Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Kembali Berjuang


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu saja. Diandra menjalani hari yang cukup menyenangkan karena satu orang pun tidak ada yang menyinggung perihal apa pun yang bersangkutan dengan anak. Erlan benar-benar memperlakukan Diandra dengan sangat baik dan memanjakannya. Bahkan tidak ada yang berubah dengan Nenek juga Mami Erlan. Semuanya masih perhatian dengan Diandra.


Namun ada sedikit perbedaan dengan sikap Erlan menurut Diandra. Bukan sedikit, mungkin lebih banyak. Laki-laki itu biasanya begitu tidak sabaran dan sangat bernapsu pada Diandra, tetapi kali ini bahkan sudah sejak dua hari lalu Diandra selesai nifas, dia belum juga menyentuhnya.


Erlan lebih sering tidur di ruang kerja dari pada di kamar bersama Diandra. Hal itu menimbulkan rasa yang tidak biasa dalam pikiran Diandra. Jika itu dia lakukan saat masih nifas, Diandra tentu paham, tetapi Diandra jadi takut jika Erlan sebenarnya kecewa dengan Diandra karena begitu merepotkan karena penyakitan. Beberapa hari yang telah lewat Diandra anggap hanya sebagai kepura-puraan. Terbukti dengan Erlan yang tidak mau menyentuhnya.


"Mas!" panggil Diandra lirih sesaat setelah Erlan siap dengan pakaian kerjanya.


"Iya, Sayang?" jawab Erlan sedang fokus memakai kaos kaki.


"Apa kamu sedang pura-pura?" pertanyaan Diandra membuat Erlan mengangkat satu alisnya dan menunda untuk memakai satu kaos kaki di kaki kirinya. "Iya. Kamu sedang pura-pura baik sama aku 'kan? Kamu sebenarnya hanya sedang menutupi rasa kecewamu padaku?" Erlan begitu serius menatap Diandra yang sedang berdiri dihadapannya dengan segala rasa.


"Maksud kamu apa, Sayang?" kini Erlan pun beranjak dan hendak memeluk Diandra, tetapi dengan segera Diandra berpaling kemudian duduk di tepi ranjang. "Sayang?" panggil Erlan dengan lembutnya dan ikut duduk di sisi Diandra.


"Apa kamu sangat jijik padaku, Mas?" Lagi-lagi pertanyaan Diandra membuat Erlan terheran-heran.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang. Kamu nggak boleh banyak pikiran! Ingat, kamu nggak boleh stres. Kamu harus fokus dengan kesehatan kamu. Coba bilang, kamu mau apa? Apa yang buat kamu sampai berpikir kalau aku jijik sama kamu?" Erlan pun berjongkok di depan Diandra yang masih duduk di tepi ranjang.


Diandra tidak langsung menjawab. Dia menatap Erlan yang juga sedang menatapnya. Pancaran mata Erlan memang tidak menunjukkan hal aneh ataupun apa yang Diandra pikirkan. Namun Diandra tetap saja merasa Erlan tidak mau menyentuhnya.


"Sayang ... kamu mikir apa sih?" tanya Erlan lagi masih dengan nada lembut.


"Kenapa kamu nggak mau tidur denganku, Mas? Kenapa kamu nggak mau menyentuhku padahal aku udah selesai nifas sejak kemaren," jawab Diandra seraya tertunduk.


"Kamu udah selesai nifas?" pertanyaan Erlan membuat Diandra kesal.


"Sejak kemaren aku udah kasih kamu kode, Mas. Kenapa kamu nggak peka? Kenapa kamu terus tidur di ruang kerja? Kenapa kam-" Erlan langsung membekap mulut Diandra dengan ciuman dan sedikit lumatann. Tentu saja tidak lama. Kemudian Erlan duduk di sisi Diandra dan menggenggam kedua tangannya lalu mencium secara bergantian.


"Maaf kalau aku nggak peka, Sayang. Aku nggak tahu kalau kamu udah selesai. Berarti seharusnya dari kemaren kita ke Dokter Amira," ucap Erlan kembali mencium kedua tangan Diandra secara bergantian. "Kita ke Dokter Amira sekarang ya?" lanjut Erlan membuat Diandra mengangkat satu alisnya. "Hm. Kamu lupa kalau Dokter Amira bilang kita harus periksa setelah kamu selesai nifas?" Diandra mengangguk. "Aku belum bisa menyentuhmu, Sayang. Aku nggak mau buru-buru. Aku takut menyakiti kamu. Aku nggak mau," sambung Erlan membuat Diandra paham bahwa Erlan benar-benar menjaga kesehatannya dengan sangat baik.


"Jadi kamu bukan jijik sama aku, Mas?"


"Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu sih? Bikin gemes aja," Erlan mencubit hidung Diandra. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang," kata Erlan seraya beranjak.


"Loh, kamu nggak kerja? Nanti aja pulang kerja, Mas?" Erlan menggelengkan kepalanya.


"Kesehatan kamu lebih penting dari sebuah pekerjaan. Aku bisa berangkat setelah kamu cek up dari rumah sakit," jawab Erlan dan Diandra langsung memeluknya.


"Ternyata aku memang wanita beruntung yang bisa mendapatkan cinta seorang CEO kejam sepertimu, Mas!" Erlan pun terkekeh.

__ADS_1


"Apa sekarang aku masih kejam?" goda Erlan membuat Diandra yang terkekeh.


"Kalau sama aku udah nggak, tapi kalau sama karyawan kamu ... mungkin masih," jawab Diandra kemudian melepaskan pelukannya.


"Kamu bisa ikut aku ke kantor setelah cek up nanti. Kamu tanya aja langsung sama mereka, apa suami kamu ini masih kejam atau nggak," kata Erlan lagi-lagi membuat Diandra terkekeh.


"Jadi aku udah boleh keluar rumah, Mas?"


"Kita harus tanya Dokter Amira dulu ya?" Diandra pun mengangguk dan keduanya pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek up.


...***...


Langkah kaki Diandra tiba-tiba berat saat sudah di depan pintu ruang periksa. Jantung yang sejak tadi berkerja dengan tenang tiba-tiba berdegup lebih kencang. "Sayang ...." Erlan tahu jika istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku takut, Mas! Bagaimana ... bagaimana kalau kondisiku sebenarnya memburuk?" Diandra menggenggam erat tangan Erlan.


"Aku udah pernah bilang kalau uangku itu banyak, kamu tenang aja. Aku akan carikan pengobatan terbaik untuk kamu, Sayang. Kita masuk?" Diandra akhirnya mengangguk dan Erlan pun membuka pintu. Dokter Amira sudah menunggu Erlan dan Diandra sejak tadi.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter Amira terlihat kecewa dengan hasilnya. "Kenapa, Dok? Apa yang ...."


"Maaf, Bu Diandra. Kita harus segera melakukan operasi pengangkatan kista dan miom nya," jawab Dokter Amira dengan segera.


"Sayang ... kita dengarkan dokter dulu ya?" kata Erlan seraya menggenggam tangan Diandra.


"Kondisi endometriosisnya sudah sangat menghawatirkan. Saya harus cek kondisi Bu Diandra terlebih dahulu untuk menjadwalkan tindakan laparotomi. Operasi yang mirip dengan caesar untuk mengangkat kista dan miom nya."


"Kenapa jadi begitu rumit, Dok? Apa itu akan mengganggu progam hamil saya nanti? Saya masih bisa hamil kan? Dokter bilang walaupun kemungkinan kecil, tapi saya masih bisa hamil kan? Saya benar-benar wanita beruntung yang Dokter jelaskan kemarin 'kan?"


"Sayang!"


"Nggak pa-pa, Pak. Saya maklumi jika Bu Diandra khawatir. Saya juga tidak akan memberikan harapan palsu. Bu Diandra bisa melakukan program hamil saat waktunya tiba. Tenangkan diri Bu Diandra dan yakinkan diri anda jika Bu Diandra bisa melalui semua ini."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!"


"Pasti, Pak Erlan."


"Tapi aku takut, Mas!" Erlan hanya bisa menenangkan Diandra lewat sorot mata dan genggaman tangan. Namun tidak lama karena Diandra harus dibawa ke laboratorium.


"Apa ini akan berhasil, Dok?" tanya Erlan setelah Diandra pergi.

__ADS_1


"Saya tidak mau menyimpulkan sekarang, Pak. Kita harus lihat perkembangannya setelah operasi."


"Kalau begitu lakukan secepatnya. Saya nggak mau istri saya kenapa-kenapa,"


"Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik, Pak."


"Tapi apa istri saya benar-benar bisa hamil lagi? Bagaimana jika nanti endometriosis kambuh lagi? Apa kalau dia hamil akan terus keguguran, Dok?"


"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Pak Erlan, rahim istri anda harus benar-benar kosong selama satu sampai dua tahun baru bisa melakukan program hamil lagi, jadi Bu Diandra harus melakukan kb selama itu dan juga Pak Erlan tidak boleh sembarang keluar ya. Jika operasi kista dan miom ini berhasil, kemungkinan keguguran itu juga sangat kecil,"


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik." Dokter Amira pun mengangguk.


...***...


Kondisi Diandra ternyata sangat baik untuk menjalani operasi pagi itu juga. Nenek dan Maminya segera menyusul ke rumah sakit saat mendapatkan kabar jika Diandra harus segera operasi. Erlan sebenarnya sangat takut dan mewanti-wanti Dokter Amira untuk memberikan amnesti yang terbaik agar istrinya tidak kesakitan. Namun dia tidak bisa menunggu Diandra karena ada rapat penting di kantor.


Sore harinya setelah pekerjaannya selesai, Erlan segera kembali ke rumah sakit dan ternyata Diandra sedang belajar memiringkan tubuhnya. Tentu saja operasi ini tidak sama seperti saat kuretasi. Diandra harus belajar miring dan berjalan. Walaupun tidak terlihat mengeluh, tetapi Erlan tahu jika istrinya itu sedang menahan rasa sakit.


"Sayang ... kamu pasti kuat," kata Erlan memberikan semangat seraya menuntunnya perlahan untuk berjalan satu dua langkah.


"Cucu Nenek emang hebat. Padahal belum satu hari operasi, udah bisa jalan beberapa langkah," puji Nenek Harni membuat Diandra tersipu.


"Erlan memang nggak salah pilih istri ya, Ma?" sahut Mami Hasna.


"Sudah ributnya? Kalian ini bisa buat pipi Diandra kayak udang rebus kalau dipuji terus," kata Erlan langsung mendapatkan cubitan.


Untungnya operasi pengangkatan kista dan miom itu benar-benar berjalan sesuai harapan Dokter Amira. Erlan hanya mendapatkan kabar positif dengan kondisi Diandra. Hal itu membuat Erlan bangga dengan istrinya yang telah berhasil berjuang untuk sembuh.


Diandra harus melakukan kontrol dua bulan sekali untuk memantau perkembangan kesehatannya. Kesabaran Erlan benar-benar sedang diuji demi mendapatkan momongan karena memang rahim Diandra harus dikosongkan minimal selama satu tahun. Tentu saja dia sangat ingin punya anak, tetapi dia tidak mau memaksakan kehendak apalagi kondisi Diandra yang belum sepenuhnya pulih karena endometriosis yang di derita Diandra masih harus diperhatikan apalagi adanya jaringan yang bisa kembali tumbuh dan mengganggu kehamilannya.


........


Babnya udah panjang banget nih, KEMBANGNYA dong hehe.


Oiya yang lagi kejar give away jng cuma kasih vote kembang demi jadi paling atas ya? Klo author gak pernah liat kalian like komen juga percuma ya hadiah utama novel cetak akan dialihkan.


...Jangan lupa mampir sini juga 👇...


__ADS_1


__ADS_2