
Alunan musik india mengalun membuka pertunjukan drama Salim dan Anarkali. beberapa pemain cewek dan cowok menari india berpasangan, salah satu pasangan adalah Daren dan Nabila.
"Gak boleh Los ini mah," gumam Lola langsung mengambil kamera handycam nya dari dalam tas dan mulai merekam pertunjukan.
"Misi, misi kameramen imut mau lewat." seru Lola menyibak kerumunan penonton dengan tangan kirinya.
Satu persatu para siswa menyingkir hingga Lola bisa dengan mudah berjalan sampai persis di depan panggung untuk mengambil video dengan leluasa.
Elisa yang di tunjuk sebagai narator drama membacakan pembukaan latar cerita, suaranya yang merdu seperti pembawa berita gosip menghipnotis penonton hingga mereka fokus ke panggung.
"Anarkali gadis berparas jelita dengan keahlian menari membuat namanya terdengar sampai ke Mughal. Raja Akbar pun mendatangkannya ke istana dan menjadikan budak wanita itu sebagai salah satu penari. Para penghuni istana benar-benar terpesona kepada Anarkali. Terutama Akbar yang jatuh cinta kepadanya.
"Wah ternyata kamu memang seorang bidadari yang datang dari sanggar tari. Hmmm," ucap Raja Akbar yang di perankan Juki sambil mengusap dagu Anarkali.
"Tolong baginda jaga sikap Anda saya sangat menghormati Baginda," saut Anarkali alias Nabila.
"Kenapa? aku akan menjadikanmu salah satu selirku nomor satu dari sekian banyak selirku." rayu Raja Akbar dengan sangat Congkak.
"Tapi saya tidak menginginkan untuk menjadi selir. Saya hanya ingin menghibur anda dan juga penghuni istana ini Baginda." tolak anarkali.
"Apa ruginya sih kamu jadi selirku, kamu akan dapatkan kemewahan, kemegahan juga kehormatan." desak Raja Akbar.
Dibalik dinding tanpa sepengetahuan keduanya Salim sedang menguping pembicaraan mereka berdua.
"Ayah yang tak patut dihormati sudah memiliki banyak selir tapi masih saja pengen nambah lagi," sungut Salim dengan wajah kesal melihat perilaku ayahnya yang buaya.
"Lihat saja, kalau sampai Ayah menjadikan Anarkali selirnya aku akan menentangnya dengan keras. Aku tidak rela wanita yang aku cintai diambil oleh siapapun dari sisiku, walaupun oleh ayah kandungku sendiri," janji Salim.
"Wuihh, gila Sueb aktingnya bener-bener manjiw." Puji Lola matanya fokus pada lensa kamera handycam yang ada di tangannya.
Elisa kembali membacakan narasi cerita scene kedua.
"Salim dan Anarkali pun menjalin asmara. Namun perbedaan kasta membuat hubungan keduanya ditentang oleh sang raja. Penentangan itu dijawab dengan ikrar perang oleh Salim.
"Dengar Salim, kalau kau tidak mau memutuskan wanita rendahan itu jangan harap aku akan membiarkanmu begitu saja walaupun kamu anakku."
__ADS_1
"Aku juga bersumpah ayah, aku akan memerangi siapapun yang menghalangi cintaku dengan Anarkali walaupun itu Ayah kandungku sendiri,"
"Oh jadi kamu menantang ku untuk perang secara terbuka Hanya untuk wanita rendahan seperti dia!"
"Bagiku tidak ada cara lain untuk memperjuangkan cintaku kepada Anarkali kecuali menentang ayah untuk berperang." tantang Salim.
Elisa kembali membacakan narasi cerita hampir semua penonton hanyut dalam drama yang dibawakan oleh kelompok kelas 12 IPS 4 termasuk Lola.
"Anjay, bagus banget akting mereka. Gak nyangka gue, Sueb bisa segitu bagusnya menghayati peran dia. Jangan-jangan selama ini dia mengungkapkan perasaannya ke gue akting juga tuh kadal.' batin Lola matanya tetap fokus pada layar kamera handycam nya.
Elisa kembali membacakan narasi cerita Salim dan
Setelah pertempuran sengit dengan pasukan sang ayah, Salim harus mengaku kalah. Akbar memerintahkan Salim untuk menyerahkan Anarkali atau mati. Salim memilih maut, namun Anarkali memutuskan sebaliknya. Tak rela sang kekasih kehilangan nyawa di tangan ayahnya sendiri, Anarkali memutuskan untuk mengorbankan diri.
"Aku.. aku akan mengorbankan nyawa ku untuk menggantikan mu," ucap Nabila sebagai anarkali.
"Kata-kata itu sepertinya gue pernah dengar," batin Lola.
Lola memperbesar layar handycam nya dan memperhatikan dengan jelas mimik wajah Nabila terlebih pada sorot matanya.
"Kata-kata itu dari hatinya, Doi beneran mencintai Sueb," kembali Lola membatin.
"Jangan bodoh kamu, kalau kamu mati terus untuk apa aku hidup?" suara Daren terdengar cool dan berkarakter.
"Tapi aku tidak ingin kamu mati, kalau aku hidup aku akan mengalami kematian yang lebih tragis lagi, terutama kematian hatiku.Tapi kalau kamu yang hidup aku yakin kamu bisa mendapatkan kebahagiaan di kemudian hari sayang." ucap Anarkali.
Deg.
Hati Lola tersentak seperti ada yang menyentil nya. Lola mematikan kamera handycam nya, lalu dia berbalik badan berjalan meninggalkan Aula dengan wajah tanpa ekspresi.
"Anarkali meminta satu malam untuk bersama Salim sebagai permintaan terakhir. Keesokan harinya, Akbar memerintahkan budak cantik itu dikubur hidup-hidup di balik tembok. Salim lantas memerintahkan agar di sekeliling tembok tersebut dibangun sebuah makam yang megah"
Suara Elisa yang membacakan narasi masih terdengar jelas di telinga Lola, semakin jauh dia berjalan meninggalkan aula suara itu pun semakin terdengar sayup-sayup.
"Mut! Tunggu!" teriak Juwi ikut berbalik badan mengikuti Lola.
__ADS_1
"Kenapa Mut, kok mukanya gitu amat." tanya Juwi penasaran melihat perubahan di wajah Lola.
"B aja tuh." jawab Lola datar.
"Laa, gue kenal Lo. Pasti ada sesuatu yang bikin hati lo galon. Apaa...ini ada kaitannya sama Sueb?" tanya Juwi dengan suara lebih lembut.
kaki Lola melangkah menuju sebuah bangku taman yang ada di bawah pohon akasia dia mendudukkan bokongnya di bangku itu lalu menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar itu sambil tangannya mengusap handycam miliknya.
Lola menarik nafas panjang menghembuskan nya secara perlahan sepertinya ada sesuatu yang ingin dia keluarkan dari hatinya.
"Nabila beneran suka sama Sueb." kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Lola membuat Juwi menatapnya tak percaya.
"Dari mana lo tahu? Apa dia bilang langsung sama lo?" tanya Juwi masih tak percaya.
"Dari bahasa matanya, gue yakin banget dia cinta mati sama Sueb." ucap Lola dengan tatapan mata menerawang ke atas langit melihat awan yang bergumpal dan berjalan ditiup angin.
"Syukurlah.Berarti sebentar lagi sawit nggak jomblo, tinggal kita berempat yang masih jomblo hehehe," ucap miris Juwi ikut menyandarkan tubuhnya di pohon sambil menatap langit.
"Iya." saut Lola.
"Iya nya gitu amat sih, enggak semangat. Kayak kurang Energen aja loh." ledek Juwi.
"Wi, ke pulau yuk." ajak Lola tiba-tiba.
"Yuk, tar gue calling yang lain." saut Juwi mengiyakan.
"Nginep nggak?" tanya Juwi sedikit menoleh kearah Lola.
"Boleh, tapi jangan kasih tahu Sueb. Kita pergi berlima aja," pesan Lola.
"Iyalah. Kalau ngajak dia kita bukannya have fun, tapi lu jadi tambah galon akut." goda Juwi.
"Ngomong apaan sih lo cumi." balas Lola.
"Bahasa hati lu Mut, gue cuma nyampein biar gak kebakar hati lo wkwk." ledek Juwi yang tau saat ini Lola sedang labil hatinya.
__ADS_1
..."Kenapa rasa suka itu datang tanpa permisi tapi tau-tau sudah nyaman di hati "...
...~Lola~...