
Udara pagi sudah mulai bercampur dengan panas terik matahari dan polusi udara karena asap kendaraan dan pabrik di sekitar kota Tangerang. Begitu Lola, Juwi, Daren dan Palupi sampai di sekolah mereka, jam tangan Lola sudah menunjukkan pukul 08.05 itu artinya mapel jam pertama sedang berlangsung
Lola menitipkan motornya di tempat langganan setiap dia terlambat yang tak lain adalah halaman samping Warung Bu Ijah. Begitu juga dengan motor Palupi dan Daren.
"Bu Ijah, Lola bikinin Indomie rasa rendang seperti biasa ya telurnya jangan dikocok," pesan Lola pada Bu ijah sambil mendudukkan bokongnya nya di salah satu kursi di sudut Warung Bu Ijah.
"Bu Ijah duain, Juwi juga pesan sama kaya Lomut." pesan Juwi lalu duduk di samping Lola.
"Mut Juwi! Kenapa kalian berdua malah Pesen mie goreng, bukannya buruan masuk! Buruan kita masuk mumpung belum telat banget." tegur Palupi dengan wajah serius dan cemas.
"Mager gue, jam mapel pak Sus. yang ada ntar gue kena hukum mending sekalian nunggu entar mapel kedua." sahut Lola sambil membuka botol air mineral yang ada di depannya.
"Dah bestie, mending lu masuk duluan dah. Nggak usah peduliin kita tapi terima kasih ya atas sarannya hehehe." timpal Juwi.
"Ya udahlah kalau gitu, mending gue di sini aja. Ngapain gue terlambat sendiri." ucap Palupi ikut mendudukkan bokongnya di kursi depan Lola.
Lola terlihat celingukan sedang mencari sesuatu hingga membuat Juwi curiga padanya.
"Nyari siapa Mut?" tanya Juwi sambil ikut celingukan melihat keluar warung dari jendela.
"Gak ada." Jawab Lola berusaha tenang sambil meminum air mineralnya.
Palupi mulai asyik dengan hp-nya yang membutuhkan beberapa status dari teman-teman dan sahabatnya begitu melihat status Daren Palupi tersenyum penuh arti.
"Apaan Lup, ampe bikin lo senyum gitu?" tanya Juwi Penasaran melihat senyum Palupi.
"Kalau dia lagi senyum kayak gitu biasanya Lup lup lagi mengagumi casing sosok cowok." tebak Lola yang tahu benar sifat Palupi jika sedang menyukai cowok.
"Coba liat foto siapa Lup?" Juwi semakin kepo tangannya mencoba menggapai ponsel Palupi.
"Gak, cuma heran aja. Kok gue selama ini nggak nyadar sama nih cogan kalau di perhatiin wajah dia ternyata ganteng juga." jawab Palupi masih memandang ke arah layar ponsel sambil tersenyum.
"Siapa? Ucup?" tanya Lola ikut penasaran siapa foto yang sedang yang dikagumi oleh Palupi.
"Ucup sama nih cogan cuma beda tipe tapi sama-sama ganteng," jawab Palupi sambil mengangkat alis dan membuat lengkung ke bawah Dari 2 sudut bibirnya.
"Kalau Ucup itu ganteng tapi dia jutek cool, nah kalau yang ini kebalikannya." ucap Palupi memancing rasa penasaran kedua sahabatnya Lola dan Juwi.
"Siapa sih? Pinisirin banget gue?" Lola mulai kepo.
Lola dan Juwi beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Palupi lalu keduanya membungkuk melihat layar ponsel milik Palupi.
Begitu mata keduanya melihat foto di layar ponsel Palupi, Juwi langsung terpingkal sementara Lola hanya mengulum senyum.
Visual Daren dan Angga.
__ADS_1
"Hahaha, ganteng dari mananya tuh yang satunya, Gue bingung hahaha," ucap Juwi sambil memegangi perutnya.
"Btw...Tapi bener sih kalau dilihat dari Monas pakai sedotan tuh cowok yang lidahnya melet tuh bener-bener ganteng." cibir Juwi kembali.
"Yah lu mah parah Wi, mata lu tuh cuma si rapika doang yang ganteng. Gak obyektif lu." Palupi mengkritik sikap Juwi.
"La, lu liat kan doi ganteng juga. Gak kalah sama ucup?" tanya Palupi membuat Lola sedikit gugup.
"E...." Lola melirik Palupi dan Juwi dengan ujung matanya.
"Awas kalo lu bilang dia ganteng,, berarti lu gak cs an ma gue," ancam Juwi mendelik ke arah Lola.
"B aja." saut Lola singkat lalu berjalan kembali ke kursinya dan kembali duduk.
"Lup lup dapat foto imut Sueb dari mana ya? Kalau gue minta pasti jadi heboh." batin Lola mulai membuka ponsel dan mencari kontak Daren di wa-nya.
"Lomut! Mata lo sama Juwi tuh mata sentimen ke dia." cetus Palupi.
"Cih, dasar mata bucin, liat cowok ganteng cuma dia dia dia, ampe gak ada yang lain." ejek Palupi.
"Ckckckck, masih mending kita mata bucin daripada lu Mata Buaya betina kalau lihat cowok ganteng dikit, udah plirak plirik aja." balas Juwi tak mau kalah.
Tangan Lola hendak menekan nomor kontak Daren.
"Tapi kenapa si dudul belum kelihatan batang hidungnya. Ke mana dia belok?" tanya Lola dalam hati mulai gelisah.
Bu Ijah sudah meletakkan di atas meja pesanan mie goreng mereka, Juwi langsung menyantap pesanannya. Sementara Palupi masih asyik dengan ponselnya.
Lola diam memandang layar ponsel di tangannya, dia sama sekali belum menyentuh mie goreng pesanannya. Lola mengerutkan dahi seperti sedang memikirkan sesuatu, hal itu membuat kecurigaan pada Juwi yang duduk di sebelahnya.
"Why Mut?" tanya Juwi sambil menyenggol siku Lola.
Hal itu membuat Lola seketika gugup.
"Apa?" tanya Lola singkat terlihat bingung.
"Ada yang ganggu pikiran lo? Lo tuh kelihatan banget kalau lagi gelisah Mut." ucap Juwi menelisik sambil bertanya.
"Mana ada gue banyak pikiran yang ada juga banyak pahala hahaha." canda Lola menutupi kegugupannya.
Palupi mulai menutup ponselnya, dia sekarang serius memperhatikan Lola. pandangan matanya menelisik gerak-gerik Lola dan juga ekspresi wajahnya.
"Mut, kita bersahabat Sudah berapa tahun?" tanya Juwi dia mulai curiga Lola menyembunyikan sesuatu dari mereka.
__ADS_1
"Lebih dari 7 tahun sejak kita kelas 6 SD." Jawab Lola kembali mengingat masa-masa awal persahabatan mereka.
"Lu tahu artinya itu apa?" tanya Juwi kembali.
Lola diam menyimak Begitu juga dengan Palupi.
"Itu artinya, persahabatan lebih dari 7 tahun bukan lagi sebuah persahabatan tapi persaudaraan. Jadi apapun yang terjadi diantara kita, kita pasti tahu dan ikut merasakan walaupun dia menutupinya." kembali Juwi mengungkapkan perasaannya yang membuat hati Lola merasa tidak enak.
"Mau cerita sekarang apa-."
"Assalamu'alaikum Mak!" teriak Daren yang tiba-tiba datang dari luar membuat kalimat Juwi terpotong.
Palupi Juwi dan Lola serta Bu Ijah langsung tertuju pandangannya ke pintu warung melihat kedatangan Daren menenteng kantong kresek ikan yang dia beli dari Tanjung Pasir.
"Alhamdulillah." batin Lola lalu kembali duduk dan mulai menyantap mie goreng pesanannya.
"Oleh-oleh buat mak," ucap Daren sambil mengulurkan kantong kresek di tangannya kepada Bu Ijah.
"Lo beli dimana ini ikan duren?" tanya Bu Ijah saat dia membuka isi kantong kresek.
"Oleh-oleh mancing di di Pulau mak," jawab Daren sambil duduk di bangku sebelah Palupi berhadapan dengan Lola.
"Wah keren anak muda kek lu bisa mancing ikan segede gini di pulau." Puji Bu Ijah kagum.
"Preeetttt! Mana ada Sueb bisa mancing mak, jangankan ikan segede gitu kecebong aja dia nggak bisa nangkep hahahaha." ledek Juwi sinis sambil ngakak.
"Gak penting gue nggak bisa mancing Yang penting gue Udah bisa mancing hati ay-."
"Aaawww!" teriak Daren saat kaki kirinya ada yang menginjak.
Daren melongok ke bawah meja dan dilihatnya kaki Lola sedang menginjak kakinya.
Daren mengangkat kepalanya lalu menatap Lola sambil meringis, Daren lalu menutup Sisi kiri mulutnya dengan tangan kirinya.
"Sakit beb." ucap Daren dengan bahasa bibir.
Lola menggeser kaki yang menginjak kaki Darrel pandangannya menatap tajam ke manik mata Daren. Jari lola mulai sibuk dengan hp di tangannya.
Ting
Pesan masuk ke WA Daren, langsung membuka pesan di hp nya dengan semangat saat melihat si pengirim yang ternyata Lola.
Diam atau kita putus
satu kalimat pesan Lola yang membuat Daren langsung menutup rapat mulutnya.
__ADS_1
..."kata cinta yang paling jujur ialah kata-kata tak bersuara, kata-kata tanpa kata-kata."...
...bingung gak ðŸ¤...