
Berita kecelakaan yang menimpa Lola diterima Saroh lewat telepon membuat Saroh shock. Kepanikan seketika melanda Ibu lima orang anak itu. Wajahnya tanpa pucat, tangan kirinya memegang HP yang dia tempelkan di telinga kiri nya, sementara satu tangannya yang masih memegang piring penuh sabun seketika di lepaskan begitu saja saat telapak tangan itu gemetaran di atas tempat cucian piring di mana tumpukan gelas dan piring kotor langsung berdenting menimbulkan suara nyaring di telinga penghuni rumah siang itu.
"Di mana putri saya sekarang pak?" tanya Saroh dengan suara gemetar.
Kedua sudut matanya mulai menggenang, kerut-kerut wajah tuanya semakin terlihat karena kepanikan yang sedang melandanya.
"Iya saya tau daerah itu pak, tolong jaga putri saya Pak saya akan segera ke sana." pinta Saroh sebelum menutup telepon.
"ZALLL....!" suara teriakan Saroh menggema di seluruh ruang rumahnya bahkan di telinga si sulung Anzal yang sedang bersiap di lantai atas rumahnya hendak berangkat kerja shift 2.
"YAAA MAA, BENTAR MA!" sahutan langsung terdengar dari Anzal..
Duk Duk Duk..
Terdengar jelas suara langkah kaki Anzal putra sulungnya menuruni tangga dari lantai atas. Belum sampai pada anak tangga yang terakhir Saroh menghambur ke arah Anzal dengan wajah sedih bercampur panik.
"Nang jatuh dari motor A'," suara Saroh bergetar dengan air mata yang jatuh di pipinya.
"Innalillahiwainnailaihirojiun. Terus gimana keadaannya Mah?" tanya Anzal dengan wajah panik sambil mengancingkan baju seragamnya.
"Tadi dia masih bisa telepon berarti dia masih sadar A', tapi... tapi Neng gak ceritakan
apanya yang terluka dia cuma nangis doang hiks hiks." suara Saroh jelas terdengar gemetaran.
"Ya udah Mah, sekarang juga kita buruan pergi ke sana. Eneng ngasih tahu di mana kejadian itu Mah?" tanya Anzal berusaha tenang agar Saroh pun ikut tenang.
"Di depan pabrik ban daerah Jatake." jawab Saroh sambil menarik tangan Anzal.
"Aa udah mepet waktu kerja sebentar lagi masuk Mah, gimana kalau Aa telepon ayah aja buat jemput Neng?" usul Anzal karena memang dia kebetulan masuk shift siang dan baru bekerja belum ada sebulan.
"Ya udah, kalau gitu kamu kerja aja biar mama pergi sendiri jemput Eneng." tanpa lama Saroh langsung menyambar kunci motor yang ada di tangan Anzal.
Berpakaian lusuh dengan sebagian baju yang basah karena habis mencuci piring dan membungkus tubuhnya dengan jaket butut Saroh benar-benar tidak menyadari penampilannya yang ada di pikirannya adalah cepat sampai di tempat di mana kecelakaan.
__ADS_1
Sepanjang berkendara Saroh selalu berdoa dan berusaha untuk tetap tenang mengendarai motornya di jalan raya, tak sampai setengah jam dia tiba di tempat di mana Lola kecelakaan dengan mata berkaca.
"Pak Maaf, apa tadi anak saya kecelakaan dibawa ke sini ya Pak? Tadi saya dapat telepon dari salah satu orang security katanya dibawa di pos security pabrik ini. Apa itu benar pak?" tanya Saroh terbata karena panik yang menderanya.
"Wah saya tidak tau Buk." jawab seorang sekuriti yang masih terlihat muda sambil menelisik Saroh dari ujung mata sampai ujung kaki.
"Tapi.... katanya dibawa ke pos security ini." desak Saroh merasa yakin kalau apa yang tadi dia dengar adalah benar.
"Tapi bener bu, nggak ada yang kecelakaan." kembali satpam muda itu membantah.
Saroh tak percaya begitu saja dia lalu memarkirkan motornya di depan pos security dengan langkah cepat Saroh berjalan memasuki pos security.
"Permisi pak apa putri sa-,"
"Maaf Bu, dilarang masuk sebelum lapor ke pos depan kalau mau minta sumbangan." seorang satpam berbadan kekar tiba-tiba menghadang langkah Saroh.
"Maaf Pak Saya bukan minta sumbangan tapi cuma mau ketemu putri saya katanya dia kecelakaan di sekitar sini dan dibawa ke pos satpam ini." seru Saroh sambil celingukan ke dalam ruang pos security yang tidak terlalu luas.
"Apapun itu ibu harus lapor ke-,"
Saroh mencoba menerobos satpam yang menghadangnya dan begitu dia bisa masuk ke dalam Saroh melihat Lola sedang duduk di salah satu sudut ruangan sambil menangis memegangi lengannya yang luka.
"Eneng!!" seru Saroh langsung menghambur ke arah Lola.
Dua orang satpam menghadang Saroh tapi Dadang langsung datang menghampiri Saroh.
"Dia istri saya Pak." ucap Dadang meyakinkan kepada sekuriti.
Dua orang security pun menghindar dan memberi jalan kepada Saroh untuk mendekati Lola. Tatapan para security itu terlihat menelisik tak menyangka ke arah Saroh lalu ke arah Lola dan Dadang, terlihat sekali mereka tidak percaya kalau Saroh adalah ibu kandung Lola.
"Mama, hiks." rengek Lola saat berada dalam pelukan Saroh.
"Mana yang sakit Neng?" tanya saru dengan mata berkaca.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ini luka kamu pasti sakit sayang." seru Saroh sedih melihat tangan dan juga kaki Lola yang terluka dengan cucuran darah di mana-mana.
"Neng masih bisa kan dibonceng Mama pulang?" tanya Pak Dadang begitu selesai memeriksa kondisi motor Lola.
Lola yang masih terseduh menangis karena menahan sakit hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Mah, yang tenang bawa motornya Langsung bawa Eneng ke klinik buat ngobati lukanya, Ayah lihat lukanya tidak terlalu parah nanti malam Ayah pulang kerja kita bawa Neng ke Mas Ali buat di urut takutnya ada yang keseleo," pesan Dadang pada istrinya.
"Iya Yah. Ayo sayang kita pulang.Pak Terima kasih banyak sudah menolong Putri saya." ajak Sarah sekalian pamit sambil membantu Lola bangun dari duduknya dan memapahnya menuju motornya di parkir.
***
Kabar kecelakaan Lola sampai juga di telinga para sahabat-sahabatnya Owl night. Begitu juga dengan Angga. Belum selesai jam kuliah Angga bergegas pergi keluar dari kelas.
"Maaf Bu, Saya ijin pulang saudara saya kecelakaan." ucapan Angga meminta izin kepada dosen pengajar.
"Tapi kelas baru dimulai Angga, apa tidak bisa kamu ikutin kelas Ibu dulu sampai selesai?" tanya Bu Desi dosen yang mengajar saat ini.
"Apa ibu bisa menjamin bahwa nyawa saudara saya itu selamat atau tidak
Dan bagaimana seandainya nyawa saudara saya itu tidak selamat betapa menyesalnya saya tidak bisa menemuinya di saat-saat terakhir." kilah Angga tak ingin di tahan kepergiannya meninggalkan kelas.
"Baiklah kalau gitu silakan kamu pergi" jawab Bu Desi akhirnya menerima argumen Angga dan mengizinkannya meninggalkan kelas.
Begitu keluar dari kelas Angga berhenti sejenak di ujung tangga langsung menelpon nomor Saroh.
"Assalamualaikum Mah, apa kecelakaannya fatal menimpah Lola?" tanya Angga khawatir pada Saroh lewat sambungan telepon.
Daren yang baru saja tiba bersama Nabila sempat mendengar pembicaraan Angga dengan sangat jelas. Daren langsung menoleh ke arah Angga dengan sorot mata sedikit terkejut. Nabila yang sedang menggandeng lengannya dengan pelan Daren lepaskan, lalu dia menghampiri Angga yang sedang menelepon.
"Siapa yang kecelakaan? Apa Lola?" tanya Daren, entah mengapa mendengar berita itu jantung Daren berdebar.
"Apa peduli Lo? Lu nggak punya urusan kan?" dengan sinis Angga menjawab sekaligus bertanya.
__ADS_1
..."Aku cuek. Kalau aku banyak tanya terus perhatian, berarti kamu itu beda pada saat itu"...
...~Daren~...