Off Bucin

Off Bucin
Lola Shock


__ADS_3

Air mata Lola bercucuran dengan langkah kaki terseok-seok menuruni tebing sungai di ikuti Abidin, jalan setapak yang licin dan berbatu membuat kaki Lola beberapa kali tersangkut batu dan akar pepohonan hingga membuatnya hampir jatuh.


"Sueb! Hiks hiks hiks!" isak tangis di sela lengking teriakannya begitu manik mata Lola menatap tubuh Daren tengkurap dengan bersimbah darah di kepalanya.


Cairan merah kental yang merembes dari kepala Daren di atas bebatuan mengalir perlahan ke bawah jatuh ke sungai membuat air sungai yang bening seketika berubah warna menjadi merah darah.


Langkah kaki Lola seketika terasa berat mendekat ke tempat di mana tubuh Daren yang tergeletak tak berdaya, tangis Lola tersekat di tenggorokan tak bersuara perasaan shock bener-bener menghantam jiwa dan juga pikirannya hingga membuatnya tak mampu bergerak melakukan apapun kecuali diam dengan kedua tangan dan kaki gemetar.


"Hiks...hiks." Isak tangis Lola terputus putus dengan mata nanar sambil menggigit bibir bawahnya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun Daren!" teriakan Abidin menyadarkan Lola seketika.


"Babe! Tolongin Sueb! Hiks hiks hiks hiks," Lola menarik lengan Abidin berjalan cepat menghampiri tubuh Daren yang tergeletak bersimbah darah di atas batu besar.


Lola terisak sambil menggigit kuku jarinya karena shock yss melihat kepala dan wajah Daren yang sudah dipenuhi darah. Lola tanpak kebingungan mencari sesuatu untuk menutupi luka di kepala Daren agar darah tidak terus mengucur deras dari luka di kepala Daren.


Abidin memeriksa nadi dan nafas Daren terlihat dengan wajah paniknya.


"Alhamdulillah lu masih hidup Ren." ucap syukur Abidin mengangkat tubuh Daren dan memanggul tubuh itu di salah satu pundaknya.


Lola melepaskan hijab putih yang menutupi kepala dan mengganti penutup kepala Hoodie sebagai hijabnya.


Tangan tua Abidin yang masih kekar memegang akar pohon di jalan setapak menanjak berbatu yang licin dengan bobot tubuh Daren yang berat di pundaknya.


Lola berjalan di belakang Abidin sambil menutup luka kepala Daren yang terus mengucurkan darah dengan hijabnya, tangis dan air mata terus mengalir dan terdengar dari bibir Lola.


"ya Allah selamatkan Sueb ya Allah." rintih Lola di sela isak tangisnya.


Dengan susah payah Abidin berhasil memanggul tubuh Daren sampai ke villa guru. Beberapa siswa yang berpapasan dengan mereka dan melihat keadaan Daren berteriak kaget sekaligus panik.


"Astaghfirullah itu Daren kenapa?" pekik seorang siswa kaget sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


"Ya Allah banyak banget darahnya?" timpal siswa yang lain terlihat ngeri.


"PAK LUKITO! BU ANGEL TOLONGGG!" teriak Abidin begitu sampai di depan villa guru.


Beberapa guru langsung keluar dan begitu melihat Abidin yang manggung tubuh Daren mereka semua shock.


"kenapa ini kenapa? Ada apa ini?Apa yang terjadi dengan Daren?" tanya pak Lukito panik.


"Di jatuh di tebing sungai pak, tubuhnya membentur batu yang sangat besar hingga kepalanya terluka parah. Cepat bawa Duren ke rumah sakit pak, semoga nyawanya masih bisa diselamatkan." jawab Abidin suara bergetar.


"Cepat masukkan dalam mobil saya!" perintah pak Lukito lalu beliau kembali masuk ke dalam villa untuk mengambil kunci mobilnya.


"Pak Andi, Bu Angel dan guru-guru yang lain tolong awasi anak-anak dan handle semua acara kita sebaik mungkin. Tenangkan anak-anak agar mereka tidak cemas dan kuatir dengan keadaan Daren." perintah Pak Lukito dengan suara cemas karena panik.


"Pak Sus tolong ikut saya ke rumah sakit hubungi orang tuanya sekarang juga." perintah pak Lukito.


"Pak Luk. Lola mohon Lola ikut." iba Lola menatap sendu Pak Lukito.


"Masuklah ke mobil," Lukito berkata sambil berjalan menuju pintu sopir.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan bantuan Gmap Pak Lukito berusaha secepat mungkin mengendarai mobilnya di jalan berkelok-kelok dengan tebing dan jurang di sisi kanan kirinya.


"Hiks hiks hiks..." tangis Lola tak berhenti begitu juga dengan air matanya.


Lola memangku kepala Daren sambil tangan kanannya menutup luka kepala darah dengan hijab putihnya yakin sudah berubah menjadi berwarna merah darah. sementara Daren masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


"ya Allah ya Robbi selamatkan Sueb, jangan sampai terjadi yang buruk terhadapnya. Eb lo harus kuat, gue nggak akan maafin diri gue kalau sampai terjadi apa-apa sama Lo. Lo denger gue kan? Kalau Lu sayang sama gue kalau lu cinta sama gue Lu harus selamat lo harus bangun dan Lu harus baik-baik aja. Hiks hiks hiks." ratap Lola dengan linangan air mata yang tak berhenti mengalir jatuh ke bawah dan menetes di wajah Daren yang bersimbah darah.


Setelah perjalanan setengah jam mereka sampai di sebuah rumah sakit swasta di daerah Lembang. rumah sakit yang tidak terlalu besar.


begitu mobil Pak Lukito memasuki halaman rumah sakit dan berhenti di depan pintu IGD seorang petugas penjaga langsung menyambutnya dengan mendorong sebuah bangkar.

__ADS_1


"La, tenangkan diri mu. Percayalah Daren akan baik-baik saja." ucap pak Lukito lembut sambil mengusap pundak Lola menenangkan.


Siapapun yang melihat Lola saat ini pasti akan merasa trenyuh. Bukan hanya wajah Lola yang kelihatan panik tapi juga pucat dengan air mata terus berlinang dan bibir bergetar serta bola mata berputar tak tentu arah.


"Hiksssss... hiksssss." Isak tangis Lola tersekat hingga yang mendengarnya merasakan betapa sesak dada pemilik suara itu.


Sreeettt.


Pintu ruang UGD terbuka, dokter yang berpakaian warna hijau keluar dengan stetoskop tergantung di lehernya. Lola bergegas menghampiri begitu juga dengan Lukito dan Susilo.


"Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit pusat di Bandung karena luka di kepalanya yang sangat parah bahkan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan segera." ucap dokter jaga ruang IGD.


"Lakukan semua yang terbaik agar nyawa anak itu bisa terselamatkan." ucap pak Lukito yakin.


"Apa pihak keluarganya sudah diberitahu? Karena ini akan membutuhkan persetujuan sah dan tertulis dari orang tua pasien." tanya dokter muda itu sekaligus memberitahu.


"Iya dok, pihak keluarganya sudah kami beritahu." jawab pak Lukito.


"Baiklah kalau begitu kami akan mempersiapkan pemindahan pasien ke rumah sakit pusat di Bandung. Permisi." dokter jaga itu memberitahu lalu kembali masuk ke ruang IGD.


"Pak Sus, tolong bawa Lola kembali ke villa saya yang akan menemani Daren sampai orang tuanya tiba di Bandung." titah pak Lukito membuat mata lelah membuat seperti ingin menolaknya.


"La, kamu harus kembali ke villa. Lihat dirimu, pakaian kamu penuh darah dan juga jiwa kamu pasti terguncang dengan apa yang menimpa Daren. Jadi tenangkanlah diri kamu di villa, di sana ada teman-teman kamu, sahabat kamu dan juga guru-guru yang akan menemanimu. Percaya sama bapak, apapun keadaan Daren nanti bapak akan memberitahu kepadamu." Lukito sepertinya paham perasaan


Lola, tak seperti biasanya kali ini dia berbicara dengan lemah lembut kepada Lola.


Lola tertunduk di lantai, tulang-tulangnya terasa remuk, tubuhnya benar-benar tak bertenaga, pandangannya berputar-putar semua terasa samar di ruang tunggu IGD bahkan suara pak Lukito sudah tidak lagi masuk di telinganya.


"Hiksss...hiksss... hiksssss..." tangis pilu dan air mata seakan tak cukup untuk duka yang mengguncang Lola hari ini.


"Aku tahu besarnya cintaku dan doaku dengan ijin Allah akan menyembuhkanmu. Cepat sembuh, sayang."

__ADS_1


~Lola~


__ADS_2