
Jio benar-benar bahagia saat ini karena pada akhirnya dia bisa menikmati waktu berdua lagi setelah beberapa bulan sibuk bekerja. Langkah kaki yang beriringan dengan tangan yang saling menggenggam dan senyum yang begitu lebar, benar-benar menandakan kedua sejoli tersebut sedang bahagia. Bahkan Jio tidak mempermasalahkan gang sempit yang sedikit becek dan mengotori sepatu mahalnya.
"Masih jauh?" tanya Jio basa-basi karena bingung sekaligus gugup apa yang harus dia katakan dan tanyakan selain bertingkah seperti orang gila yang sejak tadi tersenyum dengan sesekali menoleh pada Safira.
"Nggak kok! Rumah ujung itu, udah Deket banget," jawab Safira dengan lembutnya.
"Yah ... padahal masih pengen gandengan begini, loh!" goda Jio benar-benar gemas melihat Safira yang tiba-tiba tersipu saat dirinya mengangkat tangan yang sejak tadi digenggam oleh Jio.
"Kalau udah nikah ... kita akan punya banyak waktu untuk saling menggenggam seperti ini ... Mas Jio!" sahut Safira sedikit malu-malu.
Betapa Jio ingin terbang dan tidak ada bedanya dengan remaja yang sedang jatuh cinta. Jio sedang dimabuk kepayang oleh sikap Safira yang begitu menggemaskan itu.
"Janji lo ya! Awas aja kalau bohong! Aku akan buat kamu nggak bisa berjalan karena lelah melayani suami tampanmu ini," bisik Jio diakhir kalimat.
Safira langsung memukul bahu Jio karena kesal dengan pemikiran mesumnya. Akhirnya 0 melepaskan paksa tangan Jio kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan Jio yang semakin gemas dengan raut wajahnya.
"Jadi makin nggak sabar," gumam Jio segera mengejar Safira yang sudah tiba di depan rumahnya.
"Ibu ... Mas Jio dateng nih!" ujar Safira sedikit meninggikan suaranya agar sang ibu yang berada di belakang mendengar.
Setelah Safira pulang dari luar negeri, Jio memberikan uang yang dia janjikan untuk pengobatan Ibu Safira untuk berobat. Uang itu lebih dari cukup bahkan sang ibu sempat mendesak Safira agar segera dipertemukan dengan Jio yang menjadi malaikat untuk putrinya.
Kondisi kesehatan ibu Safira yang bernama Romlah, semakin membaik bahkan dia mendapatkan perawatan medis kelas atas dan bahkan obat-obatan yang mahal. Tentu Ibu Romlah tidak menyangka jika putrinya begitu beruntung mempunyai calon suami seperti Jio. Namun Safira tidak mengatakan jika mereka sudah melakukan hubungan terlarang.
"Iya ... nggak perlu teriak! Sab-" Ibu Romlah yang baru saja dari dapur dan hendak menyapa calon menantunya itu langsung tertegun melihat wajah Jio yang begitu tampan dan benar-benar terlihat layaknya orang kaya.
__ADS_1
"Hallo, Tante! Salam kenal ... saya, Serjio. Kekasih putri anda. Senang sekali bis bertemu dengan anda," sapa Jio seraya mengulurkan tangannya.
Namun ada yang aneh dengan sikap Ibu Romlah. Raut wajahnya yang bahagia karena akan menyambut calon menantu tiba-tiba berubah. Safira ikut heran dengan sikap sang Ibu yang menatap calon suaminya dengan tatapan aneh. Seperti menyimpan rasa benci yang mendalam.
"Ibu, kenapa diam aja? Mas Jio nyapa, Buk!" tegur Safira sambil menepuk bahu ibunya.
"Ah ... ya ya ... silahkan ... silahkan duduk!" jawab Ibu Romlah yang tiba-tiba jadi salah tingkah. Namun lebih dominan gugup seperti pernah bertemu dengan Jio, tetapi tidak ingin bertemu kembali.
"Apa ... kita pernah bertemu sebelumnya, Tan? Saya merasa Tante ... sedikit tidak suka melihat saya?" tanya Jio langsung to the poin karena memang perasaannya mengatakan hal demikian. Sebagai pebisnis yang menemani seorang CEO hebat, Jio tentu belajar tentang bagaimana ekspresi wajah seseorang.
"Duduk ... duduk aja! Kalian ngobrol aja berdua. Fir, em ... Ibu mau lanjut pekerjaan Ibu di dapur. Kamu temani tamu kita," kata sang Ibu benar-benar membuat Safira terkejut dengan perubahan sikap Ibunya itu.
Hari sebelumnya, Ibu Romlah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Jio. Saat Jio datang, Ibu Romlah malah menganggap Jio tamu biasa padahal dia tahu kedatangan Jio jauh-jauh itu untuk melamarnya. Namun tiba-tiba sang Ibu seperti tidak merestui hubungannya dengan Jio karena mengabaikan kedatangan Jio dan pergi begitu saja.
Sebuah pesan baru membuat ponsel Jio yang ada di saku celananya bergetar. Bosan menunggu Safira, Jio pun merogoh ponselnya dan membaca pesan masuk tersebut walaupun ada rasa ragu dan malas karena pesan itu masuk dari nomor baru.
08xxx: "Jio, tolong aku! Ini Ayu dan aku saat ini lagi di jalan yang nggak jauh dari tempat kita bertemu tadi. Aku nabrak orang saat mundurin mobil. Please! Bantu aku urus orang ini sebelum ada yang liat dan aku dihakimi disini."
Jio hanya mengangkat satu alisnya karena heran bagaimana caranya Ayu mendapatkan nomor ponselnya. Beberapa saat Jio berpikir dan akhirnya Jio sadar siapa Papi Ayu. Sangat mudah bagi Papi Ayu untuk mendapatkan beberapa informasi pribadi seseorang semaunya.
08xxx : "Serjio!"
08xxx : "Kamu benar-benar melupakan pertemanan kita?"
08xxx : "Jio ... cepet kesini! Aku nggak tau harus minta tolong siapa lagi karena kamu yang paling dekat dengan lokasiku saat ini. Please!"
__ADS_1
Jio merasa diteror oleh Ayu dengan lensa yang terus masuk dan memaksa dia untuk datang menolong. Ada rasa tidak enak hati jika Jio tidak menolongnya. Apalagi lokasi Ayu dengannya begitu memang begitu dekat karena Ayu juga mengirimkan lokasinya lewat map. Akhirnya Jio putuskan untuk menyusul Safira ke dapur dan meminta izin menolong Ayu terlebih dahulu.
"Cukup! Sudah ibu bilang ... putuskan hubungan kalian!" teriak Ibu Romlah membuat Jio seketika membatu dan merasa jika saat itu juga jantungnya berhenti berdetak.
"Apa alasannya, Buk! Fira cinta sama dia. Mas Jio orang baik, dan ... dia udah banyak nolong kita. Fira nggak ngerti sama jalan pikir Ibu. Tolong ... jelaskan kenapa Fira harus putus dengan Mas Jio?" sahut Safira tidak membuat Jio merasa baikan karena pembelaannya.
"Bilang sama dia kalau uang yang dia berikan anggap aja hutang. Ibu masih sanggup kerja dan membayar uangnya itu," jawab Ibu Romlah masih dengan perasaan amarah yang tidak jelas.
Jio sudah tidak sanggup lagi mendengarkan percakapan Ibu dan anak itu. Dia pikir akan sangat mudah untuk menikahi wanita pujaan hatinya, ternyata Jio harus berjuang keras meluluhkan hati calon ibu mertuanya demi mendapatkan restu.
Setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ibu Romlah, Jio tidak mendengar percakapan lagi antara Safira dan Ibunya. Sekuat mungkin Jio melangkah mundur secara perlahan agar posisinya tidak disadari oleh Safira. Dia tidak boleh tahu kalau Jio mendengar percakapan mereka berdua.
Jio kembali duduk di kursinya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat Safira kembali ke ruang tamu dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
"Maaf, Mas! Ibu tiba-tiba nggak enak badan. Dia butuh istirahat. Gimana kalau kamu pulang dulu, nanti kita cari waktu lain untuk bicara masalah pernikahan kita ini," kata Safira berbohong. Sungguh dia tidak ada niat untuk membohongi Jio. Namun tidak ada alasan lain agar Jio segera pulang dan malah membuat Ibu Romlah semakin marah.
"Baiklah! Kalau gitu aku pulang dulu. Em ... barang-barang ini aku tinggal aja disini ya," jawab Jio seraya beranjak dari tempat duduknya. Dadanya begitu sesak karena calon istrinya itu telah berbohong.
"Tolong maklum ya, Mas! Namanya juga orang tua, jadi sering sakit!" sambung Safira yang benar-benar terlihat dengan jelas sorot mata yang menahan cairan bening untuk keluar.
"Iya, Sayang! Ibu suruh istirahat yang banyak ya? Makan juga harus teratur. Kalau uangnya abis, kamu tinggal bilang aja, hm?" sahut Jio membuat Safira semakin merasa bersalah. Segera dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jio dengan begitu erat.
"Maafin aku, Mas!" ucap Safira diiringi Isak tangis. Jio hanya merespon dengan kecupan singkat di ujung kepala Safira.
........
__ADS_1