Off Bucin

Off Bucin
Acuhkan


__ADS_3

Lola menatap bingung sekaligus panik ke arah Nabila yang terduduk bersimpuh di lantai dengan jarum dan selang infus yang tertusuk di tangannya yang hampir tertarik. Lola bergegas menghampiri Nabila lalu membungkuk untuk mengangkat tubuh lemah tak berdaya Nabila agar kembali berbaring di atas ranjang.


"Please, jangan seperti ini. Ini akan melukai lengan Lo Bil." Ucap Lola sambil mengangkat tubuh Nabila.


Nabila bukannya berusaha ingin berdiri tapi kedua tangannya malah memeluk erat kedua kaki Lola membuat Lola semakin bingung tertunduk menatap Nabila.


"Jangan kayak gini Bil, please! Lu kenapa?" satu kalimat tanya yang Nabila tunggu terbuka dengan sangat mudah meluncur dari bibir Lola.


"Janji La, lo bakal mau nolong gue untuk yang terakhir sebelum kematian datang menjemput ku yang waktunya nggak akan lama lagi." pinta Nabila memohon sambil menengadahkan wajahnya ke atas menatap Lola dengan linangan air mata.


"Baik lah Bil, Gue akan nolong Lu semampu Gue, tapi please bangun. Gue nggak suka Lu kayak gini."pinta Lola yang dibalas dengan anggukkan kepala Nabila.


Dengan dibantu Lola Nabila beranjak dari duduk simpuh lalu dia duduk dengan lemah sambil tertunduk lesu dengan linangan air mata yang tak berhenti berderai.


"Apa yang bisa Gue bantu buat Lo, katakan." Ucap Lola dengan pandangan lurus ke bola mata Nabila.


Sorot mata tulus yang terpancar dari tatapan Lola sempat membuat Nabila ragu untuk mengungkapkan niat egonya meminta Lola untuk memberikan cinta Daren kepada nya.


"Aaggrr, kenapa sorot mata itu begitu tulus," batin Nabila kesal.


"Gue nggak bakal terpengaruh apapun saat ini. Gue cuman ingin disisa hidup Gue merasakan kebahagiaan seperti yang Lo dapatkan saat ini. Tenang aja La, Gue cuma pinjam sebentar kebahagiaan Lu selepas itu Lo akan dapatin semua kembali kebahagiaan Lu bersama Daren," kata-kata yang tersimpan dalam hati Nabila membuatnya kembali kuat untuk mengungkapkan niatnya merebut Daren dari sisi Lola.


"Hiks... Hiks.... hiksss......"Nabila tidak langsung menjawab, Dia malah tersedu menangis sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Please deh Bil, jangan nangis kayak gitu. Lu mau minta tolong apa? Gue janji Gue akan lakuin selama Gue bisa." Janji Lola begitu pasti.


Nabila menarik kedua tangan dari wajahnya lalu dia mengangkat wajah sembab itu menatap Lola dengan sorot mata penuh permohonan.

__ADS_1


"Izinkan Daren untuk ada di samping gue sampai sisa umur Gue yang hanya tinggal menunggu bulan atau mungkin hari." Pinta Nabila dengan berlinang air mata menatap bola mata Lola.


Kata permintaan yang keluar dari bibir Nabila membuat mata Lola membulat kaget tak percaya.


"Gue emang bodoh! Bagaimana mungkin Gue sampaikan permintaan konyol kayak gini ke Lo hahaha." Ucap Nabila tertawa di antara tangisnya.


"Kenapa Lu minta seperti itu ke Gue?" Tanya Lola menatap tajam ke arah Nabila.


Nabila seketika menghentikan tawa di antara tangisnya seketika. sorot mata Nabila penuh iba membuat Lola tak mampu untuk membalas tatapan itu tapi berusaha kuat untuk tidak memalingkan wajahnya.


"Karena Gue putus asa, dan obat keputusan gue adalah waktu yang singkat untuk bisa bersama orang yang gue cintai." Ucapan balasan Nabila membuat lidah Lola terasa kelu.


Lola beranjak dari duduknya. Tanpa Kata dia mulai melangkahkan kaki meninggalkan Nabila di ruangannya. Dahi Nabila berkerut menatap heran ke arah Lola yang berjalan keluar meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


"Aneh banget tuh orang, bukannya jawab pertanyaan Gue malah bengong kaya sapi ompong." Cibir Nabila.


"Sialan. Permintaan Gue jadi digantung kayak jemuran." Dengus Nabila lalu membanting tubuhnya di atas ranjang terlentang.


"Yang." Suara Daren yang begitu pelan membuat Lola terperanjat.


"Hah?" Seru Lola kaget bercampur bingung.


"Kenapa Yang? Apa terjadi sesuatu dengan Nabila?" Tanya Daren penasaran dengan dahi berkerut.


Lola diam tak menjawab tapi tatapan matanya jelas sekali terlihat bahwa dia sedang memikirkan sesuatu tentang hal yang sangat serius. Bola mata hazel yang biasanya terlihat indah tiba-tiba redup hingga membuat Daren sedikit gelisah.


"Bagaimana mungkin Gue nyerahin Lo sama orang lain?" batin Lola bertanya yang Lola sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


"Kenapa mencintai begitu sangat egois bahkan untuk berbagi pada orang yang lebih butuh Lo daripada Gue?" perdebatan terjadi berkecamuk di hati Lola.


"Kita duduk di situ dulu ya Yang," ajak Daren seakan tahu kegalauan yang Lola alami saat ini.


Ajakan itu tidak Lola tampik karena dia juga merasa hatinya sedang lelah saat ini, Lola merasa tidak ingin menanggung kegalauan karena permintaan Nabila tak ingin memendamnya sendiri, dia ingin sekali membagi itu bersama Daren dan meminta masukan darinya.


"What happen?" Dua kata pertanyaan yang langsung Daren lontarkan begitu mereka duduk berdua di pinggir taman tengah rumah sakit.


"Seberapa serius penyakit Nabila? Gue pengen Lu jujur Bih." Kalimat pertanyaan yang meluncur dan bibir Lola membuat Daren membelalakkan matanya.


"Apa tadi kalian bicara tentang penyakit dia?" Daren tak menjawab pertanyaan Lola tapi dia malah balik bertanya.


"Iya, dia bilang umurnya tinggal menghitung hari karena penyakitnya yang sudah tidak mungkin sembuhkan," jawab Lola sambil tertunduk.


"Oh. Kita kasih doa aja moga-moga perkiraan dokter itu salah. Karena umur bukan ditentukan oleh sebab penyakit tapi itu hak mutlak Allah. Betul kan Yang?" Ucap Daren.


"Bila minta Gue nglepasin Kamu Bih. Dia minta disisa umurnya ada bersama Kamu Bih." Kalimat yang ingin Lola tahan akhirnya keluar juga dari bibirnya.


"Hah? Permintaan konyol macam apa itu? Shitt! Gak jelas banget!" Geram Daren seketika darahnya naik dan emosinya meledak.


"Gue nggak tahu kenapa dia minta seperti itu tapi permintaan ini benar-benar ngeganggu hati Gue. Dan gue nggak tega melihat dia dalam kesakitan menderita karena dia tidak bisa ada di samping Lo, orang yang dia sayangi orang yang dia cintai," ucap Lola mengeluarkan unek-uneknya.


"Apa itu artinya Ayang setuju ngasih Aku ke dia? Sayang, Kamu pikir Aku ini barang apa yang bisa kamu pinjamkan? Kamu pikir aku nggak punya hati?" Emosi dare6n semakin meledak dia tak habis pikir dengan sikap Lola yang begitu lemah saat menghadapi Nabila.


"Hiksss.., hiksss... Gue bingung gue harus gimana." Lola terisak sambil tertunduk dalam.


Air matanya meluncur begitu saja tak mampu dia tahan.

__ADS_1


"Acuhkan permintaan itu dan anggap dia tidak pernah meminta hal itu kepadamu Yang." Ucapkan Daren begitu tegas tak mau ambil pusing.


"Kita cari tempat makan Sayang, hari ini terlalu melelahkan. Aku ingin secangkir kopi pahit ditemani oleh senyum indah bidadariku. So jangan menangis dan Jangan memikirkan apa-apa karena hidup ini bukan untuk memikirkan orang lain saja tapi juga harus memikirkan perasaan kita dan juga cinta kita. Kamu mengerti kan Yang?" Kata-kata dan kalimat tanya Daren tak mampu membuat Lola membantah dia pun hanya bisa diam seribu bahasa.


__ADS_2