
Hari-harinya Diandra sibuk belajar dengan Meli bahkan kedua wanita itu sangat asyik mengobrol. Sesekali Nenek juga Maminya menemani belajar bahkan selalu menyanjung Diandra yang cepat sekali tanggap dengan apa yang Meli jelaskan.
"Nggak salah emang punya mantu kayak kamu, Nak!" puji Nenek membuat Diandra tersipu malu. Ya, sebenarnya Diandra memang cerdas sejak kecil. Hanya karena dirinya dikurung, jadi dia tidak bisa meneruskan sekolah. Bahkan hanya ingin membaca buku saja dia biasanya mencuri buku Kakak tirinya.
"Makasih, Nek," balas Diandra malu-malu.
"Ma, kita jalan-jalan yuk? Udah lama nggak jalan. Lagian Diandra beberapa hari ini belajar terus, kasian. Bertiga kayaknya seru, tapi Mama yang traktir ya?" usul Mami Hasna langsung mendapatkan lirikan tajam dari Nenek Harni.
"Bilang aja kamu nggak mau rugi?" sahut Nenek Harni dan Mami Hasna hanya cengengesan.
"Kan Mama uangnya banyak. Masa harus Hasna yang traktir," jawab Mami Hasna dengan mengedipkan matanya beberapa kali untuk merayu Mamanya.
"Meli juga di ajak dong, Nyonya," rayu Meli.
"Ya sudahlah, kita siap-siap aja. Nanti Nenek yang traktir," sahut Nenek Harni yang sebenarnya dia juga ingin sekali jalan-jalan bersama Diandra. Akhirnya semua orang masuk ke kamar masing-masing, kecuali Meli yang tetap duduk di sofa.
Setelah bersiap, Diandra lupa jika dirinya belum menyalahkan uang ponsel sejak semalam karena semalam dia dan Erlan mengobrol hingga ponsel Diandra lowbat. Segera dia mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan pengisi daya. "Ya ampun ... kenapa aku bisa lupa nggak nyalain ponsel. Pasti Mas Erlan marah," gumam Diandra dengan cepat menghubungi Erlan.
"Astaga ... Sayang! Kenapa kamu baru nyalain ponsel, hah!" bentak Erlan di sebrang.
"Hehe ... maaf. Aku belum biasa punya ponsel jadi lupa, Mas," jawab Diandra seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Kenapa kamu dandan cantik? Mau kemana?" tanya Erlan dengan wajah serius.
"Oh, iya. Aku diajak jalan-jalan, Mas. Nenek sama Mami tadi ngajakin jalan. Aku cantik emangnya?"
"Kamu selalu cantik di mataku, Sayang."
"Ya, kamu selalu gombal di telingaku, Mas."
"Haha ... ya udah kamu buruan turun. Jangan lupa kirim foto kalian pas jalan-jalan ya?"
"Iya, Mas. Aku pergi dulu ya! Kamu yang semangat kerjanya,"
"Cepet kamu beresin kerjaannya terus langsung pulang. Nggak kangen sama aku?" goda Diandra membuat Erlan panas dingin.
"Sayang ... kamu benar-benar menggemaskan. Dah buruan berangkat sebelum ada yang bangun,"
"Haha ... iya udah, dah ... aku tutup ya? Emuach ... i love you, Mas Erlangga." Erlan belum sempat menjawab, Diandra langsung menutup panggilan itu dengan sengaja. "Pasti dia salah tingkah dan senyum-senyum sendiri kayak orang gila," gumam Diandra segera keluar dari kamarnya.
...***...
Sudah lebih dari lima jam keempat wanita itu jalan-jalan di taman hiburan juga di mall. Mereka semua begitu menikmati hari itu hingga senja datang. Diandra terlalu senang bahkan mengirimkan banyak foto pada Erlan tanpa peduli di balas atau tidak oleh suaminya. Tidak lupa juga sang Nenek mengajak makan di restoran mewah dengan banyak menu makanan yang Diandra sampai bingung memilih.
__ADS_1
"Ini apa nggak mubazir, Nek? Boleh dibungkus ya kalau nggak habis?" dengan polosnya Diandra bicara sampai Nenek juga Maminya tertawa terbahak-bahak. Hanya Meli yang menahan tawa.
"Iya. Bungkus aja mana yang ingin kamu bungkus," jawab sang Nenek dengan senyuman.
"Aku foto dulu, Nek. Buat laporan sama suami," kata Diandra kemudian mengambil ponselnya dan memotret beberapa kali jepretan semua makanan yang tertata di meja dan mengirimkan gambar itu pada Erlan seperti sebelumnya. Setelah itu tanpa basa-basi lagi Diandra pun mengambil makanan yang menarik matanya dan menikmati makanan itu dengan perasaan bahagia. Bisa saja waiters disana akan mengatakan Diandra itu kampungan, tetapi tidak ada yang peduli jika ada yang berfikir demikian.
Makan malam itu selesai setelah mereka duduk hampir satu jam di meja makan. Pada akhirnya Diandra tidak jadi membungkus makanan karena dia sudah sangat kenyang dan takut tidak akan bisa dia makan. Namun sang Nenek tahu maksud Diandra ingin membungkus sisa makanan, jadi Nenek pun berinisiatif membungkus makanan yang masih banyak porsinya karena Diandra pasti senang dan akan memberikan pada para asisten rumah tangga.
Sikap baik dan ramah serta sopan santun Diandra benar-benar membius Nenek Harni hingga dia begitu menyayangi Diandra sejak pertemuan pertama mereka. Nenek Harni sudah bisa menebak sifat Diandra sejak pertama kali bertemu. Itu kenapa sang Nenek tidak ragu untuk memberikan hartanya pada Diandra.
Dalam perjalanan pulang, Diandra tiba-tiba merasa pusing dan ada rasa aneh di perutnya. Melihat Nenek juga Maminya asik mengobrol berdua di kursi belakang karena Meli sudah pulang dengan taksi, Diandra yang duduk di dekat supir menahan semua itu hingga tiba di rumah. Sayangnya saat baru akan turun dari mobil, tiba-tiba rasa pusing itu semakin menjadi bahkan Diandra tiba-tiba berkeringat dingin. Pada akhirnya Diandra pun pingsan sesaat setelah turun dari mobil.
"Diandra!" teriak Nenek Harni juga Mami Hasna.
........
MAMPIR JUGA KESINI YUK SAMBIL NUNGGU 🆙
👇👇
__ADS_1