
"Belum puas juga lu berdua bikin gue kek gini?" ketus Lola dari atas sungai berdiri tegak sambil berkacak pinggang di atas batu yang cukup besar menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Yanggg!" teriak Daren bergegas keluar dari sungai berjalan cepat mendaki tebing sungai menghampiri Lola.
Sorot mata Angga tampak kesal sekaligus lega melihat kedatangan Lola.
"Lu selalu kuat dan baik-baik saja." batin Angga.
Angga berjalan menepi keluar dari sungai tanpa ember di tangannya lalu langkah kakinya berjalan menyusuri pinggir sungai makin menjauh tanpa menoleh ke arah Lola atau berkata sepatah katapun.
"Yank, wajah lu? Maaf gu...e." suara Daren terdengar berat karena rasa salah atas apa yang menimpa Lola.
Ujung mata Lola masih melirik kepergian Angga sekilas sebelum kemudian dia menatap Daren yang sudah berdiri di depannya.
"Yang, please maafin gue, gue emosi liat fo-"
"Jangan di terusin Eb. Lu tau apa akar yang kuat sebuah hubungan Dul?" tanya Lola dengan tatapan sendu ke arah Daren.
Mendapat tatapan seperti itu membuat hati Daren berdebar sekaligus ciut.
"Wadidaw, ini mah marah beneran." batin Daren semakin merasa tidak enak.
"Kenapa diam? lu nggak mau jawab atau lu nggak tahu jawabannya?" suara Lola pelan tapi dalam hingga membuat jantung Daren makin tak karuan.
Peluh mulai keluar di pori-pori telapak tangan Daren, rasa dingin seketika Daren rasakan saat telapak tangan kirinya mengusap lengan tangan kanannya. Begitu juga dengan dahi yang ditumbuhi anak rambut halus mulai terlihat butiran kristal peluh dingin akibat terlalu gugup dan juga grogi.
"Gue akuin beb, gue yang salah karena gue nggak percaya sama lu dan masih meragukan perasaan lo ke gue. Sorry gue cemburu." ucap Daren makin lirih karena penyesalan akan egonya.
"Gue bodoh yank, please maafin gue. Lu tau kan Yank, selama ini gue gak ingin pernah buat lu menangis, karena setitik air mata lu adalah sejuta penyesalan gue." kata-kata penyesalan tak berhenti keluar dari bibir Daren.
"Tapi kenyataannya sekarang gue nggak cuma bikin lu nangis, tapi wajah cantik yang gue kagumi selama ini gue lukain dan ini benar-benar nggak bisa untuk dimaafin yank," ucap Daren tertunduk lesu dengan bibir manyun.
Ekspresi penyesalan dan wajah sedih Daren tidak membuat Lola merasa iba, tapi malah sebaliknya. Ekspresi itu memancing tawa Lola.
__ADS_1
"Hahahaha hahaha, comuk lu lucu banget sumpah Eb kalau lagi sad. Persis kek curut kecemplung got. Apalagi bibir lu, gemes gue pengen nguncir hahaha." ucap Lola sambil terpingkal dan memegangi perutnya.
Daren menengadahkan wajahnya menatap lurus mendelik ke arah Lola.
"Kenapa?" tanya Lola seketika menghentikan tawanya begitu melihat wajah Daren serius sedingin es balok.
"Lo tau jantung gue mau copot, dada gue terasa sesat bahkan saat ini gue bener-bener sudah nggak bisa pernah kasih tapi lo malah ketawa ngakak. Lo pikir ini lucu? Lo mau marah, marah aja. Bahkan gue juga siap kalau emang lu mau mukul gue. Tapi dalam keadaan serius kayak gini please, jangan ketawa ngakak kayak gitu!" ucap Daren terdekat kesal.
"Oooo...." datar Lola menyahut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bueled." Daren membalas kecut.
"Bomat." saut Lola memasang wajah cuteknya.
"Tomat manis Yank." saut Daren menjilat bibir atasnya sambil memasang wajah imut menggoda Lola.
"Dihh, gaje." saut Lola melirik tajam ke arah daren lalu berjalan meninggalkan Daren yang masih tersenyum menatap Lola dari belakang.
"Hati-hati Yank, tanahnya basah dan li-" belum sempat Daren menyelesaikan kalimatnya kaki Lola sudah tergelincir di jalan setapak tepi atas sungai.
BUKK
"YANGGG!" teriak Daren bergerak cepat telapak tangannya meraih lengan Lola.
Wajah Lola pucat pasi apalagi saat manik matanya menatap bebatuan besar persis berjejer tak beraturan di bawahnya.
"Pegang Yank!" seru Daren yang tak kalah panik melihat Lola yang bergelayut pada akar pohon dan tangannya.
"TOLONGGG!" teriak Daren dengan wajah sangat tegang dan berpeluh di keningnya.
Urat-urat di lengan Daren jelas menonjol keluar saat tangannya menahan bobot tubuh Lola yang lumayan berat karena bergelantungan.
"Jangan lepasin tangan lu Eb hiks, gue takut." isak tangis mulai terdengar diantara kalimat yang meluncur dari bibir Lola.
__ADS_1
Panik, takut luar biasa itulah yang rasakan saat ini oleh keduanya di mana nyawa Lola bisa menjadi taruhannya jika dia jatuh ke bawah dan membentur bebatuan bertumpuk yang berjejer di tepi sungai tepat di bawah mereka.
Derasnya suara aliran sungai dan suara desir angin di antara pepohonan ditambah suara beberapa binatang dari hutan lindung membuat suara dalam meminta tolong tak ada gunanya apalagi jarak antara sungai dengan villa yang lumayan jauh.
"Ummhhhh." suara erangan Daren saat mencoba menarik dan mengangkat tubuh Lola ke atas tebing sungai.
"Mama huuuuu hiks, Lola takut ma huuuuu hiks." Lola terus menangis sambil terisak wajahnya sangat pucat putih bias dengan linangan air mata di pipinya.
"Ayo sayang, lu kuat beb. Gue nggak akan pernah tapi hari ini terjadi hal buruk apapun sama lu yank. ayo sayang berusaha. Ummmhhh." ucap Daren sambil terus berusaha menarik tubuh Lola sedikit demi sedikit.
"Sedikit Yank, bertahanlah." Daren menatap Lola memberi harapan.
Pangandaran menggapai salah satu akar pohon beringin berukuran sedang terjuntai tak jauh di sampingnya sebagai menahan agar tubuhnya tidak jatuh ke bawah.
"Hhhfffff," Daren menarik nafas panjang karena rasa lelah yang menderanya.
"Ayo Yank, sedikit lagi kita pasti bisa." Daren kembali mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengangkat Lola.
Kaki mencoba menggapai bibir tebing sungai agar tubuhnya tidak terlalu berat ditahan oleh Daren. Saat kaki itu sudah menapak di atas bibir tebing sungai, Daren berusaha sekuat tenaga dengan sekali sentakan mengangkat tubuh Lola ke atas hingga tubuh itu separuhnya sudah ada di atas tebing sungai.
Daren menarik tubuh Lola dengan sekali sentakan dan hentakan kuat hingga Lola benar-benar sudah kembali ke atas tebing sungai dalam posisi membungkuk berpegang pada Hoodie yang Daren pakai.
"Happ, berhas-!" suara kesenangan Daren tiba-tiba terhenti saat akar pohon beringin tempat tangannya berpegangan untuk menahan beban mereka berdua patah.
Pegangan tangan Lola pada Hoodie Daren pun terlepas dan dengan mata membulat shock Lola melihat tubuh dari yang jatuh ke bawah dan terhempas keras di atas batu sungai yang sangat besar.
"Aaaa!"
BUKK!
"SUEBBB!" teriak Lola sekuat tenaga dengan wajah kaget dan ketakutan luar biasa.
"DARENNNN!" suara Pak Abidin melengking tiba-tiba datang berjalan tergopoh-gopoh dari arah villa.
__ADS_1
"Hidup tidak selamanya flat atau datar, akan ada tebing yang terjal akan menghadang. Musibah bisa datang menghampiri kita tanpa kita tahu tergantung dari sebagaimana kita menghadapinya."
~🌹🌹~