Off Bucin

Off Bucin
Tawa di antara Tangis


__ADS_3

Dada Lola terasa sesak hingga dia tak mampu menahan air mata yang begitu saja meluncur di pipi putihnya, Lola membungkuk lalu mengambil kotak bekal berisi bola-bola udang yang ditinggalkan Daren begitu saja.


"Sayang sekali di laletin." ucap Lola terdengar kecewa.


Lala berjalan menuju tempat sampah yang tak jauh dari tempat di mana dari yang tadi duduk, Lola menata kotak makan yang berisi bola-bola udang dan berniat untuk membuang bola-bola udang itu ke dalam tempat sampah sambil menelan ludah yang bercampur dengan rasa asin air matanya.


"Lo nggak boleh nyerah La, ini baru permulaan masih ada hari esok, esok dan esoknya lagi buat lo bisa deket dan dapetin hati Sueb lagi. Fighting La fighting." batin Lola menyemangati dirinya.


Saat tangan Lola hendak mengayun membuang bola-bola udang ke dalam tong sampah tiba-tiba lengan Lola dicekal oleh tangan kekar seorang pria, dan begitu Lola menoleh ternyata pemilik tangan itu adalah Angga yang melotot ke arahnya dengan bibir mengerucut.


"Lo tau kan Artinya mubazir?" tanya Angga kesal bercampur iba.


Bagaimana Angga tidak kesal melihat Apa yang dilakukan Daren kepada Lola dan bagaimana dia tidak iba melihat rasa sakit yang harus di telan Lola.


Tangan kiri Angga lalu mengambil kota bekal dari tangan Lola, sementara Lola hanya bisa diam sambil menatap Angga dengan mata menggenang.


Angga mengambil bola bola udang yang tadi di hinggapi lalat hendak menyantapnya, hal ini membuat Lola terkejut dan langsung berjalan cepat ke arah nya.


"Jangan dimakan Cup! Jorok udah di laletin juga!" pekik Lola memegang lengan Angga.


Angga melirik ke arah tangan Lola yang memegang lengannya, ada senyum tipis bahagia yang tersungging di bibirnya.


"Sayang." ucap Angga menatap bola-bola udang di tangannya lalu dia berdiri melangkah menuju tempat sampah dan membuangnya.


"Lo ingat nggak Ndol, dulu kita suka rebutan kalau makan kacang Sukro?" tanya Angga mengenang masa kecil mereka.


Wajah Lola yang tadinya murung seketika berubah menjadi bersemi kembali.


"Iya, dulu lu suka jahil kalau kita lagi makan Sukro. Kita udah dikasih jatah mama satu bungkus Sukro masing-masing, tapi lu masih suka ngerebut punya gue udah gitu sukronnya nggak lu makan tapi lo lemparin ke Gue. Emang lu pikir gue Anggi apa?" dengus Lola cemberut ke arah Angga.


"Heleh, nggak nyadar lu. Dulu lu waktu kecil suka garuk-garuk kepala di depan orang-orang bahkan di depan kelas." cibir Angga sambil mengunyah bola-bola udang.


"UCUUPPPP DODOLLLL!!" bentak Lola melotot ke arah Angga sambil mengepalkan kedua tangannya ingin meninju Angga.


"Haissstt! Cendol cendol, casing lo tuh udah kayak Jessica Mila tapi kelakuan Lo kaya Rachel heart aja." protes Angga membuat Lola tak bisa menahan tawa.

__ADS_1


"Hahaha, Lo tuh ya Cup paling pinter kalau nilai orang. Apa yang barusan Lo bilang itu perpaduan yang serasi casing-nya Jessica Mila kelakuannya kayak Yuki katrok kan cucok Cup hahahaha." setelah sekian Minggu Lola tidak bisa melepas tawa kali ini di depan Angga pecah hingga beban di hatinya berkurang.


"Bye Cup." pamit Lola hendak meninggalkan Angga.


"Woiiiii Ndol!" teriak Angga memanggil Lola.


"Naon?" Lola menghentikan langkahnya menoleh ke arah Angga.


"Kampus kita di sebelah sana ego!" seru Angga sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan arah yang diambil Lola.


"Iya gue tahu gue mau ke toilet sakit perut gue!" saut Lola kembali meneruskan langkahnya.


"Kirain dah mati suri ngakak Lo Ndol." gumam Angga tersenyum menatap punggung Lola yang makin jauh.


***


Lola bersandar di dinding toilet kampus, dia merasa tubuhnya sangat lemas karena tiba-tiba dia terserang diare pagi ini.


"Astagfirullah perasaan gue nggak makan salah tapi kenapa gue kena diare?" keluh Lola sambil memegangi perutnya.


Kruukkkk


"Astagfirullah!" keluh Lola lalu kembali buru-buru masuk ke toilet.


Setelah 4 kali bolak-balik keluar toilet saya baru merasakan perutnya agak sedikit nyaman, tapi tenaganya seperti terkuras dia berjalan kontan menuju ruang kelasnya.


Begitu sampai di ujung tangga lantai 2 Lola melihat Angga dan dua orang mahasiswa satu jurusan dengannya sedang duduk mengobrol padahal jam kelas sudah dimulai 10 menit yang lalu.


"Kok, kalian bertiga pada nggak masuk? Emang dosennya belum datang ya Cup?" tanya Lola serius menatap ketiga cowok di depannya bergantian.


"Entah lah, Lo tengok aja sendiri Ndol kayaknya sih belum," saut Angga santai menjawab sambil sibuk menatap layar HP nya.


"Masa sih?" tanya Lola membuat dia penasaran lalu berjalan melangkah ke arah pintu ruang kelas.


Perlahan Lola membuka pintu kelas dan dengan hati-hati dia menyembulkan sebagian kepalanya ke ruang kelas yang sudah dipenuhi oleh mahasiswa. Beberapa pasang mata menatap ke arah Lola, salah satunya adalah Daren dan Nabila yang duduk di barisan kursi nomor 3 dari depan.

__ADS_1


Deg


Jantung Lola langsung berdebar kencang saat bertatapan dengan Daren dan dia pun kembali menarik kepalanya keluar dari ruang kelas.


"Kalau mau masuk masuk saja! Jangan mengintip!" bentak suara perempuan dari dalam kelas.


Deg


Jantung Lola kembali berdetak kencang bukan karena tatapan Daren, tapi karena suara bentakan keras dari dalam ruang kelas sudah pasti itu adalah dosen kelas hari ini.


"Anjirrr! Kenapa Lo gak bilang kalau dosennya udah datang! Dasar tukang bohong Lo Cup !" dengus Lola kesal menatap ketiga cowok terutama Angga yang malah santai berdiri bersandar di dekat tangga sambil cengengesan.


Lola melangkah mendekati Angga, lalu dia mendorong pundak Angga untuk maju lebih dulu memasuki ruang kelas.


"Tanggung jawab Lo!" bentak Lola dengan suara tertahan mendorong Angga ke dalam.


"Pagi Bu, Maaf kami telat." ucap Angga menyapa sambil sedikit membungkuk memberi hormat, begitu juga dengan yang lain.


Bu Dosen yang berdiri di depan mereka berempat adalah perempuan paruh baya berambut cepak dan berkacamata dengan rahang yang kuat serta memiliki tatapan tajam bersuara sopran.


"Ibu bukan dosen yang rajin mengabsen kalian satu persatu seperti guru kalian waktu di SMA dan karena ini hari pertama ibu maafkan kalian terlambat tapi jika kelas berikutnya kalian terlambat lebih baik kalian tidak mengikuti pelajaran ibu. sekarang silakan kalian duduk." tegas Bu dosen menatap tajam mereka berempat satu per satu.


Lola melirik sekilas ke arah tempat duduk Daren dan Nabila saat hendak berjalan ke belakang melewati mereka.


"Sini aja." ajak Angga tiba-tiba dia menarik baju bagian lengan Lola.


Lola tak menolak, dia melangkah mengikuti Angga duduk di bangku paling belakang. Selama jam kuliah kelas akutansi berlangsung Lola benar - benar tak bisa konsentrasi ataupun memahami penjelasan dosen.


"Cup ini mata kuliah apaan sih kok gue kagak paham?" tanya Lola dengan wajah bingung 😕.


"Ya pasti lah Lo kagak paham. Ini kan pelajaran akuntansi ego." jawab Angga menahan tawa.


"Oh iya kah? pantes xixkxi." saut Lola cekikikan.


Suara tawa itu sayup-sayup membuat Daren menoleh ke belakang mencari sumber suara tawa itu.

__ADS_1


..."Dadaku sesak oleh rindu yang terus menggerutu karena tak kunjung bertemu"...


...~Daren~...


__ADS_2