Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Sebuah Rencana


__ADS_3

Keesokan harinya, Erlan dan Diandra menyusun rencana agar kesehatan Nenek juga Maminya tidak terganggu dengan kabar mengejutkan itu sampai adanya bukti jika kehamilan Cherin tidak ada hubungannya dengan Erlan. Bukan hanya keduanya, tetapi Meli juga ikut andil dalam rencana tersebut.


Suruhan Erlan belum juga menemukan titik terang dan seolah ada yang janggal dengan beberapa hal yang dilaporkan oleh orang-orang suruhannya tersebut. Erlan mulai berpikir jika ada seseorang yang berkuasa melebihi dirinya untuk membantu Cherin memuluskan rencana dia. Sayangnya Erlan tidak bisa menebak siapa seseorang itu karena benar-benar tidak meninggalkan jejak untuk bisa dijadikan bukti.


Namun karena dukungan dan kepercayaan dari Diandra, Erlan tidak lagi putus asa. Erlan seolah mendapatkan kekuatan baru. Semua rencana yang ada di otaknya dia sampaikan pada Diandra. Walaupun ada banyak, tetapi Diandra lebih sering menolak dari pada menerima.


"Apa kamu yakin akan melakukan hal ini, Mas? Kayaknya aku juga nggak setuju dengan rencana ini. Kamu yakin bisa jauh dariku?" tanya Diandra yang lagi-lagi kurang setuju dengan rencana Erlan padahal disetujui Meli.


Jio tidak bisa ikut berdiskusi karena sibuk dengan urusan kantor. Sedangkan Meli yang paling tahu kesehatan Nenek, dan juga Diandra sudah nyaman dengan wanita berkepala tiga itu. Erlan meminta agar Diandra untuk tinggal diluar negeri bersama dengan Nenek juga Maminya sampai Cherin melahirkan. Namun Erlan harus rela jauh dari Diandra sampai saat itu tiba. Meli juga setuju dengan pendapat Erlan demi menjaga kondisi Nenek Harni.


Walaupun Diandra tidak takut dengan ancaman Cherin yang katanya akan membuka kehamilan di depan publik, tetapi Erlan tidak mau jika nama istrinya menjadi buruk dimata orang lain, terutama tentang kesehatan Neneknya. Itu sebabnya Erlan akan menyembunyikan masalah ini sampai Cherin melahirkan.


"Tapi kalau Nyonya tahu hal ini, maka saya tidak bisa menjamin kesehatannya, Nona. Saya rasa ini ide yang cukup bagus karena sebelumnya Nyonya sudah pernah drop dan Dokter mengatakan agar Nyonya tidak menerima kabar buruk atau tekanan batin supaya kesehatannya membaik. Saat Nona Diandra sakit saja, Nyonya hampir drop, bagaimana dengan kabar ini yang jelas-jelas Nyonya tidak suka dengan Nona Cherin," sahut Meli.


"Sayang, aku akan tahan semua ini demi kamu juga Nenek. Lagi pula aku nggak akan menikahi Cherin dan aku pastikan nggak akan ada berita apa pun di media yang membahas kehamilan Cherin," ujar Erlan.


"Kamu yakin nggak akan jatuh cinta lagi sama wanita itu? Terus kalau dia beneran hamil anak kamu, gimana? Melihat anak yang lucu dan menggemaskan itu nggak menutup kemungkinan kamu akan mencintai ibunya kembali," kata Diandra dengan nada kesal.


"Sayang ... katanya kamu percaya sama aku?" jawab Erlan seraya mencubit hidung Diandra.


"Iya, aku percaya, Mas. Tapi tetap aja aku khawatir. Kamu jauh dari aku maka akan membuka kesempatan untuk Cherin deketin kamu, Mas. Lagian kenapa juga kamu nggak mau jenguk aku di luar negeri? Kan bisa minimal satu bulan sekali kamu kesana. Kalau uang kamu habis, minta aja sama Mbak Meli. Pake uang aku yang dari Nenek," keluh Diandra membuat Erlan dan Meli terkekeh.


"Aku lupa kalau sebenarnya kamu lebih kaya daripada aku, Sayang. Tapi ini memang harus dilakukan. Aku takut Cherin berbuat konyol saat dia tahu aku pergi cari kamu. Sebaiknya aku menahan rasa kangenku," jawab Erlan dengan santainya. Diandra hanya bisa mengehela napas panjang.

__ADS_1


"Mami aja sama Nenek yang pergi, aku tetap di sisi kamu, Mas!" Diandra tertunduk.


"Sayang ... kalau gitu apa alasan kita agar Mami dan Nenek mau tinggal di luar negeri?" tanya Erlan.


"Emang apa alasan kita pada Nenek dan Mami, Mas?" Diandra masih berat dengan rencana itu.


"Kamu alasannya, Sayang. Nenek pasti akan menuruti apa yang kamu mau. Bilang aja kamu ingin tinggal di luar negeri bersama mereka selama beberapa bulan kedepan dan aku akan bilang ini demi kesehatan kamu. Aku yakin mereka tidak akan menolaknya," kata Erlan meyakinkan Diandra seraya menggenggam tangannya.


"Saya akan bantu bicara pada Nyonya. Saya juga tahu tempat yang nyaman untuk kalian. Disana juga saya punya paman yang akan bantu menjaga Nyonya dan Nona. Tuan juga bisa kirim bodyguard tambahan nantinya," papar Meli lagi-lagi membuat Diandra pasrah. Beberapa kali Diandra mengehela napas berat. Diandra menatap Erlan yang menganggukkan kepalanya. Walaupun sangat berat, tetapi Diandra percaya dengan suaminya dan menyetujui rencana tersebut.


"Ya udah deh, terserah kalian aja. Awas aja kalau kamu macam-macam selama jauh dari aku, Mas! Aku bakal pecat kamu dan buat kamu keluar dari kartu keluarga Nenek," ancam Diandra kembali membuat Erlan terkekeh.


"Nggak mungkinlah aku macam-macam, Sayang. Aku cuma cinta kamu. Selanjutnya aku mau ke apartemen Cherin buat menjalankan rencana kita sebelum Nenek dan Mami datang. Kamu di rumah aja ya?" kata Erlan seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ikut aja, Mas. Aku mau lihat wajah wanita yang membuat suamiku sakit kepala saat ini," ujar Diandra ikut beranjak.


"Kenapa emangnya? Mbak Meli mengajariku banyak hal. Istrimu ini bukan wanita lemah lagi, Mas."


"Baiklah kalau kamu maksa. Tapi ingat ya jangan sampai bertindak ceroboh." Diandra menganggukkan kepalanya.


...***...


"Honey, gimana? Udah ambil keputusan?" tanya Cherin saat membuka pintu yang kebetulan dia juga akan keluar dari apartemennya.

__ADS_1


"Udah," jawab Erlan dengan tatapan dingin.


"Kalau begitu kita bicara di dalam yuk?" ajak Cherin dengan sangat antusias. Cherin pun segera berbalik badan untuk menyiapkan minum.


"Sayang!" panggil Erlan dan Cherin langsung menoleh lalu kembali menghampiri Erlan kemudian menggenggam tangannya.


"Honey, kamu panggil aku sayang? Kamu sweet banget. Jadi kamu udah terima kehamilan aku? Kamu bener-bener ayah yang sangat baik dan bertanggung jawab," kata Cherin dengan senyuman termanisnya.


"Lepaskan tanganmu sebelum aku meminta orang untuk memotong tanganmu itu," ucap Erlan seketika merubah raut wajah Cherin dan segera melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Erlan.


"Maksud kamu apa?" tanya Cherin heran.


"Aku memanggil istriku, bukan kamu," sahut Erlan masih dengan raut wajah yang sama.


"Istri?" Cherin mengulang perkataan Erlan. Diandra yang sejak tadi berdiri di balik tubuh Erlan pun menampakkan diri dengan senyum mengejek dan melambaikan tangan.


"Hai, bumil. Gimana kabar hari ini?" tanya Diandra seraya memeluk lengan Erlan.


"Kenapa kamu ajak wanita itu?" teriak Cherin tidak terima Diandra ikut bersama Erlan.


"Aku istri sah Tuan Erlangga Saputra, apa anda lupa Nona Cherin? Wajar dong kalau aku ikut kemana suamiku pergi?" sahut Diandra dengan santainya membuat Cherin geram seraya mengepalkan kedua tangannya.


........

__ADS_1


...Hayuk mampir juga ke karya temen author satu ini 👇...



__ADS_2