Off Bucin

Off Bucin
Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja


__ADS_3

Jalanan tampak mulai sepi, beberapa pedagang kuliner kaki lima yang menjajakan dagangannya terlihat sudah mulai membereskan kedainya atau membersihkan gerobaknya untuk kembali pulang ke rumah.


Lola duduk di atas jok motornya dengan tatapan mata fokus ke arah pintu keluar kedai es krim tempat dia membeli es krim di mana dia bertemu dengan Darren.


"Hhffff." hembusan nafas kasar Lola keluar dari hidung dan mulutnya.


Nervous


Itu lah yang dirasakan Lola saat ini menanti Daren keluar dari kedai es krim rasanya lebih-lebih seperti menunggu hasil ujian. Udara malam hari kota Tangerang terasa panas karena musim kemarau, tapi tidak begitu dengan pelipis dan telapak tangan Lola yang terasa dingin karena mulai berembun oleh keringat dingin di pori-pori kulitnya.


Tak lama berselang Daren keluar dari pintu kedai es krim sambil menenteng jasmine tea dan earl grey tea. Lola menelan ludahnya sepertinya dia tahu untuk siapa Daren akan memberikan minuman itu.


"Kayak nya gue harus nyerah, Dudul pasti gak akan inget gue. Kan sekarang ada cewek yang jauh lebih cantik dibandingkan gue." suara Lola bergumam terdengar lemas tak bersemangat.


"Raini? Kamu masih di sini?" tanya Daren sambil mengerutkan dahi.


"Emm...iya gue lagi nungguin Lo." jawab Lola berusaha tenang walaupun hatinya gundah gulana tak karuan.


"Nungguin gue?" tanya Daren sedikit heran.


"Iya, ada sesuatu yang pengen gue obrolin sama Lo. Lo punya waktu kan? Nggak lama kok Paling juga cuma 10 menit minta waktu Lo kalau boleh. Gue mohon." pinta Lola menatap sendu ke arah Daren tak tega untuk menolaknya.


"5 menit aja ya? Gue nggak mau es ini mencair." saut Daren sambil mengangkat es yang ada di dalam kantong plastik ke arah Lola


Lola mengangguk sambil mengedip pelan matanya.


"Kita duduk bentar di situ." ajak Lola pada Daren sambil telunjuknya menunjuk ke arah sepasang bangku santai yang ada di depan sebuah minimarket. Daren mengangguk lalu keduanya berjalan menuju bangku itu.


Jantung Lola tak berhenti berdetak kencang, begitu juga dengan pikirannya. Beribu satu macam pertanyaan sepertinya ingin dia keluarkan saat ini untuk Daren. Begitu keduanya duduk berhadapan Lola berusaha duduk tegap menatap wajah Daren.


"By, apa Lo belum mengingat gue sedikit pun?" tanya Lola langsung pada inti pertanyaannya tanpa basa-basi.


Daren mengerutkan dahi


"By? Apa itu panggilan Lo buat gue? Dan. kenapa Lo panggil gue by?" tanya Daren penasaran menatap dalam mata hazel Lola.


Ada desir aneh dihati Daren saat menatap mata itu, ada perasaan nyaman dari sorot mata milik cewek yang sekarang ada di depannya.


"Iya, itu panggilan sayang diantara kita " saut Lola dengan detak jantung cepat hingga ingin rasanya meledak


Lola menelan ludahnya yang terasa sakit tercekat di tenggorokannya.


"Apa maksud Lo RI?" tanya Daren minta penjelasan.


"Jangan panggil gue RI, gue bukan Raini. tapi nama gue Lola, Lo- la." saut Lola yang mulai kesal dan baper dengan sapaan yang baru saja Daren ucapkan.


"Lola?" tanya Daren dengan mata mendelik ke arah Lola membuat Lola merasa kesal dengan tatapan mata itu.


"Iya gue Lola, Lola Anggraini bukan Raini!" ketus Lola mulai meninggi nada bicaranya dengan mata membulat tajam menatap ke arah Daren.


"Lola?" kembali ada penegasan meluncur dari bibir Daren.


"Apa Lo inget gue sekarang?" satu kalimat tanya harapan terlontar ikut merubah ekspresi wajah Lola.

__ADS_1


Lola menanti harap-harap cemas jawaban yang akan keluar dari mulut Daren, rona wajahnya nampak menegang dengan mata sedikit menyipit.


"Nggak. Yang gue ingat temen lu waktu itu sempat menyebut nama lu di depan gue dan dia minta supaya gue mengingat lo tapi gue sama sekali nggak ingat sama Lo." ucap Daren terdengar dingin hingga membuat hati Lola terasa jleb langsung jatuh ke dasar rasa keputusasaan.


Kedua telapak tangan Lola meremas kuat Hoodie yang membalut tubuhnya, tatapan matanya seketika hampa dan kosong. memberontak memprotes itulah yang ada di pikiran dan hati Lola saat ini, tapi semuanya terasa tercekat di tenggorokan tak mampu dia keluarkan hanya kedua matanya yang mulai berembun sebagai bentuk tidak terima atas jawaban Daren.


"Ada lagi yang pengen mau Lo omongin? Masih ada sisa waktu 2 menit." tanya Daren dingin sambil melirik arlojinya.


Lola menahan rasa kecewa bercampur marah yang memenuhi hampir seluruh rongga dada dan pikirannya hingga membuat sesak dadanya dan kepalanya terasa mengebul.


"Gak ada. Cuma itu yang pengen gue omongin." jawab Lola dengan suara sedikit gemetar tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk tenang dan mengendalikan dirinya di hadapan Daren.


"Ok, bye Ri. Cepat lah pulang, hari sudah malam nggak baik buat cewek kayak lu di luaran jam segini." pesan Daren sebelum dia berbalik badan pergi meninggalkan Lola.


Lola mengepalkan kedua tangannya, saat ini emosinya benar-benar sudah ada di ujung kepala dan siap meledak.


"Brengsek Lo Eb! Gue bukan Raini! Gue Lola!" tandas nya dengan mata berkaca.


Lola berjalan cepat, tangan kanannya menggenggam erat kantong plastik yang berisi segelas es Jasmine Tea. Saat posisinya tepat berada di belakang Daren, sekonyong-konyong Lola memukul tengkuk Daren dengan kantong plastik es yang ada di genggamannya, hingga membuat Daren tersentak kaget dan menoleh ke belakang.


Mata Daren melotot tajam ke arah Lola yang dibalas dengan tatapan serupa Keduanya sekarang saling menatap tajam dengan mata melotot, tanpa sekali kemarahan ada pada mereka..


"LO?" pekik Daren sambil mengepalkan tinjunya.


"JANGAN SEKALI LAGI LO PANGGIL GUE RAINI!! GUE LOLA BUKAN RAINI!!" bentak Lola dengan suara melengking penuh amarah melotot tajam ke arah Daren.


Lola melempar kasar kantong es plastik yang mulai pecah dan isinya bercucuran di tanah ke sembarang tempat lalu berjalan cepat menuju motornya sementara Daren memandang Lola dengan tatapan kesal bercampur bingung.


Malam terus beranjak jalanan mulai sepi hanya ada beberapa pedagang yang masih menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Rintik hujan gerimis mulai turun di musim kemarau. Tanpa jas hujan Lola melajukan motor kesayangan, tetesan air hujan menerpa wajah putih Lola bercampur dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya.


"Hiks hiks Gue akan berhenti mengejar cinta Lo By. Ini bukan keinginan gue tapi ini keinginan Lo yang mau. GUE LOLA AKAN BERHENTI MENCINTAI LO DAREN PUTRA BASTIAN! Hiks hiks hiks, huuuuuuu...." janji Lola dalam kesedihan dan juga keputusasaannya untuk mengejar cinta Daren.


Lola menghentikan motornya di pinggir jalan, kepalanya ditelungkupkan di atas stang motor sambil menangis tersedu.


"Huuuuuuu huuuuuuu hiks huuuuu....," tangis Lola pecah seketika sambil tangannya sesekali memukul kaca speedometer motornya.


Lola berusaha menarik nafas panjang agar bisa bernapas dengan lega karena dia merasa ada sesuatu yang tersekat di tenggorokannya sehingga membuatnya merasa sesak nafas.


"Gue nggak boleh down hiksss...La, bangkit La. Hikss... Lu harus berjuang buat diri lu sendiri lu harus tepis semua mimpi Lo sama cinta Lo buat dia hiksss hiksss hiksss..." Lola berusaha membangkitkan semangatnya agar tidak kembali terpuruk untuk ke dua kali.


Belum genap setahun hati Lola patah oleh Angga, kini dia harus patah hati untuk kedua kalinya karena cintanya pada Daren yang begitu besar dan lebih membuatnya pedih dibanding Cinta pertamanya.


"Kenapa gue dulu terima cinta Lo hiksss, seandainya kita tetap sebagai seorang sahabat pasti gue nggak akan seperti ini huuuuuuu huuuuuuu hiksss hiksss hiksss...." ratap Lola tak berhenti terisak.


Untuk sesaat Lola tersedu dan menghabiskan semua tangisnya, sedikit demi sedikit dadanya merasa sedikit ringan dan dia mulai mengatur nafasnya kembali, mengumpulkan sisa kekuatannya untuk bisa sampai ke rumah.


Lola mengambil hp-nya lalu memutar musik yang disambungkan lewat headset di telinganya. Alunan merdu musik pembuka mulai terdengar mengiringi lagu "Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik saja by Judika


Lola kembali menyalakan mesin motornya lalu melajukan kendaraan itu menembus gerimis untuk bisa sampai pulang ke rumah sambil mendengarkan lirik lagu Judika yang cocok dengan suasana hatinya malam ini


Andai aku bisa memutar waktu


Aku tak ingin mengenalmu

__ADS_1


Mengapa ada pertemuan itu


Yang membuat aku mencintaimu?


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?


T'rus mengingatmu, memikirkanmu


Semua tentang dirimu


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?


Tak seperti kamu


Yang mampu tanpaku


Bagaimana


Mungkin kini kau bersama yang lain


Walau hatimu untukku


Adakah kesempatan untuk cintaku?


Bahagia walau kita berbeda


Uh-oh-wo-wo


Hu-uh-wo-uh-wu-wu-oh-oh


Mungkin kamu bukan untukku


Tapi kau selalu di hatiku, wo-oh, wo-oh


Bagaimana


Oh-oh-oh


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?


T'rus mengingatmu, memikirkanmu


Semua tentang dirimu


Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?


Tak seperti kamu


Yang mampu tanpaku


Tak seperti kamu


Bagaimana...,

__ADS_1


__ADS_2