
Tik, tik, tik, waktu berdetik tanpa terasa sudah 3 hari Lola dirawat di rumah sakit dan hari ini Lola diperbolehkan pulang setelah menjalani operasi usus buntu yang dideritanya.
"Akhirnya pulang juga," suara lirih Lola saat mobil yang dikendarai Dadang berhenti tepat di depan rumahnya.
"Gue gendong ya Mut." Juwi siap memasang kuda-kuda untuk menggendong bola masuk ke dalam rumah.
"Ya elah Cumi, Lomut bukan lumpuh kali. kalau lu gendong dia, yang ada tuh sobek lagi bekas operasi kemarin." cetus Palupi membuat ketiga sahabatnya tertawa bahkan Lola pun sempat ingin tertawa hanya saja dia tahan karena takut perutnya terasa ngilu.
"Eh, iya tumben Bun lempeng otak Lo hehehe." balas Juwi.
"Naik tangga bisa kan neng?" tanya Dadang saat melihat Lola berhenti sejenak di anak tangga sambil menatap ke ujung tangga.
"Bisa yah," sahut Lola sambil mengangguk pelan menatap lemah ke arah Dadang.
"Ayah bopong ya Neng?" kembali Dadang menawarkan bantuannya karena tidak yakin dan tidak tega melihat Lola harus menaiki tangga yang lumayan tinggi menuju kamarnya.
"A...yah, Lola bukan bocil lagi. Masa digendong? Nanti yang ada kita malah jatuh berdua. Udah ayah tenang aja, Lola bisa kok beneran, swear✌️," ucap Lola meyakinkan Dadang sambil mengangguk dan mengedip pelan.
"Iya Om tenang aja ada kita-kita kok." timpal Ita semangat.
Perlahan setapak demi setapa kaki lelah menaiki tangga dibantu oleh Juwi dan beberapa sahabatnya di belakang Lola. Begitu sampai kamar Lola langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil menarik nafas panjang.
"Capek ya Bun?" tanya Ari sambil memijat kaki Lola.
Senyum mengembang menjadi jawaban Lola untuk Juwi dan juga sahabat-sahabat Lola yang lain.
"Lo tahu, siapa yang bawa lu ke rumah sakit beb?" tanya Ita dengan sangat hati-hati takut Lola menjadi sedih.
"Sueb." suara Lola terdengar miris menyebut nama Daren dengan mata tergenang.
"Jan pikirin dia Mulu Bun, pikirin kesehatan Lo untuk saat ini. Berhentilah untuk egois ngejar cinta dia lagi ya." nasehat Ari sambil mengusap lembut telapak tangan kiri Lola.
"Iya Ri, gue akan berusaha untuk tidak badmood berkepanjangan."
Terasa berat sebetulnya Lola mengucapkan kata janji yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
__ADS_1
"Kita akan terus gantian temenin Lo selama Lo sakit, biar lo nggak merasa bad mood dan sendiri. Biar kita jadi pelayan special Lo Beb." kata palupi penuh dengan perhatian.
Air mata meluncur begitu saja di pipi Lola karena bahagia memiliki empat sahabat yang begitu besar memberikan rasa sayang, perhatian dan juga waktu serta tenaga hanya untuk membuat dirinya bahagia.
"Hiksss hiksss, sayang kalian.... hiksss hikss,"ucap Mama sambil merentangkan tangan ingin memeluk mereka berempat.
Juwi, Ita, Ari dan Palupi langsung menghambur dari segala arah, mereka saling berpelukan dalam tangis bahagia. Bahagia karena memiliki persahabatan yang begitu kuat.
***
Setelah seminggu istirahat di rumah sakit, hari ini Lola sudah dibolehkan oleh Saroh dan Dadang untuk kembali beraktivitas kuliah seperti biasa.
"Ayah antar ya Neng?" Dadang menawarkan jasanya sambil menatap penuh kasih kepada Putri satu-satunya.
"Iya yah," jawab Lola tak menolak tawaran Dadang seperti biasanya.
Ada senyum mengembang di wajah Dadang saat tawarannya di iyakan oleh Lola. Sejak kecil Lola tidak dekat dengan Ayahnya bahkan kadang saat mau digendong Lola sering menolak atau menangis.
"Ada berkahnya juga Neng kamu sakit." ucap Dadang tersenyum melirik sekilas ke arah putrinya sambil menyetir.
"Mau ayah anterin." jawab Dadang datar tapi membuat hati Lola tersentuh.
"Maaf Ayah kalau selama ini Lola nolak di Anter ayah, kan Lola dah gede." jawab Lola mengelak.
"Hmm." Dadang berdehem.
Lola melirik pria di sampingnya yang usianya sudah lebih dari 50 tahun tapi masih terlihat tampan dengan rambut yang di penuhi warna perak. Lola menyenderkan kepalanya ke pundak Dadang, hal yang selama ini belum pernah dilakukan.
"Ayah?" panggil Lola bertanya.
"Hmm?"
"Kata orang anak perempuan itu lebih baik Kalau ada masalah curhat sama Ayah nya, emang bener gitu ya yah?" tanya Lola.
Pandangan Lola menatap lurus ke jalan, tapi pikirannya tiba-tiba teringat pada Daren.
__ADS_1
"Eneng mau curhat apa? Tentang cowok?" pertanyaan yang tak disangka Lola tapi tepat seperti yang diinginkannya.
Lola menarik kepalanya kembali dari sandaran di jok mobil lalu duduk dengan tegak serius
"Apa yang di suka cowok dari cewek yang bikin cowok itu suka Yah?" pertanyaan yang baru saja meluncur dari bibir Lola membuat Dadang tersenyum.
"Wehh, anak ayah mulai jatuh cinta kayaknya." goda Dadang di balas dengan senyum malu-malu Lola sambil membuang muka ke luar jendela.
"Sama sapa neng? Kalau pacaran gak boleh ya, Ayah gak akan ijinin. mending undang ke rumah sekalian lamaran baru Ayah restuin." saran Dadang dibalas Lola dengan wajah cemberut.
"Ayah apaan sih setiap kali ngomongin cowok pasti nggak jauh dari nikah-nikah-nikah. Lola nggak mau nikah muda ntar KDRT lagi kayak si artis Ono." protes Lola mencebik.
"Ya kalau gitu buat apa nanya seperti itu?" Dadang mengorek motif putrinya dengan pertanyaan yang baru saja disampaikan kepadanya.
"Kan buat wawasan yah, emangnya nggak boleh?" tanya Lola menoleh ke arah Dadang.
"Boleh.Tapi akan lebih baik kalau Eneng fokus dengan kuliah neng. Ayah memang tak memiliki banyak waktu bersama dengan mu. Dengan kedua tangan ini ayah ingin kau mengejar mimpimu setinggi mungkin. Jadilah wanita yang tangguh dan mandiri, jangan bergantung pada pria walaupun itu suamimu kelak. Tapi jadilah makmum yang benar menurut pada imam yang benar juga menurut Qur'an dan Sunnah." nasehat Dadang membuat Lola merasa malu dengan pertanyaannya.
"Iya pak ustadz." saut Lola di balas dengan senyum Dadang.
"Jodoh, rezeki dan mati itu sudah ketentuan Allah neng, yang penting Neng percaya kalau Neng hidupnya berjalan lurus sesuai tuntunan agama pasti nanti akan mendapatkan jodoh sesuai dengan keimanan neng kepada Allah. Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik lelaki yang buruk untuk perempuan yang buruk itu menurut pandangan agama kita. jadi banyak-banyak memperbaiki diri biar nanti jodohnya orang yang baik juga. Paham." pesan Dadang panjang lebar.
"Paham Ayah." saut Lola sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah Dadang.
tak terasa mungkin mereka sudah sampai di depan kampus.
"Ayah, Eneng turun sini aja." pinta Lola dan mobil Dadang pun berhenti.
"Makasih Ayah sayang tumpangannya, bye bye Assalamualaikum." pamit Lola langsung bergegas jalan menuju pintu gerbang kampus.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ternyata kamu sudah dewasa Neng." gumam Dadang menata punggung putrinya makin menjauh.
..."Seorang ayah tidak pernah lebih mencintai orang lain daripada anak perempuannya."...
...~Ayah~...
__ADS_1