Off Bucin

Off Bucin
Empat Mata


__ADS_3

Lola menarik nafas panjang saat jarak antara dirinya dengan Darren dan Nabila tinggal beberapa langkah niat di hatinya sudah mantap bahwa dia ingin bicara empat mata dengan Daren.


"Bil, gue boleh nggak bicara sama Daren sebentar?" tanya Lola dengan tenang.


"Lu kenal gue?" tanya Daren sampai memperhatikan wajah Lola lebih cermat.


"Iya Ren, Lola teman kita satu SMU." saut Nabila sambil melirik Darin dan Lola bergantian.


"Ren, lo Kalau cari gue. Gue ada di kantor Om Gunawan ya." ucap Nabila sambil beranjak dari duduknya memberi tempat kepada Lola.


"Makasih Bil." ucap Lola sambil tersenyum tipis.


Begitu Nabila menjauh dan pergi meninggalkan mereka, Lola duduk di tempat bekas Nabila duduki yaitu berhadapan langsung dengan Daren.


Deg deg deg deg deg


Jantung Lola berdetak dengan kencang dan tak beraturan, pelipisnya mulai ditumbuhi kristal-kristal bening. Kedua telapak tangannya ada di pangkuannya saling meremas mulai terasa dingin karena keringat yang keluar.


Daren memperhatikan wajah lola dengan seksama sambil menatap datar. sementara Lola sesekali menunduk tanpa berani menatap Daren terlalu lama.


"Thanks." ucap Daren memecah keheningan di antara mereka berdua.


Lola mengangkat wajahnya menatap Daren dengan wajah sedikit bingung.


"Hah? Thanks untuk apa?" tanya Lola tak mengerti.


"Noh." jawab Daren dengan isyarat pandangannya ke arah lengan Lola yang tertutup blouse warna hijau muda.


"Ohh." saut Lola terlihat gugup.


"Ya Allah. Biarkanlah diri ini untuk mencoba mendekatinya, tolong bantu hamba ya Robb." batin Lola menyematkan sebaik doa pengharapan.


"Oh ya. Kata Bila tadi kita pernah satu sekolah di SMU, apa kita juga satu kelas? Sorry banyak hal yang gak gue ingat setelah kecelakaan itu. Dan gue juga nggak ingat kecelakaan apa yang sudah terjadi." ucap Daren datar menatap Lola.


Lola menatap mata Daren seperti sedang mencari sesuatu.


"Kemana sorot mata penuh cinta itu by?" tanya Lola dalam hati lalu tertunduk lagi karena rasa sesak di hatinya menahan air yang mulai menggenang diantara sudut matanya.


Lola memejamkan matanya untuk sesaat lalu dia kembali menengadahkan kepalanya menatap cowok keren yang dulu selalu menghiasi hari-harinya.


"Tidak, kita beda kelas. Gue anak MIPA dan Lo IPS." saut Lola dengan suara setenang mungkin, tapi masih terdengar ada getaran di antara suaranya.


"Ohh. apa kita dulu dekat?"

__ADS_1


Deg


Jantung Lola serasa ingin berhenti, kalimat pertanyaan yang sangat diharapkan keluar dari bibir Daren akhirnya meluncur juga membuat Lola menelan ludahnya.


"Iya, deket banget bahkan sangat dekat." ucap Lola mulai tak kuasa menahan air mata tapi tetap di bendung agar tak jatuh.


Dilupakan oleh orang yang masih hidup ternyata sesuatu yang sangat menyakitkan yang membuat hatinya terasa teriris iris.


"Oh ya, kalau boleh tahu siapa nama lu?" tanya Daren mulai serius mendekatkan wajahnya ke arah Lola.


"Gue lo-,"


"Cendol item. Itu nama panggilan dia." saut Angga tiba-tiba sudah berdiri di belakang Lola duduk.


"Ucup!" bentak Lola menoleh sambil menatap tajam Angga.


"Hahaha serius nama dia cendol item?" tanya Daren sambil tertawa.


"Bukan, nama gue bukan itu, tapi nama gue Lola Anggraini." ucap Lola menyebut nama lengkapnya.


Darin yang terbahak tidak fokus pendengarannya dia hanya menangkap nama belakang Lola yaitu Anggraini.


"Oh iya, kalau gitu gue panggil lo Raini daripada cendol item hahaha." kata Daren masih terbahak jika menyebut cendol item.


NGGGGGGGGGG


Bunyi sirene tanda jam isoma berakhir berbunyi nyaring memekakkan telinga.


"GC Ndol, Lo mau kena hukum." seru Angga sambil menarik kerah baju Lola.


"Ucup apaan sih Lo! Gaje!" ujar Lola kesal.


Daren yang melihat adegan itu menatap dengan senyum.


"Pasangan yang cocok." monolog Daren lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kantor Rektor.


Lola hanya bisa menatap punggung Daren yang semakin menjauh.


"Berikan gue waktu by, gue yakin Lo bakal inget gue lagi, tapi kenapa keadaan seakan gak berpihak ke kita." batin Lola merintih.


"Belum saatnya Lo kasih tahu semua tentang masa lalu kalian berdua." nasehat Angga dingin.


"Kenapa?" tanya Lola mulai berlinang.

__ADS_1


"Karena dia belum pulih sekali, kalau mau di paksa dia mungkin akan mengalami sakit jika mengingat masa lalu. Luka yang dialami bukan luka ringan Jadi lu nggak perlu maksain buat dia mengingat semua sekarang. Gue yakin pelan-pelan semua kenangan antara kalian bakal dia ingat lagi. kuncinya satu buat Lo sa-bar." nasehat Angga bijak kali ini membuat Lola terduduk lemas.


"Dekati dia sebagai teman, insiden kemarin di cafe mungkin bisa jadi peluang buat lo deket sama dia lagi." saran Daren.


"Lo akan sering ketemu empat mata sama dia seperti yang Lo mau." kembali Angga berkata.


Saran yang bertolak belakang dengan isi hatinya tapi Angga tetap berusaha untuk sportif kembali mendapatkan cinta Lola. Bukan dengan memanfaatkan keadaan tapi menjadi sahabat yang selalu ada untuk Lola dan berharap suatu hari nanti waktu akan berpihak kepadanya.


"Sulit banget sih by untuk katakan cinta sama Lo. Hati gue rasanya takkan bisa lebih lama untuk memendam rasa ngungkapin semua perasaan gue. Terlalu sulit ternyata untuk sekedar bicara empat mata sama Lo, buat bilang kalau aku cinta kamu by." ucap Lola dalam hati tanpa terasa air mata makin banjir di pipinya.


"Nih, hapus bendungan yang luber ke pipi Lo. Jangan sampai orang salah kira kalau Lo nangis gara-gara gue." kata Angga sambil menyerahkan satu tangan hitam miliknya.


"Ma hiksss kasih Cup." ucap Lola tersedu-sedu.


***


Waktu beranjak tanpa terasa, matahari senja mulai naik ke peraduan, langit gelap berbintang menggantikannya. Rangkaian acara puncak penutupan ospek di gelar dengan sangat meriah di ballroom dengan pentas bintang stand up komedi


"Di sini mahasiswa semua kan ya?" tanya sang komedian bertubuh tambun.


"YAAAA!" jawab para mahasiswa serempak.


" kalian pasti merasakan selama ospek dua hari ini para senior yang duduk paling depan ini memberikan pasal-pasal. Dan pasti pasal yang pertama adalah senior tidak pernah salah atau benar?" kata komedian itu di sambut tawa riuh.


"BENARRR!" jawab para mahasiswa serempak di iringi tawa.


"Terus pasal ke dua kalau senior salah kembali ke pasal satu, bener apa bener?" tanya sang komedian makin riuh suasana ballroom dengan tawa dan teriakan huuuu


dari Maba ke arah para senior.


"Dan yang paling sering terjadi adalah kalau ada Maba cantik yang terlambat datang di bebasin masuk dengan senyum karismatik. Bener gak?" tanya komedian itu


"BENERRRR!" saut para Maba.


"Tapi kalau si Upik abu beda lagi, walaupun gak telat, syarat atribut lengkap senior memanggilnya. Kucrit sini kamu! lalu sang Maba Upik abu menjawab ya kak apa saya ada yang salah? tanya si Upik abu dan senior itu menjawab iya muka kamu yang salah. Terimakasih saya Oho." sang komedian pun mengakhiri stand up nya sambil melambaikan tangan ke arah penonton yang disambut dengan riuh tawa.


Rasyad yang berdiri di atas panggung tanpa sengaja bertatapan mata dengan Ari yang langsung membuang muka.


"Cewek dingin tunggu, gue bakal bikin hati lu meleleh." gumam Rasyad tak melepas pandangannya dari Ari.


..."Hal terindah kadang mampir di waktu yang tak terduga"...


...~Kasih~...

__ADS_1


__ADS_2