Off Bucin

Off Bucin
Arti Sahabat


__ADS_3

"Lola? lu kuliah di sini juga?" tanya Nabila terkejut karena dia baru mengetahui kalau Lola kuliah di kampus yang sama dengan dia dan Daren.


"Ohh, Lo yang waktu itu kena kopi panas gue ya?" tanya Daren baru menyadari kalau cewek yang nabrak dia adalah cewek yang waktu itu kena air panas karena melindunginya.


Lola mengatur perasaannya sekuat mungkin agar kegalauan yang mengusik hati nya tak terlihat di depan Daren ataupun Nabila.


"Hai Bil," Lola mengawali bicaranya dengan santai.


"Btw luka Lo gimana?"tanya Nabila melihat ke arah tangan Lola.


"Udah sembuh" jawab Lola singkat.


"Buruan La!" teriak Juwi tanpa melihat ke arah Lola.


Lola sempet kaget saat tubuh nya diseret Juwi menjauh dari Daren dan Nabila tanpa bisa menolak hanya kepalanya menoleh kebelakang sesaat, menatap Daren yang semakin menjauh. Lola sempat menelan ludahnya yang terasa pahit saat melihat tangan Nabila menggamit lengan Daren.


Tepat pukul 7 acara ospek hari kedua sekaligus terakhir dimulai, hari ini acara lebih banyak diisi dengan pentas seni dari para maba dan pembekalan terakhir di tutup dengan temu bincang tokoh terkenal yang mendatangkan artis ibukota. Ari tampak berjalan santai tatkala para peserta Maba sudah berbaris rapi di halaman depan kampus.


"Sad, tuh urusin Maba pembelot," ucap Icha salah satu senior yang duduk di bangku semester 5 pada Rasyad.


Rasyad menoleh ke arah Ari menatap gadis berjilbab pasmina hitam berpostur tinggi semampai dengan wajah berkarakter kuat tapi terkesan tenang dan santai.


"Hadeuhh, coba gue tau dia datang gak bakal gue sisain nasgor Mak Ijah " keluh Rasyad dengan tatapan mata tak lepas dari Ari.


"Bro, ambil alih. Gue urusi hama satu itu." perintah Rasyad pada Emil koordinator pembantu ospek.


Sebelum melangkah mendekati Ari, Rasyad Masih sempat menyambar sebotol yogurt yang hendak diminum oleh Emil, membuat Emil mendelik ke arahnya karena kaget.


"Dudul Lo!" ujar Emil kesal.


"Sorry bro, ngadepin pembelot butuh tenaga ekstra." sahut Rasyad sambil ngeloyor pergi berjalan ke arah Ari.


"Masih berani Lo datang ke kampus ini?" tanya rasa dengan sini sambil melirik Ari dengan ujung matanya.


"Gak ada tuh yang bikin gue takut." jawab Ari dengan santainya.

__ADS_1


Mendapat jawaban itu membuat darah Rasyad mengalir lebih cepat sehingga dia merasa suhu tubuhnya naik.


"Ohh, jadi Lo merasa paling jagoan di sini? Denger ya, kampus ini bukan sarang preman dan juga bukan hutan dengan hukum rimba. Jadi lebih baik Lo pergi keluar dari area kampus ini kalau lu nggak mau ngikutin aturan yang berlaku di kampus ini! You know?" bentak Rasyad memajukan wajahnya ke arah Ari hingga membuat Ari harus sedikit mundur menghindari semburan napas Rasyad beraroma yogurt.


"Kalau boleh saya minta, apa bisa kaka tunjukkan aturan-aturan resmi kampus ini, saya akan membaca dan akan mempelajarinya dengan baik." permintaan yang menohok untuk Rasyad dari Ari.


"Kamu ini ya mulut gak bisa amat diem kalau di kasih tau itu nyimak bukan debat." geram Rasyad makin emosi.


"Udah biasa kan, jadi Maba itu serba salah. Diam salah jawab juga salah. Kan kita memang tempat untuk di salahkan agar kita bisa mendapatkannya hukuman dari senior." jawab Ari sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya.


"Dasar bawel Lo, kalau Lo bukan cewek udah gue -," bentak Rasyad sambil mengangkat kepala tangannya hendak meninjau wajah Ari.


"Huh," dengus Ari lalu melangkah santai meninggalkan Rasyad tanpa memperdulikan nya.


"Liat aja pembalasan gue suatu Hari nanti, nggak bakal bisa Lo lupain seumur hidup Lo karena Lo sudah bersikap nentang gue. Cuih!" dengus Rasyad geram sambil membuang ludah.


***


Selama acara maba berlangsung pandangan Lola sama sekali tidak fokus. Begitu juga dengan telinganya, yang dia lakukan hanya mencari dan memperhatikan satu persatu mahasiswa cowok untuk mencari keberadaan Daren.


Bunyi sirene mengakhiri sesi pertama pembekalan Maba yang hari ini di lakukan di ballroom kampus, semua Maba di berikan waktu 1 jam untuk isoma. Lola bersama para sahabatnya sudah janjian untuk bertemu di depan taman mushola kampus.


"Wuih keren sohib kita satu ini, pasti dah dapat cap black list dari senior karena keberaniannya menentang ketua senior Maba kita. Kasih tepok jidat Gaesss!" sorak Juwi pada keempat sahabatnya yang langsung disambut dengan tepok jidat tiga kali oleh mereka kecuali Lola dan Ari.


"Hahaha! Oge kalian semua." ucap Ari ngakak.


"Btw thanks girls." ucap Ari kembali sambil membungkuk ala matador menang setelah menundukkan banteng terkuat.


"Hussttt!" Ita memberi isyarat kepada teman-temannya untuk perhatikan Lola yang celingukan tanpa mempedulikan sahabatnya.


"Lo cari Ucup ya?" tanya Juwi sambil menyenggol situ Lola hingga membuat Lola kaget.


"Hah?" terlihat sekali Lola kaget tidak fokus entah pikirannya sedang ke mana.


"Elu celingukan lagi cari siapa Tii?" kembali Juwi bertanya.

__ADS_1


"Sorry pikiran gue lagi kacau, pasti badmood kalian ya." ucap Lola minta maaf.


"Dah, gak papa beb. Kalau boleh tahu lagi nyari siapa sih celingukan gitu?" tanya Ari menelisik wajah Lola.


"Sueb, tadi gue liat dia pas baru datang di parkiran." jawab Lola pelan.


"HAH! CIUZZ?" serempak ke empat sahabatnya bertanya dengan mata membulat kearah Lola.


"Iya." jawab Lola sambil mengangguk.


"Allahu Akbar! bener Cok, Lu lihat tuh cowok yang lagi jalan di sebelah Nabila? Itu Sueb!" seru Ita heboh sambil menunjuk ke arah Daren dan Nabila yang berjalan beriringan.


Lola dan teman-temannya langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan Ita, dan memang benar tampak di situ Nabila sedang mengalami tekanan darah sambil tersenyum manja. Semua sahabat Lola melirik ke arah Lola dengan tatapan simpati.


"Bang ke tuh orang pengen gue bejek-bejek mereka berdua." sungut Juwi langsung emosi dan hendak beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Stop Wi, biar gue bicara empat mata sama doi." ucap Lola dingin tanpa ekspresi ke arah sahabatnya.


Juwi kembali duduk di sambut dengan anggukan kepala sahabatnya.


"Semangat beb, gue Lo bakal bisa bikin dia ingat Lo lagi Begitu juga dengan perasaannya ke elo." ucap Ari menguatkan Lola dengan semangat.


"Optimis yang, optimis." ucap Ita dan Palupi sambil mengangkat kepalamu tangan di depan dada.


Lola beranjak berdiri dari duduknya lalu menatap satu persatu sahabatnya dengan lengkungan bibir ke atas yang terlihat sangat dipaksakan.


"Semangat Mut!" suara Ari, Ita dan Palupi berbarengan.


"Semoga si Sawit cepat ilang amnesia kalau sampai nggak hilang beneran bakal gue getok kepalanya pakai palu." ucap Juwi sengit menatap tajam ke arah Daren.


...Persahabatan adalah obat untuk hati yang terluka dan vitamin untuk jiwa yang penuh harapan.Tanpa sahabat kita akan terlalu lemah untuk bangkit kala terjatuh....


^^^Owl Night^^^


To be continued.....

__ADS_1


__ADS_2