
Entah sudah berapa lama Lola tak sadarkan diri, saat matanya terbuka Lola merasa kepalanya sangat berat seperti ada beban batu yang menindihnya. Kilau sinar lampu membuat Lola refleks melindungi kedua bola matanya dari cahaya yang sedikit membuatnya silau dan tidak nyaman.
Saat semua kesadarannya pulih dan kedua pandangannya mulai jelas Lola baru menyadari kalau dia berada di ruang dengan dominasi warna putih.
Dia mendapati tubuhnya terbaring di salah satu bangkar yang berjejer dengan bangkar-bangkar lain di ruang itu.
"La, kamu dengar bapak?" tanya pak Susilo lembut yang berdiri persis di samping ranjang tempat Lola terbaring.
Tes.
Air mata Lola meluncur dan jatuh di atas bantal saat menoleh ke arah Pak Susilo.
"Kuatkan doamu untuk dia la, cuma itu sekarang yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Daren kamu mengerti kan?" ucapan pak Susilo semakin membuat hati Lola teriris dan menambah deras air mata itu mengalir.
"Hiks....hiks...hikss...." Isak tangis pilu Lola kembali terdengar lirih begitu dalam.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya Lola berusaha susah payah untuk bangun dari tempat tidurnya.
"La, kamu mau ke mana nak?" ucap Susilo bingung sambil berusaha membantu Lola untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Saya ingin ketemu Sueb pak hiks ..hiks..," pinta Lola dengan cucuran air mata.
Susilo menatap pilu wajah gadis cuek dan pemberani di depan yang saat ini terlihat sangat lemah dan rapuh dengan wajah penuh kekhawatiran yang berlinang air mata.
"Daren sudah dipindah ke rumah sakit besar di Bandung karena peralatan yang tidak memadai untuk menangani lukanya. Jadi sekarang kita lebih baik kembali ke villa." suara tenang pak Susilo tapi buat orang adalah hantaman yang berat karena dia sangat ingin tahu keadaan Daren.
"Huuuuuuuuu.... hiks.... huuuuuuuuu..." tangis Lola kembali pecah Lola benar-benar tidak mampu menahan rasa sedih yang luar biasa dalam hatinya.
"Laa, banyak lah berdoa untuk Daren. Karena itulah yang dibutuhkan Daren saat ini, jangan terus menangis seperti ini. Bapak tahu akan kesedihan kamu jadi luapkan semua kesedihan mu dengan memberikan doa yang terbaik untuk kesembuhan Daren. Percayalah Daren adalah sosok cowok yang kuat dia pasti akan baik-baik saja." bujuk Susilo menenangkan Lola.
Lola mencabut kasar selang infus di tangannya hingga darah segar keluar dari nadinya mengalir di antara telapak tangan dan sela-sela jari tanpa dia pedulikan. Lola lalu turun dari ranjang berjalan gontai ke luar dari ruang IGD dengan berlinang air mata.
Susilo menarik nafas dalam dan menatap pilu punggung Lola sejenak, sebelum kemudian dia berjalan mengikuti Lola.
Perjalanan menuju villa terasa sangat lama tatapan Lola selalu memandang keluar jendela dengan air mata yang tak berhenti mengalir, hati dan pikirannya kosong sesekali dia menarik nafas sambil memejamkan mata.
"Lo cowok yang kuat, gue yakin kalau Lo bisa ngelewatin kesulitan ini Eb, Ya Allah ya Robbi sembuhkan kekasih hati hamba hanya pada Engkau hamba memohon," sebaris doa pasrah Lola sematkan memenuhi ruang hatinya.
__ADS_1
Begitu sampai di villa Lola di brondong pertanyaan oleh sahabat-sahabatnya dan juga teman-temannya.
"Mut, gimana Sueb? Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya? Apa dia akan selamat? Bagaimana ini terjadi?"
Bla bla bla bla.
1001 pertanyaan yang datang dari penontonnya seperti itu kita ada yang lo jawab dengan air mata masih menetes di kedua pipinya Dia berjalan dulu bahkan tak bertenaga menuju kamarnya.
teman-temannya pun masih terus mengikuti langkahnya saling berdesakan mengerubungi Lola dengan pertanyaan-pertanyaan itu hingga membuat Juwi menunjukkan taringnya.
"STOPPP!! BUBAR KALIANNNN!" lengking Juwi seketika membuat suasana langsung hening.
satu persatu mereka meninggalkan kamar Lola dan Juwi dengan wajah kecewa karena penasaran.
"Hiks... hiksss... huuuuu.....hiks...." tangis Lola kembali pecah dia sembunyikan tengkurap memeluk bantal.
Juwi berjalan menghampiri tepi ranjang lalu mendudukkan bokongnya di situ, dia mengusap lembut kepala Lola yang tertutup pelindung hoodie.
Juwi memeluk erat tubuh Lola lalu dia berbisik lembut,
Lola membalikkan tubuhnya lalu dia memeluk Juwi erat dengan sisa tangisnya yang masih tersedu.
"Makasih Wi, gue juga berharap keajaiban itu akan datang buat Sueb. Gue yakin dia akan kuat dan dia akan kembali lagi sama kita, iya kan Wi. Hiks." ucap Lola menatap Juwi dengan berlinang air mata.
"Insya Allah pasti beb." Juwi mengangguk yakin jari jemarinya lembut mengusap pipi Lola dari Linangan air mata.
"Ayo semangat bersihkan dirimu, Sueb menunggu doamu beb." cuy menarik perlahan lengan Lola lalu berjalan membawanya ke kamar mandi.
***
Tok tok tok tok
Suara sepatu hak tinggi dan pantofel pria saling bersahutan cepat menimbulkan bunyi kecemasan yang pemakainya. Suara kedua pasang sepatu itu berhenti tepat di depan ruang operasi yang ada di rumah sakit ini, di mana beberapa anggota keluarga dari para pasien yang sedang dioperasi menunggu.
"Pak Bastian!" pekik pak Lukito sekaligus tegang melihat kedatangan Bastian dan istrinya Karlina.
"Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Bastian dengan wajahku dan wibawanya Lukito menciut nyalinya.
__ADS_1
"Dokter sudah siap akan melakukan operasi tinggal menunggu persetujuan dari Pak Bastian." Lukito usaha berbicara dengan tenang sambil kedua telapak tangannya saling memegang di depan perut.
Sreeettt
Pintu ruang operasi terbuka.
"Keluarga Daren putra Bastian!" panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari pintu ruang operasi.
"Saya papanya bagaimana keadaan putra saya?" tanya Bastian tak sabar dengan wajah cemas, gurat kekhawatiran tampak jelas di wajah tampannya meski sudah berumur.
"Lukanya sangat parah di bagian kepala hingga membuatnya koma, kami akan melakukan operasi semaksimal mungkin dan kami harap anda membantu kami dengan doa karena operasi ini kemungkinan berhasil hanya 30%. sekarang silakan Anda ikut dengan saya untuk mendatangi surat persetujuan." jelas dokter Ridwan yang memimpin operasi pada Daren.
Deg
Aliran darah Bastian seakan berhenti sejenak hingga membuatnya sedikit terhuyung, tangan Karlina menahan beban tubuh kekarnya.
Begitu semua syarat melakukan operasi sudah disetujui oleh pihak keluarga Daren, dokter langsung melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa dari hampir 8 jam lebih operasi dilakukan.
***
Sementara suasana di villa menjadi begitu penuh duka acara yang seharusnya diisi dengan berbagai macam hiburan yang telah dipersiapkan oleh para murid-murid kelas 12 untuk malam puncak perpisahan di villa menjadi berubah 180 derajat.
Di bawah cahaya rembulan dan juga kelap-kelip bintang di puncak pegunungan Lembang malam ini udara terasa sangat dingin bahkan menusuk hampir ke tulang kabut tak terlihat langit begitu indah dengan cahaya alami dari kehilangan sinar bulan dan pantulan sinar bintang.
Panitia membuat api unggun yang begitu besar untuk menghangatkan malam dan juga mengusir hawa dingin dikelilingi oleh semua murid yang ikut acara perpisahan malam ini.
"Marilah malam ini kita bersama -sama memberikan doa terbaik untuk murid kita sahabat Darin putra Bastian agar bisa melewati masa-masa sulit dan sakitnya. Tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati. Daren pasti bisa melewati ini semua.Ya Allah, Jangan biarkan penyakit itu terus berada di tubuhnya dan menjadi penghalang impian-impian dia selama ini. semoga engkau ijabah dan engkau kabulkan doa dan harapan kami ya Robbi amin amin ya robbal alamin." Pak Haris ucapkan sebait doa membimbing para murid buat Daren.
Sepanjang acara Lola hanya menangis dan menangis, sesekali dia menahan air matanya jatuh dengan memejamkan mata atau menengadah ke atas langit memandang bintang berharap agar sang pemilik hidup mendengar doanya untuk Daren pemilik hatinya saat ini yang sedang tak berdaya.
Diantara kekhusyukan doa para murid-murid dan guru tampak sesosok tubuh berjalan mengendap mendekat ke arah Lola.
"Kalau cinta hanya akan membuat Daren seperti ini, apa takdir cinta kalian akan baik-baik saja ke depannya?" ucapan lirih yang di sampaikan Nabila benar-benar menusuk hati Lola hingga membuat bibirnya bergetar tak mampu bicara hanya air mata yang menjawabnya.
"Hari ini aku tersenyum manis yang kemarin kau inginkan, cepatlah sembuh dan aku akan selalu tersenyum manis untukmu'."
~Lala~
__ADS_1