Off Bucin

Off Bucin
Udara Dingin Hati Panas.


__ADS_3

Mata Daren terus menatap manik mata Lola seakan ingin menyelami lebih dalam isi hati pemilik mata hazel di depannya.


"Lepasin gak tangan gue!" Lola mendelik ke arah Daren.


"Ups, sorry terlalu nyaman." Daren langsung melepaskan tangannya dari lengan Lola.


"Beb, lo cemburu ya ma Bila?" tanya Daren berjalan beriringan di samping Lola.


Lola menghentikan langkahnya menoleh menatap Daren dengan wajah datar.


"Apa gue keliatan seperti orang cemburu?" tanya Lola dengan wajah datarnya.


Daren memperhatikan Lola lebih menelisik seakan ingin mencari kepastian Apakah cewek di depannya sedang cemburu atau tidak padanya.


"Gue bilang, gue nggak enak sama Nabila bukan gue cemburu sama Nabila. Paham kan lo Sueb ucapan gue?" ucap Lola seakan menyadarkan Daren akan perasaannya.


"Gue duluan Sueb, langsung balik lo jangan keluyuran." pesan Lola berjalan meninggalkan kan Daren yang masih berdiri terdiam.


"Lobar!" teriak Daren menghentikan langkah Lola dan membuat Lola menoleh ke belakang.


"Enggak ada satu nama cewek pun yang ada di hati gue selain nama lu. Nggak ada satu rasa pun yang gue simpen untuk cewek lain selain rasa cinta gue ke lu. Paham lo!" teriak Daren diantara bunyi jang krik, kodok dan burung malam.


"I LOVE YOU FULL LOLA ANGGRAINI!" lanjut Daren dengan suara lantang di tengah pekatnya malam.


Lola tampak kaget dengan pernyataan Cinta Daren, wajahnya seketika terlihat tegang untung saja hari gelap hingga tidak terlihat. Begitu juga orang-orang di sekitar danau yang tak terlalu ramai.


"Haiss, dasar Sueb gelo kadal sawah." gumam Lola tersenyum geli dan berbalik badan berjalan cepat meninggalkan Daren.


"Gue akan tunggu lo dan nggak akan berhenti, ampe kata sah cowok lain oleh penghulu." gumam Daren menatap punggung Lola yang Makin menjauh di telan pekatnya malam dengan senyum di bibirnya.


***


Pagi ini Lola kembali uring-uringan saat mengetahui motor matic kesayangannya tidak ada di garasi.


"Mah! siapa yang bawa motor Lola?" teriak Lola dengan muka cemberut dan mata membulat penuh.


"Motor Aa lagi rusak, jadi dia pakai motor kamu dulu. Paling juga cuma sehari ini doang sayang." ucap Saroh lembut karena dia tahu sikap Lola yang suka meledak kalau barang kepunyaannya dipakai oleh saudara yang. lain.


"Lagian kenapa sih ayah enggak bawa mobil aja, Kan Aa jadi bisa pakai motor ayah enggak usah pakai motor Lola." gerutu Lola dengan wajah kesalnya.


"Udah neng, kan cuma sehari doang. lagian tadi Mama udah minta tolong sama Tante Lia supaya Angga jemput kamu jadi kalian bisa bareng berangkat sekolah sama-sama." kata Saroh memberitahu.


"Hah? Mama suruh Ucup jemput ke rumah?" tanya Lola sambil mendelik ke arah mamahnya tak percaya sekaligus kesal.


TIINNNN


"Panjang umur tuh bocah. Tuh orang nya datang sayang, dah buruan berangkat." perintah Saroh sambil mendorong pundak Lola berjalan ke depan.


"Mama apaan sih! Lola gak mau berangkat bareng Ucup naik motor pantat nungging!" tolak Lola menahan tubuhnya agar tidak berjalan tapi dia kalah tenaga dengan mamanya.

__ADS_1


Saat mereka berdua sampai di pintu toko tampak Angga sedang duduk di motor matic vario warna putih milik Lia mamanya. Lola tampak kaget karena tidak seperti dugaannya, Angga yang biasa membawa motor Ninja kesayangannya sekarang membawa motor mamahnya.


"Makasih ya sayang. maaf jadi ngerepotin Angga," ucap Saroh berterima kasih.


"Nggak ngerepotin kok Mah, kita kan satu arah." balas Angga dengan ramah.


"Buruan sayang mumpung belum macet." Saroh mendorong pundak Lola mendekat ke motor Angga.


Wajah Lola tampak sekali kesal dengan bibir manyun. terlihat sekali dia begitu terpaksa naik ke motor Angga dengan posisi menjaga jarak.


"Assalamualaikum Mah," pamit Angga sambil mengangguk ke arah Saroh.


Saroh melirik kearah Lola sambil mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat agar Lola memberi salam sebelum pergi.


"(-...-) Ikum." ucap Lola hampir berbisik.


"Neng, salam itu do'a." Saroh mengingatkan.


"Assalamualaikum..," ucap Lola sambil memaksakan tersenyum.


Angga yang mendengar tersenyum tipis.


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati sayang." pesan Saroh.


Angga melajukan motornya perlahan menyusuri jalanan komplek perumahan. Lola yang duduk di belakang yang membonceng sibuk dengan HP di tangannya dia sama sekali tidak berpegangan.


Saat ada polisi tidur, Angga mengerem motornya mendadak membuat tubuh Lola hampir membentur tubuh Angga Untung saja kedua dua tangan Lola bisa menahan dengan cara mendorong tubuh Angga ke depan dengan kasar.


Angga menepikan motornya begitu motor berhenti Lola langsung turun. Hal itu membuat Angga menatap heran kepadanya.


"Turun lo Cup!" perintah Lola kepada Angga.


"Mau ngapain?" tanya Angga sambil menatap tajam seolah menantang kepada Lola.


"Turun aja dulu." jawab Lola.


Angga dengan wajah kesal menuruti keinginan Lola. Dia turun dari motornya. Lola naik ke motor Angga dan duduk di depan lalu dia mengatur posisi tas slempangnya di belakang


"Ngapain Lo Cendol! Turun gak lo." bentak Angga mendelik kesal ke arah Angga.


"Nggak! Lu naik atau gue tinggal!" dengus Lola tak mau kalah.


"Lo tuh ya-!" Angga menghardik dengan tangan mengepal kuat.


"Apa? Naik atau gue tinggal." Lola mulai starter motor Angga.


"Gila lo Cendol!" geram Angga mengerucutkan bibirnya hingga satu setengah senti.


Nggeengg

__ADS_1


Lola menyalakan mesin motor dan melaju pelan hingga membuat Angga tersentak kaget dan berlari mengejar.


"ITEMMM!" teriak Angga berlari mengejar motornya yang di kendarai Lola.


Begitu jarak sudah dekat Angga memegang besi pembatas jok belakang dan langsung melompat membonceng Lola di belakang. Tangan Angga mengepal di belakang kepala Lola seperti hendak memukul. Lola melirik lewat kaca spion tersenyum kecut.


Lola menambah kecepatan laju motornya membuat Angga harus berpegangan pada jok.


"Dasar gila Cendol! Kalau gue pegangan dia bisa dia ceburin motor gue ke kali kek dulu." batin Angga geregetan.


Ingatan mereka berdua kembali ke masa lalu saat kelas 6 SD, saat di mana Angga dan Lola sering menghabiskan waktu bersama naik sepeda menyusuri sungai depan komplek perumahan mereka yang berujung ke laut Jawa di ujung pantai Tanjung Pasir.


Lola yang nekat pernah sekali menceburkan sepeda yang mereka berdua kendarai ke sungai gara-gara Angga berpegangan pada pinggang Lola, hal ini di karenakan tubuh Lola yang terlalu sensitif apabila di pegang secara reflek atau tidak. Dari situlah Angga tau Lola tidak bisa bercanda dengan bersentuhan.


Angga tampak tersenyum setiap mengingat kejadian itu, begitu juga saat ini.


"Kenapa senyum!" teriak Lola diantara bunyi deru motor dan juga angin melirik Angga dari kaca spion.


Angga yang berpostur tinggi bisa terlihat dengan jelas ekspresi wajahnya lewat kaca spion oleh Lola, sehingga dia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Bahkan saat dia memalingkan muka ke arah samping sekalipun.


"Shitt!" dengus Angga geram langsung wajahnya berubah jutek dan Cool.


Lola menghentikan motor Angga di pertigaan jalan dekat sekolah mereka, Lola lalu turun dari motor Angga setelah menstandarkan motor.


"Nih. Thanks," ucap Lola menyerahkan helm yang dia pakai kepada Angga dan berjalan meninggalkan Angga.


Setelah menyimpan helm nya Angga melajukan motornya perlahan beriring dengan langkah Lola.


"Naik!" perintah Angga pada Lola tapi lelah tetap cuek berjalan tanpa menoleh kearah Angga.


"Gue bilang naik!" bentak Angga mulai kesal tapi Lola tetap cuek saja berjalan.


"Lu tuh ya Cendol-" geram Angga dengan wajah marah dan kesal tak menerus kan kalimatnya..


Lola menghentikan langkah kakinya menoleh ke arah Angga. Begitu juga dengan Angga menghentikan laju motornya. Mereka berdua saling menatap tajam.


"Siapa yang nyuruh kita gak saling kenal? Siapa yang nyuruh gue ngejauh dari lo? Please deh jangan gampang amnesia, gue cuma nepatin apa yang lo minta dan apa yang gue janjiin." ucap Lola datar dan dingin.


Angga diam terkatup mulutnya, dia tak bisa membalas apa yang Lola katakan karena memang semua adalah keinginannya dari awal


"Lobarrr! ngapain pagi-pagi perang dingin?" teriak Juwi yang terlihat sedang sarapan bubur ayam bersama Palupi.


"Woii! Udara yang dingin tapi hati dia yang panas!" balas Lola berteriak sambil melambaikan tangan ke arah mereka dan berlari kecil menyeberang jalan menghampiri mereka.


Angga sekilas menoleh ke arah mereka bertiga dengan wajah kesal.


"Mulut dan hati lo, gue tau bertolak belakang Cendol," gumam Angga lalu menyalahkan motor nya dan melaju menuju ke sekolah.


..."Kenapa kangen datangnya kayak hujan, tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi.Tapi selalu meninggalkan bekas"...

__ADS_1


...~Angga~...


__ADS_2