
Hanes yang mendapatkan kabar jika Cherin di lempar telur oleh mantan istrinya, sesaat itu juga Hanes pulang tanpa memikirkan apa-apa lagi selain keadaan Cherin. "Sayang! Sayang! Kamu dimana?" teriak Hanes setelah masuk rumah.
"Apaan sih teriak-teriak, kayak di hutan aja!" jawab Cherin seraya menuruni anak tangga. Dengan cepat Hanes menghampiri Cherin dan merengkuh bahu Cherin lalu memutar badannya. "Aku nggak pa-pa, Mas! Udah dibilang nggak pa-pa, nggak usah khawatir!" lanjut Cherin memukul Hanes.
"Sialann! Berani sekali dia ngikutin kamu. Bener-bener nggak bisa dibiarkan. Udah berani bohongin aku dan memeras harta gono-gini, sekarang berani-beraninya nyakitin kamu, Sayang." Hanes mengepal erat kedua tangannya.
"Yang penting aku nggak pa-pa, Mas! Tapi aku nggak suka dia panggil aku pelakor. Inget dong kamu yang maksa aku buat menikah, jadi aku nggak mau disebut pelakor," kata Cherin seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Maaf, kejadian ini nggak akan terulang lagi. Kamu istirahat aja ya, jangan kemana-mana kalau nggak sama aku. Takutnya dia berbuat yang nggak-nggak lagi sama kamu," sahut Hanes kemudian memeluk Cherin. Hanes benar-benar memberikan yang terbaik untuknya.
"Terima kasih, Mas!" Cherin pun membalas pelukan Hanes.
"Jangan bilang begitu! Aku ini suami kamu yang memang harus melindungi istrinya dengan baik. Kamu pasti bete! Pengen makan sesuatu nggak?" tanya Hanes melepaskan pelukannya dan kemudian beralih mencium kening Cherin.
"Em, kamu paling tahu emang sama perasaan aku. Sebenarnya aku pengen es krim, tapi aku mau beli sendiri. Mau milih rasa, boleh?" bujuk Cherin dengan mata yang terus berkedip menggoda Hanes.
"Haha ... tentu saja boleh karena Dokter juga udah bolehin," jawab Hanes dengan antusias. Memang selama kehamilan Cherin, apa yang masuk dalam mulutnya benar-benar di jaga oleh Hanes sesuai dengan anjuran Dokter Amira. Apalagi Cherin termasuk wanita dengan kandungan yang lemah, makannya baru memasuki trimester ketiga ini Cherin boleh banyak bergerak.
Hanes pun membawa Cherin ke swalayan untuk menuruti kemauannya. Namun dengan syarat Cherin harus mau duduk di kursi roda demi menjaga rasa lelahnya. Apalagi kaki Cherin mulai bengkak karena pengaruh usia kandungannya.
__ADS_1
Kehamilan Cherin memang merubah bentuk tubuhnya dengan drastis. Potongan rambut pendek yang sengaja karena selalu gerah dengan pipi tembem dan tubuh yang gemuk apalagi ditambah perutnya yang buncit membuat orang benar-benar tidak kenal dengan model yang cukup populer beberapa tahun. Cherin bahkan memakai kaca mata hitam duduk dengan santai di kursi roda yang di dorong oleh Hanes sendiri.
"Hm ... rasa apa ya? Aku bingung, Mas. Udah lama banget nggak makan es krim, boleh kan aku ambil beberapa buat stok di kulkas juga?" mohon Cherin dengan mata yang berbinar. Tentu saja Hanes tidak bisa melarang permintaan Cherin dan hanya mengangguk pelan.
Cherin pun semakin antusias memilih beberapa rasa es krim termasuk es krim mochi rasa matcha yang paling dia sukai sejak bertemu dengan Erlan karena itu juga kesukaan Erlan, tetapi itu dulu. Cherin tidak peduli apa yang disukai Erlan saat ini atau bahkan dia sudah tidak makan es krim pun bukan urusannya.
Setelah kantung belanjanya penuh dengan es krim, Hanes kembali mendorong kursi rodanya menuju kasir dan membayar tagihan tersebut. Hanes kembali mendorong kursi roda Cherin untuk keluar dari swalayan yang murai ramai. Sayangnya, belum mereka berdua sampai ditempat parkir, seorang wanita berdiri dengan kedua tangan yang menyilang di dada.
"Sandra!" panggil Hanes dengan nada lirih. Melihat ekspresi wajah Hanes yang terkejut, membuat Sandra, mantan istri Hanes itu menyunggingkan senyum.
"Ternyata wanita ini yang membuatmu berpaling dariku, Hanes!" ucap Sandra. Nada bicaranya benar-benar meremehkan. Matanya seolah memancarkan kebencian yang begitu mendalam pada Cherin. Entah apa yang akan dia lakukan, Hanes tidak bisa menebaknya. Namun Hanes tahu jika mantan istrinya itu wanita yang cukup gigih dengan apa yang dia mau.
"Mau apalagi, kamu? Kamu yang telah membohongiku selama tujuh tahun dan aku juga sudah memberikan harta yang kamu mau. Sekarang jangan ganggu aku, apalagi istri dan anakku," sahut Hanes masih bisa menahan emosinya. Tangan Hanes benar-benar sedang memegang kursi roda dengan kuat. Andai itu bukan di tempat umum, pastilah suaranya akan menggelar hingga ke ujung dunia.
Sandra benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi. Rasa itu telah dia tahan sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan saat hakim memutuskan perceraian mereka, Sandra masih tidak terima keputusan itu. Tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat. Apalagi saat itu Hanes masih merintis bisnis juga perusahaan yang saat ini cukup berkembang.
Kabar kemandulan jugalah yang membuat Hanes begitu fokus mengembangkan usaha juga hobinya di dunia entertainment. Tentu saja semua itu tidak lepas dari dukungan Sandra.
Wanita itu memang bukan dari kalangan keluarga terpandang ataupun kaya raya. Dia bahkan hanya seorang anak yang besar dari panti asuhan. Rasa cintanya pada Hanes juga cukup membutakan matanya untuk menghalalkan segala cara agar bisa menikah dengan laki-laki idamannya.
__ADS_1
"Pergilah! Kita sudah tidak ada urusan lagi. Semuanya sudah diputuskan hakim dan hubungan kita juga sudah selesai. Kamu juga harus introspeksi diri apa yang kamu lakukan padaku selama tujuh tahun ini. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, jadi tolong ... kita berpisah dengan baik-baik."
Hanes masih bersikap biasa demi menjaga nama baik Cherin tentunya. Sedikit keributan bisa membuat istrinya itu stres. "Aku nggak akan rela kamu bahagia di atas penderitaan yang aku alami, Hanes!" Sandra pun mengangkat jari telunjuknya tepat ke arah Hanes.
"Tolong ... jangan buat keributan disini!" Kalau kamu ingin bicara, mari kita bicara baik-baik!" pinta Hanes masih dengan nada bicara yang sama.
"Hei ... semuanya dengar!" teriak Sandra membuat beberapa pengunjung swalayan tersebut menatapnya.
"Sandra! Hentikan!" Hanes tahu apa yang akan Sandra ucapkan.
"Lihatlah model terkenal Cherinna Putri telah menjadi pelakor. Laki-laki yang sedang bersamanya itu adalah suamiku yang berhasil dia rebut. Ternyata hilangnya kabar dia beberapa bulan itu karena dia sedang hamil besar dari suami yang telah beristri!"
Hanes benar-benar tidak bisa menahan lagi. Dia yang sejak tadi berdiri tegak memegang kursi roda pun melangkah menghampiri mantan istrinya. "Cukup! Semua ini salahmu yang memalsukan kemandulan aku, Sandra. Kamu pikir juga, gara-gara ulah kamu, Nenekku meninggal! Kamu ingat, Hah!"
Perdebatan kedua mantan pasangan itu telah memikat beberapa orang yang mengabadikan momen mengejutkan tersebut. Namun apa yang dikatakan Hanes tidak membuat Sandra sadar diri. Kakinya melangkah melewati tubuh Hanes dengan segera dan berdiri tepat di depan Cherin. Raut wajah Sandra benar-benar memancarkan aura membunuh.
"Mati saja kamu, Jalangg!" teriak Sandra yang langsung menggulingkan kursi roda Cherin. Seketika itu Cherin pun pendarahan.
"Sayang!"
__ADS_1
........
...Kasih tau ya kalau ada typo 😬 mataku udah pedes banget mau baca ulang 😌...