Off Bucin

Off Bucin
Pemilik Hati


__ADS_3

Malam makin larut Lola berjalan menyusuri jalan setapak di pematang sawah untuk mencari jalan pintas menuju rumah Ari yang letaknya di perkampungan sebelah komplek perumahan tempat Lola tinggal.


sepanjang menyusuri jalan setapak di pematang sawah Lola merasa tidak kesepian karena bunyi binatang malam yang membuat alunan musik alami menjadi teman mengusik sepi di kegelapan malam.


"Wrebekk - wrebekk -wrebekk....wrebekk - wrebekk -wrebekk." bunyi katak saling bersahutan seperti sedang menyapa atau ngobrol satu sama lain.


"Krikk...krikk...krikk..." Begitu halnya dengan suara jangkrik.


"Ssttt...stttttt..," belum lagi sesekali terdengar desis suara ular.


Hal itu tidak membuat Lola takut ataupun gentar berjalan sendiri di tengah malam menyusuri persawahan ini bukan kali pertama Lola melakukan hal seperti ini.


"Perasaan tadi di tas gue Masih ada sisa mixue." gumam Lola sambil merogoh saku samping tas ransel yang digendongnya.


Begitu menemukan gelas plastik yang masih tersisa sedikit, Lola langsung menyeruputnya.


"Strrrrttttt...." dengan sekali seruput gelas itu langsung kosong isinya.


Lola membuang sedotan dari gelas plastik itu lalu dengan hati-hati dia menangkap beberapa ekor kunang-kunang dan dimasukkan ke dalam gelas plastik itu.


Tak sulit buat Lola menemukan kunang-kunang yang jumlahnya ribuan bahkan ratusan di area persawahan itu.


"Mayan buat lampu jalan." monolognya sambil memegang gelas plastik mixue berisi 4 ekor kunang-kunang yang dia gunakan sebagai penerang menyusuri jalan setapak.



Setelah berjalan hampir 10 menit sampai lah Lola pada tempat yang dituju yaitu tempatnya Nyai Saripah, Nyak nya Ari.


"Gelap bet dah, kayaknya udah pada tidur semua, cuman lampu teras doang yang nyala." ucap Lola sambil kepalanya celingukan dengan mata awas mengamati rumah Ari.


"Ngapain lu malam-malam ke sini?" suara familiar Angga yang tiba-tiba terdengar dari belakang hingga membuat Lola tersentak kaget.


"Demittt!" teriak Lola spontan sambil memegang dadanya.


"Demit mata lu soak!" geram Angga dengan mata melotot ke arah Lola.


"Astaghfirullah Ucup! Ngagetin aja sih lo!" bentak Lola dengan suara meninggi hingga membuat lampu ruang depan rumah Ari menyala.

__ADS_1


"LOMUTT!!" teriak Ari begitu membuka pintu dan melihat Lola dari balik pagar.


"Hai Beb! Buka dong gemuknya daripada gue jadi santap makan malam nyamuk. Udah banyak nih darah gue di hisap ama tuh nyamuk!" teriak Lola tak sabar.


"Gemuk apaan Ndol?"tanya Angga menggoda pura-pura tak tahu ada salah satu kata yang Lola ucapan.


"Ini loh Cup!" saut Lola sambil memegang gembok dengan tangan kanannya.


"Itu gembok Ndol bukan gemuk, wooii!"Angga mulai kepancing sewot oleh lolanya Lola.


"Sama aja." tepis Lola santai seperti biasa jika salah mengucapkan kata.


"Lain dodol! kalau gemuk itu badan kalau gembok baru itu yang kau pegang," sanggah Angga tak mau kalah.


"Udah iyain and samain aja kenapa sih! Lu mah orangnya ngototan!" protes Lola dengan nada kesal.


"sama kayak lu," saut Angga cuek.


"STOPP! BERHENTI BERANTEM APA GUE TINGGAL MASUK KE DALAM!" bentak Ari kepada keduanya membuat Lola dan Angga seketika diam saling memandang.


Ari membuka pintu gembok pagar rumahnya begitu pintu terbuka Lola berjalan mendahului dengan cepat menuju rumah pohon dan langsung naik ke atasnya.


"Sekarang." singkat jawaban Angga sambil mengulum senyum dan ngeloyor pergi meninggalkan Ari.


"Aneh." gumam Ari sambil menggelengkan kepala dan menggembok kembali pintu pagarnya.


***


Sementara di tempat lain tak kurang dari 20 menit Darin sudah sampai di rumah sakit tempat Nabila dirawat setelah memarkirkan motor di area parkir rumah sakit Daren berjalan cepat dengan langkah tegap.


Sorot mata elangnya yang tajam menembus remang cahaya malam oleh lampu yang berdiri berjajar menerangi area rumah sakit. Sesekali suara ambulans terdengar tampak beberapa orang masih hilir mudik di halaman rumah sakit.


Wajah Daren yang terlihat serius membuat beberapa perawat yang melihat tampak mengernyitkan dahi karena melihat wajah tampan yang biasanya begitu ramah sekarang terkesan sangar dengan sorot kemarahan di matanya.


"Iihh, si handsome dingin amat wajahnya sangar kayak lagi marah," bisik salah satu suster jaga yang ada di lobby tempat ruang perawatan Nabila pada rekannya.


"Husstt, Jan kepo pura-pura nggak ngelihat aja." balas rekannya.

__ADS_1


Sreetttt.


Tanpa ketuk pintu ataupun salam Daren langsung membuka pintu ruang VIP tempat Nabila dirawat.


"Ren?" Panggil Nabila dengan wajah kaget melihat kedatangan Daren.


Daren hanya diam memandang ke arah Nabila dengan sorot mata tak biasa, begitu serius sambil menahan marah. Melihat sorot mata Daren membuat jantung Nabila berdebar tapi dia berusaha untuk kuat menatap sorot mata itu


"Thanks Ren, lu mau datang buat jemput gue." ucap Nabila sambil berusaha tersenyum dan bersikap senang.


Daren tak menjawab dia melangkah mengambil barang-barang Nabila dan kembali berjalan keluar dari ruang tempat Nabila dirawat.


"Hhfff, bermainlah secantik mungkin seperti engkau bermain dengan Lola." ucap lirih Nabila menyemangati dirinya hampir tak terdengar.


Nabila berjalan mengimbangi langkah dari sepanjang koridor menuju parkiran tak ada percakapan di antara keduanya. Tatapan Daren lurus ke depan dengan mulut terkunci. Risih rasanya melihat sikap Darren seperti itu tapi Nabila berusaha untuk bertahan dan bersikap tenang.


"Kita duduk di situ bentar." ajak Daren pada Nabila saat keduanya sampai di tempat parkir.


Daren mendudukkan bokongnya pada salah satu bangku yang ada di pinggir parkiran, Nabila pun mengikutinya. Tegang itulah rasa yang ada di dalam diri Nabila saat dia mendudukkan bokongnya tepat di samping Daren.


"Bil, to the point aja. Aku sangat menghargai ketertarikan mu, namun gue tidak merasakan hal yang sama. Gue mengerti bahwa hal ini mungkin sulit untukmu, tapi sekuat apapun Lu berusaha untuk memisahkan gue sama Lola hal itu hanya buang-buang waktu karena gue tidak tertarik untuk berada di hubungan percintaan yang lo tawarkan saat ini." ucap Daren langsung pada intinya.


"Re-n, Lo kenapa ngomong kayak gini? Gu-e cuman pengen ada di sampingku Di Saat terakhir hidup gue, Apa itu terlalu berat buat lo?" balas Nabila dengan terbata.


Kedua kelopak mata sayu itu berusaha membendung sekuat mungkin agar kedua sudut matanya yang sudah berembun tidak jatuh di pipi putihnya.


"Jangan meminta sesuatu yang sudah jelas lu nggak bakal dapat dan ingat satu lagi, gue lebih suka jadi sahabat karena hati gue cuma buat satu orang yaitu Lola. Dan gue nggak akan meminjamkan hati itu pada cewek manapun termasuk sama Lo. gue peduli sama apa yang lo alami hari ini terutama sama penyakit Lo, tapi bukan berarti gue harus bertanggung jawab dengan menyerahkan hati gue pada lo. Sorry gue cuman pengen ngomong itu aja dan satu lagi. Tolong jangan merayu meratap ataupun mengiba kepada Lola untuk meminta gue karena hatinya terlalu lembut dan terlalu baik untuk menolak permintaan ya enggak jelas seperti yang apa yang lu sampaikan sama dia." kata-kata dari yang begitu runtut dan jelas membuat Nabila tak mampu menahan tangis hingga dia terisak.


"Hiksss hiksss hiksss huuu hiksss. Kenapa lu tega ngomong seperti ini. KENAPA LO BEGITU JAHAT!" paket Nabila di tengah sunyinya malam hingga suaranya menggema di area parkir.


Daren langsung beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Nabila tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"BRENGSEK LO!" teriak Nabila di sela tangisnya.


Sementara Daren tetap berjalan dengan santai menuju tempat motornya terparkir.


..."Setiap hati akan menemukan pemiliknya karena itu janganlah engkau terlalu keras untuk mendapatkannya jika memang itu bukan kamu pemiliknya"...

__ADS_1


...~Daren~...


__ADS_2