Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Firasat Ezra


__ADS_3

Erlan dan Jio sudah bisa mengatasi masalah yang terjadi di perusahaan. Walaupun menang sedikit rumit, tetapi sudah bisa dipastikan dia benar-benar akan pulang lebih cepat dari dugaannya.


Sepanjang hari Jio bahkan begitu semangat membantu Erlan mengurus ini dan itu. Erlan sendiri benar-benar heran karena cinta seorang wanita memang bisa mengubah segalanya.


"Cie ... Serjio semangat banget. Udah nggak sabar yang mau pulang dan berduaan sama Safira di kamar, hm?" ledek Erlan ditengah-tengah perkejaan mereka. Untungnya disana hanya ada mereka berdua. Kalau tidak pastilah Erlan akan mendapatkan bogeman dari orang yang dia ledek tadi.


"Diam, Bos! Kita sedang bekerja! Saya rasa anda juga pernah ada di posisi saya, bahkan lebih bucin lagi," jawab Jio dengan santainya sambil membaca beberapa berkas yang ada dihadapannya.


"Cinta itu memang gila, haha!" kata Erlan dan Jio benar-benar ingin sekali membekap mulut yang sejak tadi meledek juga menertawainya.


Perubahan drastis Jio bukan hanya membuat Erlan selalu ingin tertawa dan meledeknya, tetapi ada rasa lega yang mendalam karena sahabatnya itu sudah menemukan dambaan hati dan tidak perlu repot-repot harus kencan buta untuk mencari istri.


...***...


Sejak pukul satu malam, Ezra terus saja rewel. Beberapa kali dia menangis bahkan tidak mau menyusuu pada Diandra. Badannya tidak panas dan tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali. Cherin sendiri ikut bingung karena Cakra juga tidak pernah menangis seperti itu.


"Aduh ... Sayang ... Nak, kamu kenapa sih? Jangan bikin Ibu bingung! Apa kamu nggak nyaman tidur disini, Nak?" kata Diandra sambil mengayun Ezra dalam pangkuannya. Namun Ezra terus menangis. Diandra dan Cherin membuka semua baju Ezra, takutnya anak itu di gigit semut, tetapi tidak ada tanda-tanda itu.


"Kalau nggak nyaman pasti dari kemaren-kemaren dia nangisnya. Sedangkan ini udah malam ketiga dan kemaren anteng-anteng aja. Kita bawa ke Dokter, gimana?" usul Cherin karena benar-benar khawatir. Apalagi matahari sudah terbit dan Ezra masih terus rewel.


"Apa iya ya, Mbak! Mas Erlan perlu dihubungi nggak?"


"Jangan dulu! Kita bawa dulu ke Dokter. Takutnya suami kamu disana malah nggak fokus ngurus kerjaan."

__ADS_1


"Iya, Mbak. Maaf ya aku malah merepotkan disini,"


"Kamu bicara apa sih! Aku siap-siap dulu. Cakra juga anteng sama Sus nya, jadi aku bisa ikut kamu ke rumah sakit." Diandra hanya mengangguk pasrah.


Keributan di kamar Diandra mengundang Nyonya Linda untuk menemui Ezra. Dia tentu ikut khawatir karena tangisan Ezra kadang kencang kadang pelan.


"Kenapa anaknya?" tanya Nyonya Linda meraih Ezra dari pangkuan Diandra.


"Nggak tahu, Nyonya. Saya sendiri bingung karena dia juga nggak mau ASI kalau nggak dipaksa. Abis minum ASI juga nangis lagi. Padahal nggak demam!" jelas Diandra menatap Ezra begitu khawatir. Namun dalam pangkuan Nyonya Linda, Ezra cukup tenang dengan mata yang menatap tak tentu arah.


"Mungkin dia ngasih firasat nggak baik. Coba kamu telepon suami kamu, apa dia baik-baik saja atau terjadi sesuatu yang buruk. Saya hanya menebak karena bayi instingnya lebih pekak," tutur Nyonya Linda membuat Diandra semakin takut dan segera mengambil ponsel untuk menghubungi Erlan.


Tentu saja Diandra hanya bertanya tentang kabar Erlan dan tidak memberitahu jika Ezra terus rewel. Erlan juga sedang tidak sibuk dan mengatakan akan kembali besok karena urusannya hampir selesai. Diandra menghela napas lega karena tidak terjadi apa-apa dengan suaminya.


"Perasaan bayi itu biasanya begitu. Dia akan terus rewel kalau akan terjadi sesuatu sama orang terdekatnya. Apalagi sampai nggak mau enen. Dia juga nggak demam. Sore juga masih biasa aja kan waktu kita kumpul sama Cakra. Tapi ini juga mulai anteng, coba bawa keluar berjemur sebentar sama Cakra," kata Nyonya Linda kembali memberikan Ezra pada Diandra.


"Ayo, kita berangkat!" Cherin tiba-tiba datang dan Diandra malah belum siap.


"Katanya dibawa keluar berjemur dulu, Mbak!" jawab Diandra yang kemudian keluar dari kamar diikuti Cherin juga Nyonya Linda.


Anehnya, dalam pangkuan Diandra, Erza kembali bertingkah. Dari merengek, menangis kecil dan ada saja yang membuat Diandra semakin gelisah. Akhirnya Nyonya Linda kembali membantu menenangkan Ezra.


...***...

__ADS_1


Sementara itu di rumah, Nenek Harni sedang menatap sang Kakak yang duduknya tepat dihadapannya. Paman Sam sedang menuturkan maksud dari tujuan dia berkunjung pagi-pagi sekali.


"Gila kamu, Sam!" teriak Nenek Harni yang langsung membuat dadanya sesak. Permintaan sang Kakak membuat Nenek Harni tentu saja marah. Padahal pembagian saham itu sudah cukup adil karena suami Nenek Harni merintis perusahaan dan bisnis itu sendiri tanpa bantuan Samuel.


Adu mulut pun terjadi. Bahkan Meli beberapa kali menahan sang Nyonya agar bicara dengan tenang mengingat kondisi kesehatannya yang tidak baik.


"Paman, sebaiknya Paman pulang dari sini sebelum Hasna panggil polisi," ancam Mami Hasna tidak membuat Paman Sam gemetar. Malah sudut bibirnya menyungging meremehkan ucapan Mami Hasna.


Dulu, sebenarnya mereka semua sangat dekat bahkan tinggal satu rumah. Erlan sendiri tidak mau memanggil Samuel dengan sebutan Kakek karena meniru Mami Hasna yang memanggil Paman. Apalagi kondisi fisik Samuel sendiri memang cukup awet muda walau usianya menginjak enam puluh tahun.


Usianya hanya beda tiga tahun dengan Nenek Harni, tetapi Nenek Harni mengalami perubahan kesehatan yang cukup signifikan setelah suaminya meninggal.


Dan setelah kematian suami Nenek Harni, semuanya berubah total. Apalagi Paman Sam menjadi gila harta dan merasa berhak atas semua itu karena umur yang lebih tua. Padahal bagian dari sahamnya sudah membuat Paman Sam punya nama dan kuasa serta harta yang bisa mensejahterakan istri juga anaknya Yansen.


"Harni, kamu yakin mengalihkan semuanya pada wanita bernama Diandra itu? Bahkan yang aku tahu dia bukan wanita yang berpendidikan tinggi. Tentu sangat beda jauh dengan Yansen anakku. Dia lebih berhak karena ada ikatan darah," tanya Samuel dengan nada yang meremehkan.


"Kenapa? Diandra sudah menjadi cucuku. Apalagi kinerja Erlangga nggak diragukan lagi karena dunia bisnis tahu seberapa hebatnya cucuku itu. Jadi, apa yang dipegang Diandra juga nggak akal disalahgunakan karena ada Erlangga di sisinya. Nikmati apa yang menjadi bagianmu dan pergilah dari sini!" kata Nenek Harni masih berusaha menahan amarah karena permintaan yang tidak masuk akal. Apalagi Yansen tidak begitu ramah dengannya, bagaimana bisa anak itu mendapatkan bagian yang banyak.


"Hm. Baiklah! Sayang sekali cicitku nggak disini ya? Padahal aku mau menyapa dan memberi tahu dia kalau Ayahnya Erlangga Saputra yang menjadi kebanggaan di rumah ini sedang bermain wanita diluar sana, heh?"


Seketika itu juga Nenek Harni mendapatkan serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.


........

__ADS_1


__ADS_2