
Masih dalam keadaan mengantuk berat Lola berjalan terhuyung dengan mata sebentar terbuka sebentar terpejam menuruni tangga untuk menuju kamar mandi. Saat sampai anak tangga yang bersebelahan dengan dapur lola duduk di tangga sambil menyadarkan kepalanya di dinding pembatas tangga dan dapur dengan mata terpejam berkalung handuk di lehernya.
Saroh melirik putrinya di sela-sela kesibukannya mencuci piring.
"Makanya Neng udah tahu masuk pagi Jangan begadang mulu." pesan Saroh mengingatkan.
"Bukan mau begadang mah, tapi kan kaki Eneng pegel seharian berdiri terus di lapangan. Udah gitu kadang disuruh jalan ke sana ke sini cuman untuk minta tanda tangan senior. Belum ditambah lagi hujan deras kemarin bikin badan Eneng juga meriang, jadi kan nggak enak semalam gak bisa tidur nyenyak kebangun mulu." keluh Lola masih dalam keadaan ngantuk ayam.
"Namanya juga ospek Neng, ya memang begitu dari zaman bahela juga." saut Saroh.
"Udah cepetan mandi neng, mumpung yang lain belum pada bangun tar berebutan lagi mandinya. Hari ini Zaidan Pramuka masuk pagi, bentar lagi juga dia bakal bangun, tar kalian perang di kamar mandi." perintah Saroh agar Lola buru-buru mandi.
Dengan sisa tenaga yang belum terkumpul Lola berdiri merayapi tembok dan berjalan gontai ke kamar mandi.
"Jangan jadi Putri tidur di kamar mandi sayang!" seru Saroh tersenyum mengingatkan agar Lola tidak ketiduran di kloset duduk kamar mandi yang biasa dia lakukan.
"Hmmm." sahut Lola.
Setelah selesai mandi lalu berpakaian dan berdandan seperti biasa, Lola beberapa kali berkaca di depan cermin melihat penampilannya dan memastikan tidak ada yang kurang dengan penampilannya.
"Perfecto." monolog Lola memuji diri sendiri lalu dia menyambar tas dari karung goni yang terpaksa dia pakai selama 2 hari mengikuti ospek.
"Mamaaa! i'm coming!" sapa Lola dari anak tangga sambil menyebarkan aroma parfum setengah botol yang dia pakai hingga aromanya benar-benar menusuk indra penciuman siapapun yang ada lantai bawah.
"Neng, neng. Bisa gak sih kalau pakai parfum itu disemprot bukan dituang ke seluruh badan buat mandi, baunya bikin mamah mual aja." protes sang mama sambil menutup hidung dengan hijab yang dijadikan masker.
"Hehehe kalo pakai nya dikit gak Afdol mommy." seloroh Lola cengengesan.
"Dah buruan sarapan dulu, aaaa." perintah Saroh sambil menyuapkan sesendok nasi dan tumit cumi asin cabe ijo ke mulut Lola.
Setelah 4x suapan Lola menolak untuk suapan yang ke 5
"Udah mommy, ntar muntah." tolak Lola beranjak dari meja makan.
"Punya perut kebayakan mie sih. jadi kalau makan dikit kriting tuh perut." ucap Saroh sedikit kesal melihat anak perempuan satu- satunya yang susah makan kecuali makan mie.
"Bukan gitu mom, mom itu kalau nyuapin satu sendok penuh. Jangankan 4 kali suap, dua kali suap aja rasanya kayak udah makan sepiring mom." protes Lola cemberut.
__ADS_1
"Jan lupa sayang bekalnya nanti dimakan Jangan balik kembali utuh. Mubazir." pesan Saroh pada Lola menekankan karena bekal yang kemarin sama sekali tidak disentuh oleh Lola.
"Iya mom, insya Allah kalau nggak lupa. Dah mommy, muachhh." saut Lola sambil mencium pipi Saroh ala Lola membuat Saroh menatap tajam Lola dengan bibir mengerucut.
"Jangan di hapus ya mom itu tanda Sayang Lola. kalau dihapus itu artinya mommy nggak sayang sama Lola ," pesan Lola sambil berjalan mundur meninggalkan ruang makan menuju garasi.
"Bocah Ra urus." gumam Saroh menghapus bekas ciuman Lola di pipi kanannya.
Salah satu kebiasaan aneh Lola saat bertemu dengan Saroh adalah memberi ciuman dengan sedikit menempel kan ujung lidahnya. Awalnya Saroh merasa geli tapi karena itu dilakukan hampir setiap hari, Saroh hanya bisa tersenyum melihat ulah konyol putrinya.
***
Tepat jam 6 pagi motor Lola sudah memasuki area parkiran kampus, sudah banyak para maba yang datang alasan utamanya adalah mereka tidak mau terlambat dan mendapatkan hukuman dari para senior yang aneh-aneh.
PRITTT PRITTTTT...
Suara beberapa peluit tiba-tiba terdengar nyaring memekakkan telinga, tak lama kemudian 3 orang senior cowok datang ke area parkiran sambil berteriak.
"WOOIII! MABA BURUAN KUMPUL GC!!"
"AYOO LARI JANGAN LELET KAYA KURA-KURA WOI!" teriak Rasyad ketua senior berdiri paling depan Persis di pintu masuk ke halaman depan kampus.
Lola berlari sambil matanya mencari ke empat sahabatnya yang belum tampak batang hidungnya satupun.
"Kemana mereka? Kok gak ada yang on?" apa jangan-jangan mereka bolos ospek berjamaah tanpa ngasih tahu gue," pikiran Lola mulai salah sangka kepada keempat sahabatnya.
Lola setengah berlari sambil matanya melotot memperhatikan satu persatu yang ada di dekatnya, hingga pandangannya tidak fokus ke depan.
Dug.
"Aaauuuwww!" pekik Lola saat tubuhnya membentur sebuah deda bidang dengan tinggi sekitar 180an meter hingga jidatnya terasa sakit.
"Astaghfirullah, ini dada apa tembok sih, keras amat." celetuk Lola sambil mengusap jidatnya.
"Sakit?" tanya pemilik dada bidang yang tak lain seorang cowok.
Deg
__ADS_1
Jantung Lola langsung berdetak kencang saat mendengar suara khas yang familiar di telinganya lebih dari 3 tahun.
"Sueb." bisik Lola serak.
Perlahan Lola mengangkat wajahnya menengadah ke atas. Saat manik matanya memperhatikan wajah yang tepat berdiri di depan nya, kenyataan yang di lihat sesuai dengan apa yang ada dipikiran nya, Lola diam terpaku beberapa saat dengan lidah terasa kelu hingga tak ada kata yang mampu terucap.
"Kenapa lihatnya kayak gitu apa Lu lihat ada belek di mata gue?" tanya Daren sedikit bercanda.
Lola tetap diam mendengar candaan Daren, sementara kedua sudut matanya mulai berembun
"Kok lu ngeliat nya gitu, apa lo gue mengingatkan lo sama seseorang?" kembali Daren bertanya.
Lola buru-buru menundukkan kepalanya menghindari tatapan Daren dia takut bendungan di matanya akan jatuh mengalir di antara kedua pipinya.
"Nggak." suara lirih hampir tak terdengar.
Lola pura-pura mengusap pelipisnya lalu jari jemarinya turun di kedua sudut matanya menghapus embun sebelum menjadi air mata.
Daren memiringkan kepalanya untuk memastikan apakah gadis di depannya sedang menyembunyikan tangis darinya.
"Lo nangis ya?" tanya Daren menelisik wajah Lola yang tertunduk.
"Nggak." ucap Lola lirih dengan dada sesak.
Lola tidak ingin Daren tahu kalau saat ini dia sedang menahan sedih yang luar biasa karena pertemuan kedua nya dengan Daren yang masih belum mengingatnya.
"Padahal gue mau ngasih ini buat lo biar wajah cantik lo nggak cemong karena air mata." ucap Daren mengambil sapu tangan warna biru langit dari saku celananya dan diulurkan kepada Lola.
"Ya Allah, dudul masih nyimpen saputangan gue. Tapi kenapa dia gak nyimpan kenangan cinta kita." batin Lola makin meronta saat melihat sapu tangan yang pernah diberikan pada Daren.
Dada Lola makin sesak ingin rasanya saat ini Dia berbalik badan dan pergi menjauh, sejauh jauhnya dari Daren. tapi tidak tahu kenapa malah dia merasakan kakinya seakan menempel kuat pada tanah yang di injak nya.
to be continued....,
..."Mau dikodein kayak gimanapun ya percuma, sadarlah hatiku, hatinya sudah tidak untuk ku."...
...~Lola~...
__ADS_1