Off Bucin

Off Bucin
Masa Lalu Biarlah Jadi Masa Lalu


__ADS_3

Sambil berkacak pinggang dan menghela nafas panjang Saroh memandang ujung tangga dilantai atas, perlahan kakinya mulai menaiki anak tangga satu demi satu sambil menempel ember bekas cat besar yang berisi cucian bersih untuk dijemur.


"Kebiasaan nih si kemit, kenapa kalau ke atas nggak sekalian bawa jemuran. Seneng banget nyiksa tulang tua mamanya." gerutu Saroh susah payah berjalan menaiki anak tangga yang lumayan tinggi sambil mengangkat beban ember penuh jemuran setengah basah.


Begitu sampai di lantai atas Saroh berjalan ke balkon. Saat langkah kakinya melewati kamar Lola, Saroh menghentikan langkahnya dan meletakkan ember cucian tepat di sebelahnya di depan kamar Lola


"Tumben udah bangun." gumam Saroh begitu mendengar bunyi kesibukan dari kamar Lola.


"Neng, Neng udah bangun?" tanya Saroh yang tak perlu dijawab.


Saroh membuka sedikit pintu kamar Lola lalu menyembulkan sebagian kepalanya ke dalam kamar Lola. Senyum langsung terkembang saat Saroh memandang putrinya yang sedang merias diri di depan kaca meja rias.


"Emang hari ini ya Neng jadwalnya ambil almamater ke kampus?" tanya Saroh tiba-tiba ingat kalau ada jadwal Lola datang ke kampus untuk registrasi ulang dan mengambil almamater.


Lola menjawab dengan anggukan kepala tanpa menoleh ke arah Saroh karena dia sedang melukis alisnya.


"Pantes aja udah bangun, tumben banget anak mama mau pergi sekarang sibuk merias diri biasanya kalau masih di kumbang boro-boro dandan mandi aja kadang jarang hehehe." goda Saroh sambil terkekeh.


"Malu lah momsky, masa datang siang juga nggak mandi." sahut Lola.


Saroh membuka pintu lebih lebar dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Lola lalu duduk di tepi ranjang tepat di samping putrinya. Tangan Saroh mengambil sisir yang tergeletak di atas meja rias lalu dengan penuh kasih sayang Saroh menyisir rambut hitam lebat putrinya yang menutupi punggung Lola.


"Tolong di kepang aja ya mah," pinta Lola sambil memoleskan lipstin warna bening di bibirnya.


Dengan telaten Saroh mengepang mode kelabang rambut Lola sebelum kemudian menekuk nya dengan rapi.


"Semangat ya sayang, Mama yakin setiap ujian dalam hidupmu bisa membuatmu pedih tapi sekaligus bisa menjadikanmu orang yang lebih baik dan juga kuat," kata Saroh bijak tepat di telinga Lola di balas dengan tatapan dan anggukan lewat kaca rias oleh Lola.


"Maaciiih mom, gak ada yang lebih sulit saat mom ada di samping Lola." balas Lola sambil memeluk Saroh.


"Jan lupa sarapan dulu ya sayang, mama tadi beli risol sama donat kesukaan kamu. Mama taruh di atas kulkas." pesan Saroh sebelum pergi ke balkon melanjutkan tujuannya ke lantai atas menjemur pakaian.


Selesai menyantap risol mayo dan sebuah donat Lola keluar rumah menuju garasi samping untuk mengeluarkan motornya.


Deg

__ADS_1


Lola tiba-tiba berdebar saat melihat sosok lelaki dari belakang sedang berdiri menyender di pintu pagar rumahnya dengan setelan jeans dan jaket Kulit warna brown Ariel Noah yang biasa Daren pakai .


"By....." panggil Lola lirih dengan mata berbinar bahagia mempercepat langkahnya.


Suara langkah kaki cepat bersepatu fantofel membuat cowok yang sedang bersandar di pagar berbalik badan tepat saat jarak antara Lola dan cowok itu hanya selangkah.


"Dah siap Lo?" tanya cowok itu saat berbalik badan di sambut dengan wajah Lola yang seketika kaget dan berubah kecewa.


"Ucup?" tanya Lola seperti tak percaya kalau pagi ini Angga datang ke rumahnya.


"Kecewa ya bukan dia yang datang?" pertanyaan Angga membuat Lola serba salah.


Lola langsung berbalik badan melangkah mengambil motor dan ingin mengeluarkan nya tapi Angga buru-buru menahan stang motor Lola.


"Lu pikir gue datang ke sini mau apa?" tanya Angga dengan wajah super serius.


"Awasss!" Lola tak menjawab pertanyaan Angga tapi malah menyuruh Angga menyingkir dari motornya.


"Ngak!" ketus Angga.


"Gue paling gak suka kalau pagi-pagi ada orang yang mancing emosi gue dan gue lagi nggak semangat buat debat sama siapapun termasuk lu Cup. Jadi sekali lagi gue bilang minggir!" tandas Lola sepertinya dia sedang tidak ingin di bantah.


"Sayang, mama yang minta Angga nemenin kamu buat ke kampus." kata Saroh tiba-tiba sudah berdiri di belakang Lola.


Lola langsung menoleh ke belakang dengan wajah terlihat kesal menatap sang mama.


"Mamahhh!" seru Lola kesal pada Saroh karena mengambil keputusan tanpa berbicara telah lebih dahulu kepadanya.


"Sudahlah sayang. Mama akan merasa tenang kalau kamu pergi bersama Angga lagian kalian kan satu kampus." ucap Saroh membuat Lola mengerutkan dahi kaget dengan ucapan Saroh.


Belum sempat Saroh memberi jawaban, Angga sudah menarik lengan Lola.


"Dah yuk keburu siang, tar malah macet." ajak Angga sambil menarik lengan Lola.


Lola mencoba melepaskan lengannya dari tangan Angga tapi tangan itu begitu kuat memegang lengan Lola.

__ADS_1


"Lepasin gak!" bentak Lola tak senang dengan sikap Angga yang mengatur dirinya.


"Oke. Sekarang lu jalan sendiri masuk mobil gue!" perintah Angga tak mau kalah ketusnya sebelum kemudian dia pergi meninggalkan Lola masuk ke dalam mobilnya.


"Ckckck, dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah mereka berdua seperti tom and Jerry aja." gumam Saroh memandang Lola dan Angga sebelum menutup pintu pagar rumahnya.


***


Selama perjalanan menuju kampus Lola lebih banyak diam bahkan dia selalu melemparkan pandangannya keluar jendela kaca mobil, sementara Angga beberapa kali melirik lewat kaca spion yang ada di atas stir kemudi.


"Lu bisa kan tepati janji lu ndol?" tanya Angga mengingatkan apa yang pernah mereka janjikan berdua.


Lola menoleh ke arah Anga sambil mengernyitkan dahi mengingat sesuatu yang baru saja Angga ucapkan.


"Janji? Janji apaan maksud lo?" Lola tak menjawab malah balik bertanya.


"Best friend forever." jawab Angga sambil melirik Lola dengan salah satu sudut matanya.


Tiga kata yang yang meluncur keluar dari bibir Angga seakan mengingatkan Lola kembali tentang ucapannya saat di halaman taman belakang sekolah.


"Sorry." pelan Lola menyahut sambil tertunduk sejenak.


"Gue tahu kesedihan lu gue juga tahu apa yang lu hadapi sekarang. Apa pun keadaan lo sekarang, ingatlah bahwa Lo nggak sendirian. Apa pun itu ndol, gue akan selalu mendukung lu sebagai seorang sahabat. Only just friends." kata-kata Angga seakan menyadarkan Lola buat tak seharusnya dia bersedih pada setiap tempat dan waktu hanya karena apa yang menimpa Daren.


"Iya gue tahu salah dan kekanak-kanakan terlalu lama larut dalam kesedihan gue tanpa melihat sahabat-sahabat gue." ucap Lola lirik seperti menyesali sikapnya selama beberapa hari belakangan ini.


"Tidak apa-apa untuk merasa sedih hari ini, dan bahkan mungkin besok. Tapi Lo harus selalu ingat bahwa kamu adalah seorang yang tangguh dan luar biasa dan juga bar bar abisβ€”jangan pernah lupakan itu." pesan Angga mengulum senyum.


"Maksud, mana ada gue bar- bar. Imut gini tau." balas Lola cemberut.


"Coba kalau dulu pertama kali gue pulang dari Jepang lihat lo kayak gini pasti kita-" Angga tak melanjutkan kalimatnya hanya tarikan napas panjang yang bisa dia keluarkan atas rasa sesal.


"Masa lalu biarlah jadi masa lalu cup." balas Lola datar.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


Gimana kelanjutannya Next episode berikutnya kepoin ya kak πŸ™-


__ADS_2