
Siang jelang sore ini sepulang sekolah Lola tidak langsung pulang, tapi dia dan teman tim kerkom drama langsung menuju rumah Rara. Dia adalah salah satu anggota tim kerkom dramanya.
Mereka sepakat untuk melakukan latihan perdana bersama. Oleh Pak Alvin mereka dikasih waktu satu minggu untuk latihan dan membuat properti kerkom drama.
"Kenapa gak di rumah gue aja tadi kerkom nya." batin Angga begitu tahu kondisi rumah Rara yang ramai dan juga sempit.
Rara 4 bersaudara tinggal di komplek perumahan dengan tipe rumah luas tanahnya 90 meter yang sudah di renovasi full habis, tak beda jauh dengan rumah Lola hanya saja rumah Rara satu lantai jadi sudah pasti terkesan sempit.
"Men, kita iuran berapa nih untuk bikin propertinya buat drama ini?" tanya Rafi teman sebangku Angga yang berperan sebagai bagindo Sulaiman.
"Jangan gede iurannya dong." timpal Rara yang datang ke ruang tamu membawa baki ditangannya berikut Nutrisari rasa mangga seteko besar dan beberapa gelas.
"Sorry ya adanya cuma minum man teman, nyokap gue lagi pergi ke rumah uwak di lebak." ucap Rara merasa tidak enak.
"Sans aja bestie, lagian kita kan tadi dah jajan di kantin pas istirahat." saut Imelda yang berperan sebagai istri Datuk maringgih orang cina.
"Gaess, gue keluar dulu bentar. Mel pinjam motor lu." Lola tiba-tiba minta izin keluar.
"Mau kemana tuh Cendol, dah sore juga bikin lama kerkom aja." batin Angga terlihat kesal.
"Woii! Jangan pakai lama bisa kemaleman kita!" seru Angga setelah sudah keluar sedang memakai sandal di teras.
Tak ada sahutan dari Lola.
"Wi, ikutin tuh cendol." perintah Angga.
Juwi yang sedang serius menghafalkan dialog perannya tidak menanggapi perintah Angga.
"WI" seru Angga dengan nada kesal.
"Apa sih Cup, lu ganggu konsentrasi gue aja deh. Biarin aja Cendol lo kluyuran. Paling juga dia cari makanan," saut Juwi kesal.
Angga membulatkan matanya lalu bergegas berdiri dan keluar dari rumah Rara untuk menyusul Lola. Saat Angga ke luar pagar dia masih melihat Lola di ujung belokan Gang. Angga langsung naik ke motornya buru-buru dan men-starter untuk menyusul Lola.
"Kelakuan gak pernah berubah, dasar tukang ngemil." gumam Angga saat melihat Lola berhenti di sebuah minimarket yang ada di depan komplek perumahan tempat Rara tinggal.
Angga turun dari motornya lalu dia berjalan masuk ke dalam supermarket, mata Angga celingukan mencari sosok Lola. Angga berjalan dari 1 lorong rak ke rak yang lain. Saat ada di barisan rak cemilan snack manik mata Angga menangkap Lola yang sedang mengambil beberapa snack untuk dimasukkan ke dalam keranjang nya.
Angga bersembunyi di ujung rak dia berjalan pelan di lorong rak sebelah Lola sambil mengintip Lola yang tak menyadari kehadiran nya. Lola terlihat sedang sibuk memilih beberapa cemilan snack, terlihat tas keranjangnya hampir penuh.
__ADS_1
"Dia gak pernah berubah, terlalu peduli dengan teman." batin Angga.
"Rasa barbeque," gumam Lola sambil tangannya mengambil snack rumput laut rasa barbeque.
Mata Angga membulat melihat snack yang baru saja Lola ambil karena itu adalah snack favorit nya.
"Cendol, lu masih ingat aja snack kesukaan gue," batin Angga.
Lola berjalan menuju kasir yang kebetulan siang ini sepi, setelah kasir menghitung semua belanjaannya yang lumayan banyak Lola mengambil kartu ATM sang mama yang selalu dia bawa di balik casing hpnya dan menyerahkan pada kasir.
Tangan panjang Angga dari belakang mengambil kartu ATM Lola yang ada di tangan kasir dan sekilas dia melihat nama pemilik kartu itu.
"Pakai ini aja mbak." ucap Angga menyerahkan kartu debit miliknya.
"U-cup!" seru Lola kaget dengan mata membulat melihat Angga sudah berdiri di belakang nya.
"Jangan mbak pakai ini aja." Lola menyerahkan kartu ATM miliknya dan mengambil ATM Angga dari tangan kasir.
"Simpan aja kartu Ma-" ucapan Angga terpotong karena mulut nya di tutup pakai HP Lola.
"Minggir lo." Angga menggeser pundak Lola dan mengambil kartu ATM Lola dari tangan kasir lalu menggantinya dengan ATM-nya.
"Dah jelek tuh bibir Jangan dimanyun manyunin tambah jelek aja tuh bibir." ledek Angga dengan wajah datar.
"Dek, pacarnya jangan di jelekin. Cantik gitu kok." ucap Mbak kasir pada Angga.
"Huh!" dengus Lola lalu berbalik badan meninggalkan Angga keluar dari minimarket.
"Tuh kan jadi ngambek ayangnya." goda mbak kasir.
Angga hanya membalas dengan senyum tipis.
"Makasih mbak." ucap Angga menyambar kantong kresek berisi snack dan kartu ATM-nya.
Angga bergegas jalan menyusul Lola, saat Lola hendak menyalakan motornya Angga menahan motor Lola dengan memegang stang motor.
"Nih, bawa." Angga menaruh kantong kresek berisi cemilan di stang motor Lola lalu dia berjalan ke motornya yang ada disebelah motor Lola
Lola hanya diam berwajah datar. Angga tiba-tiba berbalik badan berjalan kearah Lola dan membuka kantong kresek cemilan. Angga memasukkan tangannya ke dalam kantong kresek dan mengambil sesuatu di dalamnya
__ADS_1
"Ups, lupa," ucap Angga saat di tangannya menggenggam snack rumput laut rasa barbeque.
"Thanks Cendol." Angga kembali berjalan ke motornya lalu melesat pergi terlebih dahulu meninggalkan Lola yang duduk Bengong di atas motornya.
"Ucup Maringgihhh! Kenapa lo selalu bikin hidup gue labil kek lo!" geram Lola kesal bercampur geregetan.
***
Palupi di temani Daren sedang menunggu teman-temannya di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari sekolah mereka, tim drama mereka sepakat untuk berkumpul melakukan latihan drama bersama di rumah Nabila.
"Pal, Bebeb gue pernah gak nyeritain gue?" tanya Daren pada Palupi sambil menikmati kopi pahit di tangan.
"Nyeritain apa maksud lu?" Palupi bertanya maksud arah pembicaraan dalam.
"Apa aja. Kayak semisal perasaan dia tuh gue gimana atau mungkin akhir-akhir ini dia cemburu sama seseorang yang lagi deket sama gue?" tanya Daren lebih memperjelas
"Gak ada tuh." saut Palupi.
"Tapi kenapa doi bahas Nabila ya semalam?" tanya Daren sedikit heran.
"Nabila? Maksud lo apa sih, gue makin gak paham Sueb?" tanya Palupi sambil mengerutkan dahi menatap kearah Daren.
"Lobar bilang dia gak mau kita deket karena gak enak sama Bila." jawab Daren wajahnya juga tampak terlihat bingung.
"Hah? Nggak mungkin Lomut ngomong kayak gitu." jawab Palupi tak percaya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi bener semalam dia ngomong kayak gitu, kata doi dia nggak bisa lagi deket sama gue. Karena nggak enak sama Bila." jelas Daren dengan nada ada heran dan juga tak bersemangat.
"Masa sih? Tar coba gue tanya na Lomut," saut Palupi.
Di balik dinding pemisah kafe Nabila yang Sudah beberapa saat datang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Lola nyuruh Daren jauhin dia karena gue?" gumam Nabila hampir berbisik.
"Mungkin ini bisa jadi kesempatan gue untuk lebih dekat dengan Daren. Yes thanks La." batin Nabila berbisik.
..."Kalau makanan bergizi itu penyeimbang tubuh, kalau kamu adalah penyeimbang hidupku"...
...~Daren dari Imut~...
__ADS_1