
Tak terlihat sama sekali ketegangan di wajah Daren mana kala dia tertangkap basah sedang berbicara telepon dengan Lola. Sikap cool Daren membuat Nabila bertambah kesal dia merasa sedang dipermainkan oleh Daren.
bertolak belakang sekali dengan Lola yang terlihat khawatir dan juga penuh ketegangan di wajahnya.
"OMG, bisa gaswat kalo kek gini." gumam Lola beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat mengejar Daren dan Nabila.
"Kenapa diam? Jawab pertanyaan Gue! Apa yang Lo sembunyiin dari Gue? Gue dengar semua pembicaraan barusan dan siapa yang Lo panggil Ayang? Apa itu pacar Lo!"hardik Nabila tak mampu mengendalikan emosinya hingga suaranya yang sedikit meninggi menjadi perhatian beberapa mahasiswa yang masih ada di koridor.
Daren menggamit lengan kanan tangan Nabila dan berjalan menjauh dari keramaian.
"LEPASIN!" teriak Nabila tanpa di hiraukan Daren yang terus menarik tangan Nabila untuk berjalan mengikutinya.
Langkah Daren berhenti manakala tepat berada di salah satu sudut taman kampus yang ada di samping gedung kelas mereka di mana suasana di situ sepi.
"LEPA-!" teriak Nabila terpotong manakala tangannya dihempaskan oleh Daren.
Nabila melotot terkejut ke arah Daren melihat sikap Daren yang terkesan kasar kepadanya, berbeda sekali tidak seperti biasanya. Cowok yang biasanya lembut perhatian dan terkesan selalu memanjakan dia mengikuti apa yang dia mau kini bersikap dingin dengan sorot mata datar sama seperti Daren yang dulu dia kenal waktu di SMA.
"LO?" tanya Nabila dengan wajah terkejut.
"Sorry, Lo pasti kaget dengan perubahan sikap Gue. Seperti yang Lo minta, Gue akan ceritakan tentang semua yang tadi lu dengar ditelepon." ucap Daren tenang tanpa ekspresi.
"Apa! Apaa??" Nabila mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.
Wajahnya tampak tegang dan panik dengan bibir bergetar sepertinya perasaannya tahu apa yang akan Daren katakan adalah sesuatu yang akan membuatnya sedih dan kecewa.
"Memori Gue sudah balik." Empat kata yang meluncur dari bibir Daren membuat pucat wajah Nabila seketika hingga dia terhuyung ke belakang.
"Bila!" seru Lola sambil berlari dan langsung menangkap tubuh Nabila dari belakang yang hampir terjatuh.
"By!" seru Lola dengan mata mendelik ke arah Daren.
Tampak sekali rasa kecewa bercampur kesal Lola dengan apa yang Daren lakukan pada Nabila.
"Gue capek Yang, kalau terus menyembunyikan kondisi Gue dan jaga hubungan kita. Sorry Beb, itu bukan Gue banget. Lebih baik dia tahu dari sekarang daripada kita tunda, toh akhirnya nanti dia juga tahu." dengan tegas Daren mengungkapkan yang menjadi keinginannya terdengar tanpa hati untuk Nabila.
"Tapi nggak kayak gini caranya. Kamu keterlaluan banget sih, nggak lihat tempat nggak lihat sikon nggak lihat waktu. Apa ha-"
"STOP CUKUPPP!" teriak Nabila di sela-sela isap tangisnya yang tertahan.
"Bill, Lo jangan dengerin apa Kata dia. kesehatanmu Lo lebih penting, jadi abaikan kata-kata yang barusan keluar dari mulut Daren. Please itu semua nggak benar Bil." ucap Lola masih tetap saja menutupi untuk menenangkan Nabila.
__ADS_1
"LEPASIN! KALIAN BERDUA BRENGSEK TAUU!!" maki Nabila menepis kasar lengan Lola lalu melotot tajam ke arah Daren dan Lola sambil menunjuk keduanya bergantian.
"LO...Aahh....Lo-" ucap Nabila dengan tangan mulai bergetar dan tak mampu meneruskan kata hingga dia jatuh tersungkur di tanah.
"Bila!" teriak Lola langsung menangkap tubuh Nabilah yang sudah lemas karena tak sadarkan diri.
Daren yang tadinya bersikap tenang dan cuek ikut dibuat panik melihat Nabila pingsan.
"Cepat bawa ke mobil, kita bawa ke rumah sakit." seru Lola sambil mengangkat tubuh Nabilah bagian atas.
"Biar gue aja yang gendong dia Yank." pinta Daren membuat Lola melepaskan tangannya.
Daren membopong tubuh Nabila berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan jalan setapak menuju taman lalu terus ke tempat parkir diikuti Lola di belakang yang terlihat panik.
Hampir setiap pasang mata yang melihat mereka di sepanjang jalan yang mereka lalui menatap heran bercampur penasaran apa yang terjadi dengan Nabila.
"Kenapa putri kampus?" satu kalimat tanya yang hampir mirip keluar dari beberapa mulut mahasiswa maka mahasiswa yang melihat mereka bertiga.
"Gue lihat tadi kayaknya Nabila lagi marah sama mereka berdua, bahkan dia sampai menunjuk-nunjuk segala dengan mata melotot terus teriak-teriak gitu. Tapi Gue nggak tahu persis dia ngomong apa, kan gue di seberang." ucap Laras yang kebetulan satu kelas dengan mereka.
Daren mempercepat langkahnya membopong tubuh Nabila hingga tak lama kemudian mereka bertiga sudah sampai di lapangan parkir yang ada di depan kampus.
Deg.
Jantung Nabila seperti berhenti mendadak dalam pura-pura pingsannya saat dia mendengar Daren memanggil Lola dengan Yank.
"Dia sudah ingat semuanya, Gue nggak mau kehilangan Lo Ren. Kenapa waktu begitu singkat memihak pada Gue, Kenapa nasib terlalu kejam sama Gue." ratap Nabila dalam hati sambil berusaha menahan agar air matanya tidak keluar.
"Pelan-pelan By." kata Lola pada darah saat Daren merebahkan tubuh Nabila di belakang.
Lola hendak duduk di samping Nabila di jok belakang tapi tangan Daren menahannya lalu tangan satunya menutup pintu belakang mobil.
"Duduk di depan aja Yank." pinta Daren sambil membuka pintu depan mobil dekat bangku sopir.
Lola sedikit ragu dia menengok kembali ke arah jok belakang mobil di mana tubuh Nabila yang sedang pura-pura pingsan terbaring.
Ceklek
"Ayo masuk Yank." pinta Daren begitu dia membukakan pintu mobil.
Lola dengan berat hati akhirnya mengikuti keinginan untuk duduk di bangku depan dekat Daren. Lola hendak meraih sabuk pengaman untuk memakainya tapi tangan Daren lebih dulu mengambil sabuk pengaman itu dan dengan hati-hati memakaikan nya untuk Lola.
__ADS_1
"By,"
"Selama perjalanan gue nyetir, jadi sabuk ini yang akan jaga Ayang buat Gue." ucap Daren menatap Lola di mana wajah mereka hanya beberapa puluh senti berhadapan.
Blushing
Debar kuat tak mampu Lola tepis dari hatinya hingga dia buru-buru menundukkan pandangannya menghindari tatapan Daren yang menusuk sanubarinya hingga dia merasa kikuk.
"Buruan, kasian Nabila." ucap Lola pelan tertunduk dalam.
Ucapan Lola membuat Daren tersadar dan beru-buru mengeluarkan tubuhnya dari mobil lalu menutup pintu mobil dan berjalan memutari mobil siap menyetir.
"Terlalu, bener-bener nggak punya hati bahkan di saat Gue dalam keadaan pingsan dan butuh pertolongan mereka masih saja bermesraan di depan Gue." batin Nabila marah dan berusaha menahan emosi.
"Moga Bila gak kenapa-kenapa ya By." ucap Lola terdengar cemas suaranya sambil menoleh ke arah bangku belakang.
"Gue yakin dia akan baik-baik saja Yank, dia cewek yang cukup kuat." ucap Daren menenangkan Lola agar tidak terlalu khawatir dengan kondisi Nabila.
"Kamu juga sih. Kenapa juga jadi pacar cemburuan, jadinya kan timbul korban." gerutu Lola kesal dengan wajah cemberut ke Daren.
"Kalau Abang nggak cemburu itu namanya nggak normal, masa iya biarin pacar Mabar bareng sama cowok lain. Apalagi itu mantan" saut Daren tak mau kalah.
"Kan dah Gue bilang By kita berenam sayang bukan cuma Gue ma Ucup, Dudul." ketus Lola kesal sambil melengos ke samping dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir monyong.
"Prettt! Mau berenam atau se RT se kampung se kabupaten atau mau se-indonesia sekalipun kalau ada dia Abang nggak bakal izinin," tolak Daren dengan nada mulai kesal tak mau kalah.
"Dih gak jelas, itu namanya Lo nggak percaya sama Gue." protes Lola gak mau kalah.
"Lo Lo Lo Lo, Abang Yank. Jangan panggil Lo Napa." protes Daren bertambah kesal hingga tak sadar memukul klakson.
"TINNNN!!
"Astaghfirullah! Hubby!" bentak Lola sambil melotot ke arah Daren.
"Terus aja kalian gelud, ini bisa jadi sesuatu yang baik buat Gue. Semoga aja kalian putus di mobil ini. Ayo La teruskan marah Lo dan keluar dari mobil ini." batin Nabila bersorak mendengar pertengkaran mereka.
..."Ayang aku rindu kamu serindu rindunya...
...Ayang aku sayang kamu sesayang sayang nya. Abaikan dunia karena hanya cinta kita yang terpenting."...
...~Lola ♥️ Daren~...
__ADS_1