
Beberapa hari setelah cek up Diandra, ternyata kecurigaan Erlan tentang laki-laki yang dia temui di rumah sakit itu telah membuahkan kabar baik. Kebahagiaan sedang menghampiri Erlan. Orang-orang suruhannya berhasil menemukan siapa laki-laki itu dan juga rekaman cctv yang menunjukkan laki-laki itu masuk ke dalam apartemen Cherin. Ternyata rekaman itu sengaja dihilangkan. Untungnya bukti kuat itu masih bisa ditemukan.
Tentu saja bukan hanya kabar baik itu saja, tetapi Erlan juga menemukan bukti lainnya saat Cherin berada di Paris. Sebuah bukti yang menunjukkan jika Cherin dan laki-laki yang sama itu masuk ke dalam hotel dan baru keluar dari hotel tersebut keesokan harinya. Itupun bersamaan.
"Kalian lambat sekali. Tapi nggak masalah, sekarang aku akan menemui orang ini," kata Erlan seraya menyunggingkan senyum lalu pergi ke tempat dimana laki-laki itu tinggal.
Setelah tiba di tempat tujuan, Erlan segera parkir dan bergegas bertemu dengan pimpinan perusahaan entertainment yang cukup ternama. Walaupun Erlan tidak mengenal orang tersebut, tetapi Erlan tahu jika pimpinan perusahaan itu kenal dengan dirinya.
"Saya mau bertemu dengan Tuan Hanesta Gautama," kata Erlan pada bagian resepsionis.
"Apa sudah ada janji, Tuan?" tanya resepsionis tersebut.
"Belum. Tapi katakan saja Erlangga Saputra ingin bertemu dan berbicara hal penting," jawab Erlan dengan wajah dingin.
Ternyata tidak sulit untuk menemui orang yang akan memberikan jawaban atas rasa penasarannya. Erlan segera diantar ke ruangan Hanes dan disambut hangat oleh pemilik perusahaan entertainment terbesar itu.
"Ada angin apa Tuan Erlangga jauh-jauh kemari?" tanya Hanes seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tetapi kedua tangan Erlan yang ada disaku celananya enggan untuk keluar menerima uluran tangan tersebut. Matanya menatap laki-laki dengan setelan jas abu dan penampilan yang cukup mengagumkan. Raut wajah Erlan tidak menunjukkan rasa hormat sama sekali.
"Apa anda lupa dengan wajah saya?" Erlan balik bertanya membuat Hanes mengangkat satu alisnya. Di dunia bisnis, memang tidak akan ada yang tidak kenal dengan Erlangga Saputra karena namanya cukup tersohor. Apalagi perusahaan yang dia pimpin bersama dengan Pamannya itu selalu jadi perbincangan di majalah bisnis.
Walaupun Hanes tahu nama Erlan, tetapi tentu dia belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Hanes terlihat berpikir sejenak seraya menarik kembali tangannya yang diacuhkan oleh Erlan. "Maksud Tuan Erlangga, apa? Saya tidak paham?" tanya Hanes masih dengan satu alis yang terangkat. Dia mencoba mengingat apakah pernah bertemu dengan Erlan atau belum.
__ADS_1
"Heh! Rupanya anda lupa jika pernah memaki saya miskin hanya gara-gara saya naik motor masuk ke apartemen Cherinna Putri," jawab Erlan dan seketika raut wajah Hanes berubah. "Harusnya anda kenal dengan saya Tuan Hanes, karena saya adalah pacarnya sebelumnya saya menikah. Tapi bukan itu inti dari tujuan saya kemari," lanjut Erlan kemudian duduk di sofa dengan nyamannya tanpa disuruh.
"Haha ... maksudnya bagaimana ini, Tuan Erlangga?" Hanes tiba-tiba tertawa terbahak kemudian ikut duduk berhadapan dengan Erlan. "Maaf, tapi saya benar-benar lupa jika kita pernah bertemu sebelumnya," lanjut Hanes.
"Saya tahu kalian punya hubungan khusus bukan? Anda, Tuan Hanes dengan Cherinna Putri yang saya yakin dia juga salah satu brand ambasador anda di perusahaan ini," kata Erlan kini matanya memicing menatap Hanes.
"Betul, dia memang model andalan kami. Tapi sekarang dia tidak bisa kami hubungi. Walaupun saat ini dia tidak terikat kontrak, tapi kami sangat membutuhkannya. Apa anda tahu dimana dia sekarang?" tanya Hanes masih dengan nada biasa.
"Heh! Beberapa hari yang lalu saya melihat anda di rumah sakit yang secara kebetulan Cherin ada di belakang anda setelah anda keluar dari rumah sakit. Apa perlu saya jelaskan bagaimana itu terjadi?" Ruang kerja Hanes tiba-tiba memanas. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu dan entah kenapa rasanya pendingin diruang itu tidak berfungsi bagi Erlan. Gejolak amarahnya mulai berubah.
Segera Erlan meletakkan beberapa foto di atas meja tepat di depan Hanes. Foto yang menunjukkan Hanes sedang bermesraan dengan Cherin di Paris juga saat dirinya masuk ke dalam apartemen Cherin tepat di saat Erlan akan mengakhiri hubungannya dengan Cherin. Namun saat itu Erlan malah kembali terjebak karena minuman yang dia minum mengandung obat perangsangg.
Walaupun saat itu dalam pengaruh obat, Erlan yakin ada beberapa tanda merah ditubuh Cherin yang jelas bukan Erlan pembuatan tanda merah tersebut. Makanya saat itu Erlan meminta Jio untuk menyelidiki Cherin, tetapi malah diabaikan karena melihat kebahagiaan Erlan dengan Diandra. Jadi hal itu dianggap tidak penting oleh Jio.
"Heh! Ternyata benar dugaan saya. Jadi saat kita bertemu malam itu ... anda baru saja meniduri model anda? Begitukan?" Hanes seolah terpojok dengan pertanyaan Erlan.
"Beberapa bulan lalu dia memang datang padaku dan meminta pertanggungjawaban. Tapi tentu saya menolaknya karena saya sudah mempunyai istri," sahut Hanes tanpa ekspresi.
"Lucu sekali penjelasan anda, Tuan Hanes,"
"Kami memang sering melakukan itu karena Cherin yang menggoda saya duluan. Dia ingin namanya semakin dikenal di dunia model. Saya hanya membantunya saja, Tuan Erlan. Tapi bisa jadi dia tidak puas dengan anda juga," jawab Hanes seolah meremehkan Erlan.
__ADS_1
Kini rasanya Erlan ingin sekali memberikan bogem pada laki-laki yang ada dihadapannya itu. Sekian lama ternyata Cherin benar-benar berselingkuh. Erlan yakin bukan hanya saat itu saja, tetapi beberapa tahun sebelumnya mereka berdua sudah menjalani hubungan intim demi Cherin terkenal. Erlan juga semakin yakin jika saat pernikahan yang dia susun untuk dirinya dan Cherin saat itu ada kaitannya dengan Hanes.
Kedua tangan Erlan sudah mengepalkan kuat menahan amarah. Namun seketika amarah Erlan mereda saat ingat dengan Diandra. Dia tidak mau menimbulkan masalah yang akan membuat istrinya khawatir.
"Baiklah. Itu artinya kita belum tahu anak yang Cherin kandung itu anakku atau anak siapa, bukan?" tanya Erlan berusaha tenang.
"Haha ... Tuan Erlangga, sebenarnya Cherin memang sering menjajahkan tubuhnya pada saya, tetapi tentu saya sangat yakin itu bukan anak saya walaupun seratus kali saya menidurinya dan mengeluarkan benih saya dalam rahim wanita murahann itu," jawab Hanes masih dengan wajah yang santai.
Erlan semakin tidak bisa menahan amarahnya. Bagaimana bisa laki-laki di depannya itu sangat yakin jika anak yang di kandung Cherin itu bukanlah anaknya. Padahal jelas-jelas mereka berhubungan badan dan Erlan tidak merasa mengeluarkan benihnya di tubuh Cherin.
"Heh! Seyakin itukah anda, Tuan Hanes?"
"Saya yakin karena bukan hanya Cherin yang saya tiduri, tetapi beberapa model lainnya. Anda harus tahu, saya sudah tujuh tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saya bahkan dinyatakan mandul oleh Dokter," jelas Hanes membuat Erlan kini terpaku.
"Ja-di ...." Erlan tidak melanjutkan bicaranya. Dengan hati dan pikiran yang tidak karuan, Erlan bergegas pergi dari perusahaan itu.
........
...Gimana nih? Yuk, jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Mampir juga ya ke karya temen author satu ini sambil nunggu kisah Diandra dan Erlan 🆙
__ADS_1
Cus kepoin ya dijamin gx kalah seru nih👇