
Waktu berjalan begitu cepat tepat pukul 7 pagi perahu tongkang yang mereka naiki Merapat di Pelabuhan Tanjung Pasir Lola, Ari, Palupi, Juwi dan Ita serta Daren bergegas turun dari kapal sambil berjalan setengah berlari untuk menuju parkiran.
"Cumi, buruan!" teriak Lola yang sudah berlari di depan Juwi.
"Mut, gue di sini aja dah. Gue nggak kuat lari, perut gue sakit. Lu duluan aja sendiri ngambil motor di parkiran." Juwi terengah sambil membungkuk memegangi perutnya.
"Okay!" teriak Lola bergegas lari meninggalkan Juwi.
Daren yang lebih dulu mengambil motornya sedang menunggu mereka berlima di pintu gerbang masuk tempat wisata Tanjung Pasir lengkap dengan helm pink milik Saripah.
"Eleh eleh eta helm maneh gareulis pisan." ucap seorang nenek penjual ikan basah keliling saat melihat ke arah Daren tersenyum.
Daren hanya membalas dengan senyum.
"Tong, beli ikan mak atuh udah pegel kaki Mak keliling dari subuh." si Emak tukang ikan menawarkan dagangannya pada Daren.
"Waduh mak, mau ke sekolah masa bawa ikan." saut Daren.
"Yah, mak harus jalan keliling lagi nawarin sisa dagangan emak," ucap si Emak tukang ikan dengan lemah dia pun berjalan meninggalkan Daren.
Melihat penjual ikan berjalan lesu membuat hati Daren tidak tega, dia turun dari motornya dan berjalan mengejar Emak pedagang ikan.
"Tunggu Mak!" seru Daren membuat langkah kaki mak pedagang ikan terhenti dan berbalik badan ke belakang.
"Mau beli ikannya tong?" wajah si mak terlihat berseri.
Daren mengeluarkannya dompetnya dari saku celana dan mengambil uang 100.an.dua lembar.
"Hehehe, mau sekolah Mak masa iya bawa ikan ke sekolahan. Bau atuh mak." tolak Daren tersenyum.
"Terus Panggil Mak mau ngapain?" tanya Mak pedagang ikan dengan heran menatap Daren dengan dahi berkerut.
"Ini buat emak," ucap Daren sambil mengulurkan uang Rp200.000 yang ada di tangannya.
Si Emak pedagang ikan itu menatap uang dua lembar 100 ribuan yang ada di tangan Daren, tangannya menepis pelan tangan Daren.
"Simpan buat jajan Lo tong. Lagian Mak juga nggak bisa nerima karena mak masih bisa jualan cari rezeki." tolak si Emak pedagang ikan sambil tersenyum tipis.
" Aduh maaf Mak Saya bukannya mau menyinggung Mak, Saya hanya-, "
"Mak tahu Tong, lu anak baek. Hatur nuhun Tong. Tapi Maaf, mak nggak bisa terima." balas si Emak lalu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Daren.
"Aaiiissshhh," gumam Daren pelan sambil mengacak rambutnya.
"Mak tunggu!" teriak Daren kembali memanggil si Emak tukang pedagang ikan.
__ADS_1
Si Emak pun kembali menoleh ke arah Daren.
"Apalagi tong?" tanya si Emak.
Daren melangkah mendekat ke arah emak dengan memasang senyum cengengesan.
"Ya udah mak kalau gitu Saya beli aja deh ikannya Rp200.000 terserah Mak mau kasih seberapa." ucap Daren.
"Lah, pan lu mau sekolah tadi bilang. Kenapa beli ikan?" tanya Mak heran sambil tersenyum.
"Kagak kenapa-napa Mak buat oleh-oleh aja. Masa abis belibur kagak beli oleh-oleh." alasan Daren.
Pedagang ikan tersenyum lalu dia meletakkan ikan yang ada di atas kepalanya dalam tampah diturunkan untuk diletakkan di atas ember yang dia jinjing.
"Lo mau Ikan apaan Tong?" tanya si Emak mendongakkan kepala keatas melihat Daren yang berpostur jangkung.
"Maaf Mak." ucap dari Dan langsung buru-buru berjongkok.
"Mak aja yang pilih ikan mana aja, saya kagak paham." ucap Daren lagi sambil menggaruk kepalanya.
Si mak tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepala melihat kepolosan Daren. Si mak lalu memilih 2 ikan kakap putih yang berukuran sedang lalu ikan kuwe dengan ukuran yang sama setelah itu masukkan ke dalam kantong kresek warna hitam.
"Nih Tong, nanti lu bisa bakar sama temen-temen lo." ucap si Mak sambil mengulurkan kantong kresek hitam kepada Daren.
"Makasih Tong, lo anak baek moga-moga rezeki Lo selalu mengalir kagak ada putusnya." ucap Mak pedagang ikan sambil mendoakan Daren.
"Amin Makasih mak doa yang baik juga balik buat emak." balas Daren sambil menangkap kan kedua tangannya di dada.
Lola, Juwi, Palupi, Ari dan Ita yang baru saja mengambil motor mereka masing-masing Langsung tertawa manakala melihat Darren sedang jongkok bersama pedagang ikan dengan masih memakai helm warna pink milik Saripah.
"RI! itu helm milik nyak lo kenapa nangkel di kepala si sawit hahaha." ledekan dan tawa Cui langsung pecah begitu melihat helm yang dipakai Daren.
"Bising lo!" bentak Daren.
"Ya elah, sweetie banget itu helm di kepala lu Sueb hahaha." ledek Ita tertawa terpingkal.
"Kalau ampe pacar gue pakai helm kayak gini di jalan? Udah pasti langsung gue putusin saat ini juga." cetus Palupi terkekeh.
"Terlalu lu Eb, helm kesayangan nyak gue lo embat juga." cembik Ari.
"Langsung bawa ke steam Ar, helm nyak lo buat ngebersihin semua ketombe ama kutu yang nempel di helm nyak hahaha." goda Juwi bersemangat membully Daren.
"Cuih, dasar bacot ember lu cumi!" dengus Daren pura-pura menatap kesal Juwi.
Lola yang sedari tadi diam merasa tidak nyaman melihat Daren digoda oleh sahabatnya, dia yang biasanya cuek. Entah mengapa sekarang hatinya merasa tidak nyaman mendengar canda ledekan yang ditujukan pada Daren.
__ADS_1
"Eb, sini lu tukeran helmnya sama punya gue." pinta Lola tiba-tiba membuat keempat sahabatnya menoleh ke arahnya dengan tatapan heran dan tanda tanya.
"Uhuk." Ari berpura-pura batuk.
"Apa ari-ari? Gue cuma nggak mau helm kesayangan nyak gue kotor kena mintak rambut Sueb." ucap Lola melepaskan helm dengan bentuk yang sama seperti helm Saripah hanya saja helm Lola berwarna biru.
"Thanks sayang, lo emang selalu pengertian." saut Daren sambil mengerlingkan mata kanannya ke arah Lola.
Daren melepaskan helmnya Saripah lalu dia memakaikan pada kepala Lola.
"Kalau cuma gue kena tilang gara-gara gak pake helm rasanya pusing bukan kepayang, tapi kalau sampai kehilangan lu, gue mau mati rasanya. So hati-hati bawa motor jangan bar-bar kalau buat micu andrenalin lu cukup liat mata gue dan masuk ke dalam hati gue." ucap Daren menatap dalam manik mata Lola.
"Aaaawww, gue baper. Ada obat nya gak?" celetuk Palupi sambil tangannya memegang kedua pipinya dengan wajah cute.
"Dih muka tembok, udah ditolak semalam juga masih aja panggil sayang gombal mulu." cibir Juwi.
"Hak gue cumi panggil sayang ke ayang beb, ngiri lo. Bilang boss." saut Daren membalas.
"Lomut! Pasang benteng yang kuat buat kadal Sueb." seru Ita.
Mereka pun semua tertawa kecuali Lola yang hanya tersenyum tipis Begitu juga dengan Daren yang terus memandang wajah Lola tak menghiraukan semua ledekan yang keluar dari sahabat-sahabatnya.
"Sawit lu bawa apaan tuh kantong kresek?" tanya Palupi penasaran karena si mak tukang ikan sudah pergi berlalu dari tadi tapi bau amis masih menusuk hidungnya.
"Ini?" tanya Daren sambil mengangkat kantong kresek hitam ke atas.
"Ikan buat oleh-oleh." jawab Daren.
"Hah? Lo mau bawa ikan ke sekolah?" tanya Ari dan Juwi serentak dengan mata membulat heran. Begitu juga dengan yang lain.
"Iya, emang napa? Ada larangan, bawa ikan ke sekolah?" ucap Daren balik bertanya menatap mereka satu persatu.
"Hahahaha," mereka berlima tertawa mendengar jawaban Daren.
"Gak ada yang nglarang Sueb ganteng, paling lu langsung cari most wanted hahaha." saut Ari cekikikan.
"Hah? Most wanted saha?" tanya Daren heran tak mengerti.
"KUCINGGGG!" teriak kelima cewek langsung melajukan motor mereka meninggalkan Daren yang masih memegang helm Lola.
"Lu tau La, saat lu mendengar suara angin, Lu akan mendengarkan kalau gue selalu membisikkan kata cinta untuk lo." gumam Daren tersenyum bahagia menatap Lola dan teman-temannya yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
..."Cinta yang berjalan perlahan akan banyak memberikan kenangan dan juga membubuhkan rasa manis yang tak mudah dilupakan"...
...~Sueb ❤ Lobar~...
__ADS_1