Off Bucin

Off Bucin
Pangeran Sueb


__ADS_3

Aula sekolah sudah di penuhi oleh para siswa yang ingin menonton pertunjukan drama siswa kelas 12 karena hari ini semua anak kelas 12 Yang punya tugas kelompok drama akan mementaskan di aula sekolah dipandu oleh Pak Alvin sebagai guru SBK.


Hari ini adalah jadwal kelas anak IPS 4 kelas Daren dan Palupi, mereka akan membawakan drama berjudul Salim dan anarkali, Daren yang berperan sebagai Salim sudah mengenakan baju bangsawan India karena Salim adalah salah seorang Putra dari raja Akbar dari kerajaan lahore Pakistan.


"Wow mantul bener bos, pas beut peran ini buat Bosque," Puji Juki saat melihat penampilan Daren sangat tampan, keren dan juga gagah dengan pakaian kebangsawanannya.


"Gerah tau." keluh Daren sambil membuka dua kancing atas kemejanya


"Bos kek pengantin pria mau ijab kabul, manjiw." puji Juki mengacungkan jempol tangan kanan ke arah Daren.


Udara kota Tangerang yang sangat panas yang ini, apalagi berada di luar ruangan membuat Mata terasa pedih Daren pun mengeluarkan kacamata hitamnya untuk melindungi matanya dari silau sinar matahari.


visual Daren



Pesona kegantengan Daren benar-benar terlihat, Daren yang biasanya tampil cuek tanpa peduli dengan penampilan sekarang bener-bener memanjakan mata kaum hawa yang ada di SMU Kumbang.


"Anjay, ganteng beut tuh preman kumbang pengen berburu gue dapetin dia," puji Rina salah seorang siswi yang sedang menonton pertunjukan drama.


"Bestie, kalau lu bisa dapetin doi. Gue ikhlasin jajan gue full sebulan buat lo," tantang Najwa sahabatnya memberi taruhan.


"Serius lo?" tanya Rina menatap ke arah Nazwa.


"Serius." jawab Najwa meyakinkan.


Tak berapa lama Nabila yang sudah mengenakan pakaian adat muncul di aula. Parasnya yang cantik membuat para siswa cowok yang bergerombol langsung bersorak bersiul dan bahkan bertepuk tangan.


Daren sempat melirik sekilas Nabila dari balik kacamatanya, ada senyum tipis tersenyum di salah satu sudut bibirnya.


"Bos, couple nya bos cantik beut dah" puji Juki Matanya tak lepas memandang Nabila.


Daren tak menjawab.


"No bad." batin Daren.


***


Di kelas 12 MIPA 2.


Lola sedang menghafalkan dialognya dibantu oleh Bian yang berperan sebagai bagai Samsul Bahri.


"Udaaaa!" teriak Lola yang berperan sebagai Siti Nurbaya.


"Sitiiii." saut Bian alias Samsul Bahri


Lola berlari kecil menghampiri Bian mereka saling berhadapan dan saling menatap dengan wajah penuh kerinduan.

__ADS_1


"Uda Siti rindu sekali." ucap Lola begitu menghayati perannya sebagai Siti Nurbaya.


"Apalagi aku Siti, aku lebih merindukanmu dari apapun juga." Bian memegang lengan Lola.


Lola dan Bian duduk di lantai tatapan matanya memandang ke atas seakan sedang menatap awan


“Lihatlah awan itu uda, indahnyo mereka. Aku bersyukur karena bisa menatap langit secerah ini bersamamu” kata Lola sambil menatap Bian dan tersenyum manis.


"Uhuk uhuk. Lobar menghayati banget tuh perannya, Siap-siap Bi lo di lamar Lobar pake kembang setaman maharnya." teriak Robi yang selalu sensi sama Lola dari belakang.


Gerrr.


Seluruh murid yang ada di dalam terpingkal mendengar gurauan Robi kecuali Angga yang memasang wajah full dingin dan juteknya. Lola meraih penghapus plastik yang ada di papan tulis.


Tuigggg pletak.


Penghapus dengan mulus mendarat tepat di jidat Robi


"Aaaaww!" teriak Robi yang kaget dengan serangan Lola tiba-tiba.


"Kondiin tu bacot, kalau gak mau ada kursi melayang ke mulut jontor lu." seru Lola datar sambil menatap tajam ke arah Robi.


"Anjirr lo, gitu aja marah gue kan cuma canda." sungut Robi kesal sambil mengusap jidatnya.


"Udah La, mau lanjut gak nih latian nya?" tanya Bian.


"Lomuttt! Tunggu!" teriak Juwi berlari menyusul Lola.


"Men, lain kali Jaga mulut lu. Bercanda boleh aja tapi harus lihat sikon." kata Bian pada Robi dengan wajah kesal.


"Anjirr, napa semua pada marah ma gue? Bro gue kan gak salah ya?" tanya Robi pada Angga.


Angga tak menjawab atau merespon perkataan Robi, dia asik membaca buku Genetika, belajar genetika dengan mudah dan komprehensif.


"Woii, gue orang epribadeh bukan angin! Napa gak ada yang care ma gue!" teriak Robi yang merasa diacuhkan satu kelas.


"Masih mending kalau angin, tapi lo tuh kentut." Angga berkata lalu beranjak dari duduknya dan pergi keluar meninggalkan kelas.


"Sialan, gue dikata kentut," dengus Robi sambil menyentak hidungnya dengan jempol kanan nya.


***


Lola hendak berjalan ke arah kantin, tapi saat melewati aula Juwi melihat pertunjukan drama sudah akan dimulai.


"Nonton dulu yuk Beb, kelompok Sueb yang lagi main." ajak Juwi menarik tangan Lola yang terlihat malas.


Begitu keduanya ada di depan Aula mata Lola mencari-cari sosok yang sudah lebih dua hari tak dia temui. Di balik dinding belakang aula Daren bisa melihat dengan jelas Lola yang tengah berdiri celingukan di depan panggung.

__ADS_1


"Lo tau zezenk, gue kangen beut ma lu Bar," gumam Daren berdiri mematung mengintip dari balik tembok.


Nabila yang berdiri di belakang Daren dan mendengar ucapan Daren walaupun tidak terlalu jelas hanya bisa menelan ludah.


"Gue mungkin nggak bisa dapetin hati lo, tapi di panggung nanti akan gue tunjukan ke elu kalau gue bener-bener sangat mencintai lu Ren." batin Nabila.


"Giliran kita dah mau mulai," ucap Nabila tiba-tiba mengagetkan Daren.


Daren menoleh ke belakang tatapan matanya langsung menangkap wajah Ayu Nabila yang memasang senyum manis untuknya.


"Ohh." satu kata yang keluar dari mulut Daren lalu berjalan mendahului Nabila mendekat ke arah panggung.


Begitu manik mata Juwi melihat kedatangan Daren berjalan ke arah panggung lengannya menyenggol lengan Lola.


"Mut, pangeran lu tuh," kata Juwi dengan mata membulat hampir tidak percaya dengan penampilan Daren yang keren dan cool habis.


"Sueb? Mana?" tanya Lola matanya celingukan.


"Itu yang ganteng banget pake baju pangeran berkacamata." Juwi menunjuk ke arah Daren.


Lola mengikuti arah tangan Juwi dan begitu manik matanya menangkap Daren, mata itu langsung membulat tak percaya dengan mulut terbuka. Lola berjalan menghampiri Daren lalu menepuk pundak cowok itu dari belakang.


"Anjayyy! Ada tukang urut ngedrama hahahaha." seru Lola terpingkal melihat wajah kaget Daren.


"Sialan lu, udah ganteng gini di bilang kang urut," sungut Daren kesal tapi dalam hati tertawa.


"Ck ck ck, sumpah Eb liat lo kayak gini gue jadi naksir berat," decak Lola sambil geleng-geleng kepala.


Daren menahan diri untuk tidak berbunga hati karena dia hafal betul sikap Lola.


"Jangan terlalu tinggi lu puji gue, gue nggak mau jatuh gak da parasit gue." saut Daren dengan wajah datar tak seperti biasanya.


"Parasut dudul!" kritik Lola.


"Sama bae." balas Daren kali ini nggak mau kalah.


"Tapi beneran gue naksir habis sama kacamata lo. Gila ini kacamata mahal cok. Boleh pinjam gak buat selfie bentar?" tanya Lola menaik turunkan alisnya.


Daren menarik napas panjang lalu melepaskan kacamatanya dan memakaikan ke wajah Lola.


"Ambil tuh, lain kali kalau lu gak cepat balas chat gue jangan harap gue kasih apapun yang lu minta." dengus Daren tersenyum simpul berjalan meninggalkan Lola menuju panggung di mana Nabila dan tim kelompoknya sudah bersiap.


"Makasih pangeran Sueb, semangat cok!" teriak Lola sambil mengangkat kepalan dua tangannya ke udara mengarah ke arah Daren.


Hampir semua mata yang menatap ke arah Lola tidak ada yang Lola pedulikan, sikap cuek dan masa bodoh nya membuat Lola benar-benar bebas menjadi diri sendiri.


..."Aku suka kamu tapi kalau untuk jadi pacar kamu nanti dulu, aku butuh waktu untuk sembuh dari luka hatiku"...

__ADS_1


...~Lola Anggraini~...


__ADS_2