Off Bucin

Off Bucin
Drama Senior Yunior


__ADS_3

Acara ospek segera di mulai saat bunyi sirine nyaring menggema di halaman depan kampus sebagai tanda pembukaan ospek di kampus tempat Lola dan teman-temannya menimba ilmu di perguruan tinggi.


Belum sempat Daren menemukan pemilik suara tawa renyah itu para mahasiswa baru berpencar berbaris mencari fakultas masing-masing. tampak kecewa wajah Daren karena orang yang dicari tidak ketemu dan dia pun akhirnya menyingkir keluar dari lapangan dengan wajah lesu.


"Kamu cari siapa Ren?" tanya Nabila penasaran.


"Bukan siapa-siapa." jawab Daren malas.


"Cabut yuk La, gabut gue di sini. ikutan ospek nggak cuman jadi penonton. Males gue." keluh Daren ngeloyor pergi meninggalkan lapangan berjalan menuju tempat parkir.


Nabila pun buru-buru mengajar Daren. Sementara itu semua mahasiswa berbaris sesuai dengan fakultas yang mereka ambil. Lola satu fakultas dengan Angga sementara Juwi mengambil fakultas hukum, beda halnya dengan Ita dan Ari yang lebih memilih jurusan akuntansi.


Si centil Palupi mengambil jurusan pendidikan karena dari kecil Palupi ingin sekali bercita-cita menjadi seorang pengajar.


"Ri, Lup lup kok belum on ya?" tanya Ita heran belum melihat sosok sahabatnya yang cantik dan selalu tampil all-out.


"Mungkin alisnya miring kali jadi ngelukis ulang." saut Ari asal jawab.


"Atau jangan-jangan bibirnya belum disulam hahaha." timpal Ita ngakak mendengar jawaban sahabatnya.


"Bisa juga mungkin jarum sulamnya diumpetin sama neneknya buat bikin kaos kaki bayi calon cucu dari lup lup hehehe." kembali Ita menimpali candaan Ari sambil terkekeh.


Keduanya terlalu asik bercanda oleng hingga tak sadar ada seorang Kaka senior cewek berdiri di belakang mereka sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala terlihat kesal.


"Bagus ya kalian, baru jadi maba aja udah berani haha hihi di saat para senior sedang memberi pengarahan." ucap senior cewek sambil menepuk pundak Ari dan Ita.


Seketika Ari dan Ita berdiri tegak serius dengan wajah lurus menatap ke depan.


"Maaf Kaka senior." ucap Ita dan Ari serempak.


Beberapa mahasiswa baru yang melihat Ari dan Ita tertangkap basah oleh senior di sekitar mereka hanya melirik sambil menyembunyikan senyum.


"Cepat kalian berdua maju ke depan!" bentak senior cewek itu memberi perintah.


Ita dan Ari berjalan ke depan diikuti senior cewek di belakangnya, beberapa pasang mata menatap mereka sambil bertanya dalam hati hukuman apa yang akan mereka berdua dapat.

__ADS_1


"Kenapa mereka?" tanya ketua senior yang memimpin ospek saat ini.


"Mereka berdua ketahuan bercanda saat kakak ketua sedang memberikan pengarahan." adu cewek senior itu.


"Apa benar yang dikatakan oleh dia?" tanya ketua senior menatap tajam bergantian ke arah kita dan Ari.


Ari yang pembawaannya tenang terlihat santai menatap senior di depannya sementara Ita yang mudah panik wajahnya terlihat tegang, dua karakter yang bertolak belakang.


"Kenapa kalian diam! nggak bisu kan?" tanya senior ketua sinis.


"Atau kalian sengaja mengacuhkan kita Dan menganggap acara ini tidak ada gunanya buat kalian?" kata ketua senior cowok itu cuek straight to the point alias gak basa basi tapi tetap berkharisma.


"Oh my God suaranya bikin jantung gue merinding." batin Ita makin grogi.


"Maaf, kami mengaku salah karena bercanda tidak pada tempatnya tapi itu bukan berarti kami tidak menghargai acara ini atau para senior yang ada di sini." ucapan Ari benar-benar tenang dan penuh percaya diri meminta maaf..


"Keren sohib gue yang satu itu gak ada tandingannya kala soal gelud kata." gumam Lola memuji Ari menatap kagum.


"Kami? Apa kamu asisten dia untuk meminta maaf?" ucap ketua senior sambil mendongakkan wajahnya ke arah Ita.


"Saya bukan asistennya tapi saya sahabatnya." debat Ari tenang tak mau kalah dengan ketua senior itu.


Ucapan Ita seperti angin yang berhembus tidak didengar oleh ketua senior itu, pandangan ketua senior itu tetap fokus pada Ari bahkan mata senior itu hampir tak berkedip.


"Siapa nama mu? aku akan mencatat dalam buku hitam laporan ospek tentang seorang maba yang berani mendebat ketua seniornya, agar nanti saat skripsi Kamu tidak akan lulus, walaupun skripsi yang kamu buat sebaik apapun" ancam ketua senior itu pada Ari tanpa melepaskan tatapan tajam matanya.


Ita langsung terkejut, Matanya membulat sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.mendengar ancaman dari Kakak ketua senior nya.


"Ri, udah Ri Jan debat mulu Napa." bujuk Ita agar Ari diam.


Ari tak bergeming dengan ancaman ketua seniornya, tatapannya tetap lurus menantang cowok dengan postur tubuh tinggi tegap dan berwajah ganteng mirip aktor Aliando ganteng ganteng serigala.


"Apa?" tantang ketua senior itu.


"Kalau memang ada aturan seperti itu di kampus ini saya gak perlu buang buang waktu 4 tahun untuk ada di sini." ucap Ari sebelum ngeloyor pergi meninggalkan lapangan berjalan santai.

__ADS_1


"Anjjrr! Keren bingit sohib gue." puji Lola mengacungkan kedua jempolnya ke arah Ari.


"Arii!" seru Ita panik antara diam di tempat atau mengejar Ari.


Kejadian ini menyedot perhatian Maba dan beberapa mahasiswa yang sedang ada di halaman depan kampus. Lola makin penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Ari dengan keberaniannya menentang ketua senior mereka.


"Hust , cup! Ucup!" panggil Lola setengah berbisik sambil celingukan.


Angga yang berdiri sejajar dengan Lola terhalang dua peserta maba tak merespon panggilan itu karena dia tidak mendengar.


"Ck radar Ucup mampet kek nya, gue ping aja coba." batin Lola sambil merogoh saku celana hitam miliknya untuk mengambil hp.


Dengan sangat hati-hati sambil menoleh kanan kiri Lola mencari kontak Angga. dan begitu berhasil menemukan nomor kontak Angga lola langsung mengirim pesan ping.


Lola melihat Angga tak merespon dan tetap berdiri mematung dengan mata menatap ke arah Ari.


"Tolong dong toel temen gue." Lola meminta tolong pada sesama Maba di sebelahnya.


Dengan pesan estafet lewat toelan akhirnya Angga menengok juga ke arah Lola sambil mengangkat kedua alisnya.


"Ari!" ucap Lola dengan bahasa bibirnya.


Angga tidak menjawab tapi malah menoleh ke depan dengan cueknya.


"Ya Allah moga aja Ari gak di keluarin dari kampus." batin Lola khawatir.


Drama senior dan juniornya jadi tontonan menarik pagi ini buat peserta maba, tak sedikit Maba yang berdecak kagum dengan sikap Ari yang tenang dan berani menghadapi ketua seniornya.


"Gila tuh cewek bener-bener mental baja." batin Ketua senior.


"Rani ambil alih." perintah ketua senior.


"Okay Sad." jawab Rani.


Rasyad ketua senior itu bergegas jalan meninggalkan halaman depan kampus.

__ADS_1


to be continued...


.


__ADS_2