
Daren hendak mengetuk pintu Rektor saat sayup-sayup dia mendengar pembicaraan antara dua orang di dalam ruang Rektor. isak tangis lirik suara perempuan yang sangat dia hapal benar terdengar dari dalam ruang Rektor, membuat jiwa keponya mendorong dia untuk menguping pembicaraan dari dalam ruang Rektor.
"Maaf sayang kata dokter Fian kita belum menemukan pendonor yang cocok untuk kamu, pendonor yang kemarin sudah 99 cocok itu mengundurkan diri entah karena alasan apa." suara seorang laki-laki terdengar kecewa dan itu adalah suara om Gunawan.
Gunawan adalah adik kandung dari paparnya Nabila yaitu Bakrie, akibat kecelakaan setahun yang lalu Bakrie dan istrinya Ami meninggal seketika di tempat kejadian. Sejak saat itulah menjadikan Nabila seorang yatim piatu.
Nabila adalah seorang gadis dari kalangan keluarga yang kaya raya, dia bukan hanya cantik pintar dan juga tajir hal yang kurang beruntung dalam diri Nabilah adalah sejak tiga setahun yang lalu dia divonis menderita sirosis hati dan stadium akhir hingga Nabila harus terus bolak-balik ke rumah sakit.
Beberapa kali Gunawan sebagai om dan satu-satunya keluarga yang dia dipunyai berusaha untuk mendapatkan pendonor tapi ternyata semuanya sia-sia dan belum beruntung sampai saat ini.
Bakrie ayah kandung yang notabenenya kakak kandung Gunawan adalah pemilik dari kampus di mana Lola Angga dan Darren menempuh pendidikan di perguruan tinggi saat ini.
"Hiksss hiksss hiksss, kenapa nasib baik selalu menjauh dari Bila ya Om. Apa Bila anak yang membawa sial?" tanya Nabila miris.
"Hussttt! jangan bicara ngaco seperti itu sayang, tidak ada! anak yang lahir di dunia ini membawa sial. Yang ada itu membawa berkah dan kebahagiaan. Jangan lagi kamu bicara seperti itu." protes Gunawan.
"Tapi kenyataannya papa dan Mama meninggal gara-gara Nabila om, coba kalau waktu itu Nabila tidak merengek untuk pergi ke pameran lukis pasti kejadian itu tidak akan pernah terjadi dan mereka masih ada di samping Bila sekarang!" suara Nabila makin meninggi terdengar emosional.
"Bila sayang, itu semua sudah takdir, hidup mati itu bukan ketentuan kita tapi ketentuan Tuhan camkan itu!" nasehat Gunawan sambil mengusap lembut pundak Nabila.
"Om yakin ada orang yang nanti memiliki hati cocok dengan kamu, jadi bersabarlah dan terus berdoa." pesan Gunawan kembali.
Ceklek
Gunawan dan Nabila langsung menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Daren yang berdiri tepat di tengah pintu sambil menatap lurus Nabila. perlahan Daren melangkahkan kakinya dengan tatapan tak berubah hingga membuat Nabila merasa gugup.
"Apa penyakit lu parah?"tanya Daren tanpa di duga.
"Gue dengar semua percakapan barusan, kenapa lu nggak cerita ke gue kalau lu sedang sakit dan menderita penyakit yang sangat serius?" suara Daren terdengar kecewa membuat Nabila tertunduk.
"Maaf Ren, gue nggak mau orang tahu penyakit gue apalagi Lo. Gue nggak mau dikasihani." ucap Nabilla lalu pergi setengah berlari keluar dari ruang Kerja Gunawan..
Tatapan Daren beralih ke Gunawan, tatapan menuntut penjelasan tentang apa yang terjadi pada Nabila.
"Bila mengindap sirosis hati stadium akhir. dan satu-satunya cara untuk dia bisa bertahan hidup adalah mendapatkan donor hati. Om tahu cuman kamu orang satu-satunya yang bisa jadi penyemangat untuk Nabila karena dari dulu om tahu kalau Nabila sangat mencintai kamu. Jadi tolong jaga Nabila." ucap Gunawan menjelaskan.
Sesaat Daren memandang Gunawan tanpa menjawab permintaannya, lalu Daren berbalik badan dan keluar dari ruangan Gunawan mengejar Nabila.
__ADS_1
"Bila! Tunggu!" seru Daren berlari.
Begitu jarak antara dia dan Nabila dekat Daren lalu menggamit lengan Nabila dan menariknya hingga tubuh Nabila jatuh dalam pelukan dada bidangnya. Nabila membelalakkan matanya saat berada dalam dekapan Daren.
Pelukan kuat tangan kekar Darren membuat Nabila menemukan tempat bersandar untuk kesedihannya kali ini. Nabila hanyut dalam pelukan hangat Daren, hingga mereka tidak menyadari kalau mereka ada di lingkungan kampus di mana beberapa orang menatap heran ke arah mereka termasuk salah satunya adalah Angga.
"Awal babak baru." gumam Angga tersenyum tipis.
***
Setelah 2 hari Masa libur selesai orientasi, awal pekan Lola dan teman-temannya memulai aktivitas kampus. the night owl memang berjanji jika mereka kuliah mereka akan menempuh pendidikan di bangku kuliah di kampus yang sama walaupun mereka beda jurusan.
Dreettt Dreettt Dreettt
Lola yang sibuk merias wajahnya di depan cermin meja rias melirik ke arah HP saat ponselnya berdering. Lola langsung menyambar ponselnya saat mengetahui isi penelepon adalah Juwi.
"Assalamualaikum pagi Bunda." siapa Lola seperti biasa.
"waalaikumsalam" jawab Juwi di seberang telepon.
"Aciaappp! 10 menit lagi gue ada di depan rumah Lo ya Bun, gue nggak mau nunggu. Gue pengen datang awal ke kampus." ucap Lola sebelum menyudahi teleponnya tanpa salam.
"Ups! Lupa salam hehehe." gumam Lola menutup mulutnya sambil tertawa.
Begitu selesai prepare Lola langsung turun ke bawah, langkah kakinya membawa dia menuju meja makan di mana Saroh sedang mempersiapkan bekal untuknya.
"Mhhh, sedapnya." puji Lola sambil menghirup aroma bola-bola udang yang selalu jadi cemilan favorit Daren.
"Biarin mah, Eneng yang taruh di tempat bekal." pinta Lola sambil mengambil tempat bekal dari tangan Saroh.
Sarah melirik Lola dengan ujung matanya sambil tersenyum.
"Emang sueb udah ingat kamu sayang?" tanya Saroh penasaran menatap wajah putrinya.
"Belum mah, tapi Lola akan berusaha untuk bikin Sueb ingat sama semua kenangan masa lalunya." saut Lola yakin tanpa menoleh ke arah Saroh dan fokus menyusun bola-bola udang dengan sangat cantik di box makan.
"Oh ya Neng, kotak bekal punya dedek kamu bawa ya kasih sama Angga. Mama bikinin martabak mie kesukaan dia." pesan Saroh sambil menyerahkan kotak bekal berwarna hijau tosca kepada Lola.
__ADS_1
Lola menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Saroh yang dibalas dengan anggukan kepala dan senyum.
"Dih, masih aja jadi anak kesayangan." sela Lola jealous.
"Kamu sama Angga di mata mama itu sama-sama anak mama sendiri, jadi ya Mama perlakukan kalian seperti anak kandung sendiri. nggak beda-bedain." saut Saroh.
"Iya, tapi Ucup selalu dapat sesuatu lebih banyak dan lebih bagus dari Eneng." Lola merajuk.
"Mana ada Sayang, di mata Mama cuman kamu anak mama perempuan satu-satunya jangan ngadi-ngadi ya." balas Saroh sambil membeli hijab warna hitam yang Lola kenakan.
"Udah dapat teman belum di kampus?" tanya Sarah kepada putrinya.
"Kalau dilihat di grup sih yang satu jurusan yang nolak kenal cuma ada Ucup sama Sueb ma," jawab Lola sambil memasukkan bekalnya dalam paper bag kecil.
"Tieee ketemu lagi ma Ayyang hehehe." goda Saroh sambil terkekeh.
Lola membalas dengan cemberut.
"Kya ayang ayang lupa ingatan hhffff." sahurlah sambil meniup kan udara ke arah atas hingga ujung jilbabnya seperti ditiup angin.
"Anak mama ini hidupnya emang penuh drama ya, udah kayak drakor aja satu kelas sama dua orang yang spesial. Yang satu mantan pacar yang satu pacar lupa ingatan. Aduh kacian.... semangat ya sayangnya mama, muachhh." goda Saroh yang dibalas dengan mata melotot Lola ke arahnya.
"Mama ini udah mirip kayak mama tiri seneng banget kalau lihat anaknya menderita." rajuk Lola cemberut.
"Hah? Masa sih sebuah penderitaan sayang? Ketemu sama dua cowok yang sama-sama pernah dicintai, bukannya itu kemujuran?" goda Saroh kembali.
"Mamaa isshhh." seru Lola jengkel lalu dia menyambar paper bag yang ada di atas meja makan lalu berlalu pergi ke garasi di iringi Saroh di belakangnya.
"Cie yang mau bertemu dua mantan berangkatnya tumben buru-buru biasanya mepet waktu sayang ." goda Saroh kembali.
"Dih mama, Eneng buru-buru bukan mau ketemu mereka tapi mau jemput Juwi, motor Juwi lagi ngadat Mama tayang..." saut Lola kini dia sudah siap duduk di jok motornya.
"Babay Mama tayang!Jangan kangen ya Neng pulang malam hari ini. Assalamualaikum." teriak lola lalu hilang di balik pagar rumahnya.
..."Ada 3 hal di duinia ini yang tidak bisa kuhitung, jumlah bintang di langit, ikan di laut dan cintaku padamu."...
...~Lola~...
__ADS_1