Off Bucin

Off Bucin
Apa Kabar Hati Mu?


__ADS_3

Lola merasa seperti seorang pencuri yang di mintain pertanggungjawaban, mata mereka menatap dengan tatapan berbeda-beda. Juwi menata sinis sambil mencibir terlihat sekali Juwi menilai Lola orang yang labil dan menyedihkan.


Tatapan Lola beralih pada Ita yang terlihat dengan wajah tegang seakan-akan sedang menunggu hasil pengumuman yang akan keluar dari mulut Lola, Palupi menatapnya dengan cuek dan datar.


Ari sendiri terlihat santai dia seperti sudah tahu apa yang ada dipikiran Lola terlihat dengan tatapannya yang tenang sambil mengangkat satu sudut bibirnya keatas.


"Eb, sorry gue gak bisa jadi pacar lu." jawab Lola dengan tenang tanpa ekspresi di wajahnya.


"Hahaha good bestie lu emang belahan jiwa jomblo gue." sorak Ari sambil merangkul Lola gemas.


"Alhamdulillah! Gue gak jadi di langkah Lomut," ucap Palupi terlihat senang.


"Anjirr! Kirain, gue bakal jadi cewek jomblo lumutan yang bakal lihat drama bucin asem tiap saat. It's a good choice girls." Puji Juwi sambil menggenggam tangan Lola.


"Sueb, kasian dah loooo." Ita meledek Daren sambil tangannya pura-pura mengucek kedua matanya.


Lola tersenyum melihat ekspresi jujur sahabat-sahabatnya. Daren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, penolakan Lola kali ini bukanlah yang pertama dan itu sama sekali tidak membuat Daren down untuk terus mengejar cinta Lola.


"Asemm kalian semua! Kegagalan gue jadi kebahagiaan lo lo pada. Tapi nggak papa, asal kalian semua bahagia. Gue rela! Gue terima! Ikhlas gue! Hiks hiks hiks." ucap Darin sambil berpura-pura menangis.


"Ember mana woii! Tampung air mata Sultan yang keluar bukan air tapi mutiara." ledek Ita merasa senang jika membully Daren.


"Ehh, Tatatop lu sangka Sueb duyung bastian di Mermaid in Love yang ngejar cinta Ariel?" tanya Palupi.


"Yah begitu lah kira-kira." jawab Ita seenaknya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kalian semua emang teman julid parah! Puas Kalian liat gue menderita!" Daren melotot tajam menatap 5 cewek satu persatu yang ada di depannya sambil telunjuknya menunjuk mereka.


"PUAASSSS HAHAHAHAHA!" balas kelimanya Sambil tertawa terbahak.


"Somplak kalian semua!" dengus Daren kesal.


"Permisi adik-adik ini pesanannya." ucap seorang pelayan wanita mengantarkan pesanan mereka.


"Lupakan semua kita makan cok!" seru Juwi bersemangat karena cacing-cacing di perutnya yang sudah menabuh genderang.


"Hayuk lah makan, di bully juga butuh tenaga apalagi di tolak lebih butuh tenaga untuk bertahan mencintai ayang beb." saut Daren mulai menyantap makanannya.


"Sawit emang the best, biar galon semangat terus berkobar maju terus pantang mundur cok. Gua suka gaya lo!" ucap Juwi menepuk pundak belakang Daren.


"Cumi! lo dari tadi plak plok pundak gue, awas lu tar nyaman nagih lagi." celetuk Daren sambil mengerutkan dahi menatap ke arah Juwi.


"Ihh, najis amat!" sungut Juwi melangkah berpindah tempat menjauh dari Daren.


***

__ADS_1


Malam semakin larut tapi mata lola masih enggan terpejam, rasa lelah yang biasanya sudah membawa raganya terlelap dalam mimpi kali ini sepertinya tidak berpengaruh pada diri Lola.


Lola menyibak selimutnya lalu perlahan dia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu berjalan keluar dari Resort bilik bambu. Langkah kakinya menuju ke pantai dengan debur bunyi ombak yang tiada henti hingga tercipta nada alam yang begitu syahdu.


Lola berhenti di sebuah batu yang cukup besar di bibir pantai dan duduk di atasnya sambil tatapannya jauh memandang laut yang begitu tenang tidak seperti hatinya yang sedang berkecamuk.


"Kenapa terlalu sulit untuk memulai hati dengan yang baru. Cup, lu pernah jadi yang terindah, juga terburuk dalam kenangan cinta gue. Lu yang mengajari arti patah hati. Lu yang beri gue harapan, lalu lu pergi. Sampai luka hati gue garis waktu pun takkan mampu menghapus rasa kecewa gue." batin Lola menatap laut dengan mata tergenang.


"Coba lu bisa ajarin gue cara buat gue lupain perasaan gue ke lu. Kalau benci sama lu, gak ada dalam diri gue. Gue nggak mau trauma untuk jatuh cinta." lirih suara Lola sambil menggigit bibir bawahnya.


Air mata mulai membasahi kedua pipi Lola. Rasa sesak akan sakit hati dan juga perasaannya yang terluka membuat Lola yang terlihat cuek dan selalu bahagia ternyata sangat rapuh.


"Maaf kalau tadi candaan gue bikin lo sedih," ucap Daren tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


Lola cepat-cepat menghapus air matanya lalu Lola menoleh kebelakang sejenak dan tatapannya kembali memandang jauh ke laut lepas.


"Sans cok," saut Lola datar.


Daren duduk tepat di sebelah Lola lalu mengangkat kaki kirinya ke atas.


"Apa kabar hati lu?" tanya Daren terdengar serius.


"Hufffff." Lola menarik napas berat dan menghembuskan dengan kasar.


"Entahlah." ucap lirih Lola terdengar serak suaranya sambil membuang mukanya ke arah samping berlawanan dengan Daren.


"Nangis aja kalau lo mau nangis jangan di tahan." ucap Daren terdengar datar.


Lola memiringkan tubuhnya ke samping membelakangi Daren, kedua kakinya di angkat ke atas lalu kedua tangannya saling memeluk dengan kepalanya telungkup di atas tangan dan kakinya.


"Hiks hiks hiks hiks." Lola mulai terdengar terisak tangisnya.


Daren menoleh menatap tubuh Lola yang terguncang karena isak tangisnya. Tangan kanan Daren terangkat menggantung di udara hendak menyentuh pucuk kepala Lola ingin mengusapnya.


Tatapan mata Daren sayu menatap Lola.


"Kenalkan gue sama dia La, orang yang bikin lu seperti ini, biar gue bisa cerita ke dia betapa bodohnya dia putusin lo dan betapa sukarnya gue ngebuka dan dapetin hati lu ampe gue harus jadi orang yang selalu memohon minta perhatian lu sedikit saja," ucap Daren terdengar pilu.


"Hiks hiks hiks hiks..." Lola benar-benar melepaskan semua beban hatinya dengan tangis malam ini di samping Daren cowok yang begitu besar cinta nya untuk Lola.


Untuk beberapa saat Lola masih hanyut dalam kesedihan dan tangisannya, sementara Daren hanya bisa melepaskan semua amarah dan kekesalan dengan diam dan diam.


Lola menghapus air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya setelah puas dan reda tangisnya.


"Hyunggg." Lola membuang ingusnya dengan saputangan nya.

__ADS_1


"Jorok lu Bar." protes Daren.


"Namanya juga mewek ya pasti keluar ingus lah," balas Lola.


"La, lu tau gak gue ketemu lu adalah takdir, jadi teman lu adalah pilihan terpaksa yang harus gue terima, tapi jatuh cinta dengan lu benar-benar di luar daya gue." ucap Daren menatap laut lepas dengan lengkungan di kedua sudut bibirnya ke atas.


Lola diam masih memeluk lutut nya dan menyembunyikan kepala diantara kedua lututnya.


"Lu tau kan gue sudah lama menyimpan rasa ini buat lu. Meski lu hanya nganggap gue teman, tapi gue ingin jadi teman spesial di hidupmu." sambung Daren kembali, kali ini wajahnya menoleh ke arah Lola.


Lola mengangkat wajahnya menoleh ke arah Daren, menatap pancaran mata Daren yang bercahaya redup dibawah sinar bulan.


"Gue takut jatuh cinta dan kecewa lagi, lu tahu kan Eb?" tanya Lola menyampaikan perasaannya.


"Gue gak akan m sakitin lu La, lu tau itu kan?" ucap Daren balik bertanya.


Lola menatap Daren menelisik, rasa ragu dan khawatir akan patah hati kembali menjadi benteng yang kuat untuk memulai sebuah hubungan baru.


"Ren, Emang lu yakin bisa bikin gue nyaman lagi dengan yang namanya cinta?" tanya Lola seperti sebuah tantangan untuk cinta Daren kepada-nya.


Daren menarik napas panjang lalu menghembuskan nya dengan perlahan dan tenang.


"La, biarkan gue membuat lo bahagia selamanya. lu hanya perlu melakukan satu hal: jatuh cinta sama gue" jawab Daren dengan pasti.


"Tapi gue nggak mau pacaran Eb. Biarlah semua berjalan perlahan dengan apa adanya, kita melaluinya bersama untuk saling memahami, dan berakhir dengan kata sah." ucap Lola mulai membuka hatinya.


Deg


"ALHAMDULILLAH YA ALLAH" Daren langsung beranjak dari duduknya dan melompat kegirangan.


"Tapi gue pengen lu janji sama gue." ucap Lola meminta sesuatu kepada Daren.


Daren Langsung kembali duduk di sebelah Lola menatap ke arah Lola.


"Apa sayang? Gue akan melakukan apapun yang lu minta asal jangan minta untuk menarik ucapan lo barusan." kata Daren dengan sangat serius.


"Berjanjilah untuk diam sama siapa pun sampai orang tua lo datang ke rumah gue, dan gue minta lo jangan bilang siapa-siapa." pinta Lola.


"Asiippppp!" teriak Daren sambil memberi hormat


Lola tak mampu menahan tawanya.


..."Walaupun perlahan, aku akan berjalan menuju hatimu tanpa menoleh ke belakang lagi"...


...~Lola~...

__ADS_1


__ADS_2