Off Bucin

Off Bucin
Kirain Pranks


__ADS_3

Wajah cemas tampak sekali terlihat di wajah Lola, di ruang tunggu IGD Lola tampak berdiri berjalan lalu kembali duduk di kursi tampak sekali Dia tidak tenang.


"Lo udah hubungi bokap sama Aa lo?" tanya Angga sambil mengerutkan dahi.


"Hah? Lo kata apaan barusan Cup?" Lola balik bertanya dia benar-benar tidak bisa konsentrasi saat ini pikirannya.


"Duduk sini." Angga menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Lola berjalan lemas mendekati Angga lalu duduk di sebelah Angga dan Lia, tapi matanya tak lepas memandang ke arah pintu penghubung ruang IGD.


"Ayah sudah kau hubungi sayang?" tanya Lia lembut sambil mengusap punggung Lola.


Lola tertunduk sambil mengangguk


"Iya tan sudah, tapi ayah lagi di Bandung." ucap Lola lirik.


"Aa Anzal sudah kamu telepon juga?" Saroh kembali bertanya.


Lola menjawab dengan anggukan lemah.


"Keluarga Saroh!" Panggil perawat dari pintu penghubung IGD.


"Iya saya!" Lola langsung bergegas menghampiri perawat itu.


"Adek masuk ke dalam dipanggil sama dokter." kata perawat itu menyampaikan pesan dokter.


Lola masuk ke dalam ruang IGD untuk menemui dokter, dokter menyarankan agar Saroh dirawat, Lola tampak bingung untuk mengambil keputusan.


"Dokter aku mau ngomong dulu sama mama." ucap Lola meminta izin.


"Silahkan dek," dokter sepertinya dia tahu Lola tidak bisa mengambil keputusan sendiri.


Lola berjalan menuju bangkar di mana Saroh sedang terbaring lemah, Lola meraih tangan yang sudah mulai tampak keriput dalam genggamannya lalu dia mencium punggung telapak tangan itu hingga membuat mata Saroh terbuka.


"Mama, Kata dokter Mama harus dirawat," ucap Lola terdengar lemas.


"Bilang sama dokter Neng, mama minta rawat jalan saja kasihan adik-adik kamu. Ayah kan lagi nggak ada juga, minta obat yang paling bagus," pinta Saroh kepada Lola agar bicara pada dokter.


"Tapi mah kalau nanti sakit Mama tambah parah gimana?" tanya Lola dengan khawatir.


"Udah jangan dipikirin, kalau Mama di sini yang ada Mama makin parah Neng. Udah sana bilang mama mau pulang gak mau di rawat, " bisik Sarah di telinga Lola takut terdengar para perawat.


Lola mengangguk lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sarah dan berjalan menuju kembali ke meja dokter

__ADS_1


"Dokter Mama saya pengen pulang aja, kalau bisa kasih obatnya yang paling bagus mahal juga nggak papa. Kalau nggak dijamin BPJS nanti kita beli deh pakai duit sendiri, pokoknya yang penting Mama bisa pulang rawat jalan aja," kata Lola kepada dokter menyampaikan pesan sang mama.


"Ya sudah kalau begitu, tapi Adik harus tanda tangan surat keterangan kalau pasien dan keluarga pasien tidak ingin dirawat," pesan dokter kepada Lola.


Lola kembali berjalan keluar dari ruang IGD untuk menuju loket kasir guna mengurus kepulangan Saroh. Saat di depan ruang tunggu Lola tidak melihat keberadaan Angga, tapi manik matanya menangkap Daren yang sedang duduk sendiri di bangku tunggu pasien dekat laboratorium dengan wajah tegang.


"Lobar!" Daren langsung berdiri dari duduknya melangkah berjalan mendekat kearah Lola dengan kantong kresek di salah satu tangannya.


Lola tak memperhatikan Daren matanya berputar mencari keberadaan Angga, Daren melirik Lola.


"Dia kembali ke ruang ICU setelah mendapatkan telepon." Daren berkata datar Sepertinya dia tahu apa yang sedang dicari Lola.


"Ohh." satu kata yang keluar dari mulut Lola.


"Semoga Om Hengky baik-baik saja Ya Allah." batin Lola.


"Nih," Daren mengulurkan 1 botol air mineral dingin pada Lola.


Lola menatap Daren ada senyum tipis di wajahnya menerima air mineral dingin kesukaannya.


"Lo selalu tahu apa yang gue butuhin kalo gue panik," ucap Lola sambil melangkah berjalan menuju sebuah bangku yang berderet dan mendudukkan bokongnya di salah satu bangku.


"Hmmm." saut Daren ikut Duduk di sebelah Lola sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Gimana keadaannya nyokap lo? Apa nyokap lo perlu dirawat?" tanya Daren serius.


"Kondisinya udah mulai sedikit membaik tapi Mama pengen minta pulang pengen rawat jalan aja. Oh ya, tolong lu masuk kedalam jaga Nyokap gue, gue mau ke kasir dulu buat urus kepulangan nyokap." pinta Lola kepada Daren.


"Oke beb, Semangat ya. Gue yakin Tante bakal baik-baik saja beb," ucap Daren memberi semangat.


Lola menatap Daren dengan sedikit lengkung di kedua sudut bibirnya sambil mengangguk sebelum pergi berjalan meninggalkan Daren menuju kasir.


"Semangat zezenk, gue akan selalu ada buat lo. Mau lo minta apa nggak." gumam Daren optimis tak patah semangat menatap punggung Lola yang berjalan makin menjauh.


Setelah sejam mengurus administrasi kepulangan dan mengambil obat di apotek Lola dan Saroh diijinkan keluar dari rumah sakit. Daren yang sigap seperempat jam sebelum Lola dan Saroh ke luar dari rumah sakit sudah memesan taksi online.


Begitu sampai di rumah, Saroh Langsung istirahat di kamarnya sementara Lola pergi ke teras menemui Daren yang sedang duduk di teras seorang diri.


"Thanks cok, untung ada lu yang bantu gue." ucap Lola mendudukkan bokongnya di kursi teras samping Daren.


"La," panggil Daren lirih.


"Ya." saut Lola singkat dengan mata terpejam sambil menyandarkan tubuh lelahnya di dinding.

__ADS_1


"Pacaran yuk," ajak Daren tiba-tiba membuat mata Lola seketika terbuka dan membulat sempurna.


Lola menoleh ke samping menatap Daren dengan wajah serius sambil bibirnya terkatup rapat.


"Yuk." jawab Lola sambil mengangguk yakin.


Daren menatap manik mata Lola dalam dengan mata berbinar.


"Serius Lo?" tanya Daren ingin memastikan.


"Serius." Lola menjawab dengan mimik serius tanpa canda.


Lola dan Daren saling menatap serius. Hampir lima menit mereka diam saling tatap tanpa berkedip.


"Hahaha! Sueb, lo bercandanya main ngajak pacaran aja hahahaha." kata Lola tak bisa menahan tawa dia menganggap Daren sedang bercanda.


Mata Daren langsung melotot ke arah Lola terlihat sekali wajah kesalnya dengan tanggapan Lola yang sedang tertawa terbahak.


melihat wajah Daren yang serius Lola menjadi salting. Lola langsung menghentikan ketawanya dan menatap Daren serius.


"Sueb, muka lu napa sangar gitu. Gue salah ngomong ya?" tanya Lola dengan perasaan tidak enak.


"B**o lo." ucap Daren datar tapi jelas sekali ada kemarahan besar dari kata singkatnya.


"Lo serius ini Eb?" tanya Lola makin nggak enak setelah membuat Daren marah.


Daren berdiri dari duduk nya lalu berjalan ke keluar pagar menaiki motor trailnya.


"Lah tuh bocah serius? Gue kirain Sueb lagi ngeprank guee." ucap Lola masih berdiri tertegun.


Daren menoleh ke arah Lola dengan tatapan tajam dan bibir mengerucut.


"Dasar Lola! Loding lu lama!" dengus Daren lalu memacu motornya meninggalkan rumah Lola.


Lola masih tertegun melihat Daren dengan muka kesal meninggalkan dia di teras rumah nya.


"Dia serius😳." gumam Lola masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Daren.


"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH SAUDARA ALMARHUM HENGKY BIN ABDULAZIZ ADIK DARI IBU LIA HANDAYANI YANG BERALAMAT DI BLOK SG1 NO 17"


Sayup-sayup Lola mendengar kabar kematian Hengky paman Angga.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un, Ucup pasti sedih." Lola berbisik pikiran nya langsung tertuju ke Angga.

__ADS_1


..."Ucapkan suka mu saat waktu masih berpihak padamu, jangan sampai rasa sukamu menguar oleh waktu dan tak tersampaikan...


...~Daren~...


__ADS_2