
"Berhenti gak!" pekik Lola tiba-tiba membuat Darin kaget dan menghentikan mobilnya dengan rem mendadak.
Tubuh Lola yang pakai selbet pun ikut terhuyung ke depan begitu juga Nabila yang berbaring di bangku belakang sampai terjatuh ke bawah.
"Anjiirrr! Sakit bet dehh badan Gue!" pekik Nabila tertahan dalam hati takut Daren dan Lola tahu kalau dia pura-pura pingsan.
"BYYYY!!!" teriak Lola kesal langsung melepas seat belnya dan keluar dari mobil.
Lola buru-buru membuka pintu penumpang dan begitu manis matanya melihat tubuh Nabila yang tersungkur di bawah jok kursi belakang mata Lola membulat sempurna.
"Astagfirullah Bilaa!" pekik Lola lalu buru-buru menarik lengan Nabila dan juga bahunya untuk dibawa kembali berbaring di jok belakang.
"BY! BANTUIN JANGAN DIEM AJA!" bentak Lola kesal melihat sikap badan yang hanya melongok menoleh ke belakang.
Mendengar bentakan Lola membuat daring buru-buru melepas sabuk seat belnya dan keluar dari mobil.
Dengan susah payah mereka berdua akhirnya kembali bisa membaringkan tubuh Nabila di jok kursi belakang lalu mereka berguru kembali masuk ke dalam mobil.
"Gara-gara kamu sih, kasihan kan tuh Nabila badannya pasti sakit semua," ucap Lola kesel menyalahkan Darren.
"Kok Abang? jelas-jelas Ayang yang salah, Kenapa jadi nyalain Abang?" bantal Daren gak mau kalah.
"Dah lah males Gue debat ma Lo, yang ada makin lama gue makin dating." kroto Lola sambil manyun dan melipat tangan di depan dadanya dengan membuang muka ke jendela.
"Kok gitu Yank, Kan Abang cuman pengen dipanggil Abang bukan dipanggil Lo." protes Daren nggak mau kalah sambil mulai menjalankan laju mobilnya.
"Aaaghhhh, capek dah. Pusing pala Barbie." balas lelah sambil menjulurkan lidahnya dengan mata membulat dan menggoyangkan kepala.
"Dih gitu amat sih yang Apa susahnya sih panggil abang ke Ayang nya. Terus terang gue nggak suka panggilan Hubby, yang nyangkut di kepala gue itu bukan panggilan ke sayang tapi babi Yang. Kan nggak enak kalau nanti lidah Lo keseleo manggil gue babi bukan by." protes Daren mulai mengeluarkan unek-uneknya.
Mendengar keluh basah Darin tentang panggilan sayang diberikan oleh Lola tak pula membuat Lola tak mampu menahan tawa hingga tawanya pecah terbahak.
__ADS_1
"Hahahaha....!" tawa Lola terbahak sambil memegangi perutnya.
"Babi manja ya Eb, hahaha... hahaha...." tertawa terbahak sepertinya dia sulit menghentikan tawanya.
"Tuh kan tambah ngeledek Ayang." protes Daren mulai kesal dengan olok-olok Lola.
"Tapi terus terang Gue juga nggak mau manggil Lo Abang, emang pacar Gue Abang bakso Abang cilok Abang batagor. Ogah banget dah. Ntar kalau di tempat umum Gue panggil Abang terus mereka yang nengok gimana? Kan nggak lucu." balas enggak mau kalah.
"Please deh Beb kita tenangin dulu pikiran kita. Cooling down, kita sama-sama nggak suka dengan panggilan yang kita buat untuk Gue gimana kalau kita sama-sama mikir cari panggilan sayang yang cocok buat Gue yang bisa kita terima berdua dan nyaman buat Gue atau buat Lo." ucap Daren dengan sabar dan mulai mengendalikan rasa kesalnya.
"Ya udah terserah." saut Lola malas.
"Hmmm." saut Daren berdeham.
Untuk beberapa saat mereka saling diam dengan pikiran masing-masing, sementara di jok belakang sesekali Nabila mengintip dengan sedikit membuka matanya ke arah keduanya.
"Dasar pacaran alay gaya norak masalah panggilan aja jadi masalah." batin Nabila muak dalam hati.
"Amazing Beb, kok kita bisa sama sih yang ada di pikiran kita. Berarti kita emang sehati Yang." ucap Daren dengan suara girang sambil tersenyum bahagia melirik ke arah Lola.
"Hehehe Mungkin ini yang namanya jodoh My Heart." timpal lol6a dengan rona bahagia di wajahnya saat menyebut panggilan sayang untuk Daren.
"Enak didengar telinga Yank. My Heart. Thanks Yang, udah bikin Gue adalah hati Lo insya Allah Gue akan jaga agar Gue terus jadi hati Lo.' ucap Daren terharu bercampur bahagia.
"Sialan Kenapa mereka malah makin tambah mesra." makin Nabila dalam hati melihat Darin dan lelah yang mulai berbaikan.
"Gue akan cari cara untuk bisa misahin mereka berdua dan Gue yakin mereka pasti akan berpisah dan Daren yang akan terus ada di samping Gue." janji Nabila dalam hati.
Tak terasa perjalanan menuju rumah sakit gerbang rumah sakit. Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu ruang IGD, para petugas medis langsung membawa bangkar untuk Nabila yang masih pura-pura terbaring pingsan di jok belakang.
"Yang, kamu temenin Bella dulu di dalam ya gue mau telepon Om Gunawan biar secepatnya dia ke sini pinta Darin kepada Lola.
__ADS_1
"Iya My Heart." Lola mengiyakan lalu buru-buru mengikuti bangkar yang membawa Nabila masuk ke dalam ruang IGD.
Saat hendak menutup pintu Daren dan Lola Masih sempat berpandangan dan saling melempar senyum manis, ada rasa senang saat Lola memanggilnya dengan panggilan My Heart.
"Lope you my Princess and thank you." gumam Daren cuek tanpa peduli beberapa orang melihat dan mendengar ucapannya.
"Teman kolaps di ruang IGD aja masih bisa pada bucinan, dasar anak zaman now nggak tahu tempat ayang-ayang." cibir seorang penunggu pasien yang ada di lobby depan IGD melirik ke arah Daren.
Daren menghiraukan perkataan pria yang ada di sampingnya dia sibuk menelepon Gunawan.
"Om Gun, cepat datang ke rumah sakit Bila kolaps Om." ucap Daren pada Gunawan saat sambungan telepon terhubung.
Begitu selesai memberikan informasi secukupnya Daren langsung menutup sambungan telepon dan bergegas kembali berjalan masuk ke ruang IGD.
saat hendak mendekati bangkar Nabila seorang satpam menghalangi.
"Mas mohon untuk keluar, keluarga pasien yang menunggu cukup satu orang." larang security pada Daren membuat Daren mau tak mau keluar dari ruang IGD.
Lola berdiri di belakang dokter yang sedang memeriksa Nabila tak jauh dari bangkar Nabila.
"Dok, tolong suruh dia keluar dari ruangan ini." bisik Nabila pada dokter muda yang sedang memeriksanya.
Sejenak dokter muda itu bingung dengan permintaan Nabila tapi melihat Nabila yang dia kenal karena sering kontrol ke rumah sakit ini dengan mata berembun membuat nya tak tega.
"Dek, tolong tunggu di luar ya." perintah dokter muda itu pada Lola.
Lola langsung menurut dan pergi ke luar dari ruang IGD dengan wajah cemas saat manik matanya menatap Nabila yang masih terpejam tak berdaya.
Apa siasat Nabila berikut nya?
Yuk ikuti episode selanjutnya di cerita yang muda yang bercinta " OFF BUCIN "
__ADS_1