
Angga melangkah mendekati Nabila dengan tatapan tajam , membuat Nabila mundur beberapa langkah hingga tubuhnya merapat di batang akasia. Bola mata Nabila mulai berputar tak jelas menatap arah lain, dia berusaha menghindari tatapan Angga yang tajam dan juga mengintimidasi.
"Gue nggak suka basa-basi." tandas Angga dengan kilatan sorot mata seperti mata pedang membuat tengkuk Nabila bergidik.
"Minggir! Gue bilang gue nggak akan melakukan hal konyol untuk memisahkan mereka!" seru Nabila sambil mendorong dada Angga hingga Angga mundur belakang beberapa langkah.
"Awas aja kalau sampai terjadi hal buruk pada Lola, lu bakal jadi orang yang gue cari pertama kali." ancam Angga dengan bibir mengerucut menatap sinis kearah Nabila.
Nabila tak menyahut dia langsung berbalik badan meninggalkan Angga seorang diri.
"Dia bukan partner yang sehaluan sama gue, gue harus cari cara sendiri untuk bisa memisahkan Lola sama doi. Dan gue nggak akan pakai cara licik dan kasar. mereka akan lihat Nabila jadi sosok yang membuat siapa pun akan merasa simpati dan mengikuti apapun kemauan gue." batin Nabila tersenyum smirk sambil berjalan santai menuju kelasnya.
Hampir 2 jam kelas Lola melakukan shooting video dan juga pemotretan untuk BTS di ruang perpustakaan, saat adzan dzuhur berkumandang mereka pun break untuk ishoma.
"CUMIIII! LOMUTTTT!" teriak Ita sambil melambaikan tangan saat Lola dan Juwi baru selangkah memasuki kantin sekolah.
"Tumben mereka ke mari." Juwi heran mengerutkan dahi melihat kedatangan dua sahabatnya ke sekolah mereka.
Lola sendiri tersenyum tipis melihat mereka berdua lalu tanpa di duga dengan cueknya Lola berteriak sambil merentangkan kedua tangannya ke depan.
"BESSS... TIIIEEEE!" teriakan Lola hampir membuat seisi kantin menoleh ke arahnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Mulai caper si bengek lobar." celetuk Riska dengan bibir mencibir.
"iya noraknya dari orok nggak ada habisnya." nyinyir Ara ikut mencibir.
"Gue heran sama dia, dulu bapaknya waktu maknya hamil ngidam kulit badak kali ya?" timpal Amel ikut mencibir.
"Hahaha betul omongan lu bestie." Ara mengacungkan jempol ke arah Amel.
Lola mempercepat langkahnya menghampiri sahabat-sahabatnya, saat langkah kakinya melewati meja Riska the Genk, Riska tiba-tiba menjulurkan kakinya hingga membuat Lola tersandung dan jatuh telungkup di lantai.
"Hahaha, kang caper apes bet dah." celetuk seorang siswa cowok sambil terbahak.
"Sokorrrr...mam***s!" seru yang lain.
"Mut, lu nggak papa kan?" Juwi jongkok sambil membantu Lola untuk bangun dari posisinya.
"Anjirrr! Kaos gue Wi." ucap Lola kaget saat melihat paus putih yang dia pakai terkena noda saus yang tumpah di lantai entah milik siapa.
__ADS_1
"Hahaha" tawa membahana semakin keras memenuhi ruang kantin dari siswa-siswi yang sedang makan siang.
"Lu bawa baju ganti gak?" tanya Juwi sambil mengerutkan dahi.
"Gak." jawab Lola singkat.
"Ck, ku ker emang tuh nek lampir sengaja dia sleding gue." dengus Lola mulai kesal dengan ulah Riska.
"Maksud Lo lam-?" Juwi tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena paham maksud Lola, matanya melirik ke arah Riska.
Lola berdiri tegak berbalik badan menghadap ke arah Riska dan kedua temannya yang sedang menikmati makan siang pesanan mereka. Lola lalu melangkah dan saat dia persis berdiri di sebelah kursi Riska dia membungkuk dengan wajah menghadap ke arah Riska.
"Lepas baju Lo atau gue yang bakal lucutin semua baju Lo disini!" ancam Lola dengan tatapan tajam ke arah Riska.
Riska cuek tak menggubris ancaman Lola membuat Lola makin emosi dan geram.
"Wi." panggil Lola sambil memberi kode dengan matanya untuk memegangi Riska.
Juwi mencengkeram kedua bahu Riska dengan kasar hingga Riska merintih.
"Aaaww! Sakit m**n**t lepasin gue!" pekik Riska sambil menepis kedua tangan Juwi di pundaknya.
"WOIII! LAPORIN MEREKA KE BP!" teriak Riska tapi ada satu orangpun yang peduli.
Seisi kantin hanya mematung memperhatikan drama keributan yang sedang terjadi di depan mereka.
"Lu ikut gue suka rela ke kamar mandi atau gue telanjangi di sini." suara Lola dingin mengancam Riska.
"Gue gak suka kekerasan, tapi gue juga nggak suka dibully." kembali Lola berkata sambil menatap Riska tajam.
"Gue kan gak sengaja!" Riska berkelit balas menatap Lola.
"Heh jamet! Lu punya dendam apa ma bestie gue?" tanya Juwi sambil menggertak.
"Gue? Punya dendam sama dia? Najis amat," jawab Riska mengangkat dagu ke arah Lola.
"Terus kenapa lu sleding dia?" cecar Juwi mulai emosi.
"Lu budek ya cumi? Tadi kan gue bilang gak sengaja." saut Riska merasa tak berdosa.
__ADS_1
"Dah Mut lama amat sih, seret aja dia ke toilet and copot aja baju dia mut biar dia pakai baju Lo." Ita mulai terbawa emosi melihat sikap Riska yang ngeyel dan menyebalkan.
Lola masih diam dan menatap Riska tajam. Nabila yang baru masuk ke kantin melihat kejadian itu langsung menghampiri mereka.
"Cuih! Kalian pikir gue takut? Gak!" dengus Riska sambil meludahi Lola.
Wajah Lola terkena cipratan ludah Riska hingga dia harus mengusapnya dengan jari jari tangannya.
"Haahhhh" terdengar suara kompak sebagian besar orang yang ada di kantin dengan mulut ternganga.
"Lepasin dia Wi, gue gak berselera untuk nglanyani songongnya. Tangan gue terlalu bersih buat nampar wajah songong kek dia." kata Lola datar dan dingin.
Lola berjalan menuju stand jajanan yang ada di salah satu kantin. Baru dua langkah kakinya berjalan, Lola menoleh ke belakang saat mendengar bunyi yang mengejutkan.
PLAKK
"Minta maaf gak Lo sama Lola." bentak Nabila setelah tiba-tiba dia menampar Riska.
Riska tidak terima dan dia langsung menyerang Nabila dengan cara menjambak dan mencakar wajah. pertarungan dua siswi remaja itu pun terjadi di kantin. Saling pukul saling jambak saling tendang hingga menjadi tontonan seru buat siswa-siswi lain yang saat itu sedang makan siang di kantin.
"Ayo Pukul Bila, jambak aja ampe , rontok tendang aja ampe Pluto." cuitan dan juga teriakan para siswa membuat suasana kantin tiba-tiba seperti pasar.
"BER HENTIIIII!" pria garang pak Lukito hingga membuat suasana tiba-tiba langsung sepi bak kuburan.
"Kamu berdua ikut saya ke kantor BP sekarang juga!" bentak pak Lukito sambil jari telunjuknya mengarah ke mereka dengan mata membulat penuh.
"Tapi pak bukan sa-"
"Saya nggak peduli siapa yang memulai. Pokoknya sekarang juga kamu berdua pergi ke kantor BP!" hardik pak Lukito membuat buat mereka berdua dengan terpaksa mengikuti perintahnya.
"Mam**s Lo kena batunya!" celetuk Juwi kegirangan.
Lola menatap punggung Nabila yang makin menjauh dari ruang kantin.
"Aneh." satu kata yang keluar dari mulut Lola tapi menjadi seratus pertanyaan di benak Juwi.
"Siapa Beb? Riska?" tanya Juwi menebak sambil ingin memastikan.
"Nobody." saut Lola kembali berjalan menuju stand jajanan.
__ADS_1