Off Bucin

Off Bucin
Kecelakaan


__ADS_3

Pagi ini matahari begitu terik. Sinarnya masuk melalui celah-celah pintu seakan mengajak untuk segera beranjak agar diri segera bergerak. Sinar mentarinya menyilaukan mata memaksa masuk lewat celah-celah jendela dan lubang angin kamarnya. Di mana tempat Lola terbaring sambil berselimut tebal dengan tubuh menggigil.


Pagi hari adalah waktu yang sangat sibuk sekaligus Pagi hari juga merupakan momen terindah untuk mengawali hari dan banyak manfaat jika bangun pagi. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menambah rasa semangat di pagi hari,


Tapi tidak begitu dengan Lola, teriakan Saroh dari lantai bawah seakan diacuhkannya. Tubuhnya terbungkus di bawah selimut dalam keadaan menggigil.


"Eeeeehhhhhhhh eeeeehhhhhhhh eeeeehhhhhhhh." meringkuk dengan tubuh bergetar di bawah selimut.


"Neng! NENGGGG!" kembali terdengar Saroh berteriak dari lantai bawah tapi sayang tak terdengar sedikitpun jawaban dari Lola.


Hal itu membuat Saroh penasaran, kenapa putrinya belum turun padahal waktu subuh sudah lewat beberapa puluh menit yang lalu. Saroh menaiki tangga menuju lantai atas lalu berjalan ke arah depan di mana kamar Lola berada tepat di belakang balkon.


"Neng. Neng," panggil Saroh sambil membuka pintu kamar Lola yang tak kuncinya karena kuncinya sudah rusak.


Begitu pintu terbuka lebar manik mata Saroh langsung menangkap pemandangan yang membuatnya membelalakkan mata di mana dia melihat gundukan selimut yang membungkus tubuh lola bergetar meringkuk.


"Sayang kamu sakit?" suara Saroh terdengar cemas buru-buru menghampiri Lola dan duduk di atas kasur yang terhampar di lantai.


"Astagfirullah Kamu demam Neng." pekik Saroh tertahan saat memegang kening putrinya yang demam tinggi.


"Maaaaaa.... kepala Lola berat muter-muter eeehhhh....." rengek Lola merebahkan kepala di kedua paha Saroh.


"Mama ambil kompres ya, Mama kompres kepala kamu. Tapi sebelumnya kamu salat dulu kalau nggak kuat dingin tayamum aja Neng sambil tiduran juga nggak papa." pesan Saroh sambil membelai rambut Lola dan sesekali dia menempelkan punggung telapak tangannya di tengkuk dan leher Lola serta dahi.


"I ....ya. hhhh," saut Lola dengan suara bergetar berusaha bangun dari tidurnya.


Saroh bergegas jalan keluar dari kamar Lola untuk mengambil kompres dan juga sedikit makanan serta obat agar demam Lola turun. Sementara dengan susah payah Lola berusaha duduk bersandar pada dinding kamarnya sambil memakai mukena dia menjalankan salat subuh dalam posisi duduk.


"Aaakkkk....makan dua suap dulu baru setelah itu minum obatnya biar demam kamu turun Neng.'" ucap Saroh dengan sabar menyuapi Lola makan nasi plus sayur bening bayam dan tempe goreng karena baru itu lauk dimasak oleh Saroh.


"Udah mah, pait," tolak Lola saat suapan yang ketiga hendak diberikan Saroh.


"Sekarang minum obatnya. Oh ya, hari ini kamu kuliah nggak Neng?" tanya Saroh sambil mengeluarkan gelas air putih di tangannya.


"Masuk siang mah." jawab Lola sambil kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Badan kamu Masih demam mendingan nggak usah masuk aja dulu Neng." saran Saroh pada Putrinya.


Melihat kondisi Lola sedang demam tinggi dan mengeluh sakit kepala membuat Saroh tidak tega membiarkan putrinya berangkat kuliah hari ini.


"Gak bisa mom, hari ini mata kuliah penting. Lola nggak mau ketinggalan. Ngikutin aja sering gak paham apalagi kalau ketinggalan." tolak Lola sambil kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Mah, Jan lupa jam setengah 1 bangunin Lola ya." pesan Lola sebelum memejamkan matanya.


Waktu terus bergulir menuju siang, sang Surya dengan teriknya mulai menyengat membuat dedaunan tertunduk layu. Saroh kembali menuju kamar Lola di lantai atas saat kumandang adzan dzuhur terdengar dari pengeras suara dari mushola yang letaknya tak jauh dari tempat mereka tinggal.


"Masih demam," gumam Saroh sambil menempelkan tangan di atas jidat putrinya.


Lola menggeliat manja sambil menguap dia mulai membuka matanya.


"Jam berapa mah?" sambil mengucek matanya.


"Setengah satu." jawab Saroh sambil memijat lembut kepala putrinya.


"Astaghfirullah! Mama kenapa nggak dibangunin Neng dari tadi," protes Lola langsung beranjak dari tidurnya berjalan terguyung menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah.


"Mama anter ya Neng." pinta Saroh saat mereka berjalan menuruni tangga.


"Nggak mau emang masih SMA apa diantar." tolak Lola sebelum menutup pintu kamar mandi.


"Ckck, keras kepala." gumam Saroh sambil menggelengkan kepala menatap pintu kamar mandi.


Ceklek


"Mah! Mandi gak?" tanya Lola tiba-tiba menyembuhkan kepalanya.


"Gak usah sayang, kamu kan lagi demam. Mandi minyak telon aja nanti." saran Saroh kepada Lola yang dijawab dengan acungan jempol.


Setengah jam kemudian Lola sudah rapi dan siap berangkat ke kampus Wajahnya tampak memerah karena suhu tubuhnya yang belum turun.


"Serius nggak mau diantar mama Neng?" kembali selalu bertanya mencari kepastian.

__ADS_1


"Gak Mama," kembali Lola menolaknya


"Berangkat bareng Angga aja Neng, Mama teleponin ya suruh dia datang ke sini jemput kamu," kembali Saron memberikan sarannya.


"NOOOOOOOOO!" teriak Lola dari kamar Saroh saat sedang merapikan riasannya.


"Payayo mom. Assalamualaikum." pamit Lola sambil mencium punggung telapak tangan kanan Saroh sebelum pergi keluar menuju garasi untuk mengambil motornya.


***


Jalanan tampak lengang saat Lola melajukan kendaraan roda duanya menuju kampus, udara panas bercampur debu dan asap kendaraan benar-benar membuat siapapun yang siang ini berada di luar rumah akan merasa benar-benar tidak nyaman.


Lola merasa pandangan matanya mulai berkunang karena kepalanya yang terasa berat dan nyeri luar biasa, belum lagi air mata yang terus keluar di kedua sudut matanya akibat demam tinggi tubuhnya.


"Astaghfirullah, sakit banget kepala gue." keluh Lola berusaha untuk tetap fokus mengendarai motor.


Saat hendak menyalip sebuah mobil box tiba-tiba ban mobil Lola slip dan membuat banting stir ke kiri dan karena jalanan licin membuat lelah hilang keseimbangan hingga mobilnya terguling di pinggir jalan.


BRUKKKK!!


"AAAAAAAWWW..!!" cerita lah begitu tubuhnya jatuh bersamaan dengan motor yang menghimpitnya.


Beberapa orang yang kebetulan ada di pinggir jalan bergegas berlari membantu Lola termasuk dua orang satan di sebuah pabrik besar yang ada di sekitar situ.


"Astagfirullah dek! Ngantuk ya? kok bisa jatuh. hati-hati dek kalau bawa motor." seru seorang siapa yang langsung membantu membangunkan motor.


Dibantu oleh beberapa orang Lola di bawa ke sebuah pos security yang ada di pabrik seberang jalan di mana Lola kecelakaan.


Mata Lola berembun ingin rasanya dia menangis tapi dia malu dikerumuni beberapa orang bapak-bapak membuat Dia hanya bisa menundukkan kepala sambil memegangi sikutnya yang terluka.


"Telepon orang tuanya dek minta dijemput buat dibawa ke klinik atau rumah sakit itu lukanya cukup parah." saran seorang satpam.


Lola meringis menahan sakit, lalu dia mengambil hp-nya dengan hubungi nomor Saroh .


"Mama.....Eneng jatuh." suara Lola terdengar lemah.

__ADS_1


.


__ADS_2