Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Pengakuan Cherin


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Diandra pergi ke kantor Erlan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah sakit menemui Cherin. Diandra tiba tepat saat Erlan selesai dengan pekerjaannya dan hendak menelpon Diandra. Ternyata belum Erlan mengambil ponsel, Diandra sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Mas!" sapa Diandra begitu masuk ke ruang kerja Erlan.


"Duh … istriku benar-benar menggemaskan. Baru aja aku mau telpon kamu, Sayang," kata Erlan seraya memeluk Diandra.


"Kamu mau makan sekarang apa makan di rumah sakit?" tanya Diandra dan Erlan pun melepaskan pelukannya.


"Idih … ngapain makan di rumah sakit. Bikin nggak napsu aja. Makan disinilah. Biarin aja kalau dia nungguin," jawab Erlan seraya duduk di sofa. Diandra pun menyusulnya dan duduk disebelah Erlan kemudian menyiapkan makan siang.


Wadah makan yang dibawa Diandra khusus untuk Erlan, sedangkan untuk Cherin dia tinggal di mobil. "Tadi Mami tanya aku kok masak banyak banget. Tapi aku cuma bilang kalau buat kamu aja nggak bilang buat Cherin. Aku jadi merasa bersalah deh karena nggak bilang apa-apa sama Mami. Tapi tadi Nenek kayak tahu tujuan aku terus manggil Mami supaya Mami nggak banyak tanya. Padahal aku juga nggak bilang apa-apa sama Nenek," jelas Diandra menceritakan kejadian di rumah.


"Nggak pa-pa. Kita akan ceritakan nanti saat sudah waktunya sama Mami juga Nenek walaupun Nenek udah sedikit tahu masalah ini," sahut Erlan kemudian membuka mulutnya agar Diandra segera memasukan makanan ke dalam mulut.


Diandra pun memberikan suapan demi suapan pada Erlan seraya mencari keberadaan Jio, tetapi tidak dia temukan di ruangan itu. "Loh, Kak Jio mana, Mas? Aku bawain juga dia makan siang ini, tapi aku bungkus pakai kertas nasi soalnya udah nggak ada lagi tempat mak-" belum Diandra menyelesaikan bicaranya, Jio masuk ke dalam ruangan.


"Wah, saya sangat beruntung. Kebetulan sangat lapar tadi nggak sarapan. Terima kasih, Nona!" kata Jio seraya meraih bungkusan yang ada di atas meja tepat di depan Diandra. Sedangkan Erlan menatap sinis Jio yang sedang cengengesan telah mendapatkan jatah makan siang juga.


"Sayang .. kenapa kamu jadi perhatian sama semua orang sih?" protes Erlan kemudian melipat kedua tangannya di dada dengan merubah raut wajah menjadi cemberut.


"Dia kan asisten kamu, Mas. Lagian kamu enak-enak makan, masa kamu biarin dia berdiri di luar!" jawab Diandra dengan santainya.


"Saya permisi dulu, Bos!" kata Jio masih dengan raut wajah menyebalkan bagi Erlan.

__ADS_1


"Udah ah! Buruan ini makannya abisin, Mas!" Diandra kembali memberikan suapan pada Erlan. Walaupun raut wajahnya belum kembali, dia membuka mulutnya karena masih lapar.


...***...


Berbeda dengan pagi tadi, Diandra tanpa ragu membuka pintu ruang rawat Cherin yang lagi-lagi dia melihat Cherin sedang melamun menatap ke luar jendela. Namun kali ini tidak ada siapapun di luar sana kecuali beberapa orang yang hanya sekedar lewat saja.


Sama seperti pagi tadi, siang itu nampan yang berisi makan siang juga obat untuk Cherin masih belum tersentuh sama sekali, padahal jam makan siang sudah lewat satu jam. "Siang, Mbak!" sapa Diandra yang kemudian menghampiri Cherin.


Wajah senang terlihat jelas saat Cherin menoleh melihat kedatangan Diandra. Matanya fokus pada wadah yang dibawa Diandra. Sama sekali Cherin tidak melirik Erlan. "Kamu beneran dateng?" tanya Cherin yang kemudian terfokus pada Diandra yang sedang tersenyum dan menata makan siang untuk Cherin.


"Iya. Aku udah bilang kalau aku akan kemari lagi nganter makan siang. Maaf ya Mbak, aku agak telat. Tadi dijalan agak macet karena ada kecelakaan," jelas Diandra.


"Nggak pa-pa," jawab Cherin dengan santainya.


Raut wajah Cherin seketika berubah total. Ada rasa kecewa dalam hatinya karena tidak bisa lagi mendapatkan perhatian dari Diandra. Entah kenapa rasanya begitu berat membiarkan Diandra pergi begitu saja setelah apa yang dia lakukan pagi dan siang itu. Perhatian Diandra membuat Cherin tertunduk malu.


"Diandra!" panggil Cherin menahan langkah Diandra untuk keluar dari ruang rawatnya. "Terima kasih untuk semua ini," kata Cherin membuat Diandra mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali berdiri di sisi brankar Cherin.


"Iya, Mbak. Besok aku datang lagi kok kalau kamu nggak keberatan," jawab Diandra dengan senyuman manisnya.


"Aku ... tentu aku nggak keberatan. Makanan kamu sangat enak. Apalagi kamu tanpa segan menyuapiku dengan sabarnya."


"Aku senang melakukannya."

__ADS_1


"Sebenarnya aku baru dikasih tahu Dokter Amira tentang anak itu tadi pagi. Awalnya aku memang tidak menginginkan anak itu lahir karena percuma juga aku nggak bisa bersanding dengan suami kamu. Aku nggak bisa mendapatkan apa yang aku mau. Akhirnya aku menghibur diri dengan mabuk dan merokok," jelas Cherin tiba-tiba menitikkan air matanya seraya tertunduk.


"Nggak pa-pa. Mungkin saja Tuhan belum memberikan kita kepercayaan untuk membesarkan seorang anak," jawab Diandra membuat Cherin menatap dengan mata berkaca-kaca. Dia ingat jika Diandra juga pernah keguguran.


"Tapi saat aku merasakan pergerakan di perutku, aku mulai sadar jika ada kehidupan yang aku bawa disini," lanjut Cherin kembali tertunduk menatap perutnya yang rata. "Aku ... aku benar-benar menyesal dan aku pikir aku akan berhenti melakukan hal bodoh demi nyawa yang aku bawa karena dia tidak bersalah sama sekali." Lagi-lagi Cherin menangis. Diandra segera memberikan Cherin tisu.


Suasa di ruangan itu menjadi sendu karena curahan hati Cherin pada Diandra. Erlan juga mendengar dengan seksama walaupun jaraknya cukup jauh karena dia duduk santai di sofa.


"Tapi ternyata ... ternyata takdir berkata lain. Dokter Amira juga bilang kalau anak itu laki-laki. Hatiku sakit banget karena secara nggak langsung aku sendiri yang sebenarnya membunuh anak itu bahkan memanfaatkan kamu dan suami kamu. Aku udah jahat sama kamu selama ini, tapi kenapa kamu masih baik bahkan mau merawat aku?" tanya Cherin yang semakin terisak.


"Aku juga nggak tahu kenapa aku melakukan ini. Tapi mungkin karena aku pernah mengalami hal yang sama, jadi aku melakukan semua ini. Ditambah, kamu nggak punya siapa-siapa disini. Biarlah apa yang telah terjadi menjadi pelajaran kita untuk semakin baik lagi," jawab Diandra membuat Cherin menariknya dalam pelukan.


"Maafkan aku! Seharusnya aku nggak terlalu berambisi untuk mendapatkan apa yang aku mau. Seharusnya aku sadar kalau nggak semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan. Maaf karena pernah menyakitimu dan merusak hubunganmu dengan suami kamu."


Kata-kata Cherin terdengar begitu tulus. Cherin masih enggan melepaskan pelukannya dan menangis dalam pelukan Diandra. Saat ini Cherin merasa mempunyai seorang adik yang selama ini dia inginkan karena Diandra memanggilnya dengan sebutan 'Mbak'.


"Iya, Mbak. Aku juga udah nggak mikirin masalah anak itu lagi karena dengan adanya masalah ini, aku jadi tahu setulus apa cinta Mas Erlan untukku. Mungkin benar kata orang kalau adanya masalah akan membuat kita semakin kuat dan semakin dewasa."


Cherin pun melepaskan pelukannya dan mengusap bersih air mata yang membasahi pipi. Dia terlihat mengatur napas kemudian kembali menatap Diandra. "Kamu wanita yang sangat baik. Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu. Maaf karena pernah bilang kalau aku nggak akan mendoakan kebahagiaan kalian. Tapi kali aku benar-benar tulus mendoakan kebahagiaan untuk kalian." Diandra pun mengangguk.


"Jadi ... apa kamu juga mengakui pernah berhubungan dengan Tuan Hanes?" tanya Erlan sontak Cherin terkejut dan membuat Cherin menatap ke arahnya yang sedang duduk menumpang kaki di sofa.


"Kalian ... kalian tahu tentang Tuan Hanes?" Erlan tidak menjawab dan malah menatap dengan tatap sinis.

__ADS_1


........


__ADS_2