Off Bucin

Off Bucin
Siapa Dia


__ADS_3

2 Minggu setelah kecelakaan.


Di balik jeruji jendela rumah sakit Daren berdiri memandang keluar, di sana tampak sebuah taman dengan kolam yang Indah. Angsa dan itik berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.


Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang Indah. Sebuah pohon tua yang besar menghiasi taman itu, dan jauh di atas sana terlihat kaki langit kota Tangerang yang mempesona. Benar-benar pagi yang indah menjelang Dhuha.


"Hffff...." Daren menghembuskan nafasnya ke atas hingga beberapa helai poni yang menutupi dahi nya melayang-layang ke atas seperti ditiup angin.


Dalam balutan celana jeans warna hitam dan kaos putih polos berkerah membuat Daren terlihat maskulin dengan aura ketampanannya yang terlihat makin jelas.


Ceklek


Bunyi pintu dibuka membuat Daren memutar kepala ke belakang, sudut matanya langsung menangkap sosok cantik Nabila dengan senyum manis ke arahnya.


Sejenak Nabila diam terpaku menatap wajah tampan yang semakin hari bertambah dewasa dan semakin membuatnya terpesona hingga dia tergagap saat Daren menyapanya


"Hai Bil, tumben pagi-pagi udah datang" sapa Daren sambil memutar tubuhnya berjalan pelan menuju kursi yang ada di dekat bankar nya.


"Emm .... emang gak boleh ya?" tanya Nabila sambil mencebik.


"Gak ada larangan, lu boleh kapan aja datang, terlalu lama di sini rasa bosan makin bikin gue cepet pengen pulang untung aja ada cewek cantik yang selalu setia menemani gue" jawab Daren sambil mengedip pelan dan melempar senyum tipis memandang ke arah Nabila.


Blushing


Rona merah seketika tampak di wajah cantik tepat di kedua pipi putih pualam Nabila seperti semburat warna tomat, dengan kepala sedikit miring ke bawah Nabila tersenyum malu.


"Bil, blush on yang Lo pake merek kang sayur ya?" tanya Daren serius sambil menelisik wajah Nabila.


"Hah? Blush on apaan? Gue gak pakai blush-on kok." Nabila menjawab sambil tangan kanannya pergantian memegang kedua pipinya.


"Berarti pipi lo kayak tomat gara-gara gue ya." goda Daren membuat Nabila semakin salting.


Nabila memalingkan wajahnya menghindari tatapan Daren sambil menyembunyikan senyum, semenit kemudian Nabila berhasil menguasai dirinya dan kemudian bisa bersikap tenang.


"Oh, syukurlah kalau kehadiranku sedikit ada gunanya untuk mengurangi rasa bosan mu." ucap Nabilla sambil melempar senyum berjalan menghampiri Daren dan duduk di tepi bankar Daren.


Daren hanya membalas dengan senyum. secara fisik kesehatan Daren sudah banyak kemajuan hingga dokter menyatakan kesehatan secara fisiknya sudah tidak mengkhawatirkan.


."Gue pengen keluar, lu mau nemenin?" ajak Daren sambil beranjak dari kursinya ngeloyor pergi keluar meninggalkan Nabila yang buru-buru menyusulnya.

__ADS_1


"Ren tunggu!": panggil Nabila membuat Daren menghentikan langkahnya dan membalikkan badan ke belakang.


"Duduk sini." Nabila menyuruh sambil menunjuk pada kursi roda yang ada di pegang nya.


"Gue bukan pesakitan yang gak bisa jalan Bil." tolak Daren sambil tersenyum ke arah Nabila.


Nabila hanya tersenyum dan kemudian berjalan mengikuti Daren. Berjalan berdua dengan Nabila menyusuri koridor rumah sakit menarik perhatian beberapa perawat dan juga petugas medis yang mulai melakukan aktivitas pekerjaannya.


Daren memasang wajah cool maskulin nya penuh percaya diri berjalan berdampingan bersama Nabila, tak sampai 5 menit mereka sudah tiba di taman rumah sakit samping kamar VIP tempat Daren di rawat.


"Kita duduk di situ yuk." ajak Nabila menggamit lengan Daren menuntunnya menuju sebuah bangku taman yang tepat berada di bawah pohon tua besar.


Daren dan Nabila mendudukkan bokongnya di bangku lalu bersandar menikmati keindahan taman dan suasananya sambil menghirup udara pagi di mana angin bertiup semilir menerpa wajah mereka.


"Jadi pulang hari ini? Tadi kulihat Om Bastian sama mama kamu masuk ruangan dokter." Nabila menoleh ke arah Daren ingin memastikan.


"Emang sudah gak sakit lagi kepalamu Ren?" sambung nya, terselip kekhawatiran yang meluncur dari bibir Nabila.


Daren menjawab dengan gelengan kepala, tapi hal itu cukup membuat Nabila tenang dan tidak khawatir. Pasca operasi Daren masih sering mengalami sakit kepala selain itu dia juga mengalami amnesia tidak permanen akibat kerusakan pada


bagian sistem limbik yang ada di otaknya.


Lain halnya dengan Nabila, dia merasa sangat bersyukur. Dalam kondisi seperti ini dia ada di dekat Daren sehingga dia seperti sedang melukis di kertas putih kosong memori Daren. Perhatian, rasa sayang, waktu dan tenaga Nabila berikan semuanya untuk ada terus bersama Daren. Sehingga Daren merasa hanya Nabila lah orang yang selalu ada di dalam pikirannya.


"Nang," panggil Bastian suara berwibawa yang membuat hati Daren berdebar.


"Papa." lirih terdengar Daren menyebut nama sang papa.


"Om Bas?" Nabila ikut berbalik ke belakang dan berdiri menghadap Bastian dan Karlina.


"Dokter sudah mengijinkan mu untuk rawat jalan, jadi kita bisa pulang sekarang." ajak Bastian merangkul pundak Daren.


"YESS!" sorak Daren girang.


"Entah ini kemalangan atau keberuntungan, tapi kecelakaan yang menimpa mu membuat papa kembali memiliki mu." batin Bastian menatap bahagia putra satu-satunya yang selama ini begitu jauh hubungannya dengan dirinya tapi menjadi begitu dekat sejak kecelakaan.


"Adikmu pasti senang dan sudah tak sabar ingin bertemu dengan mu." ucap Bastian terdengar senang.


"Adik?" tanya Daren bingung sambil menatap wajah Bastian.

__ADS_1


"Iya Nang, adik perempuanmu namanya Lilian. Dia sangat ingin bertemu denganmu, selama ini kami sengaja tidak memperbolehkan dia menjenguk mu karena kami ingin agar ingatanmu perlahan demi perlahan kembali." ucap Bastian menjelaskan.


"Ohh, begitu ya pa." saut Daren menerima penjelasan Bastian.


"Pa, aku ingin sekali berjalan-jalan ke tempat di mana sebelum terjadi kecelakaan itu, mungkin akan membantuku mengingat sedikit kepingan masa laluku. Boleh kan?" pinta Daren kepada Bastian dan Karlina bergantian.


"Baiklah kalau begitu, nanti kita akan membawamu ke tempat di mana kamu dulu sebelum kecelakaan biasa singgah." janji Bastian.


"Pa, Aku bukan anak kecil lagi masa sih ditemenin sama papa dan Mama Kalau boleh aku ingin jalan-jalan berdua sama Nabil. Bukankah dari kecil kami selalu bersama? Pasti dia tahu banyak tentang aku dan masa lalu ku." tolak Daren pada Bastian dengan alasan yang tak bisa di bantah.


Semburat senyum bahagia langsung terpancar dari wajah cantik Nabila mendengar perkataan Daren.


"Biar Bila yang temanin Daren jalan-jalan om, Bila akan jaga dia sebaik mungkin." janji Nabila Bastian dan Karlina mengangguk.


"Jagain? Emang lu kira gue bayi ya Nab. Yang ada juga gue yang bakal jagain Lo." ucap Daren memandang Nabila dengan lirikan ujung matanya membuat Nabila grogi hingga memerah kedua pipinya.


Setelah berpamitan mereka berdua akhirnya pergi mengendarai mobil Nabila untuk berkeliling kota Tangerang Di mana tidak ada satupun kenangan tentang kota itu yang ada di pikiran Daren. Saat mobil yang Nabila kendarai melewati situs pondok entah kenapa tiba-tiba ada orang makan itu dan berhenti di situ.


"Kita ngopi di situ yuk, tempat nya asik dan asri." ajak Daren yang di balas dengan anggukan kepala.


Begitu mobil berhenti di parkir dari langsung keluar dan berjalan menyusuri tepi danau dengan senyum tipis di bibirnya, bahkan dia tidak Nabila yang berlari kecil memanggil dan mengikutinya.


"REENNN....!" panggil Nabila berlari kecil mengejar Daren.


Tiupan angin siang yang membuat daun-daun dan ranting berayunan dari pohon-pohon tepi danau menimbulkan irama yang begitu indah di telinga Daren dan membuat hati begitu tenang.


Daren memejamkan matanya saat dia berdiri di jalan setapak yang membelah danau menuju sebuah daratan rimbun dengan pepohonan rindang membentuk sebuah pulau kecil.


Sejuknya angin siang yang sejuk bercampur udara panas, di tambah lagi dengan bunyi ombak yang pecah di antara bebatuan tembok di pinggir Danau benar-benar membuat siapapun merasa berada pada ketenangan hati yang dalam.


"Bokap mau kirim gue ke Kanada begitu lulus La."


"Hmmm,"


Daren tersentak kaget saat tiba-tiba ada potongan gambar masa lalu di tempat yang sama dia berdiri saat ini dengan seorang cewek muncul tiba-tiba di kepalanya tapi wajah cewek itu tidak terlihat jelas karena mereka saling memandang arah danau.


"La? Apa dia Nabila? Dan kenapa jantung gue berdebar mendengar suaranya walaupun cuma hmm." gumam Daren berpikir keras siapa cewek dalam ingatan nya yang tiba-tiba muncul setelah dia tak bisa mengingat satupun wajah seseorang bahkan wajah Nabila sekalipun


..."Hal tersulit adalah melupakan seseorang yang memberikanmu begitu banyak kenangan, Karena kenangan itu akan tiba-tiba muncul tanpa kamu tahu kapan dan bagaimana kenangan itu kembali muncul. Karena itulah rasa terdalam mu"...

__ADS_1


...~Aini~...


__ADS_2