
Sejak kedatangannya ke kantor kemarin, tatapan para karyawan kantor sangatlah berbeda pada Diandra. Bukan, lebih tepatnya pada Ezra. Apalagi saat Ezra berada dalam gendongan Erlan, sudah sangat mirip hot Daddy yang siap menaklukan para wanita saja.
Namun kemanapun Ezra pergi, anak itu memang selalu menjadi pusat perhatian karena selalu tersenyum dengan manisnya, membuat setiap orang yang melihat menjadi gemas dan ingin sekali mencubit kedua pipi Ezra.
"Anak Ayah bener-bener gemesin. Mirip Ibu yang selalu bikin Ayah gemes," ujar Erlan seraya melambai-lambaikan tangan Ezra yang sedang memegang jari telunjuk Erlan pada setiap karyawan yang menyapanya dengan lambaian tangan menandakan dadah.
"Dih, carper deh!" kata Diandra sedikit cemburu dengan sikap sok ramah Erlan yang padahal sebelumnya dia tidak pernah membalas sapaan karyawannya. Apalagi yang dibalas sapaannya itu para karyawan wanita yang berpenampilan menarik juga cantik. Pastilah dia dongkol.
Diandra bahkan berpikir kenapa kantor itu jadi dipenuhi para wanita cantik. Seingat dia dulu saat terakhir Diandra ke kantor waktu dia hamil, karyawan di kantor itu banyak pekerjaan laki-lakinya dari para pekerja perempuan. Mungkin saat perekrutan karyawan, Diandra harus ikut turun tangan supaya tidak banyak karyawan perempuan disana.
"Cie ... ada yang cemburu loh!" goda Erlan membuat Diandra memutar malas kedua bola matanya. Diandra tentu gengsi mengatakan jika benar dia sedang cemburu, tetapi Erlan memang cukup genit dan bisa saja para karyawan wanita itu jadi salah paham dengan sikap ramahnya. Pelakor jaman sekarang kan berwajah polos dan bermula dari sebuah ketidaksengajaan juga.
"Nggak ada untungnya cemburu! Kamu emang cari perhatian, kenapa harus cemburu? Lain kali kalau ada perekrutan karyawan, aku aja yang memutuskan biar nggak semua karyawan ... cewek semua," jawab Diandra melirik sini Erlan yang senyum-senyum tidak jelas. Diandra pun mengalihkan perhatiannya pada Ezra. "Nak, besok kita nggak usah ke kantor Ayah lagi ya? Disini banyak mata jahat." Diandra pun merebut Ezra dari gendongan Erlan karena mereka sudah di tempat parkir.
Sebenarnya Erlan ingin tertawa karena Diandra sangat jelas terlihat sedang cemburu, tetapi saat Erlan ingin menanggapinya lagi, Diandra malah membuang muka tanda benar-benar kesal. Erlan jadi takut akibatnya tidak akan mendapatkan jatah saat malam hari.
Entah kenapa Diandra juga tidak mau menunggu Erlan membukakan pintu untuknya, melainkan langsung membuka pintu sendiri dan duduk bersama Ezra. Mungkin memang begitu sikap wanita yang cemburu. Diandra juga fokus pada Ezra dan sama sekali tidak melirik Erlan yang fokus mengemudi.
Setelah beberapa menit Diandra tak acuh, Erlan pun menepikan mobilnya di depan sebuah toko swalayan kemudian turun sambil memakai kacamata hitam tanpa berpamitan dengan Diandra sama sekali. Bahkan mengajaknya turun pun tidak. Apalagi menawarkan Diandra ingin membeli sesuatu atau tidak.
Tentu saja sikap Erlan semakin membuat Diandra kesal. Hal itu pernah dia lakukan saat dia ingin merokok. Hanya saja sudah sangat lama Diandra tidak pernah melihat Erlan menghisap nikotin tersebut. Apalagi sekarang ada Ezra yang tentu seharusnya dia tahu jika asap itu berbahaya kalau sampai bayi itu menghirup asap rokok.
"Kenapa sih Ayah kamu, Nak? Dasar aneh! Harusnya yang marah kan Ibu, bukan Ayah kamu," gumam Diandra hanya bisa menatap pintu utama swalayan di depannya. Ezra yang diajak bicara hanya tersenyum menanggapi kemarahan ibunya.
Untung saja Erlan tidak berlama-lama di dalam sana dan keluar dengan menenteng sebuah paper bag. Erlan masuk dan duduk kembali di kursi kemudi. "Nih, biar nggak ngambek lagi!" kata Erlan seraya menyodorkan sebungkus es krim berbentuk pincuk dengan rasa coklat stroberi dan taburan kacang yang sudah dibuka oleh Erlan.
Erlan pernah membaca sebuah artikel bahwa untuk mengatasi kemarahan wanita itu kalau tidak dirayu dengan coklat atau makanan manis-manis seperti halnya es krim, ya diajak jalan-jalan. Mungkin itu jadi alasan kenapa Erlan lebih memilih membelikan Es krim istrinya.
Melihat es krim itu, Diandra pun terkekeh. Bentuknya benar-benar menggoda lidah. Ternyata suaminya sedang mencoba membujuk dirinya yang sedang merajuk. Diandra tentu saja mengambil es krim tersebut karena memang sudah sangat lama sekali dia tidak makan es krim. Dia jadi ingat kalau dulu akan dibelikan pabrik es krim.
"Dih, nyogok!" seru Diandra membuat Erlan mencubit sebelah pipinya. Padahal dia sendiri suka dengan cara Erlan membujuknya.
"Lagian napa cih ... pake nambek-nambek cegala, hm? cembulu kan?" tanya Erlan dengan gaya bahasa anak kecil yang cadel. Diandra lagi-lagi terkekeh, tetapi dia fokus menikmati es krim yang dia pegang. "Duh ... jadi pengen dijilat begitu deh!" ledek Erlan membuat Diandra melirik sinis. "Becanda! Udah ... jangan nambek-nambek lagi ya, ibunya Ezra yang cantik, manis, baik hati dan tidak sombong. Kan sudah Ayah beliin es krim," lanjut Erlan tak mendapatkan respon dari Diandra.
"Hu ... aaa ... tedah ...." Ezra berceloteh tidak jelas, tetapi matanya seolah melirik Diandra yang sedang menikmati es krim.
__ADS_1
"Em ... anak Ibu mau ya? Belum waktunya ya, Nak! Kalau sampai ke asi, ya nikmatin aja di asi, oke?" sahut Diandra menanggapi celotehan Ezra yang tidak jelas itu.
"Ibu jahat ... sekali! kata Erlan masih fokus mengemudi. Namun ternyata Diandra malah salah paham dan kembali menatap Erlan dengan tatapan sinis.
"Kalau jahat, ya masukin aja ke penjara. Terus kamu cari ibu yang baik untuk anak kamu satu-satunya ini," jawab Diandra bernada ketus. Erlan hanya bisa cengengesan. Padahal bercanda, tetapi ditanggapi serius. Kenapa Diandra bisa jadi sesensitif itu hanya karena cemburu?
"Sayang ... apa kamu sudah waktunya datang bulan? Kamu udah lama juga nggak kedatangan tamu ya? Mungkin hormon kamu juga nih yang bikin kamu uring-uringan terus dari tadi, ya?" tanya Erlan tiba-tiba ingat jika wanita yang sedang datang bulan itu perasaannya sangat sensitif sekali. Bukan hanya itu, tetapi dia pasti akan mudah marah. Ciri-ciri itu persis seperti Diandra saat ini.
"Pasien yang menjalani histerektomi total sudah tidak bisa hamil lagi setelah prosedur pengangkatan organ reproduksi. Pasien juga tidak akan mendapatkan periode menstruasi lagi setiap bulannya atau menstruasinya berhenti total. Apa kamu lupa yang dikatakan Dokter Amira, Mas?"
Jawaban Diandra sebenarnya sebuah angin segar karena Erlan tidak akan pernah mendapatkan libur panjang seperti suami-suami lainnya dalam setiap bulan. Namun nada bicara Diandra membuat Erlan heran karena marahnya belum reda juga. Erlan juga seharusnya tidak lupa dengan apa yang pernah disampaikan oleh Dokter Amira setelah pengangkatan rahim Diandra.
"Iya, Sayang. Maaf ya! Lagian kamu malah-malah mulu deh! Udah ya? Bisa-bisa aku dihajar Kak Pras nanti kalau tau buat adiknya begini," mohon Erlan, tetapi Diandra masih asyik menikmati es krimnya. Akhirnya Erlan lebih memilih diam dari pada nanti salah bicara lagi.
...***...
Sesampainya di rumah sakit, Pras ternyata sudah menunggu Diandra di depan pintu utama karena tidak sabar ingin bertemu Diandra. Lebih tepatnya menunggu makanan yang Diandra bawa. Laki-laki dengan wajah yang lumayan tampan itu sungguh menunjukkan sikap perhatian pada seorang adik yang lama tidak dia jumpai.
"Akhirnya ... datang juga," sapa Pras yang langsung meraih paper bag yang dibawa Erlan. Isinya memang masakan Diandra yang telah disiapkan untuk Pras juga Ibu Dona. Wajah sumringah meraih tas tersebut membuat Erlan menatap Pras dengan tatapan meledek.
"Ayo masuk! Ibu udah nungguin sejak pagi. Katanya mau liat cucunya yang imut-imut ini," ujar Pras seraya mencolek pipi Ezra yang dibalas tawa oleh bayi mungil itu, dan Diandra hanya mengangguk paham kemudian mengekor pada sang Kakak.
"Sayang, kamu tuh nggak dirindukan. Yang dirindukan itu pasti cucu, bukan anak." Lagi-lagi Pras terkekeh. Sedangkan Diandra malah memukul bahu Erlan. "Ih ... bener loh! Dimana-mana yang namanya nenek itu, pasti lebih sayang cucunya daripada anaknya, contoh aja Mami kita, mana peduli dia sama aku. Begitu bangun tidur, yang dicari cucu bukan anak," lanjut Erlan, lagi-lagi mendapatkan pukulan dari Diandra.
"Itu karena kalau nyari kamu, yang ada bau jigong yang di dapat, beda sama Ichan. Dia kalau bangun tidur, wangi yang nggak akan pernah ada duanya di dunia ini yang di dapat," jelas Diandra, Erlan hanya tersenyum dengan deretan giginya. Memang pada kenyataannya saat Ezra bangun apalagi pas dia menguap, pasti sibuk mencium bau mulutnya karena bau itu memang tidak ada duanya dan pastinya akan dia rindukan nanti.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di ruang rawat Ibu Dona dengan fasilitas vvip yang memang Erlan telah memberikan fasilitas terbaik di rumah sakit tersebut demi kenyamanan dan kesembuhan ibu mertuanya.
Padahal sudah mendapatkan perawatan dan penanganan khusus saja, Ibu Dona sudah merasa sangat beruntung karena biaya operasinya telah menghabiskan uang bermiliar-miliar.
Melihat kondisi sang Ibu Tiri yang terbaring lemah, Diandra langsung memeluk Ibu Dona, sedangkan Ibu Dona yang merindukan Ezra, hanya bisa memegang tangannya sebagai tanda obat atas kerinduannya.
"Cucu Oma akhirnya dateng juga, tapi jangan terlalu sering dibawa ke rumah sakit. Dia masih bayi, kasian di rumah sakit kan banyak penyakit. Kamu juga nggak perlu sering-sering kemari." Ibu Dona menasehati.
"Iya, Buk. Makan dulu ya? Katanya kangen masakan Diandra," kata Diandra mengalihkan pembicaraan kemudian memberikan Ezra pada Erlan.
__ADS_1
"Kakak juga udah laper banget, nggak sabar dari tadi nungguin masakan ini," sahut Pras seraya mengangkat paper bag yang dia bawa.
Diandra hanya terkekeh. Pras pun mengeluarkan semua isi yang ada di paper bag tersebut kemudian makan dengan lahapnya. Sedangkan Ibu Dona hanya bisa makan dari tangan Diandra beberapa suap karena selain kurang napsu makan, Efek obat paska operasi membuat Ibu Dona sedikit merasa mual, jadi tidak bisa makan terlalu banyak.
"Tuan Erlan pasti nggak pernah makan diluar ya kalau masakan kamu seenak ini, Dik!" puji Pras yang masih sibuk mengunyah makanannya.
"Kak Pras tau aja. Adik tersayang Kakak itu kalau masak menggunakan kekuatan cinta, makannya rasa makanannya selalu beda," kata Erlan ikut memuji istrinya.
"Ya untung aja aku dulu belajar masak dengan sungguh-sungguh," sahut Diandra sedikit membanggakan diri sendiri kemudian membantu Ibu Dona meminum obatnya lalu membereskan kembali wadah makanan yang dia pakai tadi bersama Pras.
Erlan dan Diandra sudah makan siang di kantor, jadi mereka tidak ikut makan lagi di rumah sakit.
Setelah beberapa obrolan kecil pengiring keakraban diantara mereka, Diandra pun mengusulkan sesuatu. Sebenarnya bukan hanya sebuah usul, tetapi sebuah harapan.
"Setelah keluar dari rumah sakit, Diandra harap Ibu sama Kakak mau tinggal bersama Diandra di rumah Mas Erlan ya? Kita kumpul bersama lagi. Kak Pras juga bisa kerja di kantor nanti. Masalah jabatan bisa disesuaikan dengan kemampuan Kak Pras. Kalau Ibu, biar Diandra juga bisa mantau kesehatan Ibu kalau kita tinggal bersama. Mau kan?"
Ibu Dona dan Pras pun saling menatap satu sama lain. Seolah ada interaksi lewat sorot mata mereka. Ada keraguan dipikiran mereka berdua karena sudah terlalu banyak merepotkan Erlan juga Diandra. Namun di sisi lain, mereka juga tidak bisa menolak sebab tidak punya tempat tinggal selain kontrakan yang sudah dua bulan menunggak pembayarannya.
"Diandra benar! Kita juga udah jadi keluarga. Rumah itu juga rumah kalian. Lagian, banyak kamar kosong yang bisa dihuni," sahut Erlan setuju dengan pendapat istrinya.
Ibu Dona dan Pras masih tidak memberikan respon. Diandra hanya bisa menghela napas panjang melihat mereka yang seperti enggan untuk tinggal bersama. Padahal Diandra sangat berharap bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Ibu ... Diandra mohon, jangan ada kata sungkan! Ibu kan nanti bisa ikut bantu Diandra momong Ezra, Buk. Diandra juga yakin kalau Mami Hasna akan senang punya teman ngobrol. Sejak Nenek meninggal, Mami cuma menyibukkan diri bermain sama Ezra. Kalau ada Ibu, pasti Mami jadi nggak kesepian lagi karena punya teman. Mau ya Buk? Kak, mau ya? Kan Kakak juga nggak tinggal gratis. Kakak bisa kerja di kantor. Atau gini aja, kalau kalian nggak mau, nanti biar Diandra belikan rumah yang deket dengan rumah Diandra ya?"
Usul itu malah semakin memberatkan keduanya. Jelas saja rumah di dekat Diandra harganya tidak mungkin murah karena kawasan di rumah itu adalah perumahan Elit yang hanya orang-orang tertentu yang sanggup membeli rumah di kawasan tersebut.
"Jangan-jangan! Iya ... Kakak setuju tinggal di rumah kalian. Kakak juga mau kerja di kantor walaupun ijasah Kakak cuma lulusan SMA. Tapi Kakak kerja karena kemampuan, bukan karena jalur keluarga ya?" Walaupun berat, Pras pun setuju karena memang tidak punya pilihan lainnya.
"Iya. Ibu juga mau tinggal. Asal kamu nggak akan melarang ibu kalau Ibu mau bantu-bantu. Ibu juga nggak mau tinggal secara gratis." Diandra hanya mengangguk. Kalau tidak, bisa saja Ibu Dona menolak untuk tinggal.
"Tenang aja, Kak! Pegawai di kantor aku semuanya memang bekerja sesuai kemampuan. Nggak ada yang namanya bekerja lewat jalur orang dalam," jawab Erlan membuat semua orang terkekeh. Canda tawa di ruangan itu pun terus berlangsung hingga menjelang sore hari.
Erlan dan Diandra pun pamit karena Mami Hasna akan pulang dari luar negeri. Jadi mereka harus segera pulang, takut macet dan kemalaman di jalan.
........
__ADS_1
...Vote like komen kembang kopinya dong 🤣 Udah detik-detik tamat nih, masa masih diem-diem Bae 😀...