
Angin malam di tepi danau Cipondoh terasa kencang dan membusuk tulang, jaket jeans yang dipakai oleh Lola melindungi tubuhnya dari hawa dingin rasanya tak mampu melindungi kulit dan tubuhnya dari terpaan hawa dingin hingga membuat Lola menyilangkan kedua tangannya depan dada memeluk erat tubuhnya sendiri.
Daren yang melihat hal itu langsung melepas Hoodie warna putih yang sedang dipakainya.
"Pakai ini Yank," ucap Daren mengulurkan tangannya dan membantu memakaikan Hoodie Itu dengan perlahan.
Lola menatap wajah Daren, ada rasa bahagia dan syukur luar biasa atas perlakuan yang Daren diberikan kepadanya hingga dia seperti anak kecil yang nurut dipakaikan hoodie oleh Daren
"Begini lebih hangat kan sayang?" satu kalimat tanya Daren yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban.
Kedua tangan Daren memakaikan penutup hoodie. Lola menengadahkan wajahnya menatap Wajah pria tampan yang sudah mengisi hari-harinya selama ini dengan penuh binar cinta di matanya.
"Apa yang akan Lo katakan sama Nabila By?" satu kalimat pertanyaan yang membuat Daren seperti tersentil ingatannya akan Nabila.
"Hhffff," Daren menarik nafas dalam.
"Gue akan bilang kalau semua ingatan Gue sudah kembali, dan sekalian pamit kalau gue nggak bisa ada di samping dia seperti biasa Karena Gue nggak mau nyakitin hati bidadari Gue," saut Daren menatap dalam manik mata Lola sambil tersenyum manis.
Bushing.
Seketika di bawah temaram lampu wajah Lola tampak merona tersipu malu, lalu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Daren.
"Dih, gombal banget." celetuk Lola cemberut.
"Tapi seneng kan di gombalin Abang?" tanya Darren menggoda sambil memajukan wajahnya.
"Ihh, apaan sih! Lagian ngapain sih deket-deket, kondisiin tuh bibir Jan terlalu deket!" seru Lola memundurkan tubuhnya agak menjauh.
"Eh, iya takut ada syaiton lewat ya yang." ucap Daren sambil mengatur kembali posisinya ke semula.
"By, boleh saran nggak?" tanya Lola sedikit ragu.
"Saran apa sayang?" saut Daren balik bertanya.
"Jangan bilang dulu sekarang sama Bila, Gue tau kondisi kesehatan dia lagi tidak baik-baik saja. Nabila pernah bercerita sama Gue kalau Dia menderita penyakit serius katanya kanker hati. Apa itu benar?" tanya Lola mencari kepastian.
Daren tak menjawab Dia hanya mengangguk lemah dengan wajah seperti sedang memikirkan perkataan Lola.
"By, gue mau ngomong sesuatu sama Lo sekaligus gue juga mo tanya, tapi janji Lo harus jawab jujur." ucapan Lola membuat Daren mengernyitkan dahi.
"Iya sayang, iya. Lagian mana pernah sih Gue nggak jujur sama Lo." saut Daren dengan meme lucu dan polos menatap ke arah Lola.
__ADS_1
"Dih, bisa gak sih tuh muka di bikin gak usah sok imut," protes Lola mencibir ke arah Daren.
"Yaelah yang yang, udah dari sononya kali nih muka gue emang imut tanpa dosa kayak gini," dengan narsisnya Daren menyombongkan diri untuk menggoda Lola.
"Masbo, gak nanya." saut Lola pura-pura kesal.
"Lagi ngambek aja cantik and gemesin, jadi gak heran sih kalau senyum kaya bidadari." goda Daren dengan tatapan penuh cinta membuat Lola kembali mengulum senyum.
"Yank, Lo tau gak-?" tanya Daren terpotong dengan sautan Lola.
"Gak." potong Lola.
"Haiisstt! pertanyaan belum terlempar udah main potong aja lu Beb." protes Daren.
"Lagian yang bikin pertanyaan aneh. Lo tuh sebetulnya mau nanya apa ngasih tahu? Kalau nanya, ya nggak usah ada kata lu tahu nggak? Ya udah jelas nggak tahu orang belum dikasih tahu Udah tanyain dulu Lo tahu nggak." cerocos Lola mulai terlihat bawelnya.
"Iya sayang, iya Abang yang salah dah." ucap Daren mengalah tak ingin panjang lebar melayani Lola jika mulai keluar bawelnya.
Selama lebih dari 3 tahun mengenal dan dekat dengan Lola hingga menjadi sepasang kekasih Darin adalah sosok yang sabar, pengertian perhatian dan juga sangat penyayang jika berhadapan dengan Lola.
"Oh iya yang, tadi kamu mau ngasih saran sama Abang. Saran apa," tanya Daren lembut kepada Lola.
"Ditanya malah senyum." ucap Daren gemes melihat sikap Lola.
"Emang Lo pengen ya dipanggil Abang?" tanya Lola penasaran.
"Ya pengen aja kayak orang-orang yang ayang-ayangan di sono Beb, mereka pada panggil abang adek gitu." jawab Daren lemas.
"Lo tahu kan, Gue udah punya panggilan spesial buat Lo. Jadi ngapain Kita harus kaya orang lain, itu namanya nanti nggak spesial By." ucap Lola menjelaskan.
Senyum merekah di bibir Daren dengan binar cinta dan kagum pada Lola.
"Iya sayang iya, terserah deh apapun Lo panggil Gue selama Lu yang manggil Gue akan tetap merasa bahagia." ucap Daren menyenangkan hati Lola.
"Lagian panggilan hubby itu kan bagus daripada Abang, minimal kalau lagi di tempat umum ada yang panggil abang Lu nggak langsung nengok tapi begitu ada yang panggil By, Lu langsung tahu yang manggil itu pasti Gue bukan cewek lain." jelas Lola membuat dari menggaruk kepalanya.
"Iya sayang Iya itu panggilan teristimewa dari Lu buat Gue khusus buat gue thank you sayang." ucap terima kasih Daren kepada Lola memasang wajah imut.
"Oh, ya yang. Tadi kamu mau kasih saran apa?" tanya Daren kembali ingat perkataan Lola.
"Oh iya, Gue hampir lupa. Kalau menurut gue apa nggak sebaiknya kita rahasiain dulu dari Nabila tentang ingatan Lo yang udah pulih. Gue tahu Nabila butuh banget sama Lu dan dia bergantung banget sama Lu juga. Gue juga tahu Nabila suka sama Lu seperti halnya Gue sayang sama Lo. Kalau misalnya lu tiba-tiba ngomong mau ninggalin dia, sementara dia dalam kondisi sakit apa lu tega? Gue takut kita berdua merasa seperti sepasang kekasih yang jahat buat dia." ucap Lola nadanya makin melemah.
__ADS_1
Daren terdiam seperti sedang mencerna perkataan Lola.
"Tapi ini bakal nyakitin Lo Yank," kata Daren mengingatkan.
"Jujur, sedikitnya pasti ini bakal nggak nyaman buat Gue, dan bikin sedikit gue cemburu. Tapi karena alasannya kita tidak ingin menyakiti orang lain dan Gue percaya banget hati lu cuman buat Gue, Gue ikhlas kok." saut Lola. begitu yakin dengan kata-katanya.
"Yang, ternyata bener ya apa kata orang, kalau cinta itu punya sejuta rasa dan dipenuhi Indah berjuta warna. Apalagi orang yang kita cintai punya hati yang bersih sebening embun seperti hati kamu Yank. Gue bersyukur punya Lo Beb," puji Daren atas ketulusan hati Lola.
"Ada cinta yang tak harus diungkapkan di hadapan orang banyak tapi cukup dirasakan, dinikmati dan juga di syukur. Gue rasa itulah Cinta Kita By." ucap Lola dengan tatapan sendu membuat debar hebat didada.Daren.
"Allah itu sayang banget ya Yang sama Gue, Lu dihadirkan Allah buat menyempurnakan hidup Gue dan juga melengkapi kekurangan diri Gue," puji Daren atas kebaikan hati dan juga sikapnya.
Lola terharu mendengar kata-kata Daren yang begitu tulus menyentuh hatinya.
"Dan Lo adalah anugerah terindah yang Gue miliki, cuma Lo satu satunya yang paling teristimewa By." balas Lola membuat pipi Daren bersama merah karena bahagia.
"Thanks Yank, kamulah satu-satunya
Bidadari cinta yang Allah kasih buat dampingi hidup Gue." kata Daren penuh syukur membuat kedua mata Lola berembun.
"Sudah malam By, gue harus pulang ya pasti Mama cemas nunggu Gue." ucap Lola saat melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Iya, ayo Gue antar Lo." ajak Daren mulai beranjak berdiri. Begitu juga dengan Lola.
Keduanya berjalan ke parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. sepanjang perjalanan pulang Lola dikawal oleh mobil Daren. Sesekali mobil Daren sejajar dengan motor Lola dan setiap itu pula dari memberikan kiss bye.
"I LOPE YOUUUUU YANGGGGG!!" teriak Daren memecah sunyi dan pekatnya jalanan malam.
Lola hanya membalas dengan senyum sambil menggas motornya mendahului mobil Daren.
"Oh Tuhan terima lah doaku jaga Lola buat Sueb ya Robb, jaga hati Sueb juga buat Lola." dalam laju motornya Lola menyematkan sebait doa.
...Kamulah satu-satunya...
...Yang paling teristimewa...
...Kamulah satu-satunya...
...Bidadari cinta...
...Daren 🖤 Lola...
__ADS_1