Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Tasyakuran Cakra


__ADS_3

Suasana di kediaman keluarga Gautama benar-benar sangat ramai. Tentu saja keramaian itu karena acara syukuran atas pulangnya Baby Cakra. Bukan hanya itu saja, tetapi Hanes juga mengumumkan bahwa dirinya telah menikah dengan Cherin beberapa bulan lalu dan sangat mencintai Cherin lewat live streaming yang begitu menjadi sorotan publik. Acara tasyakuran itu juga sekaligus perayaan perta pernikahannya karena kemarin dia menikah dengan cara sembunyi-sembunyi.


Hanes telah memberikan klarifikasi terkait Cherin sebagai pelakor. Berita itu jelas ditepis oleh Hanes juga mengatakan pada media jika Hanes lah yang mengejar-ngejar Cherin. Sontak saja media kagum dengan kejantanan Hanes. Dan berita kebohongan Sandra pun sudah tersebar, jadi saat ini tidak ada lagi yang menuding Cherin seorang pelakor. Sebagian besar dari mereka malah meminta Cherin untuk kembali ke dunia model, tetapi Cherin mengatakan akan fokus dengan rumah tangganya saja.


Sedangkan atas apa yang dilakukan Sandra, Hanes mengatakan pada media jika dia dan Cherin sudah memaafkan perbuatannya karena Cakra saat ini baik-baik saja. Cherin bahkan mengatakan jika Sandra berlaku baik selama di penjara dan merenungi kesalahannya, dia akan meringankan hukuman Sandra yang divonis penjara seumur hidup karena Sandra merencanakan akan mencelakai Cherin saat hamil.


"Mas, kok Diandra belum kelihatan ya?" ujar Cherin resah menatap pintu utama rumah suaminya itu.


"Sabar, mungkin Baby Ez lagi rewel. Atau bisa aja Tuan Erlan yang rewel," jawab Hanes dengan santainya karena dia tahu jika Erlan belum mendapatkan jatah dari Diandra. Berbeda dengan dirinya yang sudah mendapatkan kepuasan bersama Cherin sejak beberapa hari yang lalu.


Sebenarnya Erlan sangat kesal saat Hanes mengompori tentang dia yang sudah bisa bermain panas bersama Cherin sejak beberapa hari lalu sedang dirinya belum mendapatkan itu. Tentu saja kondisi Cherin dengan Diandra tidak bisa disamakan.


Merasa bosan karena orang yang ditunggu belum datang, Cherin pun kembali masuk ke kamarnya untuk menengok sang anak yang tadi masih tidur saat dirinya keluar dari kamar untuk menyambut beberapa tamu undangan.


Hanes yang tahu jika istrinya itu kesal karena Diandra tak kunjung datang, dia pun ikut menyusul Cherin ke kamar untuk melihat baby Cakra. "Sayang, sabarlah! Mungkin mereka terjebak macet," kata Hanes mencoba menenangkan Cherin.


"Iya. Aku ke toilet dulu, Mas! Cakra pakein sweater sama topi terus bawa ke bawah ya? Kasian juga mereka yang mau liat anak kita. Tapi pastikan nanti nggak sembarangan orang pegang-pegang dia ya, Mas! Biasanya orang kalau gemas pegang pipi, cubit pipi, main nyosor cium. Pokoknya jangan sampai begitu! Takut alergi!"


Wajar jika seorang Ibu khawatir dengan anaknya. Apalagi Cakra lahir belum pada usia kehamilan yang ideal. Walaupun sekarang Cakra mulai berisi, tetapi Cherin tetap tidak membiarkan siapa saja menyentuh anaknya. Apalagi baby sitter yang membantu merawat Cakra harus benar-benar bersih dan steril saat menggendong anaknya.

__ADS_1


Sejak beberapa hari yang lalu, Cakra tidak lagi mendapatkan ASI dari Diandra karena Hanes mendapatkan ibu susu untuk Cakra sebab ASI milik Cherin tidak keluar sama sekali. Bukan tanpa alasan Hanes mencarikan Cakra ibu susu lain. Tentu saja semakin besar usia bayi, maka semakin besar juga kebutuhan ASI bayi tersebut. Jadi Hanes tidak tega jika Ezra kekurangan ASI dari Diandra karena harus berbagi dengan Cakra.


Kebetulan di rumah sakit itu ada sepasang orang tua yang yang butuh biaya perawatan anak laki-lakinya yang mengalami kelainan dan butuh biaya besar. Hanes pun melunasi biasa tersebut asalkan Cakra bisa mendapatkan ASI paling tidak sampai enam bulan.


Walaupun Diandra tidak masalah berbagi ASI, tetapi Hanes tentu tidak enak hati karena ASI itu dia dapat dengan percuma dari Diandra. Cherin bahkan merasa semakin berhutang budi pada Diandra jika terus menerus merepotkannya.


"Ya ampun, Papa! Kok iseng banget sih!" teriak Cherin saat melihat Hanes yang iseng menutup mata Cakra dengan topinya seraya tertawa kecil. Cakra sendiri seperti kesulitan untuk membuka mata karena terganggu oleh topi yang dia pakai.


Sebenarnya Cherin suka melihat Hanes yang selalu gemas dan perhatian dengan Cakra, tetapi kadang jahilnya Hanes membuat Cherin sedikit kesal.



"Sebelum kamu cubit Cakra, aku yang akan cubit kamu, Mas!" Cherin mengangkat tangannya bertanda mengancam Hanes.


"Namanya juga gemes. Hayu ah, turun!" Hanes dan Cherin pun turun. Kedatangan Cakra mengundang banyak mata untuk menatap betapa lucunya pewaris keluarga Gautama itu. Banyak sekali dari mereka yang ingin menggendong juga mencium pipi Cakra, tetapi Cherin dengan sopannya menolak mereka. Walaupun tidak enak hati, tetapi itu cara dia melindungi sang anak.


Beberapa saat kemudian, Erlan dan Diandra tiba. Kedatangan mereka tentu disambut hangat oleh Cherin. Bahkan beberapa tamu undangan Hanes juga menyapa Erlan dengan ramahnya dan mengucapkan selamat juga atas kelahiran anaknya. Tentu Erlan cukup dikenal karena beberapa kali fotonya ada di sampul majalah bisnis.


"Macet ya?" tanya Cherin setelah puas berpelukan dengan Diandra.

__ADS_1


"Iya, Mbak! Sedikit, hee ... rame banget ya Mbak!" Diandra cukup kagum dengan suasana di rumah Hanes yang bahkan sampai di luar ruangan juga masih banyak orang yang lalu-lalang menikmati hidangan yang tersedia.


"Cherin!" panggil Nyonya Linda melambai pada Cherin.


"Sebentar ya, aku kesana dulu," kata Cherin pamit menghampiri sang ibu mertua. Begitu juga Hanes yang kedatangan rekan bisnisnya.


"Mas, Tuan Hanes lebih kaya dari kamu ya?" bisik Diandra yang terdengar meledek bagi Erlan. Bukannya menjawab, Erlan malah mencolek pinggang Diandra. "Ish ... geli! Aku kan tanya," lanjut Diandra, tetapi diiringi senyum meledek kembali.


"Pesta kecil ini nggak ada apa-apanya dengan pesta pernikahan kita kemaren, kamu lupa?" Erlan juga berbisik pada Diandra.


"Oh, itu! Tapi kan itu bukan pernikahan kita yang sebenarnya. Jadi aku lupa deh!" jawab Diandra masih dengan nada meledek.


"Kalau kamu mau mengulang masa-masa itu, aku akan dengan senang hati menyiapkan semuanya," jawab Erlan dengan sombongnya.


"Huh! Aku yakin yang nyiapin Kak Jio, bukan kamu. Tuan Erlan kan hanya bisa memerintah saja!" sahut Diandra yang hanya bisa ditanggapi dengan senyum yang menunjukkan deretan gigi Erlan. "Benarkan?" lanjut Diandra yang membalas colekan di pinggang Erlan.


"Terserah lah, yang penting nanti malam harus sepuluh ronde, hm!" bisik Erlan dengan senyum kemenangan karena sebelum mereka tiba di rumah Hanes, keduanya pergi konsultasi terlebih dahulu dengan Dokter Amira yang membolehkan Erlan berhubungan badan dengan sang istri.


Setelah berbisik ditelinga Diandra, Erlan mengalihkan pandangan karena ada yang menyapanya. Akhirnya Erlan pun berbincang dengan orang tersebut sebelum Diandra kembali mencubit bagian pinggangnya.

__ADS_1


........


__ADS_2