerja. Seharusnya sejak dulu hal kecil itu dia lakukan. Senyum tipis mulai terpancar saat melihat wajah Diandra yang begitu cantik. Walaupun terkesan tawa yang terpaksa, tetapi wajah manis itu tidak bisa dipungkiri.


Bibirnya tiba-tiba terangkat menandakan dia sedang tersenyum. Namun tidak bisa dibohongi jika sorot matanya memancarkan keresahan dan kekhawatiran. Semakin hari semakin bertambah rasa kacau dalam benaknya. Beberapa kali Erlan mengatakan ingin berhenti bekerja dan mengalihkan semua pekerjaannya pada Jio untuk fokus dengan Diandra. Namun Diandra melarang karena malu jika anaknya lahir dan Erlan menjadi ayah pengangguran. Sungguh alasan tidak logis, tetapi Erlan tidak bisa mengelak.


"Bos, apa yang bisa saya bantu?" Jio tentu tahu keresahan yang sedang ada dalam pikiran Erlan.


"Entahlah. Aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Hatiku sangat hancur saat melihat wajah pucat istriku. Setiap saat setiap waktu wajah pucat itu terus mengulas senyum agar semua orang tidak khawatir padanya. Aku harus bagaimana sebagai suami? Aku ... aku ...."


Jio tidak bisa menjawab apa-apa karena dia tidak ada diposisi Erlan. Jio hanya bisa memberikan semangat pada Erlan lewat tepukkan di pundaknya. Salah bicara sedikit, itu bisa membuat dia semakin terpuruk.


...***...


"Mah, kita ajak jalan-jalan Diandra yuk? Kasian dia nggak pernah keluar kamar. Sekali keluar malah ke rumah sakit," kata Mami Hasna yang kemudian menyiapkan kursi roda untuk Diandra.


"Ide bagus!" Nenek Harni dan Mami Hasna pun pergi ke kamar Diandra.


Di kamar, Diandra sedang duduk bersandar di bantal menatap layar ponselnya. Dia ingin menghubungi Erlan, tetapi ragu karena takut mengganggu. "Kenapa, Sayang?" tanya Mami yang cukup mengejutkannya Diandra.


"Eh, Mami ... Nenek, nggak apa-apa kok!" jawab Diandra kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Namun sang Mami melihat nama Erlan dilayar ponsel itu dan meraihnya.


"Kamu mau bicara sama Erlan tapi takut ganggu? Gitu kan?" Diandra mengangguk malu. "Erlan akan sangat senang kalau kamu mau mengatakan apa sedang kamu pikirkan. Mami aja yang telpon." Tombol hijau pun di tekan oleh Mami Hasna.


"Hallo, Sayang ... ada apa?"


"Ini, Mami. Diandra tadi ragu mau telepon katanya takut ganggu. Sekarang kamu bicara sendiri sama orangnya." Mami Hasna pun memberikan ponsel itu pada Diandra.


"Hallo, Mas! Maaf ya kalau ganggu,"

__ADS_1


"Nggak kok! Kamu kenapa? Apa perutnya sakit?"


"Bukan. Hari ini aku belum ngerasain sakit. Tapi ... itu ... tiba-tiba aku pengen liat ekspresi kamu makan cabe, Mas."


"Haha ... apa itu permintaan anak kita? Oke ... aku akan segera pulang."


"Makasih ya, Mas!"


"Nggak perlu makasih. Aku senang kamu mau mengatakan apa yang kamu mau, Sayang. Aku beresin dulu ya kerjaan ku, setelah itu aku akan langsung pulang."


"Iya, Mas. Hati-hati ya?" panggilan itu pun terputus. Mami juga Neneknya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Diandra.


"Mah, pasti seru nih!"


"Nggak sabar nunggu Erlan pulang. Cucuku emang pinter!"


Diandra masih malu dengan hal aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja. Namun melihat ekspresi Nenek dan Maminya yang senang, Diandra ikut senang.


"Oke ... sambil nunggu Erlan datang, kita jalan-jalan di deket sini aja yuk?" Diandra semakin senang karena bisa keluar dari kamar. Perlahan Diandra melangkah dituntun oleh Mami dan Neneknya menuruni anak tangga kemudian duduk santai di kursi roda.


Cuaca yang hampir sore itu cukup mendukung untuk jalan-jalan. Diandra begitu senang karena ini pertama kalinya selama masa kehamilan Diandra bisa keluar dari rumah selain ke rumah sakit.


"Mam, makasih ya?"


"Seharusnya tiap hari kita ajak Diandra jalan-jalan begini ya? Enaknya sih pagi hari, tapi sayang kalau pagi kamu mual muntah," kata Nenek Harni dengan raut wajah sedih.


"Donat ... donat ...." Suara teriakan seorang anak kecil menarik perhatian Diandra.


"Bawa, kamu mau donat itu?"


"Iya, Mam! Aku mau coba."


"Neng, sini!" teriak Nenek membuat anak perempuan penjual donat itu segera menghampiri.


"Mau donat, Nek?" tanya gadis kecil itu.


"Coba satu dulu," pinta Nenek dan anak itu mengambil penjepit untuk mengambil Nenek Harni donat. "Siapa nama kamu, Neng?" tanya Nenek seraya mengambil dan mencicipi donat tersebut.


"Nama saya Kiki, Nek," jawab Kiki dengan sopannya.


"Oh, Kiki. Nenek ambil semua donatnya ya? Ini enak," kata Nenek kemudian memberikan satu buah donat pada Diandra.


"Wah ... makasih ya, Nek." Antuasias Kiki membungkus donat tersebut membuat Diandra tersenyum. Di umuran Kiki, Diandra dulu juga harus belajar banyak hal termasuk kerasnya hidup.


"Orang tua Kiki kemana?" tanya Diandra.


"Ibu lagi sakit, Kak. Tadi pagi Ibu baru selesai goreng donat malah pingsan. Jadi Kiki yang jualin donat ini dari pada mubazir. Ibu biar istirahat di rumah," jelas Kiki kembali membuat Diandra tersenyum.

__ADS_1


"Semangat ya, Neng!" ucap Mami seraya memberikan beberapa lembar uang merah pada Kiki.


"Ini terlalu banyak, Bu. Kiki nggak bisa terima uang ini," kata Kiki mengembalikan beberapa lembar uang merah pada Mami Hasna.


"Ambil aja, Neng. Uang ini bisa buat berobat Ibu Kiki nanti." Kiki pun mengangguk.


"Terima kasih, Nek! Terima kasih, Bu! Terima kasih, Kak!" kata Kiki seraya membungkukan badanya.


"Donatnya bisa kita bagikan sama asisten rumah tangga, satpam, tukang kebun dan yang lainnya ini. Rasanya juga lumayan lah." Nenek cukup senang menenteng dua kantung plastik yang berisikan donat.


"Kita pulang yuk? Kayaknya Erlan udah mau datang. Mami nggak sabar liat Erlan makan cabe," kata Mami seraya terkekeh. Akhirnya mereka kembali ke rumah.


Ternyata Erlan sedang berdiri diambang pintu menunggu kepulangan istrinya. "Dari mana aja sih? Aku udah pulang dari tadi, nyari sampe ke belakang rumah nggak ada. Kamu kan nggak boleh kecapean, Sayang!" keluh Erlan langsung berjongkok di depan kursi roda Diandra.


"Mami ngajak dia jalan-jalan. Kasian dia kamar terus. Udaranya juga sejuk, biar rileks!" jawab sang Mami.


"Lain kali bilang dulu Mam. Erlan khawatir!" Erlan pun mendorong kursi roda Diandra.


"Mas ... kenapa marah? Niat Mami dan Nenek baik, kok! Aku seneng bisa keluar rumah selain ke rumah sakit." Erlan hanya bisa menghela napas berat.


"Iya, Sayang. Jadi makan cabe?" Erlan pun mengalihkan pembicaraan.


"Jadi dong! Kamu udah siap, Mas? Tapi aku mau rekam ya? Aku bener-bener pengen liat kamu makan cabe, hm ...." Erlan mengangguk.


"Mami juga mau liat,"


"Iya Nenek juga mau liat,"


Antusias itu membuat Erlan lagi-lagi menghela napas berat.


...***...


Diandra tidak hentinya tertawa melihat ekspresi wajah Erlan dalam video rekaman yang mana Erlan dengan lahapnya makan cabe satu piring yang diminta Diandra. "Puas!" Erlan masih mengibaskan tangannya di dekat mulut karena rasa pedas itu belum hilang juga. Diandra kembali tertawa saat mengingat Erlan yang menuruti Diandra untuk minum air hangat. Ekspresi wajah Erlan benar-benar sangat lucu dan menggemaskan.


"Ya ampun, Mas! Tahu gitu aku bilang dari kemaren ya? Aku nggak akan kesepian berbaring di kamar ini sendiri. Harusnya aku banyak merekam momen bahagia kita ya, Mas!"


Perkataan Diandra berhasil merubah raut wajah Erlan menjadi sedih. Dia tahu jika istrinya itu begitu kesepian selama beberapa bulan dan bahkan harus menahan rasa sakit. "Sayang ... jangan sungkan lagi apa yang kamu mau ya? Aku akan turuti semuanya. Kalau kamu butuh teman ngobrol, ya tinggal telpon aja. Kalau aku nggak sibuk pasti aku angkat." Erlan pun duduk menyilangkan kakinya di sisi Diandra dan memijat kaki Diandra.


"Eh, Mas! Jangan! Masa kamu pijitin kaki aku sih. Harusnya aku yang pi-"


"Nggak pa-pa! Emang ada undang-undang yang melarang suami mijitin kaki istrinya?" Walaupun menang Diandra tidak enak hati, tapi pijatan Erlan cukup nyaman.


"Enak ya? Sampe nggak berhenti tersenyum liatin suaminya yang makin ganteng ini," ledek Erlan langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya.


"Maaf ya, Mas! Maaf kamu harus lebih lama lagi puasa."


"Ah, nggak masalah! Nggak ada yang lebih berat dari perjuangan kamu, Sayang. Kita bisa melakukannya sepuasnya nanti setelah kamu sembuh sepenuhnya." Diandra tidak menjawab dan hanya bisa memberikan senyuman manis seraya menikmati pijatan Erlan.

__ADS_1


........


...Maaf ya kalau ada typo, jempol capek banget 🙏...


__ADS_2