
Juwi dan Palupi masih berdiri mematung dengan mata membulat sempurna menatap sapi yang membelakangi mereka dengan ekor dikibaskan seperti sedang menari kekanan dan ke kiri di atas mobil pick up.
"Omegotttttttt!!" seru Palupi refleks.
Lola memandang bergantian kedua sahabatnya, sepertinya Lola tahu ini pasti hal yang berat1 untuk kedua sahabatnya naik mobil bersama seekor sapi.
"Guys, kalian berdua nggak usah maksain diri untuk ikut gue. Lebih baik kalian berdua balik lagi ke villa gue nggak apa-apa kok pergi sendiri jenguk Sueb." ucap Lola sambil tersenyum tipis yang dipaksakan untuk kedua sahabat nya.
Mendengar perkataan Lola membuat Juwi langsung mengangkat kakinya naik ke atas mobil pick up tanpa ragu, sementara Pallul masih terlihat ragu dengan mata tak berhenti berkedip.
"Woi neng! buruan naik kalau mau ikut, jangan bikin bapak kesiangan! Keburu nggak laku sapi bapak!"teriak bapak si pemilik sapi yang duduk di depan dekat sopir mobil pick up.
Lola mengalihkan pandangannya ke ke arah lain menghindari bertatapan dengan Palupi, agar tak berkesan memaksa atau
berharap agar Palupi ikut bersama mereka.
Saat Palupi masih dalam keadaan ragu mobil tiba-tiba mulai berjalan hingga membuat Palupi tersentak kaget dan buru-buru mengejarnya.
"ABANG TUNGGU!" teriak Palupi melengking hingga membuat mobil pun berjalan melambat.
"Dasar Markonah dudul! Tarik tangan Gue gc!" seru Juwi sambil mengulurkan tangan kanan nya.
Palupi buru-buru menggapai tangan Juwi lalu Lola pun ikut mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai tangan kiri Palupi dan membantu nya untuk naik di atas mobil pickup.
DUk Duk Duk!
"Neng jangan berdiri di belakang sapi nanti bisa kena tampol ekor sapi kalian!" teriak bapak pemilik sapi yang duduk di depan.
Lola Juwi dan Palupi perlahan jalan sambil berpegangan besi pembatas mobil pick up menuju bagian depan mobil. sekarang ketiganya tepat berdiri di depan sapi, di belakang bagian kemudi.
Mobil pun mulai melaju di jalan menurun yang membelah pegunungan Lembang dengan udara dingin yang masih menusuk tulang. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan.
Wajah Lola tak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya, beberapa kali dia menghapus air matanya hingga membuat Juwi selalu mencuri pandang ke arahnya. Ada perasaan trenyuh saat melihat sahabatnya yang biasanya cuek dan juga tegar kali ini terlihat rapuh.
Sementara Palupi dengan wajah sangat takut sekaligus cemas beberapa kali menoleh ke belakang memandang sapi yang kepalanya persis di belakang bokongnya dengan mata tak berkedip.
"Tii..., itu kenapa sapi melototin pantat gue mulu." keluh Palupi sambil memegang lengan Juwi kuat.
__ADS_1
Ucapan Palupi membuat tatapan mata Juwi jatuh ke bawah mengarah ke bagian belakang tubuh Palupi tepat di bokongnya.
"Mungkin karena bokong lu mirip gitar Spanyol." ucap Juwi sambil menahan tawa.
"Suek lu, emang lu pikir gue matador dan dia banteng apa? Udah jelas-jelas dia sapi dodol." protes Palupi kesal dengan jawaban Juwi.
"Hehehe, iya juga tie. Atau karena tampilan lu yang menggoda." ucap Juwi membuat Palupi mengerutkan dahi tidak mengerti maksud perkataan Juwi.
"Emang kenapa sama tampilan gue? menggoda Gimana maksud lo?" tanya Palupi bingung.
"Yaelah, Liliput yang paling cantik yang paling semok yang paling bahenol yang paling cetar membahana. lu nggak nyadar apa kalau tampilan lu sekarang ini lebih mirip kayak rumput segar di mata dia, makanya dia tergoda sama lu buat sarapan isi perut dia." ucap Juwi dengan santainya tanpa senyum sedikitpun.
Plak
Satu pukulan mendarat di lengan yang dilayangkan karena kesal dengan ucapan yang terus menggodanya.
"Aaww! Kenapa lu pukul gue Maimunah, sakit tau!" pekik Juwi sambil meringis dan mengusap lengan bekas pukulan Palupi.
"Lo tuh ya jadi orang sama bestie sendiri aja ba cot lu bikin es mosi." geram Palupi melotot ke arah Juwi.
"Haiisstt! debat sama lu nggak bakal pernah bisa menang gue kecuali yang lu lawan die." balas Palupi sambil melirik ke arah Lola dengan ujung matanya.
Juwi pun ikut melirik ke arah Lola yang masih menatap kosong tanpa batas lurus ke depan. Suasana pemandangan pagi di sepanjang perjalanan yang begitu indah sama sekali tidak menarik di mata Lola yang biasanya selalu cuap-cuap mengomentari apapun saat healing seperti ini mana pun.
Mobil pick up tiba-tiba berhenti di sebuah pasar ternak yang ada di pinggir jalan antara Lembang Bandung, di tempat itu tampak puluhan orang berkumpul sambil membawa ternaknya baik itu unggas sapi kambing bahkan kuda.
"Neng, numpangnya cuman bisa sampai sini kalian jalan saja sekitar 500 meter dari sini arah ke timur ada terminal angkot, nanti dari situ kalian bisa naik angkot yang arah ke Bandung kota." kata bapak pemilik sapi.
"Oh iya iya pak," saut Juwi dan Palupi hampir bersamaan sementara Lola hanya diam saja.
Setelah mengucapkan terima kasih, Juwi, Lola dan juga Palupi berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh bapak pemilik sapi. Tak kurang dari 20 menit mereka sampai di terminal angkot yang tadi diberitahu oleh bapak pemilik sapi.
"La Lo sama Palupi tunggu sini dulu ya jangan kemana-mana kalian.Gue pergi dulu bentar." pesan Juwi kepada Lola dan Palupi.
"Lu mau ke mana cumi?" tanya Palupi heran.
"Toilet bentar, perut gue kagak enak kalau kena angin pagi." saut Juwi langsung ngeloyor pergi meninggalkan Lola dan Palupi.
__ADS_1
Palupi celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri, saat matanya menangkap sebuah warung kopi yang ada di terminal kecil itu dia pun berjalan ke arahnya.
"Pak ini semua berapa?" tanya Pak Luki kepada pemilik warung setelah dia mengambil 3 botol Aqua ukuran sedang roti lapis 3 bungkus serta susu kotak coklat 3 buah.
"25.000 ribu neng." jawab bapak pemilik warung.
Setelah membayar Palupi kembali bergabung bersama Lola dan Juli yang sudah balik dari kamar mandi.
"Kilat amat lu setor tie." ucap Palupi heran nggak biasanya Juwi kalau ke kamar mandi secepat itu.
"Gak jadi, gak tega gue." balas Juwi terdengar bete.
"Kenapa gak tega beb?" tanya Palupi heran
"Lu tau kan kalo Indra penciuman gue tuh tajam takut bisa berubah jadi tumpul gara-gara nyium aroma TPA Bantar gebang di toilet." saut Juwi sambil menekuk wajahnya.
"Buaahahahaha! Anjayy.… Emang sohib gue yang gelo tuh cuman elu kalau ngomong nggak pernah masuk akal hahaha." seru Juwi terbahak hingga membuat beberapa orang yang ada di terminal pagi itu menoleh ke arah mereka bertiga.
"Gue pengen sholat subuh di sini kalian mau ikut?" ajak Lola kepada kedua sahabatnya
Lola terlihat sangat khusyuk saat berdoa, sesekali dia menyeka air matanya. Juwi dan Palupi langsung dari tadi memperhatikan Lola hanya bisa menarik nafas ikut merasakan kesedihan Lola.
"Kita cabut sekarang beb, terlalu lama Sueb nunggu Lo.," Dwi mengusap lembut pundak Lola.
Jalanan masuk kota Bandung masih terlihat lenggang tak tampak kemacetan karena hari masih pagi. begitu mobil berhenti di depan gerbang masuk rumah sakit tiba-tiba Lola merasa jantungnya berdebar sangat kuat hak dan pikirannya seperti blank dan kacau.
"Kuatkan hati Lo dan jangan nangis, Lu harus yakin dia baik-baik aja dan akan selalu baik-baik aja," ucap Juwi menguatkan Lola sambil menggenggam tangannya.
Setelah Palupi bertanya pada penjaga ruang IGD, mendapat informasi bahwa Daren tengah menjalani operasi lalu mereka bertiga pun langsung bergegas menuju ruang operasi.
"Yank, lu harus kuat lo harus ada buat gue Lu nggak boleh nyerah." gumam Lola setengah berlari mendahului kedua sahabatnya yang ikut mempercepat langkahnya.
Begitu sampai di ujung lorong tepat di mana ruang operasi berada, tiba-tiba Lola menghentikan langkahnya begitu juga dua sahabatnya. Mereka menatap terkejut seseorang yang ada di depan mereka yang juga sama sedang menatap mereka dengan tatapan sinis.
"Nabila." ucap mereka hampir bersamaan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1