Off Bucin

Off Bucin
Ujian Bucin


__ADS_3

Malam mulai larut, dinginnya udara malam mulai terasa menusuk masuk lewat pori-pori kulit hingga menembus ke tulang. Lola menoleh ke belakang menatap Angga yang sudah tertidur pulas dengan suara dengkur khasnya.


"Cepat amat si Ucuk pindah alam," gumam Lola sambil beranjak dari duduknya.


"Hhiihhh, dinginnya." keluh Lola sambil kedua tangannya memeluk tubuhnya dan masuk ke dalam rumah pohon.


Kurang dari semenit Lola sudah keluar membawa selimut lalu dia menutup tubuh Angga dengan selimut yang dia bawa.


"Nice dream Tiee, semoga Lo ketemu sama Mbak Indah biar lu cepat move on xixixi." bisik Lola sebelum kembali masuk ke rumah pohon.


Tak butuh waktu lama untuk Lola terlelap dalam tidur karena rasa kantuk yang luar biasa dan lelah karena aktivitas siang hari yang dilakukan.


Menjelang pagi udara makin dingin membuat Angga tak kuat dan dalam kantuk beratnya dia pun masuk ke dalam rumah pohon membaringkan tubuhnya di sisi Lola


***


Kukuruyuk....


Lengkingan suara ayam jantan memecahkan keheningan pagi Buta yang diselimuti sebagian kabut tipis terasa begitu dingin di markas babibu cekcok tempat di mana Daren bermalam.


"Hoaaamm." masih dalam setengah sadar Daren menguap sambil menggeliat bangun dari sofa tempat dia tertidur.


"Pagi boskuhh, perlu bikinin kopi nggak Bang?" tanya Juki begitu melihat dari bangun tidur.


"Boleh, seperti biasa sedikit pahit kebanyakan manisnya seperti senyum princess gue, Ayang Lola tersayang." saut Daren.


"Oeeekkk pagi-pagi buta dah Bucin, kebanyakan micin ya Bang?" balas Juki pura-pura muntah.


"CK CK CK, ternyata bener apa yang orang bilang kalau jomblo itu free dan gue nyaksiin sendiri dari diri lo Juk!" kata Daren menatap tajam campur iba ke arah Juki.


"Jelas dong bos, itulah bahagianya jadi jomblo." saut Juki menyombongkan kejombloannya.


"Bahagia? Prett. gue melihat lu bukannya free bebas atau merdeka tapi FREE-HA-TIN hahaha." ledek Daren sambil terbahak mencibir ke arah Juki.


"Sialan si bos kirain pembela kaum jomblo sama aja kayak mereka selalu bahagia di atas penderitaan para jomblo." rajuk Juki.


"Dah Jan merajuk kek anak perawan Juk, jadi jomblo itu hemat, lu nggak perlu nyisihin uang untuk bayarin pacar. Pangkal kaya deh. dan satu lagi jomblo itu setia setia dalam kesendirian hahaha." kembali Daren meledek Juki sebelum berlalu pergi ke kamar mandi.


"Sialan! Apes deh pagi-pagi gue di-bully sama kang Bucin." gerutu Juki sambil menggaruk kepalanya.


15 menit kemudian setelah selesai membersihkan badan dan salat subuh dari yang sudah rapi dengan setelan training hitam dan hoodie hitam serta sepatu kets putih.

__ADS_1


"Saking Bucin nya bos ma Lola Ampe bos lupa siapa bos ckckck." ledek Juki saat melihat Daren memakai helm pink yang dulu dia pinjam dari nyak Saripah.


"Maksud lo ape Jok?" tanya Daren tak paham maksud ucapan Juki.


"Masa bos babibu geng anak motor yang paling disegani pakai helm warna pink." protes Juki sambil menggelengkan kepala.


"Oh, ini? Sekalian mau dibalikin punya Nyak Saripah. Lupa gue udah lama pinjam." saut Daren santai.


"Dahlah gue cabut dulu." Papinka sambil menstarter motornya.


Begitu motornya melaju di jalan raya yang masih sedikit tertutup kabut wajah Daren tampak sangat bahagia dengan Senyum merekah di bibirnya.


"Assalamualaikum cinta i'm coming!" teriak Daren sambil melepaskan kedua tangannya dari stang motor yang sedang berjalan penuh kegembiraan.


Kurang dari seperempat jam Daren sudah sampai di depan rumah Lola dengan pintu pagar yang masih tertutup rapat. Daren melirik arlojinya di mana jarum pendek menunjukkan angka 5 dan jarum panjang di angka 9.


"Gue telepon ayang aja dulu, pasti dia udah bangun." gumam Daren mengambil HP disaku Hoodie hitamnya.


Beberapa kali dari menghubungi nomor Lola tapi tak ada yang mengangkat.


"Apa mungkin Ayang masih bobo ya?" Tanya dari pada diri sendiri sambil mendongak ke lantai atas rumah Lola.


"Cari siapa dek?" Pertanyaan dari suara laki-laki yang mengagetkan Daren.


"Eh...emh ... Maaf sa-ya emm...saya pa- eh maksud saya, saya teman satu kampus Lola Om." jawab Daren guguk dengan suara terbata.


Dadang memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kepala dengan setelan baju olahraga dengan sepatu kets warna putih.


"Perkenalkan nama saya Daren, Daren Bastian," ucap dari sambil menguluakan tangannya dengan sopan.


Dadang menyambut ularan tangan Daren dengan wajah datar.


"Apa kamu datang pagi-pagi mau ngajak dia jogging?" tanya Dadang menebak maksud kedatangan Daren di pagi ini.


"Iya Om Saya pengen ngajak diajak cuman di sekitar komplek di taman depan." jawab Daren mulai tenang tidak grogi lagi.


"Om akan panggilkan dia." kata kata Dadang sebelum masuk ke dalam pintu pagar rumahnya.


Sudah hampir 5 menit darah menunggu dengan sahabat di depan rumah Lola.


"Eh, ada Bang sultan hoamm" ucap Hamid yang baru keluar dari pagar sambil mengucek matanya dan menguap.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu membuat dari geleng kepala sambil meringis.


"Teteh mana Mid?" tanya Daren pada Hamid .


"Dia nggak pulang Bang dari semalam Paling juga di di markas hantu Bang." jawab Hamid sambil tangannya mengusap sisa dangder yang ada di kedua sudut bibirnya.


"Haiisstt tuh iler, kagak subuhan ya Lo Mid? Tanya dari mana Pak melihat tampilan hamil yang benar-benar baru bangun tidur.


"Hehehe, belum bang Ini juga tadi diguyur sama ayah buat nyampein pesan ke Abang." saut Hamid sambil nyengir tanpa malu.


"Ya udah gue cabut dulu ke sana. Assalamualaikum." pamit Daren langsung naik ke motornya siap pergi.


"Waalaikumsalam! Bang hati-hati jatuh bangun sendiri hahahaha." canda Hamid iseng.


Daren hanya membalas dengan lambaian tangan. Kurang dari 10 menit motor trail keren berhenti tepat di depan pintu pagar rumah begitu selesainya standarkan motornya.


"Masih pada mimpi kek nya." gumam Daren menatap ke arah rumah pohon di halaman depan rumah Ari.


Dengan mengambil ancang-ancang Daren mulai melompat pagar rumah Ari.


"Huff!" sekali lompat Daren sudah bertengger di atas pagar besi rumah Ari.


Pok pok


"Mo maling ya Lo!" pekik nyak Saripah sambil memukul kepala Daren yang tertutup helm pink dengan sapu ijuk.


"Ampun Nyak! ini Daren!" seru Daren sambil menahan pukulan sapu ijuk dengan lengan kekarnya.


"Hah Duren? Napa lu pagi buta dan nyampe sini? Pake loncat pager lagi. pan lu bisa nyalain bel sawit. Bikin Nyak kena darah tinggi aja lu wit." seru Saripah kaget saat mengetahui kalo orang yang ngajak pagar adalah Daren.


"Hehehe, maaf Nyak epek gak sabaran. oh ya Mak ngomong-ngomong Ayang beb Daren nginep di sini ya Nyak?" tanya Daren sambil matanya menatap ke arah rumah pohon.


"Lah, Nyak kagak tau Wit. Coba lu lihat sana di atas." perintah Saripah sambil menunjuk rumah pohon dengan ujung matanya.


Daren langsung bergegas berjalan dan menaiki rumah pohon, dia berusaha tidak menimbulkan suara untuk memberi kejutan pada Lola.


"SA-!" kata sayang yang meluncur dari mulut Daren tiba-tiba terpotong saat melihat pemandangan yang ada di rumah pohon itu.


..."Mahalnya kepercayaan tak semurah Penghianatan mu."...


...~Daren~...

__ADS_1


Bagaimana episode selanjutnya, apa yang bakal terjadi antara Darren, Lola dan Angga?


__ADS_2